Konflik 50:50 (Bab 6 Labirin Insekuritas)
Di dalam labirin batinnya yang diserang insekuritas, Bima mulai merajut sebuah rencana pelarian. “Lihat saja, Diska,” bisik iblis kecil di dalam kepala Bima. “Kamu meninggalkanku demi seorang mahasiswa semester akhir? Aku akan membuktikan bahwa aku bisa mendapatkan wanita yang lebih darimu. Wanita yang bukan cuma mahasiswi, tapi mungkin sudah lulus, cantik, seksi, dan pembimbing lesku sendiri.”
Ada rasa haus yang akut dalam diri Bima untuk memamerkan Alin kepada Diska. Ia membayangkan betapa puasnya ego maskulinnya jika kelak Diska melihatnya berjalan berdampingan atau diantar oleh wanita se-elegan Alin di depan sekolah. Itu adalah sebuah mekanisme pertahanan diri, sebuah upaya instan untuk mengobati luka robek akibat penolakan Diska dengan cara mencari trofi pengganti yang lebih berkilau.
Namun, apakah ketertarikan Bima pada Alin sore itu semata-mata karena pelarian luka? Atau apakah jauh di dasar hatinya, Bima memang memiliki ketertarikan alami pada tipe wanita seperti Alin? Wanita yang tidak hanya memiliki keindahan fisik yang memanjakan mata, tetapi juga memancarkan aura intelektual? Bagaimana jika kelak ia lebih dominan? Sementara itu, dominasi ibunya di rumah pun membuatnya serasa sesak napas. Bayangan dua wanita cantik itu melintas sekilas, lalu bayangan Diska pun muncul. Batinnya mendadak ciut. Cantik dan dominan. Cantik dan meninggalkan. Cantik dominan dan meninggalkan. Kecemasan akan masa depan suram dan runyam mendadak meremas jantungnya.
Bima sendiri pun tidak mampu menjawabnya. Setiap kali ia menatap Alin yang sedang menjelaskan silabus matematika dan bahasa, Bima terjebak dalam disonansi kognitif. Di satu sisi, ia menyukai fakta bahwa Alin begitu cantik dan seksi, memicu gairah mudanya yang bergejolak. Di sisi lain, cara Alin berbicara, kedalaman berpikirnya, dan bagaimana wanita itu memandangnya dengan tatapan egaliter yang menghargai, membuat Bima merasa "digenapi". Pesona intelektual Alin seolah menjadi magnet yang menarik jiwa Bima yang selama ini kesepian dan haus akan pengakuan sebagai anak tengah.
"Bima? Kamu memperhatikan penjelasan saya, kan? Bukan melamunkan rumus yang tadi?" tanya Alin menyentakkan lamunan Bima, sambil mengetukkan ujung penanya ke meja dengan senyum menggoda yang ramah.
"Ah, iya, Bu Alin. Saya memperhatikan kok. Rumus fungsinya sangat jelas kalau Ibu yang menerangkan," jawab Bima cepat, wajahnya memerah karena tertangkap basah sedang mengagumi garis wajah Alin.
Alin hanya tersenyum memaklumi, menganggapnya sebagai kegugupan khas remaja pria kelas 3 SMA. Hal yang wajar dialaminya sejak awal ia berperan sebagai guru. Sungguh ia tak pernah berniat mencari perhatian. Ia merasa telah tampil secara profesional. Ketika rambut potongan bob sudah membuatnya bosan lalu dipanjangkan, ia pun menyanggulnya bak tampilan guru jadul. Alin tidak pernah tahu, bahwa di balik meja les itu, pemuda di depannya sedang menjadikan dirinya sebagai oase pelarian dari sebuah hati yang baru saja patah. Bahkan ia pun tak tahu, bahwa beberapa teman Bima yang menaruh empati atas lukanya, mengarahkan Bima untuk melabuhkan pelarian kepedihan hati kepadanya.
Bima pun tidak peduli apakah ini benar atau salah. Yang ia tahu, sejak pertama kali melangkah masuk ke Bimbel Kinanthi dan bertemu Alin, hatinya diliputi rasa riang yang tak terlukiskan. Tempat les ini bukan lagi sekadar ruang untuk belajar menghadapi ujian nasional, melainkan telah bertransformasi menjadi panggung baru tempat Bima ingin menyembuhkan lukanya, sekaligus merajut ambisi patriarkinya untuk menaklukkan sang guru yang memikat hatinya.
Adrenalinnya kembali bergejolak. Sekian persen demi cinta, tapi yang terbanyak ternyata demi menaklukkan. Perpaduan unik kecerdasan kinestetik yang sesungguhnya dominan dalam dirinya, berbaur dengan luka jiwa anak tengah. Bima tak sengaja telah mempersiapkan Alin sebagai objek untuk kepuasan adrenalin. Ia sudah membayangkan, kelak jika Alin menanggapinya, ia akan menceritakan kepada dunia, betapa Alin tidak meremehkan dirinya.
Jika hal itu memacu remaja-remaja sebayanya untuk tak mau kalah, lalu berjuang menaklukan dirinya demi menyingkirkan Alin, adrenalinnya tentu menyala penuh gairah. Semangat hidupnya bergelora kembali ketika dunia tahu betapa dirinya bak piala yang diperebutkan, bukan hanya dirinya yang berebut piala dalam setiap turnamen olahraga. Di dunia wanita, dirinya adalah piala itu sendiri. Dendamnya terhadap kompetisi demi piala, tanpa disadari telah memosisikan dirinya sebagai piala pula bagi wanita-wanita. Bagi lelaki dengan kecerdasan kinestetik dominan, adrenalin konon menjadi bahan bakar dan katalis untuk fokus. Tanpa stimulasi pemicu adrenalin, mereka cenderung lesu, kehilangan motivasi, sulit konsentrasi.
Ruang tunggu tempat kursus itu biasanya riuh oleh perdebatan soal rumus trigonometri yang memusingkan atau keluhan tentang tugas sejarah yang tak kunjung usai. Namun sore itu, atmosfirnya berbeda. Ada semacam konsensus tak tertulis di antara sekelompok remaja laki-laki yang biasanya tak bisa diam itu. Mereka duduk melingkar di sudut lobi, mata mereka sesekali melirik ke arah Bima yang masih tampak seperti sisa-sisa reruntuhan pasca-badai.
"Bim, dengerin kita," bisik Rian, teman sebangku Bima yang paling vokal. "Kita semua tahu kamu baru saja dihantam ombak. Tapi lihat ke depan sana. Ada Kak Alin. Dia itu oase di tengah padang pasir les-lesan kita yang membosankan ini."
Bima hanya menatap ujung sepatunya yang berdebu. Pikirannya masih tersangkut pada bayangan mantannya, namun tak bisa dipungkiri, kehadiran Alin di meja administrasi tadi telah menciptakan riak kecil di kolam hatinya yang tenang.
"Kami sudah sepakat," sambung Dimas dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. "Kita pun tertarik pada Kak Alin. Siapa yang tidak? Dia cantik, pandai, mandiri, dan auranya itu... beda. Tapi, kami semua memberimu lampu hijau. Maju duluan, Bim. Anggap saja ini terapi penyembuhan buat luka hatimu."
Lampu hijau. Sebuah kehormatan yang diberikan oleh kawan seperjuangan. Di dunia remaja laki-laki, ini adalah bentuk solidaritas tertinggi. Namun bagi Bima, tawaran itu terasa seperti beban ganda. Di satu sisi, ia merasa terharu karena teman-temannya peduli padanya agar tidak kian syok setelah putus cinta. Di sisi lain, insekuritasnya mulai berbisik jahat. Jika mereka saja merasa Kak Alin jauh untuk diraih, apalagi aku yang sedang hancur begini?
Bima mencoba menegakkan punggungnya. Ia merasa harus menunjukkan bahwa ia masih memiliki taji sebagai lelaki. Budaya patriarki yang ia hirup sehari-hari di rumah seolah menuntutnya untuk tidak terlihat lemah di depan teman-temannya. Ia tidak ingin dianggap sebagai "prajurit kalah" yang butuh disuapi cinta baru. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi penakluk, seorang penguasa atas perasaannya sendiri.
"Kalian serius?" tanya Bima dengan suara yang ia usahakan tetap stabil.
"Serius, man. Kamu butuh ini. Lagipula, gaya kamu yang tenang dan suka melindungi itu mungkin tipe dia," pancing Rian lagi.
Bima menarik napas panjang. Ia memperhatikan Alin dari kejauhan. Alin sedang sibuk mencatat jadwal, sesekali merapikan helai rambutnya yang jatuh. Di mata Bima, Alin adalah representasi dari kemapanan dan kecerdasan yang selama ini tidak ia temukan pada gadis-gadis sebayanya. Ada rasa ingin memiliki yang timbul, bukan sekadar karena cinta, tapi karena keinginan untuk membuktikan bahwa dirinya masih berharga.
Ego Bima mulai menyusun narasi baru. Ia membayangkan dirinya menjadi pusat perhatian Alin. Ia ingin Alin melihatnya bukan sebagai siswa SMA biasa, melainkan sebagai sosok pelindung. Tanpa sadar, ia mulai memupuk keinginan untuk "mengatur" situasi agar ia tetap berada di posisi aman. Ia belum menyadari bahwa inilah titik awal sifat patriarkisnya—yang ingin disembah layaknya Firaun—mulai mengambil alih kemudi hatinya.
"Oke," ucap Bima singkat, sebuah pernyataan perang pada rasa minder yang sebenarnya masih merongrong batinnya. "Aku akan coba." dan kembali adrenalinnya memberinya gairah setelah beberapa hari membuatnya lesu bak kurang darah.
Teman-temannya bersorak rendah, memberikan tepukan di bahu Bima yang terasa kaku. Mereka tidak tahu bahwa di balik persetujuan itu, Bima sedang berjuang melawan badai insekuritas yang kian hebat. Ia merasa harus menang, bukan karena ia benar-benar mencintai Alin saat itu, tapi karena ia takut akan kegagalan kedua yang bisa meruntuhkan martabatnya sebagai lelaki.
Sore itu, di bawah lampu lobi yang temaram, Bima menerima "lampu hijau" itu sebagai sebuah misi hidup dan mati. Ia mulai merancang strategi komunikasi, memikirkan kata-kata pembuka yang paling keren, dan mencoba menutupi luka batinnya dengan topeng kepercayaan diri yang semu. Ia tidak tahu bahwa Alin pun sedang membawa luka penipuan dari dunia maya, yang membuatnya lebih membutuhkan kejujuran daripada sekadar aksi heroik yang dibuat-buat.
Bima melangkah menuju kelas dengan satu keyakinan baru: ia harus mendapatkan Alin, bukan untuk berbagi hidup secara egaliter seperti teladan Rasulullah pada Khadijah, melainkan untuk menyembuhkan egonya yang sedang sakit. Ia belum sadar, bahwa jalan yang ia pilih ini justru akan membawanya pada labirin konflik batin yang jauh lebih rumit pada masa depan.



Komentar