Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Suara-Suara yang Tersisa BAB 18 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 18: Suara-Suara yang Tersisa


(Tahun 2147, Dalam Penyaring – Kubah Kristal)

Cahaya biru dari tiang kristal semakin kuat, menyilaukan. Seperti denyut jantung raksasa, ia bergetar dan merambat ke dinding kubah. Suara mekanis itu terus bergema, tapi kini terdengar seperti nyanyian samar—campuran suara manusia yang pernah hidup, tumpang tindih, dan terpotong-potong.

“Siapa yang rela menjadi suara dunia? Siapa yang berani kehilangan dirinya demi yang lain?”

Ketiganya terpaku. Keheningan menyiksa.


Kilas Balik S-4091

S-4091 menunduk, menggenggam sandal kecil itu erat-erat. Di dalam benaknya, kilasan masa lalu kembali datang.

Ia melihat dirinya berdiri di sebuah rumah sempit dengan dinding kayu lapuk. Ada seorang anak kecil berlari ke arahnya, wajahnya penuh tawa, memanggilnya Ayah. Tapi suara itu terdistorsi, seperti kaset rusak.

Lalu teriakan. Api. Suara sirene Elite. Rumah itu dihancurkan karena ia menolak menyerahkan identitas anaknya. Dalam kobaran api, sandal kecil itu tercecer—satu-satunya yang tersisa.

Kini ia bertanya pada dirinya sendiri:

Kalau aku menyerahkan diriku pada penyaring, apakah aku akan kembali bersama suara anakku? Atau justru melupakannya selamanya?

Kilas Balik Lyra

Lyra menatap kursi-kursi kosong. Ia menggenggam lengan bajunya yang compang-camping. Kenangan menembus pikirannya:

sebuah sekolah rahasia di lorong bawah tanah, di mana anak-anak belajar membaca huruf-huruf terlarang. Lyra muda duduk di antara mereka, matanya berbinar saat seorang guru tua mengajarinya kata pertama: cahaya.

Tapi suatu malam, Elite menyerbu. Guru itu hilang, anak-anak ditangkap. Lyra berlari, hanya menyelamatkan dirinya. Sejak saat itu ia bersumpah: kalau kesempatan datang, ia akan menjaga “cahaya” agar tidak padam.

Kini ia berbisik dalam hati:

Kalau aku jadi pengikat, mungkin aku bisa menjadi suara untuk semua anak yang tak sempat belajar kata pertama mereka.


Kilas Balik Kuku Hitam

Kuku Hitam berdiri kaku. Tangannya gemetar, tapi wajahnya tetap keras. Ia mengingat lorong gelap penuh tikus besi di mana ia tumbuh besar, tanpa keluarga. Yang ia kenal hanya geng jalanan dan perkelahian untuk sepotong roti sintetis.

Dalam ingatannya, ada seorang kawan dekat—anak lelaki yang selalu menutupi tubuh kurus Kuku Hitam dari pukulan geng lawan. Anak itu akhirnya mati tertusuk logam berkarat, hanya untuk menyelamatkannya.

Kuku Hitam menghela napas panjang.

Kalau aku harus tinggal di sini, mungkin itu cara membalas semua pengorbanan yang pernah orang lain lakukan untukku.


Kembali ke Kubah

Tiang kristal bergetar semakin keras. Suara itu kini seperti campuran tangisan dan doa:

“Tiga cahaya… tapi hanya satu yang bisa bersatu dengan kami. Pilihlah, sebelum cahaya padam.”

S-4091 menatap sandal kecilnya.

Lyra menatap dinding kristal seakan mencari wajah-wajah anak.

Kuku Hitam menunduk, menahan emosi yang selama ini ia sembunyikan.

Masing-masing hati dipenuhi rasa ingin rela, tapi juga takut kehilangan identitas. Jika mereka menjadi pengikat, maka nama, wajah, dan jiwa mereka bisa lenyap ditelan penyaring.

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Tapi dalam diam itu, ada suara-suara masa lalu 

yang memanggil, menuntut jawaban.



Sebelumnya    Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 

Komentar

Pembaca Terbanyak