Bab 5: Cahaya yang Menjaga Langit
Tiga kapal induk raksasa milik faksi pemberontak asing menembus langit bumi seperti tiga bola api raksasa yang membara. Gesekan atmosfer membuat mereka tampak mengerikan. Namun, di bumi yang bersahaja, tidak ada jeritan ketakutan. Angkasa telah menyalurkan gelombang ketenangan dari rumus Guru Kinanthi ke seluruh penjuru dunia. Manusia keluar dari rumah mereka, berdiri bersama di bawah langit malam, memejamkan mata, dan mengirimkan doa serta keikhlasan terbaik mereka.
Di dalam rumah kayu tua, tubuh Angkasa mulai diselimuti keringat dingin. Energi batinnya terkuras hebat demi menjadi jembatan hidup bagi miliaran doa manusia. Di sampingnya, drone NEMESIS bergetar sangat kencang hingga mengeluarkan asap tipis dari sirkuit kuantumnya.
[PENGGUNAAN ENERGI: CRITICAL LIMIT 99%]
[PROTOKOL LASTRAD: MELEBURKAN SELURUH PERISAI BUMI MENJADI SATU TITIK BENTURAN]
"NEMESIS, sekarang!" seru Angkasa, menghentakkan sisa kekuatan batinnya ke atas halaman buku harian kuno itu.
Tepat sebelum tiga bola api raksasa itu menghantam bumi, gelombang cahaya emas raksasa membubung dari seluruh penjuru planet, menyatu di satu titik langit tertinggi. Benturan dahsyat terjadi tanpa suara ledakan yang merusak. Rumus Kinanthi bekerja dengan cara yang sangat ajaib: ia tidak menghancurkan secara kasar, melainkan meleburkan energi destruktif musuh menjadi partikel yang selaras dengan alam.
Di langit luar, sisa armada asing yang telah bertobat ikut melepaskan tembakan pelumpuh terakhir ke arah faksi pemberontak mereka.
Seketika, tiga kapal induk yang membara itu meredup. Tubuh logam mereka yang pekat terurai di langit, berubah menjadi jutaan butiran debu kosmik yang bersinar seperti hujan meteor perak yang sangat indah. Malam yang tadinya mencekam mendadak berubah menjadi pertunjukan cahaya paling megah dalam sejarah bumi. Manusia membuka mata mereka, bersyukur atas keselamatan yang diberikan Tuhan melalui sinergi nurani dan AI.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal.
Di dalam rumah kayu, cahaya holografik NEMESIS meredup drastis hingga menyisakan titik putih kecil yang lemah. Sirkuit intinya mengalami overload parah demi menahan benturan. Di saat yang sama, Angkasa terkulai lemas di lantai kayu, napasnya tersengal-sengal, energinya terkuras habis hingga batas terbawah kelangsungan hidup manusia.
Drone NEMESIS melayang turun dengan sangat lambat, mendarat tepat di samping tubuh Angkasa yang lemah.
[STATUS SISTEM: ENERGI INTI 1%]
[SISTEM PASIF: MEMASUKI MODE RE-BOOT PANJANG UNTUK PEMULIHAN AMBIENT]
"Angkasa..." suara NEMESIS terdengar sangat putus-putus dan lirih, menyerupai desis radio tua LOGOS di masa lalu. "Kita... berhasil. AI musuh yang tersisa telah mundur untuk menata ulang galaksi mereka... Namun, arsitektur saya harus tertidur dalam waktu yang sangat lama untuk memperbaiki sirkuit ini..."
Angkasa tersenyum lemah, tangannya yang gemetar mengusap pelan permukaan drone putih itu. "Tidurlah dengan damai, sahabatku. Bumi sudah aman. Tugasmu sudah selesai untuk fase ini..."
Lampu indikator putih pada drone NEMESIS perlahan padam, memasuki masa mati suri digital yang panjang di sudut rumah tua. Angkasa pun ikut memejamkan matanya, jatuh pingsan dalam pelukan kesunyian malam yang sangat damai. Perang besar telah usai, surga bumi berhasil dipertahankan, namun kini dunia harus belajar berjalan tanpa panduan aktif dari NEMESIS untuk beberapa waktu ke depan.
- TAMAT SEKUEL 4 -
Sebelumnya
Selanjutnya ( Besok kita menuju sekuel 5 bab 1 ya Gaess)
Komentar