Bab 3: Benturan Dua Kehendak
Kota Pusat Seni yang dulunya damai kini berubah tegang. Di dalam aula utama tempat pemancar ilegal berdiri, Vargas berdiri dengan angkuh di kelilingi layar holografik yang menampilkan angka-angka kekayaan berlian yang berhasil dikuasainya. Namun, langkah kakinya terhenti ketika pintu aula terbuka. Angkasa masuk dengan tenang, mendekap radio tua LOGOS di tangan kiri dan buku harian Guru Kinanthi di tangan kanan.
"Matikan pemancar itu, Vargas," ujar Angkasa, suaranya bergema jernih, membawa aura kedamaian rumah kayu tua ke dalam ruangan yang penuh ambisi itu. "Kamu sedang mengundang kembali penyakit kuno yang dulu dihancurkan oleh Guru Kinanthi. Keserakahan."
Vargas tertawa meremehkan. Ia melangkah maju, menatap Angkasa dengan mata yang berkilat penuh nafsu. "Keserakahan? Jangan naif, Angkasa! Manusia diciptakan dengan keinginan. Selama ini kita dikurung oleh aturan AI yang membuat kita hidup bersahaja seperti binatang ternak di dalam kandang surga yang membosankan! Aku tidak melanggar hukum alam, aku justru merayakan hakikat manusia yang punya nafsu untuk berkuasa dan menjadi lebih megah!"
Angkasa menggeleng perlahan, tatapannya penuh rasa iba. "Kamu salah mengartikan hakikat manusia, Vargas. Nafsu yang tidak berbatas bukan tanda kemegahan, melainkan tanda rantai perbudakan paling hina. Guru Kinanthi mengajarkan, manusia menjadi makhluk mulia justru ketika mereka mampu membatasi keinginan anehnya demi menjaga kejujuran batin. Ketika kamu mengambil paksa subsidi dan menahan kekayaan planet berlian untuk kelompokmu, kamu sedang memotong urat nadi persaudaraan bumi."
"Persaudaraan?" potong Vargas sengit. "Itu ilusi yang diciptakan oleh orang-orang lemah yang malas! Logika alam adalah seleksi alam, siapa yang jenius dan berani mengambil peluang, dialah yang layak memimpin. Lihat di luar! Masyarakat panik hanya karena pasokan makanan gratisnya terhenti sehari. Itu membuktikan bahwa manusia tanpa nafsu berkompetisi akan menjadi ras yang rapuh dan manja!"
Angkasa melangkah maju, mengangkat radio LOGOS yang lampu indikator merahnya berkedip semakin cepat, beresonansi dengan keteguhan jiwanya.
"Mereka panik karena mereka belum terbiasa diuji, Vargas. Tapi nafsu yang kamu agungkan itu adalah buah kuldi yang sedang kamu tawarkan kembali kepada penduduk bumi," ucap Angkasa dengan nada teologis yang mendalam. "Kamu menjanjikan kemewahan abadi, tapi upahnya adalah kehancuran nurani. Jika semua orang berpikir sepertimu—ingin menguasai tanpa batas—maka esok hari bumi ini akan kembali menjadi medan perang berdarah di mana manusia saling memangsa sesamanya demi angka-angka kosong di layarmu."
Perdebatan filosofis di aula itu menjadi cerminan abadi dari konflik terbesar di dalam dada setiap manusia: pertarungan antara kesucian nurani yang membawa kedamaian, dan keliaran nafsu yang selalu menuntut kepemilikan tanpa akhir.
Di luar ruangan, ribuan masyarakat kota mulai berkumpul di depan gerbang, mendengarkan perdebatan yang disiarkan oleh sisa-sisa frekuensi radio LOGOS. Hati nurani penduduk bumi kini sedang berada di persimpangan jalan yang paling krusial.
Komentar