Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Harus Bagaimana ?
Harus Bagaimana ?
oleh Kinanthi
Tiba- tiba aku ingin bertemu dengannya. Dia teman sebangkuku ketika SMP. Di manakah dia berada kini? Setelah memperoleh informasi dari teman-teman di facebook -- media yang mempertemukan aku dengan teman- teman sekolah bahkan teman dan kenalan lama—aku pun meluncur menuju alamat di sebuah perumahan di wilayah Malang.
Seorang wanita yang kuingat sebagai pelayan di rumah orang tuanya dulu, bergegas membukakan pintu pagar. Wanita itu masih tampak energik dan tidak banyak berubah. Bagaimanakah dengan kondisi sahabatku? Tidak banyak berubah jugakah dia? Informasi yang kudengar, ia pernah mengalami kecelakaan yang membuat rahimnya diangkat. Betulkah? Bagaimanakah kondisinya kini? Mengapa ia tidak membukakan pintu pagar padahal aku telah meneleponnya dan ia pun menungguku? Jangan- jangan ia …. Ah, kutepis bayangan buruk yang melintas tentang orang- orang cacat kaki yang putus asa lalu tidak mau memakai kaki palsunya untuk beraktivitas dan hanya mengurung diri di rumah tanpa memotivasi diri dalam mengisi sisa hidup.
Dengan sedikit panik, mobil kuparkir di sudut halaman. Halaman yang cukup luas.Sepertinya dua kavling perumahan tipe 70-an dan yang sebuah kavling berada di posisi tepi jalan sehingga masih ada sisa tanah yang kini digunakan sebagai taman saja dengan beberapa pohon buah- buahan.Udara dingin terasa menyejukkan kulit,tapi anakku yang sejak tadi terdiam mendadak mengeluh kedinginan.
Kami diantar menuju jalan setapak ke belakang. Benar- benar taman yang tertata rapi. Tidak mengherankan, dia memang anak orang kaya dan bakat kaya itu rupanya masih terbawa hingga kini.Kekayaan warisan orang tuanya ataukah ia menikah dengan pria kaya? Entahlah. Walau kabar angin yang kudengar, ia tidak menikah akibat kecelakaan itu. Entahlah.
Tiba- tiba dari sebuah kolam renang mini berbentuk telapak kaki, kulihat seseorang sedang duduk di kursi dengan masih mengenakan pakaian renang, berkaca mata matahari warna ungu, rambut tergerai sebahu. Cantik,tapi siapakah dia?
“Dea…?” aku terkejut saat ia mendekat setelah menutupi tubuhnya yang semula hanya berpakaian renang dengan jarit. Dibukanya kaca mata dan digelungnya rambut yang semula tergerai.
“Maaf, tadi aku keasyikan renang sehingga kuminta bik Nah yang bukakan pagar,” katanya memelukku dan mencium pipiku.
“Syukurlah…kukira kamu stress,” spontan ucapanku sambil balik memeluknya.
“Wow….kamu sexy banget,kayak wayang kalau pakai jarit begini,apalagi rambutmu kausanggul….”
“Aku selalu mengagumi busana wayang. Postur wanita Jawa yang tidak begitu tinggi,jadi anggun dalam lilitan jarit yang memanjang dari dada sampai mata kaki. Siluet menjadi lebih memanjang ditambah dengan bahu yang dibiarkan terbuka…sensual banget.Berbagai bentuk wajah yang bulat,yang runcing, semua pantas bergaya busana demikian. Lain dengan kimono yang tampaknya hanya pantas untuk wajah bulat.
“Iya,nggak kebayang deh, kalau postur nggak tinggi malah pakai rok mini,apalagi zaman dulu nggak ada sepatu hak tinggi,” sahutku.
“Gaya busana nusantara, emang ada yang mini? Umumnya kaki tertutup celana panjang atau jarit, dengan bahu dan lengan terbuka. Pas banget dengan tubuh mungil wanita . Aku ganti baju dulu ya,biar nggak masuk angin,” ia pun bergegas masuk rumah. Kuperhatikan gerakannya dan guraunya, tak ada tanda- tanda stress. Aku jadi ragu,betulkah ia tidak menikah? Lalu rumah dan tanah seluas ini, siapa yang menempati? Masa ia hanya berdua dengan bik Nah?
Tiba- tiba masuklah Honda jazz dan seseorang dengan tubuh semungil Yuni Shara keluar. Rambutnya sebahu dicat pirang mengenakan jeans biru dan t shirt putih, dari jauh seperti masih SMA. Anak Dea kah? Kabarnya rahimnya diangkat? Jangan- jangan ia menikah dengan duda dan ini rumah suaminya sedangkan gadis yang baru datang itu anaknya?
Berbagai pertanyaan melintas- lintas sambil memperhatikan bik Nah yang sibuk menyiapkan makan siang. Bau gurami bakar mulai membuat perutku terasa lapar.Dea belum juga keluar. Mungkin ia masih mandi.
Gadis yang baru datang tadi tiba- tiba mendekatiku bersama Dea dan menyalamiku.
“Mbak… Mbak Dina?” aku sedikit tertegun dan ragu saat mengulurkan tangan.
“Ya iyalah..” jawabnya dengan suara yang mirip Dina Mariana. Bukan hanya suara, wajahnya pun mirip. Andaikan ada tahi lalat, tentu makin mirip,sehingga kami memanggilnya “Mbak Dina” pada kakak kelas kami itu. kakak Dea yang nama aslinya “Tari”.
Setelah bersalaman dan berbasa- basi sebentar,mbak Dina pun pamit pergi lagi.
“Dea, Mbak Dina masih imut banget, wajahnya juga. Kamu aja kalah,” komentarku tak bisa menahan diri.
“Heehe…..pakai susuk kali,” jawab Dea sekenanya.
“Yang bener Dea,” tanyaku lagi,”Tapi…tadi ia makan pisang emas ini,” aku lagi- lagi keheranan, membuat Dea tertawa lagi.
“Tentu enggaklah,Nin. Ia kan emang berpostur kecil nggak sampe 160 cm. Pada umumnya macet nggak bisa tampak tua kan? Apalagi pipinya pun tembem gitu….
“Kini umur kita 49 th, berarti ia 51 tahun kan? Tapi masa segitu imutnya sih?”
“Ia operasi pada kantung matanya, jadi lebih tampak fresh ya. Pada pangkal lengannya juga disedot lemak,sehingga ia bisa pede pake baju tanpa lengan.”
“Anak- anaknya tentu sudah mahasiswa?”
“Huhf….wanita semalas dia, mana mau punya anak?”
“Jadi…?” aku kian penasaran.
“Ya….baginya, konsep menikah agar ia merasa nyaman karena ada teman hidup. Ia tipe extrovert, lain dengan kita. Setiap ada masalah, ia maunya ada dialog, ada diskusi,padahal ia kutu buku. Coba pikir, begitu KTSP diberlakukan dan kompetensi dasar siswa ditekankan pada kemampuan membaca, nilai Bahasa Indonesia anak- anak Indonesia jungkir balik kan? Begitulah budaya baca di negeri ini. Belum berurat berakar, walau mayoritas penduduk negeri ini muslim yang berarti tahu betul bahwa ayat pertama berbunyi “Iqra…” artinya…Bacalah. Tapi budaya baca…..
“Apa hubungannya Dea?” anakku mulai mengantuk di pangkuanku.
“Hubungannya, Mbak Dina kesulitan cari pasangan diskusi yang cocok. Walau sama- sama kutu buku pun belum tentu merasa cocok. Apalagi ia nggak mau melahirkan anak,dengan dalih banyak anak di panti asuhan yang bisa dibesarkan,kenapa harus memproduksi sendiri? Coba bayangin, lelaki budaya patriarki mana yang bisa sejalan dengan jalan pikirannya?
“Akhirnya?” tanyaku lagi- lagi tak sabar.
“Dia enjoy saja dalam kesendirian.”
Mengerti berbagai pertanyaan yang menyesaki dadaku, Dea pun melanjutkan,
“Ia berpembawaan untung dalam menanam modal. Begitu lulus kuliah, ia menolak menjadi PNS dan warisan dari papa ia gunakan untuk penanaman modal di sini. Dari warung lontong kupang hingga home industri. Untuk pekerjaan, ia pilih menjadi dosen di sebuah PTS yang membuatnya tidak harus masuk kerja setiap hari. Begitulah yang dilakukan. Vakansi - sini bahkan ke luar negeri dari hasil penanaman modal. Suami bik Nah aja kebagian tugas memelihara sapi perah di desa, ia dapat warisan lahan lumayan luas sebagai cucu kesayangan nenek.
“Duh,enak banget nasib kalian. Sejak kecil jadi anak orang kaya. Kini setelah dewasa juga berkelimpahan harta…
“Enak dospundi Jeng? Mboten gadhah anak kok enak. Lha mbenjing menawi sepuh sinten sing ngopeni? Lha Den Tari kaliyan Den Dea ngaten gadhah arto kangge mbayari tiyang menawi sepuh, lha kados kula ngaten menawi mboten gadhah yoga lajeng sinten ingkang ngopeni?”
“Tak openi Bik, aja kuwatir,” gurau Dea.
“Lha nggih, Den Dea kaliyan Den Tari niku aneh lho Mbak. Wong nglampahi gesang kok mboten kados sing umum mawon. Kancane ngaten melu – melu,rak ngaten sing sae. Lha piyambake malah mboten purun omah- omah lho. Sak emut kulo wiwit mbiyen mulo, lare estri meniko menawi sampun prawan kencur nggih digadhang- gadhang kersane rabi lajeng nggadhah momongan. Dalah niku wau pun kodrate tiyang estri. Manak, masak, macak. Lha bapak ibu kagungan putra estri namung kalih mawon kok nggih sami mboten purun omah- omah.”
Bik Nah yang ikut keluarga mereka sejak kecil, santai saja mengomeli majikannya seperti anak sendiri. Dea pun santai saja mendengar hal itu yang sepertinya sudah puluhan kali di dengar dari berbagai penjuru mata angin.
“Jadi, betul nih ucapan Bik Nah, kamu tidak menikah?” Dea mengangguk.
“Setelah kecelakaan yang membuat rahimku diangkat, tunanganku memutuskan mencari wanita yang bisa melahirkan.”
“Tunanganmu siapa?
“Siapa lagi? Pramuditho ? Emang kamu lihat aku ganti- ganti pacar? Sejak SMA aku pacaran dengan dia. Sejujurnya, tidak mudah mencintai dan jatuh cinta kan? Keluarganya menolak memiliki menantu tanpa rahim. ..
“Anak Pramuditho berapa kini?”
“Aneh. Nasib kami seperti nasib adik nenekku. Begitu putus cinta dengan noni Belanda karena tidak direstui buyut, ia pun menikahi wanita Jawa pilihan ibunya.Ternyata ia nggak punya anak dan noni Belanda yang juga dilarang menikah dengannya oleh orang tuanya itu, juga tidak punya anak…
“Jadi, dia nggak punya anak juga?”
Dea menggeleng.
Kami lama terdiam. Betapa inginku bertanya, apakah ia dengan Pramuditho sekarang masih sering bertemu atau jangan- jangan mereka menikah juga walau tanpa restu orang tuanya? Atau Dea menjadi istri simpanan orang kaya, atau… ah, tapi aku tak punya nyali untuk bertanya dalam pertemuan pertama setelah berpisah sekian tahun ini.
“Aku sempat stress dan minta pensiun setelah peristiwa itu, Nin. Ini rumah mbak Dina dan segala kebutuhan hidupku dicukupi olehnya. Aku trauma pada cinta lelaki. Dia yang kucintai dengan sepenuh hatiku, ternyata tidak punya empati yang dalam terhadapku. Dengan enteng ia bilang menuruti kemauan orang tua tanpa membiarkan jalan pikirannya yang mengambil keputusan. Ternyata wanita yang dinikahi itu nggak bisa punya anak .Aku nggak tahu kabarnya kini dan nggak mau tahu. Males aja membiarkan hati untuk mencintai lelaki…
“Kenapa kamu jadi patah hati gitu?”
“Aku nggak patah hati, cuma berusaha realistis,” kilahnya.
Aku terdiam lagi. Kala ia bertanya,bahagiakah aku dengan pernikahanku? Kalau membiarkan rasa cemburu berkembang biak, aku pun merasa tidak bahagia.Tapi aku tidak mau membiarkan kecemburuan itu berkembang jauh. Yang penting aku punya suami,karena aku tinggal di kota kecil,jadi sangat tipis telingaku dalam melawan arus.
Gurau atau mengejek, siapa yang tahu? Tapi manakala ada mulut yang bertanya di depan massa tentang kesendirianku, seberapa kekuatanku untuk tidak berlinang air mata? Tidak semua bangsaku belajar bahasa Inggris sehingga paham bahwa etika internasional dalam bertegur sapa cukup “How are You?” Tanpa bertanya- tanya masalah privacy?Arus memang tidak selalu harus diikuti, tapi betapa sulit melawannya. Aku heran para banci itu kuat bertahan hidup dalam budaya tegur sapa yang tanpa etika begini. Sungguh mujizat, bukti Tuhan tak memberi ujian jika manusia tak kuat.
Sebetulnya juga bukan masalah seks jika aku tetap mempertahankan pernikahan kendati suamiku sering selingkuh,tapi demi anak- anakku. Aku wanita. Libido hanya muncul saat menjelang menstruasi, setelah itu tidak ada. Kecuali kalau syaraf- syaraf itu menerima sentuhan dan kepekaannya terhadap rangsang tentu menimbulkan getaran. Itu pun kalau tidak mood karena kesal pada suami, juga tidak bisa merasakan nyaman. Lain dengan lelaki yang pejantan. Konon setiap empat menit, di benak lelaki terlintas tentang seks, sehingga adakalanya mereka sulit membedakan antara cinta dan seks,antara dicintai dan diakali? Setidaknya,pemahaman akan hal itu yang membuatku kuat bertahan.
“Tapi kenapa kamu terkesan lemah,Nin? Dalam pernikahan kan seharusnya ada saling respek. Kini yang terasakan, suamimu tidak menghargai kamu, tidak menghargai perasaanmu….” Kata Dea.
“Iya. Tapi harus gimana lagi?” jawabku pasrah dan siap- siap pulang karena sudah lewat jam satu.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar