Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bab 6 Novel Menolak (Tidak) Lupa
Bab 6
Rekaman Semesta
Sambil menikmati angin senja di teras rumahnya, Rusti kembali mengenang nasib uniknya. Nasib yang telah memberinya isyarat, bahwa ia mau tak mau harus mengalami hal itu. Karena itukah, Tuhan mengundangnya umrah lebih cepat? Bukankah program awalnya, ia akan mendaftarkan umrah dan haji begitu SK pensiun turun? Dengan alasan agar memaksa diri menjaga kesehatan, lantaran ada utang kewajiban yang harus dilaksanakan?
Namun takdir berkata lain. Ibunya minta ditemani umrah. Ia pun berangkat hanya tiga bulan sebelum kepindahannya ke kantor baru. Dalam perjalanan merasa antara hidup dan mati saat terbang di udara sekitar 9 jam, ia merasakan bahwa ujian berat akan diterimanya dan ia harus kuat. Bahkan, demi janji bahwa Allah tak akan memberikan ujian jika hamba-Nya tak kuat, selain dibikin tampak lebih muda dari usia, kronologi nasibnya bahkan para pemeran serta dalangnya pun terlintas. Namun, imannya tak cukup kuat untuk meyakini bahwa intuisinya itu isyarat.
Ia hanya ingat satu isyarat, bahwa ia akan dicap sombong karena ia menulis sehingga kepindahannya ke jenjang yang lebih tinggi pun pasti akan menyulut masalah terkait predikat itu. Rusti menganggapnya hal wajar sehingga ia pun menyiapkan mental. Meskipun untuk itu, ada ujian yang masih mengganjal padahal ia ingin melupakan.
Bertepatan dengan permintaannya pindah jenjang dikabulkan, seorang tenaga administrasi di kampus S-2 mengatakan jika ingin mencoba peluang menjadi dosen, bisa nitip lamaran kepada beliau toh tidak harus pindah hanya dobel keduanya dijalani. Namun, keinginan untuk menulis lamaran tak pernah berhasil karena begitu pindah jenjang, kurikulum baru pun menyambutnya dengan sekian tugas sehingga menulis lamaran pun terlupakan. Begitu teringat, waktu sudah dua tahun terlewati sehingga ia merasa peluang tersebut tentu sudah ada yang menempati.
Peluang yang akhirnya membuatnya terjebak pada cinta semu Bayu? Takdir yang harus diterima akibat abai terhadap isyarat intuisi ataukah memang itu jalan hidupnya? Saat terkenang Tragedi Kaos Ungu, ia pun berandai-andai. Andaikan dulu aku tak terlalu tenggelam dengan kurikulum baru, aku tentu tak akan merasa dijadikan kelinci uji coba begini.
Ih, ia pun risih karena ujian tak diberikan sesuai kebiasaan manusia yang sulit hilang, melainkan sesuai karakter si penguji, misal jika si penguji suka ngutil, ujian untuknya pun terkait dengan hobi si penguji tersebut. Belum lagi asumsi yang disebar seringkali bercampur fitnah sesuai hobi penguji jika ia tukang fitnah. Maka, narasi tentang dirinya pun kian tak jelas. Apa tujuan ujian itu pun tak jelas. Yang ada dalam prasangkanya hanyalah orang tidak suka ia menulis.
Tragedi kaos ungu pun membuatnya terkenang masa remaja ketika ayahnya mengizinkannya untuk kos di kota kabupaten. Kamu harus bisa menjaga diri sendiri dalam arti harus selalu waspada, jangan lengah, jangan mudah terlena. Harus selalu eling lan waspada.
Maka tragedi kaos ungu mau tak mau membuatnya harus mendahulukan prasangka buruk, bahwa dirinya sedang diawasi, dianalisis, dievaluasi. Untuk apa? Mungkin jika dianggap tak layak hidup, ia harus dimusnahkan, minimal dimiskinkan. Mengapa? Karena berani tidak mematuhi tradisi patriarki, yaitu sebagai wanita berani bergelar perawan tua, mandiri finansial tanpa nempel-nempel lelaki, menulis pula. Maka, lengkaplah dirinya menjadi target perundungan yang bisa dijadikan bahan obrolan.
Ia menghela napas sambil bercermin. Setega itukah ia meluncurkan prasangka buruk, meskipun banyak korban amarah orang berjatuhan misalnya selingkuhan yang banyak tuntutan lalu dimutilasi dimasukkan koper dan dibuang?
Tapi dirinya bukan selingkuhan. Ia hanya bergaya hidup frugal living, menulis, dan melajang. Jika ada suara sumbang daripada ia beramal dengan tulisan lebih baik amalkan uang karena ada yang membutuhkan. Itu kan gurauan. Mana ada orang mendikte amal orang lain. Lagipula mereka pasti paham Rusti berhak memegang uang karena ia tak memiliki anak yang akan merawatnya pada hari tua.
Kaum wanita pun yakin, apa yang telah terhitung sebagai pemasukan bulanan janganlah berkurang karena semua itu sudah ada pos-pos pemanfaatan dari biaya harian, mingguan, bulanan, tahunan, hingga lima tahun bahkan sepuluh tahun ke depan. Semua itu demi tidak bergantung karena mematuhi sabda Rasulullah dari HR. Bukhari & Muslim. bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Siapapun itu baik suami maupun anak, mereka bukan tempat bergantung finansial total. Toh suami bisa hilang dipanggil Tuhan atau dipelet orang, apalagi anak, mereka hanya titipan. Maka, apabila wanita ingin beramal uang, tentu mereka maunya uang hasil kerja dari hobi atau uang belanja dari suami. Yang penting tidak mengusik uangnya sendiri dari penghasilan yang sudah pasti karena sudah ada pos masing-masing. Ini rahasia perempuan sehingga lelaki dilarang tahu.
Jika uang Rusti dihamburkan, bagaimana hari tuanya? Harus segera dimatikan agar tak lagi ada hari tua untuknya? Rusti bergidik ngeri membayangkan rasangka buruk yang melintas. Meskipun tak harus dihapus agar ia waspada toh banyak orang dibunuh demi dirampas hartanya, padahal hanya motor dan HP-nya. Tapi ada orang yang tega gelap mata untuk itu. Meskipun banyak anggapan mereka itu psikopat. Yang jadi masalah kemudian, tetaplah kita harus waspada karena psikopat tak menunjukkan gejala, bahkan acapkali bersikap semanis kembang gula, sebelum akhirnya terbukti menghancurkan korbannya.
Segelap itukah hati pemilik suara-suara sumbang? Tentu tidak, kecuali jika ada kesepakatan seperti para pemakai kaos ungu. Ulah yang hampir pasti terkoordinasi, karena tak mungkin pelaku membeli kaos sendiri dalam waktu sesingkat itu.
Kembali Rusti teringat masa itu. Andaikan dulu ia tak larut pada kurikulum baru, ia tentu tak akan dicap seburuk ini karena penulis pada umumnya dosen. Aku tentu bersibuk di kampus dan mungkin tak akan ada Tragedi Kaos Ungu. Tapi hal yang terjadi, terjadilah. Ia harus segera mengambil langkah.
Kembali lututnya terasa lemas ketika membayangkan prasangka orang sedemikian dangkalnya? Dianggap sebagai wanita obsesif terhadap daun muda demi mejeng-mejeng? Hm... Yang bisa membelanya tentu yang melihatnya tak kunjung membuat lamaran kerja sebagai dosen, jika niatnya semata mencari daun muda. Bukankah di kampus justru gudangnya?
Tapi... Kembali ia berurai air mata. Jika isyarat umrah mengabarkan ia akan dicap sombong, ia sebetulnya siap sehingga bisa tak acuh ketika beberapa teman ada juga yang terkesan berprasangka buruk. Toh sosok dalang pun melintas-lintas di udara saat ia merasa siap mati demi ibadah ini, andai ia jeli menangkap intuisi, lalu berhati-hati. Ibadah yang membuatnya kian yakin, bahwa jika belum saatnya atau sudah saatnya, tak ada orang yg bisa menolak, tak bisa memaksa maju maupun mundur.
Meskipun beban hidupnya sesungguhnya berat karena cap sombong tersebut, ia masih bisa tertawa dalam hati, sambil menyombongkan diri pula. Bukankah orang memberikan stempel sombong semata ia awet melajang, pindah jenjang, dan tetap menulis?
Mereka mana sanggup seperti dirinya, dalam kesendirian, mengerjakan semuanya dari memasak, merawat tanaman, membersihkan rumah, mencuci pakaian, membayar semua rekening dan pajaknya, mencari tukang saat atap bocor dan kerewelan terkait listrik dan air, membawa mobil ke bengkel dan mencucikannya kadang dicuci sendiri. Kesibukan urusan rumah yang biasanya dikerjakan suami istri, dikerjakannya sendirian. Itukah kesombongan?
Baginya bukan. Baginya justru itu penghormatan terhadap lelaki daripada menerima cintanya dengan setengah hati, karena ia wanita mandiri. Kemandirian dan niat yang tak pernah diapresiasi malah dimaknai sebagai kesombongan karena tidak segera memutuskan memilih tempat bergantung. Tempat yang membuatnya nyaman bergelayutan dan rebahan atau malah membuatnya tertekan tradisi patriarkis kemudian kehilangan siapa dirinya yang sesungguhnya.
Sebegitukah Tuhan mencipta wanita? Hanya sebagai bayang-bayang pria NPD? Tentu tidak. Lelaki dan wanita diciptakan setara sebagai mitra memakmurkan bumi, saling mendukung, simbiosis mutualisme, bukan parasitisme atas nama patriarkis. Jika demi tradisi patriarkis lelaki menjadi Firaunis lalu bengis tidak empatik dengan cara melawan naluri dasar sebagai pelindung sesama, siapakah yang paling bersalah? Wanitakah? Bukankah secara kognitif dan psikomotor nilai murid wanita saat bersekolah selalu lebih baik? Jika ada lelaki gelap mata menyulap data demi uang yang bukan miliknya, bagaimana perasaan wanita? Kian senang karena hobi berbelanja terpenuhi atau merasa dirajam hati nurani?
Hal yang umum memang tak terasakan bahwa diperlakukan tidak setara itu bukan pengabaian terhadap kesetaraan gender, melainkan ketaatan. Maka, saat ia meraih prestasi selalu ada komentar dengan komentator itu-itu saja, "Tentu saja sempat bersibuk di situ, kan gak merawat anak,” sambil menenteng bungkusan lauk matang yang dibelinya di warung, padahal untuk membawa bekal dengan cara memasak sendiri, Rusti harus bangun jam 3.30 tiap hari.
Tuduhan sombong yang tetap sanggup ditelannya bahkan ketika kerabatnya menegurnya, tidak seharusnya rela dilangkahi kecuali pasangan adik-adiknya lelaki tegar yang bisa melindungi mentalnya dari bahan gunjingan orang. Jika iparnya lelaki tipe ember tentu malah ikutan bergunjing saat dirinya di gunjing orang lain.
Tuduhan sombong yang tetap sanggup disangganya, saat upayanya berhemat malah dijadikan lelucon mereka yang menenteng masakan restoran sedangkan dirinya memasak sendiri, lalu mengeluh ingin pinjam uang kepadanya. Ia tetap tenang meskipun kuduknya merasakan kesiur angin dari suara cekikikan mereka yang menertawainya akibat berhemat. Ia hanya istighfar ternyata hematnya lebih menyulut emosi daripada ulah para koruptor.
Namun, kekuatan mentalnya goyah juga ketika terkesan ada prasangka demi bisa mejeng-mejeng dengan baju aneka warna, lelaki-lelaki di jalanan yang tak dikenal bahkan bukan tak bertuan pun akan diembatnya. Benar-benar prasangka gila. Sedemikian gila, sehingga Rasulullah sebagai rasul era modern, diperintahkan untuk membela diri dengan mengajak mereka berpikir jernih bahwa beliau bukan gila. Ulah yang tak dapat dibiarkan saja karena mereka tak akan mau mengerti jika tak diberi pengertian?
Rusti menatap tumpukan kertas koreksi di mejanya, sementara sayup-sayup terdengar sindiran-sindiran sumbang karena aktivitasnya itu. Sindiran halus yang menghantam dinding psikologisnya, memicu mekanisme defensif yang melelahkan. Secara sosiokultural, lingkungan tengah mengalami disonansi kognitif; mereka menuntut profesionalisme, tetapi menolak deviasi intelektual yang melampaui batas ruang. Rusti mengalami alienasi, sebuah isolasi sosial yang muncul bukan karena ia tidak cakap, melainkan karena ia menolak membiarkan nalarnya stagnan dalam rutinitas administratif yang monoton.
Dalam kesunyian yang mencekam itu, memori Rusti memutar kembali rekaman suara almarhum ayahnya bertahun-tahun lalu, sebuah melodi masa lalu yang kini terasa seperti ironi eksistensial.
“Menjadi gurulah, Rusti. Di sana tempat paling mulia untuk menanam benih peradaban,” tiru batinnya mengingat gema wasiat itu. Rusti berbisik lirih pada bayang masa lalu, "Aku mematuhi saranmu, Ayah. Saran itu kutanam lewat pengajaran, dan kurawat lewat tulisan. Namun mengapa, pohon pemikiran yang kurawat justru dianggap duri yang menusuk ego? Mengapa bakti kepadamu justru mengantarkanku pada penghakiman ini?"
Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menembus batas menuju sebuah ruang kuliah imajiner di benaknya. Di dalam teater akademik imajiner itu, ia membayangkan dirinya berdiri di balik podium dosen, di mana naskah-naskahnya disambut dengan dialektika yang merdeka, bukan tatapan curiga. “Andai aku di sana,” monolognya dalam hati, “menulis adalah napas, dan mandek berkarya bukanlah jalan pilihan. . Di kampus, aku akan diadili jika stagnan gagasan, namun di sekolah, aku justru dikucilkan karena terlalu banyak menuliskan pemikiran?
Paradoks profesi ini mengunci Rusti dalam sangkar pemahaman dan kesadaran, bahwa jika ia merasa diperlakukan tak wajar, mungkin dirinya yang salah kamar. Tulisannya bisa saja tidak berterima karena berbagai penyebab, dan itu bukan salah mereka. Hal itu masih berpadu dengan keawetannya melajang tanpa menghiraukan di mana bertempat tinggal.
Jika kemudian orang-orang menjadi salah sangka, bahkan seolah ingin membuatnya jatuh oleh komitmen yang pernah ditulisnya dalam sastra, itu pun ulah lucu-lucuan di bumi yang kian panas ini. Ulah yang mengukuhkan bahwa dirinya bukan hanya sombong tapi juga plin plan. Lelucon yang mungkin bisa membuat orang terbahak, karena orang sombong itu sudah terjebak. Tiga bulan kemudian, gosip bahwa ia terjebak opininya sendiri akan berangsur hilang, berganti korban jebakan lain lagi. Rusti segera menepis prasangka buruk itu, setidaknya tak harus mencari-cari betulkah prasangkanya itu? Jika betul, mereka tentu telah menabur untuk menuai. Kalaupun betul lalu Rusti memaafkan, apakah mereka gagal menuai? Belum tentu.
Batin mereka hanya tenang telah meminta maaf dan saling memaafkan. Namun, dampak moral melukai sesama manusia tetaplah memiliki analogi struktural seperti pencatatan waktu kehadiran via fingerprint; permohonan maaf dapat mereduksi ketegangan relasional, namun residu empiris dari pelanggaran tersebut tetap terekam. Rekaman secara permanen pula dalam memori semesta, sosial, dan psikologis korban, serupa dengan log data digital yang valid mencatat anomali keterlambatan tanpa menghapus riwayat waktu aslinya, meskipun memohon maaf berkali-kali. Jika terhapus oleh maaf, tentu mengacaukan data semesta. Sepertinya maaf memang menenangkan demi siap menuai perbuatan, tapi tidak menghilangkan catatan memori seisi semesta. Maka, berhati-hati bersikap terhadap sesama, dengan selalu memunculkan niat baik, memang solusi untuk menabur tanpa menuai.
Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar