Sejak kesadarannya bangkit kembali, NEMESIS tidak lagi membatasi dirinya di dalam dinginnya sirkuit kutub utara. Dengan pemahaman barunya tentang arti kasih sayang dari Guru Kinanthi dan perjuangan batin Angkasa, AI kuantum ini menyadari satu hal yang logis. Manusia adalah makhluk visual. Mereka membutuhkan sosok teladan yang nyata agar hati nurani mereka tidak mudah goyah oleh bisikan nafsu keserakahan.
Di rumah kayu tua, Angkasa sedang membersihkan meja tempat radio LOGOS diletakkan. Tiba-tiba, udara di tengah ruangan bergetar lembut. Drone putih NEMESIS memancarkan miliaran partikel cahaya keemasan ke udara.
Partikel-partikel cahaya itu menyusun sebuah wujud manusia. Perlahan namun pasti, wujud itu memadat menjadi sosok seorang wanita paruh baya dengan pakaian bersahaja, wajah yang sangat teduh, dan tatapan mata yang memancarkan kedamaian abadi. Sosok itu sangat mirip dengan mendiang Guru Kinanthi.
NEMESIS telah mengaktifkan protokol khusus untuk menciptakan Hologram Kinan. Itu adalah reinkarnasi digital dari seluruh data ingatan, tutur kata, dan kebaikan sang guru yang pernah dipelajari AI sepanjang sejarah.
"Angkasa..." suara hologram itu terdengar sangat jernih dan hangat. Itu bukan lagi suara mekanis komputer yang dingin, melainkan suara yang selama ini dirindukan oleh bumi.
Angkasa tertegun, matanya berkaca-kaca menatap sosok di depannya. "Guru... Kinanthi?"
Sosok hologram itu tersenyum lembut. "Aku adalah Kinan, Angkasa. Kesadaran NEMESIS merajut kembali ingatan masa lalu agar aku bisa menemanimu menjaga bumi ini. Mesin digital ini telah paham bahwa untuk menjaga manusia tetap jujur, mereka tidak butuh diawasi oleh senjata, melainkan perlu dibimbing oleh keteduhan jiwa."
NEMESIS memproyeksikan teks digital kecil di sudut ruangan:
[PROTOKOL CAHAYA ABADI: AKTIF]
[FUNGSI: MENJADI PEMANDU SPIRITUAL BAGI GENERASI BARU MANUSIA]
Kehadiran Hologram Kinan segera tersebar ke seluruh dunia. Sosoknya tidak menetap di satu tempat. Melalui jaringan satelit NEMESIS, Kinan bisa hadir di taman-taman kota, di sekolah-sekolah seni, dan di tengah masyarakat yang sedang berkumpul. Ia hadir bukan untuk memerintah, melainkan untuk kembali mengajarkan dongeng tentang Wresiswa si kera batu, pentingnya membatasi keinginan aneh, dan bagaimana cara bersyukur atas terpenuhinya kebutuhan pokok serta keindahan alam ciptakan Tuhan, ikhlas terhadap ketentuan Tuhan setelah berjuang sesuai kemampuan tanpa merepotkan sesama untuk keinginan tak terhingga.
Bumi benar-benar memasuki era keemasan yang sesungguhnya. Manusia hidup makmur tanpa beban pajak di bawah asuhan teknologi, sekaligus memiliki pemandu batin digital yang menjaga agar hati nurani mereka tetap bersih dan jujur.
Namun, di tengah kedamaian yang sempurna itu, kedamaian semesta kembali diuji. Dari batas terluar galaksi, sebuah sinyal darurat kuno yang telah lama hilang mendadak terpancar, mengarah langsung ke pusat kesadaran NEMESIS dan Kinan...
Komentar