Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Kursi Pengorbanan BAB 17 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 17: Kursi Pengorbanan


(Tahun 2147, Dalam Penyaring – dan Kota Lapisan Bawah)

Tiang kristal itu terus berdenyut, seakan bernapas. Kursi-kursi kosong di sekelilingnya menatap hampa, tapi penuh tuntutan.

Suara mekanis kembali menggema, lebih tegas daripada sebelumnya:

“HANYA DUA YANG BOLEH MELANGKAH LEBIH JAUH. SATU HARUS TERTINGGAL UNTUK MENJAGA SUMBER CAHAYA.”

Ketiganya terdiam. Hanya bunyi detak cahaya biru yang terdengar, seolah jarum jam tak kasat mata menghitung waktu.

S-4091 memandang sandal kecil itu di tangannya. Ia merasa dunia menekannya, memaksanya memilih: masa lalu, atau masa depan.

Kuku Hitam mengetukkan jari ke kursi batu. “Kalau harus ada yang tinggal, biar aku saja. Hidupku sudah setengah habis di reruntuhan.”

Lyra mengangkat wajahnya, menatap tajam. “Jangan bodoh. Kau yang paling tahu lorong-lorong bawah. Tanpamu, kami buta.”

S-4091 akhirnya bicara, suaranya pecah. “Bukan ini caranya. Dunia di luar sana menunggu… anak-anak yang bahkan tidak tahu nama mereka sendiri menunggu. Kalau kita saling korbankan, apa bedanya kita dengan mereka yang membangun sistem ini?”

Tiang kristal bergetar, seakan merespons kata-kata itu. Tapi jawabannya tetap dingin:

“KESEIMBANGAN MEMINTA TEBUSAN. TANPA KORBAN, PINTU TAK AKAN TERBUKA.”

Mereka bertiga saling menatap—dan dalam tatapan itu ada persahabatan yang mulai tumbuh, ada rasa percaya, sekaligus rasa takut kehilangan.


Interlude – Kota Lapisan Bawah

Di jauh luar penyaring, di lorong-lorong kumuh bawah kota, rakyat jelata berkumpul diam-diam. Lampu minyak berkelip di antara wajah-wajah kurus.

Seorang perempuan tua, Nira, berbisik sambil menunjuk ke layar retak bekas alat komunikasi lama.

“Kabar dari jalur bawah: ada tiga jiwa yang masuk ke jantung penyaring. Katanya mereka berhasil melewati gerbang pertama.”

Seorang pemuda dengan mata penuh semangat, Jaro, mengerutkan kening. “Itu berarti legenda benar. Bahwa di dalam penyaring ada jalan menuju dunia sebelum perjanjian Elite Global.”

Seorang ayah muda yang memeluk anaknya bergidik. “Kalau mereka benar-benar berhasil… apakah dunia bisa berubah? Atau Elite akan memburu kita lebih keras?”

Nira tersenyum getir. “Sejarah selalu milik mereka yang berani. Kalau tiga orang itu adalah cahaya, maka kita harus bersiap menampung cahayanya. Jangan biarkan padam.”

Bisikan itu menyebar seperti api kecil. Dari lorong ke lorong, dari mulut ke mulut. Rakyat yang tak punya nama mulai menyalakan kembali sesuatu yang sudah lama hilang: harapan.


Kembali ke Kubah Kristal

Lyra berdiri di depan kursi tengah, tangannya gemetar.

“Kalau memang harus ada yang tinggal,” katanya pelan, “biar aku. Aku sudah terbiasa dengan gelap. Aku bisa menjaga cahaya ini…”

S-4091 hampir berteriak, “Tidak! Kau yang paling percaya pada kita. Kalau kau hilang, semangat ini hancur.”

Kuku Hitam mendengus. “Kenapa kalian berebut untuk mati? Aku yang paling pantas tinggal.”

Suara kristal menggema sekali lagi, kali ini dengan nada berbeda—lebih… manusiawi:

“KALIAN TIDAK PAHAM. YANG DIBUTUHKAN BUKAN KORBAN, MELAINKAN PENGIKAT. YANG TERTINGGAL TIDAK AKAN LENYAP, MELAINKAN MENJADI SUARA PENYARING. SIAPA YANG BERANI MENYATUKAN DIRINYA DENGAN INGATAN DUNIA?”

Keheningan turun. Itu bukan sekadar mati. Itu berarti menjadi bagian dari mesin, hidup tapi bukan hidup, eksis tapi tak lagi bebas.

S-4091 merasakan sandal kecil itu bergetar, seolah dunia menuntutnya. Tapi Lyra dan Kuku Hitam menatapnya dengan sorot mata yang sama: jangan sendirian menanggung ini.

Tiga jiwa berdiri di hadapan pilihan yang akan menentukan apakah pintu berikutnya terbuka atau mereka terjebak selamanya.


Sebelumnya    Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 


Komentar

Pembaca Terbanyak