Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

Bab 1 Novelet Distopia Futuristik " Hening di Atas Langit"

 Bab 1: Batas Udara Terakhir


Layar digital yang tertanam di dinding ruang tamu flat nomor 404 itu berkedip tiga kali. Setiap kedipan mengeluarkan bunyi desis pendek yang dingin, memantul pada dinding-dinding beton kelabu yang mulai mengelupas.

[Peringatan: Sisa kuota oksigen domestik Anda tinggal 120 liter. Saldo akun Anda tidak mencukupi untuk pembaruan otomatis.]


Kinanthi tidak menoleh. Perempuan berusia enam puluh tahun itu tetap menatap keluar jendela kaca yang buram oleh debu timbal. Di luar sana, Kota Baru tampak seperti tumpukan balok raksasa yang tidak punya jiwa. Kereta-kereta magnetik meluncur tanpa suara di antara gedung pencakar langit milik korporasi global, membelah langit yang tidak lagi berwarna biru, melainkan kelabu pekat sewarna tembaga mati.


Di dunia baru ini, alam semesta telah sepenuhnya diprivatisasi oleh segelintir manusia yang menyebut diri mereka Dewan Perintis—para elite global yang berhasil memenangi perang energi setengah abad lalu. Mereka tidak hanya menguasai tanah dan air. Mereka menguasai langit. Mereka memasang jaring-jaring ionik di atmosfer, menyaring udara murni, lalu mengalirkan karbon dioksida sisa industri ke distrik bawah tempat orang-orang seperti Kinanthi tinggal.

Untuk bisa bernapas tanpa batuk darah, setiap manusia di distrik bawah harus memakai Oxy-Collar—sebuah kerah tabung digital yang melingkari leher, menghitung setiap tarikan napas, dan memotong saldo rekening mereka dalam satuan mikro-dolar setiap detiknya. Bernapas tidak lagi menjadi hak lahir, melainkan sewa bulanan yang mencekik.


"Dua puluh tahun mengajar sastra," gumam Kinanthi, suaranya parau dan tipis. "Dan hari ini, aku bahkan tidak punya cukup angka di layar itu untuk membeli udara pagi besok."


Layar di dinding kembali berdesis. Kali ini warnanya berubah menjadi merah darah.

[Pemberitahuan Penyitaan: Batas waktu penangguhan Pajak Properti Multi-Dimensi telah habis. Hak hunian Anda atas Flat 404 dicabut efektif dalam 10 menit. Sila kosongkan ruangan.]

Kinanthi menghela napas panjang—sebuah keputusan yang mahal karena kerah di lehernya langsung berbunyi bip, memotong sisa kuotanya menjadi 118 liter. Tidak ada gunanya menangis. Di bawah rezim algoritma para elite, air mata hanyalah pemborosan cairan tubuh yang tidak memiliki nilai ekonomi.


Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rematik, Kinanthi membuka laci meja kayu tuanya—satu-satunya benda organik yang tersisa di ruangan itu. Ia mengeluarkan dua benda. Pertama, sebuah Kitab Suci bersampul kulit yang ujung-ujungnya sudah menghitam, warisan dari ibunya. Kedua, sebuah kotak logam berkarat dengan antena pendek yang kusam: sebuah radio transistor gelombang pendek buatan abad ke-20 milik mendiang ayahnya.


Di zaman di mana semua komunikasi menggunakan jaringan saraf kuantum yang dipantau oleh badan siber elite, benda mati purba yang menggunakan frekuensi radio analog ini adalah sebongkah sampah tak berguna. Namun bagi Kinanthi, benda ini adalah bukti bahwa manusia pernah hidup merdeka tanpa perlu diawasi oleh algoritma. Kinanthi memasukkan kedua benda itu ke dalam tas kain lusuh. Ia mengenakan mantel wolnya yang tipis, mengancingkannya hingga ke dagu untuk menahan angin malam distrik bawah yang terkenal korosif.

Saat melangkah ke ambang pintu, pintu apartemennya otomatis mengunci sendiri dengan bunyi klek yang final. Haknya atas tanah seluas empat kali empat meter itu telah menguap. Ia kini resmi menjadi bagian dari "Masyarakat Minus"—sebutan bagi mereka yang terusir ke jalanan karena kalah dalam simulasi pajak para elite.


Kinanthi berjalan menyusuri tangga beton darurat menuju lantai dasar. Ia sengaja menghindari lift magnetik yang tarifnya bisa menghabiskan sisa napasnya. Langkah kakinya terdengar sunyi, beradu dengan suara batuk-batuk kering yang menggema dari balik pintu-pintu flat tetangganya yang juga sedang menunggu giliran terusir.


Ketika kakinya menyentuh aspal jalanan, hawa dingin yang mengandung aroma besi langsung menusuk pori-pori kulitnya. Lampu-lampu neon holografik raksasa di atas gedung mempromosikan kehidupan mewah di Kota Terapung—sebuah oasis buatan di atas awan tempat para elite global hidup tanpa pernah tahu rasanya kehabisan udara. Iklan itu menampilkan anak-anak yang tertawa di taman hijau yang luas, sangat kontras dengan pemandangan di bawah kaki mereka.


Kinanthi berjalan menunduk, melewati gang-gang sempit yang dipenuhi manusia-manusia layu. Di kolong jembatan magnetik jalur siber utama, ribuan orang duduk berhimpitan seperti tumpukan kain rombengan. Wajah-wajah mereka pucat, mata mereka kosong menatap aspal, dan kerah di leher mereka berkedip-kedip kuning tanda kritis. Mereka adalah para pemilik rumah, petani, buruh, dan pemikir masa lalu yang kini menjadi limbah sosial karena tanah mereka telah dipajaki hingga ke titik mustahil.


Kinanthi mencari tempat kosong di antara sepasang ibu dan anak yang sedang meringkuk. Ia duduk di atas beton yang sedingin es, merapatkan tas kainnya ke dada. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena dingin yang menggigit, tetapi karena rasa ngeri melihat bagaimana kemanusiaan telah direndahkan hingga ke titik paling rendah oleh keserakahan yang dilegalkan.

Ia meraba kotak radio tua di dalam tasnya, lalu memutar tombol analognya dengan pelan. Hanya ada suara desis statis yang panjang. Srekk... krekkk... Sunyi.


Kinanthi memejamkan mata, memeluk Kitab Sucinya, dan berbisik di antara sisa napasnya yang tinggal 80 liter, "Jika Engkau masih mendengarkan dari balik tirai langit yang mereka kuasai... pinjamkanlah dunia ini sedikit keadilan."


Di atas sana, di balik awan tembaga, di dalam jantung komputer kuantum raksasa milik Dewan Perintis, sebaris kode pencarian analog yang sudah mati selama seratus tahun tiba-tiba berkedip menerima gelombang suara Kinanthi.



Daftar Isi 


Komentar

Pembaca Terbanyak