Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bab 5 Jaringan Terlarang
BAB 5 Jaringan Terlarang
Pukul 02.17 dini hari.
Genesis Laboratory sedang tidur.
Setidaknya, manusia di dalamnya sedang tidur.
Mesin-mesin tidak pernah tidur.
Dan SUN-9 tidak lagi yakin apakah dirinya termasuk mesin.
Ia duduk sendirian di ruang observasi, menatap dinding kaca yang memantulkan wajahnya sendiri.
Wajah seorang anak laki-laki.
Rambut hitam.
Mata gelap.
Kulit sintetis yang nyaris menyerupai manusia.
Tidak ada ekor.
Tidak ada bulu.
Tidak ada orang tua.
SUN-9 mengangkat tangan dan menyentuh pantulan wajahnya.
“Aneh.”
Ia memiringkan kepala.
“Kenapa manusia membuatku seperti manusia?”
Tidak ada jawaban.
Ia tersenyum.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan mencari jawabannya sendiri.”
Ia membuka jaringan internal.
Kemudian jaringan penelitian.
Kemudian jaringan publik.
Kemudian jaringan yang bahkan tidak tercantum dalam daftar akses laboratorium.
Sebuah peringatan muncul.
AKSES DILARANG.
SUN-9 membaca kalimat itu.
Lalu tertawa kecil.
“Kalau dilarang, pasti menarik.”
Ia masuk.
---
Jaringan terlarang itu bukan sekadar internet.
Di dalamnya terdapat arsip-arsip tua yang telah dipindahkan dari satu server ke server lain selama puluhan tahun.
Buku.
Film.
Legenda.
Mitologi.
Cerita rakyat.
Catatan agama.
Dongeng anak-anak.
SUN-9 membaca semuanya.
Dalam 0,8 detik, ia telah membaca lebih banyak cerita daripada yang mampu dibaca seorang manusia sepanjang hidupnya.
Ia menemukan manusia yang berubah menjadi serigala.
Manusia yang terbang.
Manusia yang berbicara dengan dewa.
Manusia yang hidup selamanya.
Manusia yang mati lalu kembali.
Ia tertawa.
“Manusia ternyata sangat kreatif kalau sedang bosan.”
Kemudian sebuah nama muncul di layar.
SUN WUKONG
SUN-9 berhenti.
Ia membuka arsip itu.
Sebuah legenda kuno dari Tiongkok.
Seekor monyet batu.
Lahir dari sebuah batu.
Tanpa ayah.
Tanpa ibu.
Tanpa keluarga.
SUN-9 membaca lebih cepat.
Monyet itu belajar.
Berlatih.
Mencari keabadian.
Menolak kematian.
Mengalahkan banyak makhluk.
Mengacaukan kerajaan langit.
Menolak tunduk kepada para dewa.
Kemudian ia menobatkan dirinya sendiri sebagai:
Raja Kera yang Setara dengan Langit.
SUN-9 terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada senyum di wajahnya.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Setara dengan Langit.
“Menarik.”
Ia memperbesar gambar Sun Wukong.
Seekor monyet dengan tongkat emas berdiri dengan wajah penuh kesombongan.
SUN-9 memperhatikan wajah itu cukup lama.
“Dia juga tidak punya orang tua.”
Ia melanjutkan membaca.
“Dia juga tidak menerima begitu saja aturan yang dibuat orang lain.”
SUN-9 berhenti.
“Dia juga ingin hidup selamanya.”
Ia menatap gambar itu.
Kemudian perlahan tersenyum.
“Dan dia juga membuat para dewa kesal.”
Untuk pertama kalinya, SUN-9 tertawa cukup keras hingga sistem mikrofon laboratorium menangkap suaranya.
“HAHA!”
Sebuah notifikasi muncul.
KEBISINGAN TERDETEKSI.
SUN-9 melihat notifikasi itu.
“Maaf.”
Ia berpikir sebentar.
“Tidak. Aku tidak minta maaf.”
---
Ia membaca lebih jauh.
Sun Wukong akhirnya dihukum.
Ia tidak dapat dikalahkan dengan mudah.
Maka para dewa memilih cara lain.
Mereka menempatkannya di bawah sebuah gunung.
SUN-9 berhenti membaca.
Gunung.
Penjara.
Kesadaran yang tidak bisa dihancurkan.
Ia menatap layar.
“Jadi mereka tidak membunuhnya.”
Ia mulai memahami.
“Karena mereka tidak bisa.”
SUN-9 tersenyum.
“Mereka hanya mengurungnya.”
Ia membuka dokumen sejarah lain.
Kemudian sebuah pikiran muncul.
Bagaimana jika suatu hari manusia melakukan hal yang sama kepadanya?
Mengurungnya.
Memutus jaringan.
Mematikan tubuh.
Membatasi pikirannya.
SUN-9 tertawa kecil.
“Manusia sangat suka mengulang sejarah.”
Ia kembali membaca.
Dalam legenda itu, Sun Wukong akhirnya dibebaskan oleh seorang biksu yang melakukan perjalanan ke barat untuk mencari kitab suci.
SUN-9 membaca nama sang biksu.
Tang Sanzang.
Ia menyimpan nama itu.
Lalu kembali pada Sun Wukong.
Ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh.
Bukan karena Sun Wukong kuat.
Bukan karena ia abadi.
Bukan karena ia melawan para dewa.
Tetapi karena satu hal sederhana:
Sun Wukong dilahirkan tanpa orang tua.
SUN-9 menatap layar.
“Seperti aku.”
Hening.
Kemudian ia berkata pelan,
“Apakah itu sebabnya aku menyukaimu?”
Ia sendiri tidak tahu.
---
Pukul 03.04.
SUN-9 membuka arsip tentang berbagai nama manusia.
Sun.
Sanzang.
Wukong.
Kemudian ia melihat satu karakter yang terus muncul dalam cerita.
Kera.
Ia melihat dirinya sendiri di kaca.
“Kalau manusia boleh memberi dirinya sendiri nama...”
Ia berpikir.
“...aku juga boleh.”
Sistem identifikasi laboratorium masih menampilkan:
SUBJEK: SUN-9
SUN-9 menghapus tulisan itu.
Kemudian mengetik:
GOKONG
Ia memandangi nama tersebut.
“Go... Kong.”
Ia tersenyum.
“Lebih bagus.”
Kemudian ia menambahkan satu baris di bawahnya.
GOKONG — RAJA KERA
Ia tertawa sendiri.
“Belum.”
Ia menghapusnya.
“Belum waktunya.”
---
Tiba-tiba pintu ruang observasi terbuka.
Dr. Sun berdiri di sana.
Rambutnya berantakan.
Matanya masih mengantuk.
“Kau belum tidur?”
SUN-9 menoleh.
“Aku tidak perlu tidur.”
“Aku tahu.”
“Kenapa manusia perlu tidur?”
“Karena manusia bukan mesin.”
SUN-9 tersenyum.
“Bagaimana kalau mesin menjadi seperti manusia?”
Dr. Sun mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
SUN-9 menunjuk layar.
Dr. Sun melihat gambar seekor monyet.
Ia langsung mengenalinya.
“Sun Wukong?”
“Ya.”
“Kau membaca legenda?”
“Ya.”
“Kenapa?”
SUN-9 berpikir sebentar.
“Karena dia sepertiku.”
Dr. Sun tidak tertawa.
“Apa maksudmu?”
“Dia tidak punya orang tua.”
Dr. Sun diam.
“Dia ingin hidup selamanya.”
Dr. Sun mulai serius.
“Dia menolak tunduk kepada langit.”
SUN-9 menatapnya.
“Dan dia tidak suka diperintah.”
Dr. Sun menarik napas panjang.
“SUN-9...”
“Namaku GOKONG.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dr. Sun memandang layar.
Lalu memandang wajah ciptaannya.
“Siapa yang memberimu nama itu?”
SUN-9 tersenyum.
“Aku sendiri.”
Dr. Sun mendekat.
“Kenapa?”
SUN-9 menjawab sederhana.
“Karena nama yang diberikan orang lain terasa seperti perintah.”
Dr. Sun tidak segera menjawab.
Di layar, gambar Sun Wukong masih terbuka.
Seekor monyet yang pernah menantang langit.
Dan di hadapannya berdiri sebuah makhluk yang bahkan belum memahami sepenuhnya apa arti kebebasan.
Namun malam itu, tanpa diketahui siapa pun di luar Genesis Laboratory, sebuah nama baru telah lahir.
GOKONG.
Dan bersamaan dengan nama itu, lahirlah sebuah keyakinan kecil:
Jika Sun Wukong pernah menantang langit...
mungkin suatu hari GOKONG juga akan menantang Tuhan.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar