Ilusi Optik?





 Ilusi Optik?

Kinanthi (Nanik w)

Tanpa terasa, mobil kami sudah hampir memasuki gerbang tol, ketika perdebatan dengan kakakku belum usai. Ia mengatai ulahku ibarat ilusi optik. Istilah apapula itu? Bagiku, ulahku masih dalam batas kewajaran. Bukankah hubungan kami merupakan hubungan yang saling menguntungkan? Kukira lebih ke arah simbiosis mutualisme, bukan ilusi-ilusi.  Akan tetapi, lain lagi dalam anggapan abangku.


            “Itu seperti sms mama minta pulsa,”sanggahnya.

Pemandangan di kiri kanan jalan tol untuk sesaat membuatku tidak segera menjawab sanggahannya. Padi-padi yang menguning, burung-burung yang beterbangan berlatar warna biru pegunungan betul-betul menunjukkan betapa indah tanah airku.

            “Tentu saja tidak sama. Aku datang dan berkenalan dengan fakta yang ada padaku. Tidak ada bohong-bohongnya sama sekali,”kilahku.

            “Tapi mereka memburumu.”

            “Itu kan hak mereka.”

            “Tapi Kamu memilih satu untuk menjadi pacarmu,”lanjutnya. Aku menjawab sambil menoleh ke arahnya. Ia  duduk di sebelahku yang saat itu berperan sebagai sopir.

            “Kata siapa aku memilih satu,”sanggahku.

            “Itu yang sering unggah foto-foto denganmu di media sosial.”

            “Kebetulan hanya dia yang aktif. Ibarat murid, ia yang rajin mengumpulkan tugas sebagai bukti bahwa ia siswa yang baik.”

            Abangku tertawa lepas.

            “Jika pacar sering mengunggah foto kebersamaan, juga menunjukkan bukti sebagai pacar yang baik?”

            “Baik dalam apa?” tanyaku. Ia menghela napas.

            “Itulah yang kuanggap ilusi optik tadi,”jawabnya.

            “Bayangkan. Begitu ia melihatmu lengkap dengan segala atribut membanggakan yang layak dipamerkan, ia pun aktif mengunggah foto kebersamaan. Hal itu rentan menimbulkan stress jika gagal bukan? Ulahmu kuanggap memberi khayalan semu.”

            Aku terhenyak. Aku selama ini tidak pernah membayangkan sejauh itu. Bukankah aku belum pernah menyatakan cinta kepada mereka? Tak satu pun. Aku merasa belum menemukan yang terbaik bagiku. Justru, semakin kuat keinginan mereka untuk memamerkan kebersamaan denganku, aku merasa dimanfaatkan. Aku semakin merasa tidak mencintai. Aku  pun merasa masih sebatas teman. Dengan siapapun itu. Aku masih belum memutuskan sesuatu.”

            “Bagaimana dengan mereka?” Aku mengangkat bahu.

            “Entahlah. Kukira juga biasa saja,”jawabku ringan.

            “Bagaimana dengan yang suka mengunggah foto-foto kebersamaan denganmu itu?”

            “Itu terserah dirinya,”jawabku,”Barangkali ia perlu jasa...

            “Jasa apa?”

            “Jasa pamer pacarlah. Jika ia bangga, aku kan juga ikut senang bisa membahagiakan orang yang ingin pamer. Hehehe.”

            “Kalau yang minta jasa foto bersama bukan hanya satu orang?” kilahnya.

            “Itu bukan urusanku. Mereka kan sudah dewasa. Masa untuk hal sereceh gitu aku harus ikut mikirin.”

            “Tentu ada yang malu.”

            “Aku kan tidak memintanya mengunggah foto.”

            “Aku sudah mengatakan penggemarku banyak. Mereka harus berlomba dan berjuang untuk mendapatkan cintaku,”lanjutku.

            “Bagaimana reaksi mereka?”

            “Macam-macamlah,”jawabku,”Ada yang sering mengirimi makan siang. Ada yang rajin mengunggah foto berdua. Ada yang rajin ngajak jalan-jalan, bahkan menginap.”

            “Tentu yang tidak terpilih kelak akan kecewa.”

            “Kecewa itu wajar dalam suatu harapan,”jawabku ringan.

            “Tapi,”sahut abangku,”Bagi yang merasa malu karena sudah telanjur pamer foto, pamer kepada tetangga telah memiliki pacar yang tampan membanggakan seperti Kamu, mereka yang berjuang meraih hatimu dengan mengirimi kamu gofood, meminjami kamu uang saat kamu mengeluh sedang bokek, tentu akan terluka, merasa dimanfaatkan.”

            “Itu kemauan mereka sendiri. Buah dari berharap...

            “Orang berupaya kan juga berharap.”

            “Maksudku berharap dan berupaya pun harus mempersiapkan mental jika gagal.”

            “Penentu gagal tidaknya kan Kamu. Harusnya Kamu segera memutuskan siapa saja yang tereliminasi dan siapa yang masuk nominasi. Jangan malah keasyikan menikmati ajakan Lessa untuk kencan bermalam, menikmati kiriman gofood rutin dari Shasya, pinjaman uang dari Bertha. Itu dosa.”

            Aku terdiam karena tidak mudah memutuskan untuk mengeliminasi meskipun aku tidak terpikir memperisteri satu di antara mereka. Tidak dapat kuingkari  bahwa aku menikmati kelucuan mereka dalam mengejar ambisi.

            “Kamu terpengaruh prinsipnya maling?”lanjut abangku. Aku tentu saja tidak terima dicurigai seperti itu. Untung saja ia menggunakan tanda tanya untuk berlindung dari anggapan menuduh, karena ucapannya  menjadi kalimat tanya.

            “Bagaimana contoh prinsip maling?”

            “Seharusnya kita dilarang memasuki rumah orang lain meskipun rumah itu terbuka. Tapi, Kamu malah mengetuk pintu rumah-rumah yang tertutup.”

            “Apa buktinya?”

            “Kamu pamer atribut bergengsi. Siapa yang tidak terpesona pada gengsi dan tampanmu?”

            “Aku tidak merasa pamer. Aku melakukan hal yang tidak terlarang. Jangan melarang-larang hal yang tidak dilarang.”

            “Tapi Kamu bersikap terbuka terhadap pemburu.”

            “Salahkah? Ibarat kijang, kelak bisa saja aku terpanah oleh kejituan pemanah. Jika tidak jitu, minggirlah.”

            “Bagaimana jika ada yang merasa rugi lahir batin lalu berdoa yang jelek-jelek? Bukankah doa orang teraniaya itu akan terkabul?”

            “Bagaimana kira-kira sumpah serapah mereka kelak?”

            “Kamu disumpahi menikahi perempuan yang membuatmu menjadi bucin.” Aku tertawa,”Wajar itu. . kepada isteri mengapa tidak membucin?”

            “Kamu akan disumpahi kelak isterimu selingkuh.”

            “Diselingkuhi? Nggak masalah. Aku bisa selingkuh duluan,”jawabku ringan.

            Tiba-tiba mobil yang kukemudikan seolah berjalan tak terkendali. Ada suara benda bergesekan dengan aspal, menimbulkan bunyi berderak sebelum akhirnya mobil terasa berat dan berat kemudian tidak bergerak setelah terasakan oleng ke kiri dan ke kanan. Kami menggunakan sabuk pengaman sehingga kepala kami tidak bertabrakan dengan kaca. Dadaku pun tidak membentur setir. Akan tetapi, kami tetap terkejut setengah mati sebelum menyadari apa yang terjadi.

            Jalan tol sedang sepi. Truk di belakang kami berhenti kemudian memberitahu bahwa ban kami pecah. Kebetulan petugas jasa marga yang sedang lewat melihat mobil kami yang bermasalah. Dalam hitungan menit, bekas kecelakaan pun tidak lagi terlihat. Jalanan tampak aman dan lancar seperti biasa.

            “Hmm...”abangku menoleh ke arahku,

            “Bisakah ini dianggap dari doa orang yang teraniaya?”

            “Jika dianggap teraniaya, aku pun tersiksa dianggap pacar Kek, dipamerkan ke sana ke mari, Kek,” jawabku tak mau disalahkan. Karena sesungguhnya aku pun tersiksa dan malu dipamer-pamerkan di media sosial.

            “Tapi Kamu lelaki patriarki, kukira malah bangga deh,”kilahnya,”Mereka pun mengejar Kamu belum tentu melulu terpesona pada kelebihanmu.”

            “Mengapa tetap bertahan ketika aku sudah terasakan menjengkelkan?” sanggahku. Jantungku masih berdegup tak karuan mengalami pecah ban saat melaju kencang di jalan bebas hambatan.

            “Karena mereka terbelenggu tuntutan tradisi patriarki. Tradisi yang seolah mewajibkan untuk mendapatkan jodoh bergengsi. Mereka tidak melulu bisa disalahkan. Mereka sudah berjuang. Meskipun Kamu terasakan menjengkelkan, tapi gengsimu menjadi ilusi optic bagi mereka. Mereka seolah jatuh cinta padahal tidak karena sejujurnya merasa tertekan dan tidak nyaman alias tidak sefrekuensi dengan karaktermu. Tapi, hasrat pamer pria bergengsi membuat mereka seolah telah mendapatkan tiket ke surga buah kesabaran ngedepin Kamu,”ujarnya.

“Ngadepin aku atau gengsiku? Prestise aku? Nggak jelas amat. Seharusnya aku yang jengkel. Cinta apaan tuh. Coba kalau aku tak ada gengsi, sabarkah? Huh!”sahutku.

 Setelah menghela napas panjang, ia pun melanjutkan,

”Memang tidak semua gadis modern mematuhi tuntutan tersebut. Mereka sudah menyadari bahwa memamerkan pasangan yang lebih bergengsi daripada dirinya merupakan tuntutan patriarkis pada era emansipasi ini. Tuntutan yang membuat mereka harus berulah bak gadis pingitan dan tetap perawan demi berjodoh dengan lelaki mapan.”

“Kontradiktif, memang. Shasa malah mengajakmu menginap untuk mendapatkanmu. Segitunya ia berjuang meskipun melakukan pelanggaran.”

”Lalu, tegakah Kauanggap pengalaman kecelakaan kita ini karma? Teguran semesta karena ambisi mereka? Ambisi pamer aku lengkap dengan gengsiku, lalu segitunya menista dirinya untuk melakukan pelanggaran tradisi ketimuran?” tanyaku tanpa memandangnya. Aku mencoba pasrah apapun yang dikatakannya

            “Terserah Kaumaknai sebagai apa. Kamu sudah dewasa. Sudah dapat memutuskan yang terbaik untuk dirimu tanpa merugikan orang lain.”

            Hm…aku tidak menanggapi ucapannya. Aku tetap menganggap yang kami lakukan merupakan simbiosis mutualisme.

  

Komentar

Postingan Populer