Sayang Adik




 

Sayang Adik

 

Kinanthi

 

Fary tidak bosan- bosan menatapi adiknya yang tertidur pulas di dalam boks bayi. Uh…betapa lucu. Matanya terpejam. Tidurnya nyenyak dan tampak tenang. Jemarinya tergenggam. Sesekali di bibirnya tersungging senyuman.


Fary tertegun sesaat. Bibirnya tersenyum? Mungkinkah adik bermimpi? Atau adik melihat aku berada di dekatnya? Tapi matanya terpejam? Mengapa ia tersenyum? Mungkin ia bermimpi, kata hatinya  sambil mengambil segenggam kacang goreng dari dalam stoples dan mengunyahnya pelan seakan cemas adiknya terbangun.

Fary memang sangat senang saat adiknya dilahirkan. Rasanya sudah sangat lama ia menunggu kehadiran adiknya ke dunia. Sejak ia masih bersekolah di TK nol kecil, lalu brpindah ke nol besar, kemudian memasuki Sekolah Dasar kelas satu, baru mamanya memberitahu kabar gembira itu.

“Fary akan mempunyai adik kecil yang lucu.”

“Asyik. Berarti Fary bakal punya teman bermain- main.”

“Minta adik lelaki atau perempuan?”

“Lelaki saja, supaya sama,” begitu selalu jawabannya jika ditanya.

Akan tetapi, saat kandungan mamanya semakin membesar dan Fary bisa merasakan beban berat yang harus disandang mamanya; ia tidak lagi menuntut.

“Lelaki atau perempuan, sama saja. Asalkan mama dan adik bisa selamat,” begitu akhirnya jawabannya sambil memeluki pinggang mamanya yang sudah tidak lagi berlekuk kemudian membenamkan wajahnya ke perut buncit mamanya itu.

“Adikku! Adikku! Kapan kamu lahir?” hampir setiap hari Fary mengelus sambil menempelkan telinganya di perut mamanya. Betapa ia sangat gembira kala merasakan bahwa adikknya yang berada di dalam perut mamanya menendang- nendang.

“Ma! Mama! Adik mendengar pertanyaanku, Ma! Rasakan, Ma! Ia bergerak- gerak kan?” teriaknya terharu.

“Perut Mama memang tidak kedap suara. Apalagi umur adik di dalam sudah lebih dari enam bulan. Jadi adik bisa mendengar pertanyaanmu,” jawab mamanya sambil membelai rambut Fary. Lagi- lagi Fary memeluk pinggang mamanya yang tidak lagi berbentuk, ”Karena adik sudah bisa mendengar, Fary tidak boleh lagi bebicara kasar apalagi yang jelek- jelek. Supaya adik tidak meniru,” lanjut mamanya. Fary mengangguk.

Setiap pulang sekolah, Fary selalu memberi salam sambil menciumi perut mamanya dan ia melonjak kegirangan sebab adiknya selalu bergerak menanggapi perilakunya.

Adiknya telah lahir dengan selamat. Lelaki pula, yang membuat Fary seakan tidak pernah rela beranjak dari boks bayi. Malam- malam apabila adiknya terbangun minta minum, Fary pasti ikut terbangun dan duduk di samping mamanya.

“Fary harus tidur. Bukankah besok harus sekolah?”

“Nanti saja, jika adik selesai minum.”

Demikian pula sepulang sekolah, setelah makan siang ia langsung membawa mainannya, buku- buku pelajarannya, bahkan makanan kesukaannya, semua diletakkannya berdekatan dengan boks bayi, agar ia bisa merasa selalu berada di dekat adik kecilnya.

“Lho…bibirnya tersenyum lagi,” Fary lagi- lagi menengok ke dalam boks bayi sambil masih mengunyah kacang gorengnya. Sebelum Fary beranjak menjauh untuk meneruskan kesyikannya bermain, tiba- tiba ia melihat bibir adiknya bergerak- gerak seperti gerakan saat mengisap dot minumnya.

Adik haus mungkin? Tapi mama mengapa lama sekali berbelanja? Bukankah hanya membeli bahan makanan ke warung sebelah? Fary tampak cemas melihat bibir adiknya yang lagi- lagi bergerak- gerak seperti saat mengisap dot minumnya.

Fary berlari ke belakang mencari- cari dot minum adiknya. Betapa kecewanya sebab susu di dalam dot itu telah dingin. Kata mama, susu yang telah dingin di dalam dot tidak boleh diminumkan kepada bayi sebab bisa sakit perut.

Tatkala ia masih kebingungan antara menjemput mamanya ke warung sebelah untuk memberitahu bahwa adiknya kehausan atau berdiam diri di rumah menemani adiknya seperti yang diminta mamanya, ia dikejutkan oleh suara tangisan adiknya. Tangisan yang makin lama makin keras, membuat Fary benar- benar kebingungan.

“Adik pipis mungkin?” gumamnya sambil meraba popok bayi yang tampak basah. Betapa ingin ia mengangkat pantat adiknya kemudian menggantinya dengan popok bayi yang bersih seperti yang selalu dilakukan mamanya. Akan tetapi, ia segera teringat bahwa tangannya belum cukup kuat melakukan hal itu.

Fary mendekatkan wajahnya ke dalam boks dan ia mulai menyanyi sambil menggerak- gerakkan kepalanya. Ulahnya mampu membuat tangisan adiknya terhenti bahkan kemudian memperhatikan gerak bibir dan kepala Fary yang menyanyi.

Tangisan yang hanya terhenti sebentar sebab kemudian adiknya menangis lagi, semakin lama semakin keras. Fary yang panik untuk sesaat tidak tahu harus berbuat apa. Tiba- tiba sebutir kacang goreng yang masih ada dalam genggamannya terjatuh tepat ke dalam mulut mungil adiknya yang tengah menangis. Ajaib! Tangis adiknya mendadak terhenti yang membuat Fary tertegun.

“Ha? Adik terdiam setelah mulutnya kejatuhan biji kacang? Apakah adik lapar?” dengan gembira, Fary menyuapkan lagi sebutir kacang ke mulut adiknya. Sebutir lagi dan lagi.

“Adikku sayang, Kamu juga suka kacang? Sama dengan Kakak,” ujarnya sambil memasukkan lagi sebutir kacang. Entah  berapa butir biji kacang yang sudah dimasukkan Fary ke mulut adiknya, setelah tiba- tiba Fary panik lagi mendengar adiknya menangis.

Tangisan yang makin keras bahkan diselingi batuk- batuk akibat tersedak. Fary yang kasihan melihat adiknya terbatuk, spontan berlari keluar rumah mencari mamanya.

“Mama! Mama! Adik menangis! Batuk- batuk!” tangisnya sambil menarik lengan mamanya yang tengah memilih sayuran.

“Tidak apa- apa. Adik menangis kan sehat,” sahut mamanya sambil masih memilih sayuran.

 

 

“Tapi, Ma! Adik batuk- batuk! Mungkin tidak mau makan kacang?” teriak Fary.

”Masih bayi memang belum boleh makan kacang,”gerutu mamanya terkejut sambil berlari pulang diikuti Fary yang masih menangis di belakangnya,

Ruang serba putih dan bau khas obat- obatan menyambut Fary yang siuman di pangkuan bu Rita, tetangganya. Maaf, Bu. Biji- biji kacang yang memenuhi mulut bayi ibu, ada yang telah memasuki paru- parunya. Anak ibu tidak bisa tertolong lagi. Fary teringat lagi  percakapan antara mamanya dengan dokter yang telah didengarnya sebelum pingsan. Walaupun bu Rita mengatakan bahwa adiknya baik- baik saja, Fary tetap saja menjerit dan meronta- ronta dari pangkuan bu Rita.

“Adikku! Adikku!” igaunya dan ia pingsan lagi untuk kedua kalinya.

(Ide biji kacang yang mematikan adiknya, dari kisah nyata, dalam sebuah berita di koran JP)

 

Komentar

Postingan Populer