Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BAB 2 Sekuel 1 Sapioseksual di Belantara Prasangka
BAB 2: Sapioseksual di Belantara Prasangka
"Bukan apa-apa, Nduk," lanjut Pak Broto, menyeruput tehnya perlahan. Matanya yang mulai rabun menatap lurus ke arah halaman. "Pak RT cuma menyampaikan pesan dari juragan tanah sebelah. Katanya, usiamu sudah matang. Kalau terus-terusan sendiri, nanti jadi buah bibir orang sekampung. Lagian, juragan itu kan... ehm, berniat mencari istri kedua. Katanya kamu bakal dijamin hidupnya, nggak perlu capek-capek mengajar di SD."
Sekar menarik napas pelan. Udara sore yang sejuk di Karangharjo mendadak terasa sedikit pengap di dadanya. Bukan karena tawaran itu mengejutkan—ia sudah sering mendengarnya dalam berbagai versi—melainkan karena betapa murahnya harga martabat seorang wanita di mata para penguasa lokal desa ini.
"Bapak tahu jawaban Sekar, kan?" ujar Sekar tenang, menatap ayahnya dengan sorot mata yang teduh namun tegas. "Sekar tidak butuh jaminan hidup dari orang yang mengorbankan hati wanita lain. Rezeki sudah diatur, Pak. Sekar lebih baik hidup sederhana dari hasil keringat sendiri daripada hidup mewah di atas air mata sesama perempuan. Aku mencintai sesamaku seperti cintaku pada diriku. Itu peganganku. Kami lelaki dan perempuan sama-sama memiliki pegangan dalam melangkah.”
Pak Broto menghela napas panjang, separuh lega dan separuh khawatir. Sebagai guru yang menjunjung tinggi etika moral, beliau sangat memahami prinsip putrinya. Namun, hidup di tengah masyarakat desa yang pola pikirnya masih terperangkap ratusan tahun di belakang zaman perkotaan bukanlah hal mudah.
Bagi warga Desa Karangharjo, jalan hidup wanita itu seragam: lulus sekolah dasar atau menengah, menikah muda untuk menghindari label "perawan tua", lalu mengabdi sepenuhnya di dapur dan sumur. Ketika Sekar memilih jalan yang berbeda—menyelesaikan studi S-1, melanjutkan Magister (S-2) secara mandiri lewat kelas jarak jauh dan kerja keras, gemar menulis, hingga menerbitkan buku—ia tidak dianggap sebagai aset intelektual. Sebaliknya, ia dipandang sebagai anomali yang mencurigakan.
Gelar Magister dan tumpukan buku karyanya tidak membuat para lelaki desa larut dalam kekaguman intelektual. Yang terjadi justru sebaliknya. Ia dianggap superwoman yang tak punya rasa lelah. Di sela kesibukannya, energinya masih dianggap tumpah ruah berlimpah untuk memikirkan lelaki dan lelaki.
Kaum pria di desa terbagi menjadi dua kubu yang sama-sama asing bagi Sekar. Pertama, para gambler—lelaki spekulan tanpa modal moral yang mengira wanita mandiri bisa didekati dengan rayuan murahan, mengira Sekar bisa dijadikan selir atau bini kesekian karena toh ia bisa mencari makan sendiri dan tidak akan merugi. Kedua, para lelaki manja yang merasa terintimidasi oleh kecerdasan Sekar, lalu berbisik-bisik di warung kopi dengan prasangka menggelikan: “Jangan-jangan dia itu lesbian? Atau seleranya aneh; sukanya lelaki berotot ekstrem, atau justru lelaki pemalas yang kerjanya cuma duduk nongkrong di pinggir kali?”
Sekar adalah seorang sapioseksual sejati. Baginya, daya tarik utama seorang manusia terletak pada ketajaman pikiran, keluasan wawasan, dan keluhuran budi. Maka, ketika para pria dengan frekuensi dangkal mencoba mendekatinya, Sekar memilih mengabaikan mereka sepenuhnya.
Sikap diam dan cueknya itu justru menyulut ego kaum patriarkis yang rapuh. Karena tak mampu meruntuhkan prinsip Sekar, mereka mulai melabelinya dengan cap-cap keji: sombong, pilih-pilih lelaki, sok pintar, hingga julukan perawan tua yang diucapkan dengan nada merendahkan.
Hebatnya, Sekar tidak peduli. Ia sudah kebal.
Namun, badai prasangka tidak hanya datang dari para lelaki. Tantangan yang lebih menguras energi justru datang dari kaum hawa di sekitarnya—para istri orang kaya dan wanita-wanita desa yang merasa terancam oleh kemandirian mutlak Sekar.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar