Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Suara-Suara yang Tersisa BAB 18 Novel Tanpa Jejak Manusia
Bab 18: Suara-Suara yang Tersisa
(Tahun 2147, Dalam Penyaring – Kubah Kristal)
Cahaya biru dari tiang kristal semakin kuat, menyilaukan. Seperti denyut jantung raksasa, ia bergetar dan merambat ke dinding kubah. Suara mekanis itu terus bergema, tapi kini terdengar seperti nyanyian samar—campuran suara manusia yang pernah hidup, tumpang tindih, dan terpotong-potong.
“Siapa yang rela menjadi suara dunia? Siapa yang berani kehilangan dirinya demi yang lain?”
Ketiganya terpaku. Keheningan menyiksa.
Kilas Balik S-4091
S-4091 menunduk, menggenggam sandal kecil itu erat-erat. Di dalam benaknya, kilasan masa lalu kembali datang.
Ia melihat dirinya berdiri di sebuah rumah sempit dengan dinding kayu lapuk. Ada seorang anak kecil berlari ke arahnya, wajahnya penuh tawa, memanggilnya Ayah. Tapi suara itu terdistorsi, seperti kaset rusak.
Lalu teriakan. Api. Suara sirene Elite. Rumah itu dihancurkan karena ia menolak menyerahkan identitas anaknya. Dalam kobaran api, sandal kecil itu tercecer—satu-satunya yang tersisa.
Kini ia bertanya pada dirinya sendiri:
Kalau aku menyerahkan diriku pada penyaring, apakah aku akan kembali bersama suara anakku? Atau justru melupakannya selamanya?
Kilas Balik Lyra
Lyra menatap kursi-kursi kosong. Ia menggenggam lengan bajunya yang compang-camping. Kenangan menembus pikirannya:
sebuah sekolah rahasia di lorong bawah tanah, di mana anak-anak belajar membaca huruf-huruf terlarang. Lyra muda duduk di antara mereka, matanya berbinar saat seorang guru tua mengajarinya kata pertama: cahaya.
Tapi suatu malam, Elite menyerbu. Guru itu hilang, anak-anak ditangkap. Lyra berlari, hanya menyelamatkan dirinya. Sejak saat itu ia bersumpah: kalau kesempatan datang, ia akan menjaga “cahaya” agar tidak padam.
Kini ia berbisik dalam hati:
Kalau aku jadi pengikat, mungkin aku bisa menjadi suara untuk semua anak yang tak sempat belajar kata pertama mereka.
Kilas Balik Kuku Hitam
Kuku Hitam berdiri kaku. Tangannya gemetar, tapi wajahnya tetap keras. Ia mengingat lorong gelap penuh tikus besi di mana ia tumbuh besar, tanpa keluarga. Yang ia kenal hanya geng jalanan dan perkelahian untuk sepotong roti sintetis.
Dalam ingatannya, ada seorang kawan dekat—anak lelaki yang selalu menutupi tubuh kurus Kuku Hitam dari pukulan geng lawan. Anak itu akhirnya mati tertusuk logam berkarat, hanya untuk menyelamatkannya.
Kuku Hitam menghela napas panjang.
Kalau aku harus tinggal di sini, mungkin itu cara membalas semua pengorbanan yang pernah orang lain lakukan untukku.
Kembali ke Kubah
Tiang kristal bergetar semakin keras. Suara itu kini seperti campuran tangisan dan doa:
“Tiga cahaya… tapi hanya satu yang bisa bersatu dengan kami. Pilihlah, sebelum cahaya padam.”
S-4091 menatap sandal kecilnya.
Lyra menatap dinding kristal seakan mencari wajah-wajah anak.
Kuku Hitam menunduk, menahan emosi yang selama ini ia sembunyikan.
Masing-masing hati dipenuhi rasa ingin rela, tapi juga takut kehilangan identitas. Jika mereka menjadi pengikat, maka nama, wajah, dan jiwa mereka bisa lenyap ditelan penyaring.
Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Tapi dalam diam itu, ada suara-suara masa lalu
yang memanggil, menuntut jawaban.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar