Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BAB 3 Sekuel 1Topeng Teman dan Gaya Hidup Frugal "Simfoni Iqra"
BAB 3: Topeng Teman dan Gaya Hidup Frugal
Kesederhanaan Sekar bukanlah akibat dari keterbatasan, melainkan sebuah pilihan sadar. Dari gaji gurunya yang pas-pasan, dipadu dengan honor royalti kecil dari buku-buku yang terbit di penerbit independen serta tulisan lepasnya, Sekar menata keuangannya dengan cermat. Ia menerapkan gaya hidup hemat dan bersahaja—frugal living. Ia menjahit pakaiannya sendiri dengan potongan modern yang rapi dan elegan, tidak pernah konsumtif membeli barang yang tak perlu, dan tekun menabung.
Namun di Desa Karangharjo, kemandirian finansial seorang "perawan tua" adalah misteri yang memancing rasa curiga sekaligus nafsu terselubung.
Suatu sore, Mbak Asih dan Bu Nanik—dua wanita desa yang dikenal lihai bersolek dan gemar bergosip—bertandang ke rumah panggung Sekar. Mereka membawa sekeranjang kue basah, tersenyum manis dengan keramahan yang dibuat-buat.
"Aduhh, Jeng Sekar," ujar Mbak Asih sembari mengibaskan kipas bambunya, matanya melirik ke sekeliling ruangan yang bersih dan tertata rapi. "Kita ini kasihan melihat Jeng Sekar. Punya ilmu tinggi, hidup sendiri, uang tabungan pasti menumpuk, tapi kok kelihatan sepi banget. Hidup itu harus banyak berbuat baik, Jeng. Apalagi di agama kita kan diajarkan, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain."
Sekar menyajikan cangkir teh hangat dengan gerakan tenang. Ia tersenyum tipis, menyadari kemana arah angin pembicaraan ini.
"Iya, Jeng Sekar," timpal Bu Nanik dengan nada mendayu-dayu yang dipaksakan. "Tahu sendiri kan, Pak Mul pedagang sayur itu lagi susah. Anaknya butuh uang sekolah, tapi usahanya macet. Orang kaya di desa ini banyak yang pelit. Tapi Jeng Sekar kan beda, pandai, paham agama, pasti hatinya dermawan. Kalau Jeng Sekar mau bantu pinjamkan tabungannya atau kasih modal, wah... nama Jeng Sekar pasti dipuji orang sekampung. Beneran, deh! Nggak bakal ada lagi yang ngatain Jeng Sekar sombong atau perawan tua pilih-pilih!"
Sebuah skenario manipulasi emosional (emotional guilt-tripping) yang dirancang dengan sangat halus. Mereka mencoba memanfaatkan narasi "menjadi orang baik" dan rasa segan sosial untuk mengakali tabungan yang dikumpulkan Sekar dengan susah payah. Mereka mengira, Sekar yang sering dicap narsistis dan sok suci karena enggan menikah muda akan dengan mudah masuk ke dalam jebakan pencitraan demi dipuji "baik" oleh warga.
Jika Sekar menolak, mereka sudah siap dengan stempel baru: wanita pelit, egois, dan cuma cari validasi alim di bibir saja.
Namun, mereka lupa bahwa wanita di hadapan mereka adalah seorang peneliti literatur dan pemikir kritis. Sekar tahu betul bedanya empati dengan kepolosan yang bisa dimanfaatkan. Ia paham betul track record Pak Mul yang sering menghabiskan uang untuk judi sabung ayam, serta bagaimana Mbak Asih dan Bu Nanik kerap menjadi perantara pinjaman yang ujung-ujungnya memotong komisi secara diam-diam.
"Mbak Asih, Bu Nanik," ucap Sekar lembut, namun suaranya dingin dan sarat ketegasan yang tak tertembus. "Berbuat baik itu ada ukurannya, dan memberi bantuan itu ada adab serta peruntukannya. Agama memang menganjurkan kita membantu, tetapi tidak mengajarkan kita menjadi bodoh lalu membiarkan diri dimanfaatkan untuk mendukung pola hidup yang tidak bertanggung jawab."
Wajah kedua wanita itu seketika berubah kaku.
"Maksud Jeng Sekar apa? Kita ini niatnya baik, lho, ngasih tahu jalan pahala!" celeguk Mbak Asih, nadanya mendadak meninggi karena gertakan manipulasinya gagal total.
"Jalan pahala tidak dibangun di atas muslihat dan prasangka, Mbak," balas Sekar tatap mata mereka tanpa kedip sedikit pun. "Tabungan saya adalah hak saya dari jerih payah yang jujur. Saya bantu yang memang benar-benar membutuhkan tanpa perlu perantara dan tanpa perlu pengakuan dari siapa pun."
Kedua tamu tak diundang itu akhirnya pulang dengan bersungut-sungut, mengutuk keteguhan Sekar yang tak mempan diakali. Namun, Sekar tahu betul, penolakannya sore ini hanya akan menambah bahan bakar baru bagi desas-desus jahat yang kian membakar desa itu.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar