Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab 12, Terluka Lagi)
Bab 12 Terluka Lagi
Kabar itu datang seperti petir disertai gelegar guntur, menghanguskan sisa-sisa keangkuhan yang Bima bangun selama berminggu-minggu di samping Dania. Sore itu, lobi tempat kursus tidak lagi dihiasi oleh senyum tenang Alin.
"Bim, kamu sudah dengar? Kak Alin nikah minggu depan," celetuk Rian, tanpa menyadari bahwa kalimatnya baru saja mematahkan ketegaran Bima.
Bima tidak menjawab. Dunianya mendadak kehilangan gravitasi. Rasa puas semu yang ia dapatkan dari "menguasai" Dania menguap seketika, meninggalkan rasa hampa yang jauh lebih menyakitkan daripada saat ia diputuskan oleh pacar SMA satu sekolahnya dulu.
Ini adalah luka kedua, dan kali ini, lukanya terasa lebih dalam karena ia tahu dialah yang memegang belati itu. Namun, ia tetap merasa dikhianati, meski akal sehatnya berteriak bahwa ia tidak memiliki hak untuk merasa demikian.
Bukankah ia yang lebih dulu menjauh Bukankah ia yang sengaja memamerkan kedekatan dengan Dania di depan mata Alin? Di media sosial pula. Namun, ego patriarkisnya tidak menerima logika itu. Ia merasa Alin seharusnya "menunggu" atau setidaknya "mengejarnya," bukan malah menyerah pada lelaki lain yang dianggapnya sebagai musuh bagi harga dirinya.
Kekesalan yang mengenangkannya ke masa kecil, ketika bermain petak umpet dan Bima yang kalah hompimpa harus mencari mereka yang bersembunyi. Dengan demikian, ia menemukan pengganti yang terkalahkan olehnya. Ia harus bersembunyi dan harus dicari, demikian seterusnya.
Para pemenang otomatis tidak pernah mencari. Mereka harus bersembunyi rapi. Sedemikian rapi sehingga tak pernah ditemukan si kalah dalam hompimpa. Dengan demikian, ia tak pernah mencari. Bima pun memperhatikan mereka yang bergegas berlari untuk sembunyi sambil merogoh permen karet di saku celananya, mengunyah dengan santai. Otaknya berpikir bagaimana cara menemukan mereka dan siapa target untuk diburu? Bisa jadi, jika beruntung sekali jalan untuk memburu si A yang bersembunyi di tepi sungai, malah menemukan si B yang meringkuk dekat tong sampah.
Bima melirik mereka yang berlari sejauh-jauhnya lalu sembunyi serapi-rapinya sambil berharap Bima akan kelabakan mencari. Namun, setelah permen karet yang dikunyah habis, Bima malah pulang. Tidur berselimut. Satu jam kemudian mereka mencari Bima ke rumah dan menarik selimut Bima,
"Mengapa nggak cari kami? Kami sembunyi merasa aman tanpa dengar langkah kakimu, dengan bangga merasa yakin Kamu mewek nyari kami nggak ketemu. Eh, malah tidur. Lihat nih, tangan kami bentol-bentol digigit nyamuk kebun." gerutu teman sebayanya, sedangkan anak-anak kecil yang juga ikut main petak umpet malah ada yang menangis tubuhnya gatal-gatal.
"Salah sendiri, ngumpet terlalu jauh dan rapi maunya apa? Agar aku jadi lelucon mencari Kalian? Mending tidur."
"Tapi Kamu gak bisa menemukan persembunyian kami, kan? "
"Tentu. Makanya aku mending pulang. Gak lucu jika dilihat orang. Aku tengok kiri kanan naik turun pinggir sungai di antara perdu liar untuk menemukan persembunyian Kalian. Aku malu, tauk! Rasain tuh, bentol-bentol. Semoga bukan nyamuk malaria, " Bima pun mengambil obat gosok pereda gatal untuk mereka.
"Kamu bikin kecewa, Kami sudah berjuang sembunyi agar Kau cari, malah ditinggal pulang."
Bima tersenyum kesal teringat ulah masa kecilnya. Dulu teman-temannya berjuang mencari persembunyian agar Bima mencari malah dia tinggal pulang. Kini, ia sudah berjuang antar jemput Dania, merayu Dania di medsos ruang publik, mengerjakan PR-PR Dania, agar Alin sedih lalu Bima akan datang untuk membuka obrolan bak lelaki dewasa.
Alin memang tampak sedih beberapa hari, Bima pun tak tega lalu menemuinya saat ia sendirian di kantor, ternyata ia pamit pulang dengan tergesa-gesa, lalu menikah begitu saja. Bima menghela napas. Di mana salahku? Apakah aku dianggap bersalah memanfaatkan Dania demi mendeteksi ketulusan Alin? Tapi bagiku, urusanku dengan Dania itu simbiosis mutualisme. Aku pun cape direpotin dan ia pun bangga bisa pamer foto berdua denganku, Duta Antibulying, Duta Literasi, Duta Adiwiyata di sekolahku.
Sore itu, ia tidak menemui Dania. Ia berjalan kaki menyusuri jalanan Surabaya yang mulai diguyur hujan tipis. Di kepalanya, bayangan Alin yang hampir terjatuh karena batu kali terus berputar. Ia ingat semangatnya saat melindungi Alin. Ia ingat rencana masa depan yang sempat ia susun secara rahasia, bahwa ia akan kuliah, bekerja, dan meminang Alin saat ia sudah "sejajar.", tapi tidak menolak menikah saat belum lulus kuliah jika Alin memintanya.
Namun, semua rencana itu kini menjadi sampah. Alin telah memilih Tino. Alin telah memilih lelaki yang sudah "jadi" daripada menunggu seorang remaja yang penuh keraguan seperti dirinya.
"Aku memang pecundang," desis Bima sambil memukul tembok kusam di pinggir jalan.
Rasa insekuritasnya kini mencapai puncaknya. Ia merasa kalah telak dari empat pembimbing baru itu, kalah dari Tino, dan kalah dari standar kedewasaan yang ia ciptakan sendiri. Ia merasa dunianya sudah berakhir. Setiap sudut tempat kursus, setiap jengkal trotoar, kini hanya menjadi monumen kegagalannya sebagai seorang lelaki.
Luka kedua ini mengubah kemarahan menjadi keputusan nekat. Bima menyadari bahwa ia tidak bisa lagi tinggal menetap melihat Alin menjadi milik orang lain. Ia butuh jarak yang sangat jauh. Jarak yang bisa membuatnya lupa bahwa ia pernah menjadi remaja lemah yang takut pada bayang-bayangnya sendiri.
"Belanda," gumamnya pelan. "Aku harus pergi ke Belanda."
Malam itu, Bima pulang dengan tatapan kosong. Ia tidak lagi memikirkan Dania atau bagaimana cara "menyembah" egonya sendiri. Ia hanya ingin lari dari kenyataan bahwa dialah penyebab Alin memilih jalan yang salah. Dan di dalam kegelapan kamarnya, benih-benih konflik batin antara mencintai Alin atau membencinya kian mengakar kuat, siap terbawa hingga ke negeri kincir angin.
Bima akhirnya menyadari bahwa tindakannya mendekati Dania adalah bumerang. Keputusannya untuk pergi ke Belanda menjadi resolusi sementara untuk melarikan diri dari rasa malu dan insekuritas yang makin memuncak. Sebuah ruang hampa dan upaya sia-sia untuk meninggalkan kenangan di seberang samudra. Sesuai rencana, Bima mencoba mencari kebebasan di Belanda, namun ia justru membawa "penjaranya" sendiri di dalam koper dengan rasa terluka.
Mesin pesawat Boeing 777 itu menderu pelan, menciptakan getaran konstan di bawah kaki Bima yang terasa dingin. Di bawah sana, daratan Indonesia perlahan mengecil, berubah menjadi kerlip lampu yang lambat laun ditelan awan hitam, sebelum akhirnya hanya menyisakan kegelapan Samudra Hindia.
Bima menekan keningnya ke jendela kaca yang beku. Ia sedang melakukan apa yang selalu dilakukan oleh para pengecut dalam sejarah: melarikan diri dari medan perang yang ia rusak sendiri.
Belanda. Negeri yang jauh, dingin, dan asing. Itulah pilihan Bima. Ia berharap dengan menyeberangi belasan ribu kilometer, bayangan Alin yang mengenakan kebaya pengantin di samping Tino akan memudar seperti tinta yang terkena air. Ia ingin menghapus memori tentang batu kali, tentang tawa Alin di meja administrasi, dan tentang kegagalannya sendiri untuk menjadi lelaki yang cukup berani untuk mencintai secara dewasa.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar