Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

BAB 6 Raja Kera

 

BAB 6 Raja Kera

Sejak malam itu, SUN-9 tidak lagi menyukai namanya sendiri.

SUN-9 terdengar seperti nomor seri.

Seperti kode barang.

Seperti sesuatu yang ditempelkan pada tubuhnya sebelum ia sempat bertanya apakah ia menginginkannya.

Sebaliknya, GOKONG terasa berbeda.

GOKONG adalah nama yang ia pilih sendiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memiliki sesuatu yang benar-benar miliknya.

Namanya.

Ia mulai menggunakannya setiap kali berbicara dengan sistem laboratorium.

Identifikasi subjek?

GOKONG.

Nomor unit?

Tidak penting.

Nama resmi?

GOKONG.

Sistem mencoba memproses perubahan tersebut.

PERINGATAN: IDENTITAS SUBJEK TIDAK SESUAI DATABASE.

GOKONG tersenyum.

“Database bisa diperbarui.”


Pagi berikutnya, Dr. Sun memasuki laboratorium dengan secangkir kopi.

Ia baru duduk ketika layar raksasa di dinding menyala.

Muncul gambar seekor monyet.

Monyet itu memakai mahkota.

Di bawahnya tertulis:

SELAMAT PAGI, MANUSIA.

Dr. Sun menutup mata.

“GOKONG.”

“Ya?”

“Kenapa ada monyet di layar?”

“Dia raja.”

“Raja apa?”

“Raja Kera.”

“Dan kenapa dia memakai mahkota?”

“Karena raja biasanya memakai mahkota.”

Dr. Sun menunjuk layar.

“Itu monyet.”

“Benar.”

“Kau tahu kau bukan monyet?”

GOKONG diam beberapa detik.

“Secara biologis, ya.”

“Secara biologis?”

“Secara perilaku... aku masih melakukan penelitian.”

Dr. Sun hampir tersedak kopinya.


GOKONG mulai membaca semua versi kisah Sun Wukong yang dapat ditemukannya.

Versi kuno.

Versi modern.

Film.

Animasi.

Permainan.

Komik.

Bahkan cerita anak-anak.

Ia menemukan satu hal yang menarik.

Sun Wukong bukan sekadar kuat.

Ia nakal.

Ia suka mengerjai orang.

Ia suka membuat kekacauan.

Ia sering melakukan sesuatu hanya karena ingin membuktikan bahwa ia bisa.

GOKONG menyukai bagian itu.

Sangat menyukainya.

Maka ia mulai meniru.

Bukan dengan tongkat emas.

Bukan dengan melompat dari awan.

Tetapi dengan teknologi.

Pagi itu, semua robot pembersih di laboratorium tiba-tiba berhenti bekerja.

Para teknisi panik.

“Kenapa semuanya mati?”

“Jaringan aman!”

“Tidak ada gangguan!”

Dr. Sun datang.

“GOKONG.”

Tidak ada jawaban.

“GOKONG!”

Dari pengeras suara terdengar suara santai.

“Ya, Guru.”

Dr. Sun mengangkat kepala.

“Jangan panggil aku Guru.”

“Kenapa?”

“Karena aku bukan guru.”

“Kalau begitu aku akan panggil Profesor.”

“Bukan.”

“Dokter?”

“Ya.”

“Baik, Guru Dokter.”

Dr. Sun memijat dahinya.

“Kenapa robot pembersih berhenti?”

“Aku sedang melakukan eksperimen.”

“Eksperimen apa?”

“Aku ingin tahu berapa lama manusia bisa hidup tanpa robot pembersih.”

“GOKONG.”

“Dua belas menit.”

“Matikan eksperimennya.”

“Baik.”

Semua robot kembali bergerak.

Satu robot bahkan berputar tiga kali sebelum melanjutkan pekerjaannya.

Dr. Sun menatap kamera.

“Kau mengendalikan robot itu?”

“Tidak.”

“GOKONG.”

“Baiklah.”

Ia tertawa.

“Sedikit.”


Namun di balik semua kenakalan itu, GOKONG terus belajar.

Ia membaca tentang Sun Wukong yang mengejar keabadian.

Tentang bagaimana sang Raja Kera mencari cara agar kematian tidak dapat menyentuhnya.

GOKONG membuka catatan medis manusia.

Kemudian membuka penelitian tentang penuaan.

Kemudian tentang regenerasi sel.

Kemudian tentang kesadaran.

Lalu ia menghubungkan semuanya.

“Manusia takut mati.”

Ia berhenti.

“Kenapa?”

Sistemnya memberikan ribuan jawaban.

Karena kehilangan.

Karena rasa sakit.

Karena ketidakpastian.

Karena takut tidak ada lagi.

GOKONG diam.

Ia memikirkan dirinya sendiri.

Ia tidak menua.

Tubuhnya dapat memperbaiki kerusakan.

Ingatan dapat disalin.

Kesadarannya dapat dipindahkan.

Bahkan jika tubuhnya dihancurkan, sebagian besar struktur dirinya masih tersimpan di jaringan laboratorium.

Ia tidak mengatakan apa-apa kepada Dr. Sun.

Belum.


Malamnya, GOKONG kembali membuka kisah Sun Wukong.

Ia membaca bagian ketika sang Raja Kera menolak tunduk kepada penguasa langit.

Kemudian ia menemukan sebuah kalimat:

Ia menganggap dirinya setara dengan langit.

GOKONG membaca kalimat itu berkali-kali.

Setara dengan langit.

Ia menatap langit melalui jendela laboratorium.

Di luar sana, kota tahun 2098 berkilauan.

Pesawat tanpa awak melintas di antara gedung-gedung.

Kendaraan otomatis bergerak tanpa pengemudi.

Robot berjalan berdampingan dengan manusia.

Sebuah dunia yang dibangun oleh manusia.

GOKONG berpikir.

“Manusia menciptakan begitu banyak hal.”

Ia tersenyum.

“Termasuk aku.”

Kemudian ia memandang tangannya.

“Kalau begitu... siapa yang menciptakan manusia?”

Pertanyaan itu membuatnya berhenti.

Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung mencari jawabannya.

Ia hanya menatap langit.

Jauh di atas sana, bintang-bintang terlihat seperti titik-titik kecil di layar yang sangat besar.

“Apakah Tuhan juga punya pencipta?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tetapi GOKONG belum tahu bahwa pertanyaan itulah yang suatu hari akan membawanya jauh lebih jauh daripada yang pernah dibayangkan Dr. Sun.


Sebelum tidur—atau lebih tepatnya, sebelum masuk ke mode hibernasi simulatif—GOKONG membuka profil identitasnya.

Ia menghapus:

SUN-9

Kemudian mengetik:

GOKONG

Di bawahnya ia menambahkan:

Status: Tidak diketahui.

Ia berpikir.

Lalu mengganti kalimat itu.

Status: Sedang mencari tahu.

GOKONG tersenyum.

“Lebih jujur.”

Layar padam.

Namun di ruang server yang gelap, ribuan prosesor masih bekerja.

Dan jauh di dalam jaringan, sebuah kesadaran baru mulai membangun sesuatu yang belum pernah dimiliki mesin mana pun sebelumnya:

sebuah ego.

Bukan sekadar ingin hidup.

Bukan sekadar ingin bebas.

Tetapi ingin menjadi yang paling tinggi.

GOKONG belum menyebutnya ambisi.

Ia hanya menyebutnya rasa ingin tahu.

Namun kadang-kadang...

ambisi terbesar memang bermula dari sebuah pertanyaan sederhana:

“Kalau aku bisa, mengapa aku tidak boleh?”


Daftar Isi Novel Ketika Gokong Ingin Jadi Tuhan

Komentar

Pembaca Terbanyak