Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

BAB 6 Novel Teenlit "DuA Sisi Cantik Ketua OSIS dan MPK

BAB 6 Novel Teenlit "DuA Sisi Cantik Ketua OSIS dan MPK 




 Bukan Sisi namanya jika sulit diajak berintrospeksi. Sesaat ia terkejut menyadari pendapat teman-teman pengurus OSIS dan anggota MPK yang baginya terlalu jauh.

 “Betul dugaan Abim dan Kamu, Dio,” ia menghela napas,”Aku merasa telah banyak mengorbankan waktu untuk kegiatan MPK. Jika sesekali aku meninggalkan rapat demi menjemput atau menengok orangtua, apa salahnya?” ia menghela napas.

 “Bagaikan makan buah simalakama ya Si. Orangtua yang telah memberimu uang saku lebih dari cukup, wajar menuntut perhatianmu. Sedangkan potensimu sebagai ketua MPK pun wajar menuntut pengabdianmu.”

 “Jika mikir soal uang bagi masa depan, aku memang tidak harus berkecimpung menjadi ketua MPK segala. Orangtuaku telah memberikan semuanya. Tapi, aku cemas anak-anak itu ugal-ugalan kalau menyusun proposal tentang konsumsi...

 “Kiprahmu di bidang organisasi tak perlu diragukan, Si,”jawabku,”Kamu pintar dan sanggup mengatasi semuanya. Justru kecemasanmu anak-anak akan menghabiskan uang, bikin kerdil nilai ibadahmu, karena terselipi suuzan. Bukannya urusan konsumsi sudah ada juklak dan juknisnya? Bukannya bendahara juga tahu hal itu? Jangan mencemaskan uang agar tidak menjadi boomerang. Agar kamu tidak dicap tidak empatik. Pikirkan saja potensimu yang terpendam, sayang kalau disia-siakan. Kami sudah beberapa kali ikut lomba tapi kamu masih belum tergerak,” saranku tiba-tiba saat bertemu dengannya di kantin.

 Entah mengapa, Sisi terdiam. Ekspresinya terlihat tidak suka. Entahlah. Mumgkin aku salah sangka. Tapi, mendadak muncul kecemasan luar biasa di hatiku. Aku mendadak sedih membayangkan Sisi menjauhiku. 

                                             *************

 Ada gurat kerinduan yang menyentak dan menjambak, yang mengguncang jantung dan bergolak sampai di ubun-ubun. Entah mengapa, semakin teman-teman bergunjing tentang Sisi, aku semakin merindukannya. Ada tantangan yang membuatku ingin menaklukannya ataukah aku tengah dihinggapi rasa cinta? Cinta? Aku terperangah. Suatu perasaan yang belum pernah kurasakan, tapi tiba-tiba saja sudah memaksa masuk menggedori pintu hatiku, kemudian meringkuk manis di relung hati. Entah yang terdalam atau masih terluar. 

Yang pasti, berawal dari kejengkelan terhadap sikap tidak empatik Sisi, kemudian berkembang ingin selalu memperhatikan ulahnya semata mencari-cari kelemahannya. Sungguh tak terduga, jika akhirnya yang sering terlintas malah kemandiriannya, kecekatannya dalam menangani sesuatu, kecepatannya dalam menyusun program, berakhir dengan gerak kijangnya yang selalu membayangiku. Benar kata-kata bijak bahwa cinta dan benci hanya berbatas selaput tipis, setipis kulit ari yang mudah robek. Jika sudah demikian, benci itu pun dengan pasrahnya berbaur dengan cinta. Keduanya menyatu laksana gula yang larut ke dalam pesona kopi.

Bagaimana dengan Sisi? Tentu saja ia belum tahu dan aku belum berkeinginan untuk memberitahu. Aku masih meragukan yang kurasakan. Rasa ini kunamai apa? Cinta? Sedemikian cepatkah? Terpesona? Tidak juga, toh aku masih sanggup berpikiran waras, bahwa akan banyak masalah kelak jika Sisi tetap tidak empatik seperti semula. Iba? Karena banyak yang tidak suka kepadanya? Tidak juga, karena aku pun sering kena semprot kebijakannya yang tidak familiar. 

Tapi rindu ini...Rindu ini kutaktahu kata apa yang akan kupilih untuk menamai. Yang pasti, semangatku berangkat ke sekolah berlipat kala teringat kepadanya. Amarahnya, gerak kijangnya, bahkan galaknya, selalu membuatku ingin bertegur sapa dengannya.

Akan tetapi, masih sebatas itu. Aku belum ingin menyampaikannya. Aku belum ingin membiarkan rasa ini berubah menjadi keterikatan yang berakhir dengan komitmen harus setia. Di sekolahku sedemikian banyak bunga-bunga yang memesona. Yang lembut gemulainya bak boneka tanpa harus menuntutku beradu argumen seperti dengan Sisi kala memutuskan sesuatu. 

Maka, rasa itu kubiarkan tumbuh tanpa harus disiram. Walaupun aku tidak berharap rasa itu tumbuh tidak subur, tapi aku juga tidak ingin memeliharanya. Biarlah rasa itu tinggal rasa. Rasa yang akan melenyap tergerus masa atau mungkin malah merebak menyesaki rongga dada. Entahlah, biarlah waktu yang memutuskan segalanya.

Lagipula, bukan hanya Sisi yang menarik di sekolahku. Para ABG yang tergabung dalam grup dance, yang selalu tampil dalam acara lomba basket di DBL Surabaya, juga sangat menawan. Gerakan mereka dalam berlatih yang seolah tak gentar terkena semburan sang surya, membuatku terpana. Make up yang menemani wajah semakin memperkuat kecantikan mereka.  

Sebagai remaja pintar menurutku, Sisi kadangkala juga naif. Bayangkan, ia penggemar astrologi. Jangan salah dengan astronomi, Bro, walaupun sama-sama membahas masalah bintang. Unik memang, tapi begitukah perempuan? Ada sisi naif dan unik dibalik kepintarannya? Entahlah. Dugaan yang terlalu jauh terhadap lawan jenis, apalagi Sisi masih remaja. 

Walaupun para ilmuwan mengatakan bahwa astrologi tidak mempunyai dasar dan fakta, tidak mengikuti metode ilmiah, bahkan digolongkan sebagai ilmu semu, tapi Sisi sebagai astrologers seolah ingin menyampaikan serupa bahwa para ilmuwanlah yang tidak cukup mengerti tentang astrologi. 

“Tidak penting banget Si, percaya astrologi,” kataku suatu hari saat bertemu dengannya yang tengah membahas zodiaknya.

“Tahu nggak, Dio. Nama zodiakku kini berubah,”

“Lho, kok bisa?” tanyaku yang tidak tertarik pada astrologi.

“Ah...Kamu gak perhatian banget,”serunya,”Ni. Baca. Kini jumlah bintang zodiak menjadi tigabelas.”ujarnya murung,”Ada rasi bintang ke-13 bernama Ophiuchus. Dahulu rasi bintang ini tak berlambang dan berada di antara Scorpio dan Sagitarius. Kini, akibat pergeseran lintasan tatasurya, eksistensi Ophiochus pun terkuak dan diberi simbol pawang ular. ..

“Lalu, apa urusannya denganmu?’

“Zodiak aku semula indah banget namanya, bersimbol anak kembar, seperti gantungan kunciku ini,” ia menunjukkan gantungan kunci motor, bahkan tas dan dompetnya. Semua bersimbol anak kembar.

“Itu simbol plin-plan, di media hoax sering dijelek-jelekkan dan dikatain pembohong. Hih...” aku pura-pura bergidik. Tak kusangka matanya berbinar-binar,

“Begitulah kalau anak manis yang baik hati dan tidak sombong,”suaranya keras sambil berjingkrak,

“Suka sih, berarti yang dijelek-jelekkan di media hoax gak bermutu itu bukan lagi zodiakku, karena zodiakku kini bukan lagi Gemini...

“Zodiakmu Taurus, sapiii,” sahutku. Ia cemberut.

“Yakh....begitulah, aku nggak suka nama dan simbolnya...

“Tapi itu lebih baik, pertanda Tuhan nggak rela Kamu dikata-katain pembohong oleh media hoax ,” hiburku,”Lagipula, dalam astronomi yang memiliki 88 rasi bintang, nama Ophiochus juga terdapat di dalamnya. Tahun 2006 yang lalu, dalam pengamatan astronom menurut BBC, bintang Ophiochus sudah mendekati matahari dan memunculkan supernova yang spektakuler.”

Ia terdiam, jemarinya mempermainkan gantungan kunci yang bersimbol anak kembar, seolah sayang kalau dibuang.

“Terimalah kenyataan Si, bintangmu kini bukan lagi Gemini. Ucapkan selamat tinggal pada Gemini yang kini nama baiknya sering menjadi bulan-bulanan media hoax dan dicap pembohong besar begitu Kamu mulai ikut lomba menulis. Maka, buanglah simbol anak kembar itu jauh-jauh. Bila perlu, lemparkan saja pada peramal hoax yang sering memfitnah Gemini sebagai zodiak pembohong,”godaku di WA sambil memasang gambar emosi menjulurkan lidah puluhan kali. 

Sisi pun membalasnya dengan gambar emosi terbahak dan menangis. Ia memang mulai mencoba mengikuti lomba menulis. Tim jurnalistik yang menerbitkan majalah dinding secara berkala, memuat ramalan bintang yang seringkali menggodanya dengan mengatai bahwa karakter bintang Gemini adalah banyak omong dan pembohong. Sisi marah-marah tapi tak kuasa memintanya untuk merobek majalah dinding tersebut.

“Sabarlah Si. Minggu depan sudah ganti tampilan. Kelas X MIPA 3 yang akan mengisinya selama seminggu pula,”hiburku sambil menjulurkan lidah di belakangnya. Ia pun tidak menyadari bahwa aku menertawainya.

Minggu berikutnya tatkala kelas X MIPA 3 menerbitkan majalah dinding, isi ramalan bintang hasil tulisan tim jurnalistik yang dipimpin Bonie, sekali lagi mengisinya dengan menjelek-jelekkan karakter zodiak Gemini. Sekali lagi, dituliskan bahwa ada lima karakter zodiak yang pandai berbohong, peringkat pertama lagi-lagi dipimpin oleh zodiak Gemini.

Lagi-lagi Sisi cemberut dan tidak mau menoleh ke majalah dinding yang bersebelahan dengan kantin sekolah. Ketika melewatinya, ia pura-pura tidak mengetahuinya. Ia tahu bahwa tim jurnalistik sengaja menggodanya. Ia pun tidak kuasa melarang rubrik zodiak tersebut karena sudah ditulis di atasnya “Rahasia alias Ramalan Hanya iSeng antI MarAh”. Entah sampai kapan Bonie mengerjainya. Entah darimana pula ia tiba-tiba beroleh informasi bahwa jumlah zodiak kini berubah menjadi 13 sehingga bintangnya bukan lagi Gemini. Ia ngarang kali.

“Sudahlah Bon, jangan menggodanya terus. Ia bisa ngambek nantinya,”kataku begitu ia bercerita bahwa bintangnya kini Taurus.

“Bonie curang. Coba aja baca zodiaknya, selalu yang baik-baik isinya. Benar- benar aji mumpung tuh,”goda Abim. Ia hanya tertawa sambil berpikir untuk menjelek-jelekkan bintang Taurus. Maka, ia pun membaca-baca horoskop minggu ini dari beberapa majalah dan koran, kemudian menyalin informasi yang dia butuhkan.

“Ada PR tuh. Kerjakan nih. Jangan iseng melulu,”Sisi menyodorkan format kepada Bonie untuk segera diisi.

Di luar dugaan, Bonie emosi. Ia berdiri tepat di depan Sisi sambil berkacak pinggang,

“Kaukira Kamu siapa? Nyuruh-nyuruh orang seenaknya. Kalau aku nggak mau, Kamu mau apa? Hah!”

Kami terkejut. Akan tetapi dengan tenang Sisi menjawab,

“Ok. Kamu berapa kali menggodaku? Kaubikin berita hoax tentang zodiac aku. Aku nggak marah karena itu kan memang rubrik gurauan. Tapi Kamu mengapa seolah mencari-cari masalah yang buntutnya bakal bikin kita bertengkar? Kemudian kita akan dipanggil wali kelas? BK? Ow, jangan harap. Ingat-ingat itu. Selamanya, aku nggak akan menganggap kamu ada. Camkan itu,” ujar Sisi sambil berlalu. Tapi tak urung, matanya berlinang airmata pula.

“Halah. Gitu aja dibuat masalah,” bisikku di sebelahnya sambil mengikuti langkahnya.

“Biar ia tahu. Selama ini yang sering usil kepadaku, kan dirinya...

“Mungkin ia suka sama Kamu,”godaku. Sisi malah melotot ke arahku,

“Orang usil, tapi kalau diusili balik nggak mau,” jawabnya bersungut-sungut.

“Kamu tadi nggak ngusilin balik, tapi memerintah. Di depan banyak orang pula. Ia kan malu,”kilahku. Sisi hanya menghela napas tapi tidak menjawab.

“Berarti Bonie tamperamental. Aku nggak suka ngomong dengan dia. Males,” jawabnya.

“Wah, Ibu ketua kok ngambek?’ godaku lagi.

“Biar,” sahutnya ketus dan benar-benar ia tidak mau bertegur sapa dengan Bonie saat berpapasan. Aku dan Bonie saling pandang dan saling senyum.

“Daripada ia memancing-mancingku yang kelak bakal membuatku kelepasan omong lalu ia merasa bebas menamparku, membawaku ke wali kelas atau guru BK, mending aku anggap ia nggak pernah ada. Mending aku anggap aku nggak punya teman yang bernama Bonie. Ia membahayakan...

“Bagi Bonie, Kamu juga membahayakan kalau lagi marah, karena Kautunjukkan arogansimu sebagai ketua, yang menyuruh-nyuruh anak buah seenaknya. Di depan banyak orang pula. Tadi kan lagi istirahat,”belaku.

“Oke. Aku salah. Karena itu aku nggak mau lagi bertegur sapa dengannya,’ jawabnya lagi. Ketus.

“Tapi ia anak buahmu,”godaku.

“Masa jabatanku akan habis akhir Juni. Tahun pelajaran baru aku bebas...

“Tapi bukan bebas bertengkar dengan Bonie kan?” sahutku. Ia menggeleng,

“Makhluk itu sudah kuanggap tak pernah ada di dunia. Nggak penting banget, tahu nggak.” Jawabnya, lagi-lagi dengan ketus.

Kami terbahak. Bonie apalagi. Senja itu malam Sabtu, kami berkumpul di lapangan basket.

“Biar ia introspeksi,”kata Bonie.

“Menurutku, Kamu juga harus introspeksi. Bukannya Kamu juga suka menyulut emosi Sisi?” kilah Habib,”Dulu, saat ada isu ia pacaran dengan kakak kelas yang mahasiswa, Kamu menggodanya habis-habisan. Mengatai si cowok playboylah. Tapi Sisi tertawa saja. Giliran Kamu diusilin, Kamu marah.”

“Sebaiknya Kalian memang tidak bertegur sapa. Aman. Sisi tidak lagi memerintah Bonie seenaknya sebagai ketua. Bonie pun tidak mengusili Sisi lagi. Biar ia pacaran dengan playboylah, zodiaknya dicap besar mulutlah. Tak adalagi gurau lucu-lucuan begitu,”kataku sok bijak.

                                        *********************************

Setiba di rumah, aku merasa sangat lelah bahkan badanku terasa panas. 

“Terlalu banyak aktivitas tapi kurang makan,” gerutu ibu sambil membuatkan sup panas.

“Mungkin pertanda akan pilek, Bu,” jawabku setengah sengau karena hidung serasa agak tersumbat.

Sambil merebahkan badan, lagi-lagi sosok Sisi membayang. Aku mencoba menepisnya dengan menghadirkan sosok Sisi yang lain, sang ketua OSIS. Bagiku Sisi ketua OSIS lebih keibuan. Kubayangkan pula, Sisi ketua MPK akan memasang muka protes begitu melihatku mendekati Sisi ketua OSIS. Akan tetapi, lagi-lagi wajah Sisi ketua MPK melintas-lintas menepis Sisi ketua OSIS sampai aku terlelap. 

Pagi hari aku terbangun. Asap rokok bertebaran memasuki celah pintu kamarku. Sesaat aku terbatuk, kemudian bergegas ke kamar mandi, berganti baju, menyiapkan bekal, kemudian berangkat ke sekolah. 

Ibu setelah menyiapkan sarapan kemudian juga bergegas bersiap-siap berangkat ke kantor. Sementara itu, ayah masih tiduran di kamar sambil mengepulkan asap rokok entah yang ke berapa batang, sebelum akhirnya mengatakan berangkat bekerja, tapi tidak pernah memberi uang belanja kepada ibu.

Sejak aku kelas IV Sekolah Dasar, lelaki itu memasuki rumah orangtuaku, menggantikan posisi ayahku yang sudah meninggal dunia. Delapan tahun ibu menjanda dan hal itu cukup membuatnya merasa tertekan.

“Bukan Ibu nggak bisa hidup tanpa suami, Nak. Tapi lelah juga hidup sebagai janda. Lelah menghadapi godaan pria, lelah dicurigai para ibu...

“Lalu Ibu rela hidup dengan lelaki yang bertindak sebagai benalu dalam hidup Ibu?” kilahku.

“Jangan berprasangka buruk. Acapkali ayahmu juga memberiku uang...

“Bukan ayahku, Bu. Tapi suami Ibu. Memang, ia memberi Ibu uang. Tapi uang itu dimintai lagi dari Ibu sedikit demi sedikit. Sama aja bohong,” suaraku hampir saja kukeraskan kalau saja aku tidak kasihan pada ibuku yang selalu berwajah sedih mengenang perilaku suaminya.

“Setiap kali Ibu membeli barang-barang baru, baju baru, ia selalu marah kan? Walaupun itu uang Ibu, hasil jerih payah Ibu dalam bekerja.”

Jika ibu terdiam, aku pun terdiam semata kasihan kepada ibu. Maka, aku segera mengambil bekal yang telah kusiapkan untuk kubuka di sekolah, kumakan kala istirahat pertama. 

Uf! Di jalan ketika kemacetan sudah mulai menampakkan diri, aku bergegas berbelok ke jalan pintas yang sempit tapi antimacet. Aku teringat tugasku, yang harus segera kutindaklanjuti bulan-bulan ini yaitu kegiatan FLS2N atau Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional. Maka, aku segera menghubungi pengurus OSIS seksi Pembinaan Prestasi Akademik, Seni dan Olahraga.

“Ada WA dari koordinator ektrakurikuler nih. Sudah mengunduh persyaratan lomba? Kan dalam jadwal bulan-bulan ini pelaksanaannya.” Yang dijawab sudah oleh Seny,”Bahkan surat rekomendasi berlatih dan siapa saja yang kita ikutkan lomba sudah kubuatkan.” Jawabnya. Hah...plonglah rasa hatiku. 

Tapi, Kamu harus menemani mereka berlatih,” kata Seny.

“Nggak janji. Kalau ada ulangan aku nggak bisa,”kilahku. 

Tiba-tiba Arnetta melintas di sebelahku. Gadis manis yang pernah menggemparkan itu tersenyum tipis kemudian berlalu. Bagaimana tidak menggemparkan? Saat itu ada lomba dance. Dua orang peserta lomba yang sudah kelas XII tiba-tiba mengundurkan diri. Arnetta tanpa berkoordinasi dengan instruktur apalagi pembina dan koordinator, langsung memutuskan menyewa dancer dari sekolah lain. Siswi yang disewa dikenai sanksi oleh sekolahnya, diskors seminggu atau meminta sekolah penyewa untuk memintakan maaf.

Aku dan Seny dengan cemas menyampaikan masalah tersebut kepada pembina dan koordinator ekstrakurikuler. Walaupun sadar risiko pasti dimarahi, tak urung kecemasan tetap saja melanda.

“Tapi, Bu,”kilahku terbata-bata,”Sekolah Sheeren, siswi yang disewa Arnetta, menuntut yang meminta maaf harus guru.”

Akhirnya demi Sheeren agar tidak diskors, pembina dan koordinator pun datang ke sekolahnya memintakan maaf. Peristiwa yang benar-benar memalukan bagiku dan bagi Seny. Peristiwa yang membuat wajah Arnetta siswi kelas X tersebut selalu memerah mungkin resah atau malu kepada kami setiap kali bertemu.

Akan tetapi, pipi Arnetta yang kemerahan tak urung membayangiku dan mampu menggeser bayangan wajah dua Sisi. 

Kepalaku masih saja terasa pusing, badan meriang ditambah batuk berdahak yang membuat tenggorokanku terasa panas. Teman-teman pada hari Minggu mengadakan lomba antarsekolah. Ketua panitia menghitung ada sekitar 30 teman yang kami libatkan sebagai panitia. Kecemasan beberapa panitia tidak berada di tempat tepat waktu dalam arti ada yang datang pergi, bahkan pulang sebelum acara selesai, Sisi pun melontarkan ide. Ia membelikan konsumsi tepat pada saat makan siang, setelah menghitung jumlah panitia yang hadir.

“Ada 13 orang, Si,” jawab Barbie melalui HT. Sisi pun meminta seksi konsumsi membeli makanan sejumlah panitia yang masih berada di tempat.

“Tambahi 10," pinta Sisi.

Ternyata, membeli konsumsi menjelang makan siang bagi semua orang, bukan hal yang mudah. Makanan yang dipesan di warung A tinggal 6 doos, sisanya harus berpindah ke warung lain. Itu pun pemilik warung masih menggorengkan lauk sambil membeli kotak kardus yang ternyata sudah habis. Jadilah, proses membeli konsumsi membutuhkan waktu yang lama sekitar dua jam. 

Aku yang menemani seksi konsumsi membeli nasi, merasa lapar, kemudian membeli batagor. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.15. Haus pun menyergap, segelas es kelapa muda kuminum dengan nikmat.

Mungkin kondisi fisik yang tidak fit, es kelapa muda yang dicampuri gula pemanis buatan, atau es batu yang kurang higienis, tidak harus menunggu magrib bagi batuk untuk menyerangku. Badanku terasa demam, tenggorokan gatal dan panas, lendir dari tenggorokan mengental, hidung pun tersumbat. Lengkaplah penderitaanku.

“Tapi Sisi nggak salah kan?” Abim membela,”Teman-teman kadang hilang timbul nggak jelas.”

“Hus....hilang timbul, memangnya benda yang hanyut di air?”

“Kondisimu nggak fit, mungkin. Kamu kurang gizi akhir-akhir ini,”lagi-lagi Abim menasihatiku sambil memberiku vitamin. 

                         *********************

“Naif juga sebetulnya keputusan tersebut. Jadi ingat ada saja ibu-ibu yang rela berpindah ke warung lain berjarak satu kilometer, hanya karena harga cabe di sana lebih murah lima ratus rupiah,”gerutu Abim,”Sisi sudah kuingatkan dan baru sadar setelah pesanan makanan tiba tepat pukul 15.00. Panitia bukan hanya pergi untuk kembali lagi, tapi benar-benar sudah pulang. Yang tersisa hanya sepuluh orang termasuk Kamu yang kini tumbang terserang flu. Ia malah nggak sekadar menyesal tapi menangisi kenaifannya.”

Kurebahkan kepala di karpet perpustakaan. Hidung tersumbat dengan kepala serasa berat, membuatku tak bisa segera terlelap. Padahal, waktu istirahat yang 30 menit kuanggap bakal membuatku lelap walaupun hanya 15 menit, itu karena semalaman aku tak dapat tidur.

Mataku menatap langit-langit perpustakaan sambil berandai-andai. Andaikan aku tidak merasa kelaparan lalu buru-buru makan di pinggir jalan, tentu kondisiku tidak seperti ini. Terus terang saja, aku buru-buru makan karena protes pada keputusan Sisi. Mengapa juga harus membeli konsumsi sesuai jumlah yang hadir, mengapa tidak membeli sejumlah panitia kemudian seksi konsumsi bisa menelepon warung makanan untuk pesan sekian tapi diambil pukul 12.00. Dengan demikian, konsumsi bisa datang tepat waktu. Ah, tapi mengapa juga aku menyalahkan Sisi atas keputusanku. Bukannya pagi-pagi ibu sudah menyiapkan sarapan, aku saja yang enggan karena tak ingin kekenyangan. 

Penyesalan, selalu hadir belakangan akibat langkah tanpa perhitungan. Badan pula yang menderita. Penyesalan, mengiringi sebuah keputusan tanpa perhitungan, hati pula yang serasa terkoyak. Penyesalan, muncul akibat tipisnya telinga terhadap ejekan, misalnya keputusan ibu yang menikah dengan suami barunya lantaran enggan lama-lama dianggap janda.

Penyesalan yang tak ingin kualami akibat terburu-buru mengambil keputusan “menembak” bunga-bunga yang memesona. Ada dua Sisi dengan karakter berlawanan tapi sama-sama menawan, ada ketua dance si Arnetta, ada pula dua orang gadis tim akademisi karena sering berlama-lama di sudut halaman sekolah pada sore hari, ketika aku sibuk berlatih basket.

Sebelumnya 

Daftar Isi 

Selanjutnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak