Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

Siapa yang Sebetulnya Terbelenggu dalam Novel Belenggu ?

Siapa Sebenarnya yang Terbelenggu 

dalam 

Novel Belenggu Armijn Pane?”


 

👍

Tonton videonya dan baca ulasannya ya. Novel Belenggu karya Armyn Pane ini pernah disebut sebagai jembatan antara Angkatan Balai Pustaka dengan Pujangga Baru, demikianlah yang terngiang tentang novel ini sesuai dengan yang disampaikan oleh guru penulis ketika SMP, pak Suko Utomo.

Pembahasan tentang sastra yang membuat saya akhirnya penasaran membaca sastra baru setelah sejak kecil hanya mengenal dongeng yang digolongkan sebagai sastra lama dalam periodisasi sastra Indonesia.


Belenggu memang mengesankan memiliki perbedaan dibandingkan dengan novel angkatan sebelumnya. Jika novel angkatan sebelumnya umumnya memiliki ciri khas “kebaikan berperang melawan kejahatan”, maka novel Belenggu ini lebih menekankan adanya konflik psikologis para tokohnya.


Novel yang kemudian dikenal sebagai novel yang mempertentangkan antara tradisional dan modern. Dalam Wikipedia diinformasikan bahwa novel ini ditolak penerbit Balai Pustaka,dianggap tidak bermoral karena mengisahkan konflik yang dihadapi kaum intelektual Indonesia pada zamannya, yaitu perselingkuhan serta adanya tokoh yang berperan sebagai pelacur pula. 


Selanjutnya, masih dari sumber yang sama, Teeuw berpendapat bahwa sifat pembaca yang terbiasa membaca karya sastra yang diidealkan, menjadi syok terhadap

kenyataan yang tercermin dalam novel tersebut.Belenggu, dari judulnya pun sudah menyiratkan bahwa para tokoh dalam novel ini memang masih terbelenggu adat, seolah satu kaki melangkah menuju masyarakat modern namun satu kaki lainnya masih berada di kubangan pola pikir tradisional.


 Sukartono sebagai dokter yang berpendidikan tinggi dan seharusnya berpikiran modern, ternyata mengingini isteri berpikiran dan tampil modern juga,tetapi harus  sanggup menjadi isteri tradisional.


Selain itu, dominasi terhadap perempuan yang masih terperangkap konsep kecantikan ala iklan pun bukan hanya terdapat di dunia nyata melainkan tertuang pula

dengan manisnya dalam karya sastra ini. Konon, karya sastra yang baik memang bukan yang menawarkan ide baru melainkan menggali ide yang sudah ada di masyarakatnya, karena karya sastra merupakan ekpresi pemikiran, perasaan, serta sikap pengarangnya sebagai refleksi terhadap fenomena yang tengah menggejala di masyarakat sekitarnya.


Tono menikahi Tini bukan karena mencintainya melainkan ingin menaklukkan karena sikapnya yang garang, padahal perilaku wanita idamannya  adalah yang berkarakter seperti Yah. Rohayah (Yah) sebelum berperan sebagai selingkuhannya, pernah menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya, kemudian menjadi pelacur setelah melarikan diri dari belenggu suaminya. Perselingkuhan tersebut merupakan akibat dari pola pikir Tono yang masih terbelenggu tradisi patriarki bahwa wanita harus melayani keperluan suaminya misalnya melepaskan sepatu, mengambilkan rokok, dan hal kecil lainnya. 


Akan halnya Tini, selain terpengaruh pola pikir wanita modern yang tengah menuntut emansipasi, ia pun cemas kehilangan cinta Tono jika mencoba membalas mencintainya. Hal itu akibat masa lalunya yang telah bergaul bebas melampaui batas sebagai wanita Timur dengan kekasihnya, Hartono, yang akhirnya menghilang.


Kondisi tersebut diperparah oleh anggapan Tini bahwa perhatian Tono sebagai suami lebih terfokus kepada pasien daripada memerhatikan kemanjaan isterinya, misalnya sesekali menjemputnya saat ada acara dengan teman-teman perempuannya. Aneka konflik batin yang menyesak membuatnya gelap mata sehingga melakukan hal yang melampaui batas kewajaran misalnya membuang alamat pasien.


Rokhayah merupakan teman sekolah Tono yang pernah memendam rasa cinta kepadanya. Selain itu, ia pun pernah mengingini diperisteri dokter. Keinginan yang

terakumulasi pada diri Tono, membuatnya tidak dapat mengelak dari jerat pesonanya ketika mereka kembali bertemu atau tepatnya Yah memang sengaja menggoda Tono dengan berpura-pura sakit. Wanita yang juga berperan sebagai penyanyi keroncong selain menjadi  pelacur selepas dari belenggu suaminya itu memiliki aneka nama samaran yaitu Nyonya Eni dan Siti Hayati.


 Trauma Masa Lalu dan Emansipasi Membelenggu Sumartini


Tokoh berikutnya adalah Sumartini (Tini), isteri dokter Sumartono. Perempuan modern yang tidak ingin terkungkung dalam belenggu domestik keluarga,menuntut emansipasi dengan langkah awal telah melakukan hubungan seks dengan pacarnya, Hartono. 


Ketika Hartono tiba-tiba menghilang, perilaku yang belum berterima di masyarakatnya tersebut membuat batinnya terguncang. Luka batin yang dialaminya, tanpa kehilangan hasrat mempercantik penampilan, adalah bersikap garang kepada lelaki.


Sikap jutek cuek tersebut  justru   membuat dokter Sukartono penasaran dan bertekat menaklukannya. Sebagai lelaki yang terbiasa diarahkan sebagai huntermemburu Sumartini yang sulit ditundukkan memang memberikan kepuasan tersendiri, terlebih bagi dokter Sukartono yang tentunya diburu banyak perempuan.


Sikap garang Tini yang tak pernah berubah,mengguratkan rasa hampa dan duka di hati Sukartono. Paradigma konvensional dalam pernikahan tetap menjadi semacam

tuntutan yang mendarah daging bagi Sukartono. 


Akan halnya Tini tetap beranggapan, perempuan pun berhak “memiliki kemauan sendiri”. Tuntutan emansipasi ditambah konflik batin akibat trauma masa lalunya menghalangi cintanya yang mulai bertumbuhan untuk suaminya. Semakin cinta itu tumbuh semakin ditekannya dalam-dalam dengan tetap memelihara sikap garang yang semula membuat Sukartono penasaran untuk

menaklukkannya.


Pikirannya dihantui kecemasan suaminya akan berselingkuh. Kecemasan yang akhirnya terbukti. Kecemasan dan prasangka buruk yang dialami Tini telah teraduk menjadi satu dengan tuntutan emansipasi, sehingga ia tidak juga mau berperilaku sebagai isteri yang menghargai suami. 


Posisi perempuan yang dimarginalkan dalam tradisi patriarki, membuat Tini berkeinginan mendobrak hal itu. Kesimpulan yang disamaratakan, padahal dalam hal

ini, Sukartono dapat dianggap memiliki tuntutan yang wajar, karena ia telah melakukan tanggung jawabnya sebagai suami dengan wujud sanggup memberikan gengsi dan kelimpahan materi.


Pikiran-pikiran Tini dan gagasan yang disampaikannya dapat dikatakan sebagai pemikiran yang telah maju pada zamannya. Akan tetapi, ia lupa, bahwa tuntutan Sukartono pun bukan asal menuntut karena ia telah berjuang menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami. Andaikan ia keberatan dengan tuntutan suaminya karena merasa sanggup mengais rezeki, seharusnya ia menolak menikah dengan dokter tersebut.


Dokter Sukartono, seperti pada umumnya lelaki, terlebih lelaki bergaji tinggi, juga menyukai perempuan cantik. Deskripsi fisik Tini yang cantik, suka bersolek, memakai rouge di bibir dan pipi untuk menunjukan Tini sebagai ratu pesta yang menarik.


Isterinya cantik, sebagai perempuan terpelajar, ia pun tampil selayaknya wanita modern serta dikenal sebagai ratu pesta pula dengan kecantikan menggoda mata.

Tuntutan emansipasi yang dilakukan dengan Hartono, membuat luka dua kali lipat. Pertama, ia wanita Timur, manakala perilakunya tidak umum, tentu ia merasa tidak nyaman. Kedua, Hartono tiba-tiba menghilang tanpa alasan jelas. Ia merasa terkena ghosting, yang membuat hatinya terluka lalu trauma tidak dapat lagi merasakan cinta pria, kendati pria itu memberinya kelimpahan materi pula.


Mengapa Hartono melakukan ghosting? Ternyata, karena  tiba-tiba menghadapi masalah berat berkaitan dengan masa depan. Hartono yang tidak memahami bahwa “merasa dicintai dan mencintai” merupakan kebutuhan mendasar wanita, sedangkan untuk kecerahan masa depan sesuai dengan emosional mereka, tidak terlalu dinomorsatukan, merasa tidak bersalah ketika memutuskan menghilang dari Tini yang banyak penggemar. 


Ulah yang mengguratkan sakit hati amat dalam bagi Tini. Seolah hidupnya sudah tamat setelah itu. Keputusan yang akhirnya dilakukannya dengan cara menghindari lelaki. Sedemikian emosionalkah wanita dalam menghadapi cinta? Sesungguhnya demikian 


Manakala Hartono merasa tersudut karena dipersalahkan pernah melakukan ghosting serta sarannya agar Tini mencintai Tono pun dibantah, ia pun mengajak Tini untuk kembali kepadanya karena ia telah memiliki pekerjaan.


Akan tetapi, Tini yang merasa sakit hati lagi-lagi menolak. Hartono hendak berkata, tapi ditahan Tini, kata Tini dengan cepat...tidak perlu aku dihiburkan, aku

sendiri dapat menemukan jalan...


Ungkapan sinis dan sakit hati seolah ingin menggoreskan kesan bahwa cintanya pada Hartono saat itu bukan sekadar karena kecerahan masa depan. Mengapa Tono tidak memercayainya malah melakukan ghosting toh Tini menerimanya apa adanya? Buktinya ia tidak bisa segera mencintai Sukartono kendati dokter tersebut melimpahinya dengan kemewahan?


“Engkau cinta padanya.”

Tini tersenyum meringis,”Cinta? Aku cinta? Hatiku cinta? Semua perasaan sudah

mati dalam hatiku, hatiku sudah seolah-olah kuburan. (Pane, 1937:120)

Ungkapan yang seolah semakin menyudutkan Hartono karena melakukan ghosting kendati hal itu dilakukannya saat ia merasa tidak memiliki masa depan. Ulah yang tidak dapat diterima Tini, ulah yang tidak dapat dimakluminya, ulah yang masih menyisakan sakit hati karena ia sangat mencintai Hartono saat itu. 


Cinta yang sepenuh cinta, yang tak akan dapat tumbuh, walaupun pria tersebut sanggup memberikan kebanggaan dan kelimpahan materi pula. Konflik batin  parah yang menjadikannya trauma akibat merasa di-ghosting Hartono

diungkapkan kepada Rohayah yang mengetahui masa lalunya.

“Bukan dia yang tak dapat engkau lupakan, tapi...perbuatanmu dulu itu dengan Hartono..


Dari sini terlihat jika Tini yang cantik  suka berdandan dan kemewahan itu, manakala suaminya menganggap tidak dihargai, bukan semata pengaruh emansipasi. Sebagai wanita Timur yang masih lekat dengan tradisi patriarki tentu ia tidak kesulitan

menjalani tradisi yang juga dilakukan sekitarnya.


Keberatannya selain arus emansipasi yang melandanya, ia ternyata memendam trauma. Trauma akibat menjalani perilaku yang belum berterima bagi tradisi sekitarnya,

yaitu melakukan seks pranikah kemudian dighosting pula oleh kekasih yang tengah tidak memiliki pekerjaan. Sakit hati serta kecemasan dicurigai tidak dapat menerima kondisi kekasih yang belum mapan, semakin menghalangi untuk larut mencintai Sukartono. 


Di hatinya selalu berperang antara mencintai suami yang bersikap baik, mengalah, melimpahinya dengan kemewahan atau tetap menjaga harga dirinya sebagai feminis yang mandiri dan tidak tergiur kemewahan yang dipamerkan lelaki. 


Ia seolah seterusnya tergoda untuk meyakinkan hatinya bahwa ia bukanlah perempuan yang begitu saja melupakan kekasih yang meninggalkannya setelah menemukan pengganti bergengsi dan kaya.Walaupun demikian, ada yang perlu digarisbawahi dari kecemburuan Tini akibat trauma tersebut. Kecemburuan berlatar konflik masa lalu memang tidak wajar.Ketidakwajaran yang mengikat gerak lelaki. Secara umum tugas utama lelaki adalah memberikan penghidupan kepada keluarganya. 


Atas dasar kewajiban tersebut, lelaki adakalanya harus menjalani tugas ke tempat yang jauh. Dengan demikian, hal nomor satu bagi lelaki memang bukan isterinya, melainkan kewajibannya terhadap pekerjaan yang dipilihnya.


Pernyimpangan perilaku yang dilakukan Tini ternyata bukan semata ikutan tuntutan emansipasi melainkan akibat trauma masa lalunya yang merasa ditinggalkan

begitu saja oleh mantan kekasihnya. Dari kasus Tini semakin jelas terasakan bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan mereka. Kebutuhan akan cinta wanita yang merupakan sebagian saja bagi kehidupan pria,

bagi wanita justru mencintai dan dicintai merupakan keseluruhan hidupnya. 


Oleh karena itu, ketika mendapati pria begitu mudah melarikan diri dari kekecewaaan dengan cara lari ke pelukan wanita lain lagi dan lagi, lalu   melakukan ghosting pulahal itu sangat sulit diterima wanita. Sedemikian sulit menerima sehingga mereka adakalanya melakukan tindakan bodoh dan tidak logis bagi lelaki, misalnya menutup diri dari perhatian lelaki, seperti yang dilakukan Tini yang memilih bersibuk di dinas sosial daripada menerima kembalinya Hartono maupun Sukartono yang sanggup mengguyurnya dengan materi berlimpah.


Rokhayah yang merasa tidak dicintai sejak pandangan pertama karena kalah menarik dari Tini, masa lalu yang kelam pula, kemudian meninggalkan Tono setelah Tono merasa nyaman bersamanya karena ia mampu menjadi wanita patriarkis seperti tuntutan Tono. Tinggallah Tono sendiri dan pasti di mata masyarakat takkan sulit menemukan pengganti sebagai lelaki patriarkis. 


Bagaimanakah konflik dalam hatinya? Sadarkah bahwa Yah pun tak bisa dituntut menjadi isteri patriarkis bukan karena tak sanggup, melainkan tak yakin dicintai setulusnya oleh Tono? Sedemikian luar biasanyakah cinta pada pandangan pertama bagi lelaki, hingga Yah yang merasa sanggup mengabdi pun akhirnya lari karena tak yakin dicintai? Padahal uang Tono berlimpah. Itulah idealisme wanita-wanita dalam novel Belenggu. Wanita tempo dulu sebelum materialisme mengaburkan logika dan nurani. Bagaimana jika Yah dan Tini hidup pada masa kini, akankah ia lari? Jl

 

Komentar

Pembaca Terbanyak