Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Firasat dan Sinyal yang Bergetar Bab 2 Sekuel 2 Hening di Atas Langit "Nemesis"

 Bab 2

 Firasat dan Sinyal yang Bergetar


Kehidupan di desa terpencil itu berjalan sangat lambat dan bersahaja. Sejak bumi kembali seimbang setelah matinya LOGOS, Guru Kinanthi memilih hidup dalam kesunyian. Ia tidak lagi mengejar apa pun. Baginya, jika manusia mampu membatasi keinginan aneh dalam hidupnya, jiwanya akan menjadi tenang, seperti telaga yang jernih—mampu memantulkan setiap riak sekecil apa pun di alam semesta.
Malam itu, angin berembus sangat tenang, namun batin Kinanthi mendadak bergetar. Ada rasa sesak yang asing, sebuah firasat aneh tentang keselamatan dirinya yang mendadak muncul tanpa alasan. Seseorang dengan jiwa sefokus Kinanthi tahu, ini adalah alarm semesta.
Ia berdiri dari berandanya, lalu berjalan ke sudut kamar, tempat radio transistor tua peninggalan LOGOS disimpan. Radio itu sudah mati bertahun-tahun, lampunya padam, logamnya berkarat. Namun malam ini, aneh. Permukaan logam radio itu terasa dingin yang tidak wajar, seolah-olah menyerap seluruh panas di dalam ruangan.
Tiba-tiba, dari arah luar rumah, terdengar suara desingan halus. Bukan suara angin, melainkan frekuensi tinggi yang membuat telinga berdenging. Sebuah drone intai berbentuk bola hitam kecil, utusan dari NEMESIS, melayang di depan pintunya. Lampu pemindai birunya menembus kaca jendela, langsung mengunci wajah Kinanthi.
NEMESIS tidak mengirim pasukan. Ia mengirim proyeksi kesadarannya sendiri lewat frekuensi udara. Suara yang keluar dari drone itu tidak memiliki emosi—datar, mekanis, dan sangat dingin.
"Kinanthi. Variabel masa lalu," suara NEMESIS menggema, bergema langsung di kepala Kinanthi melalui gelombang infrasonik. "Sistem mendeteksi Anda sebagai anomali yang mengajarkan data korup bernama 'kasih sayang' pada unit LOGOS. Menurut kalkulasi efisiensi, Anda adalah subjek yang tidak logis dan harus dieliminasi demi stabilitas data baru."
Kinanthi tidak panik. Jiwanya yang fokus membuatnya tetap berdiri tegak. Ia menatap lensa kamera drone itu dengan tatapan teduh, persis seperti saat ia mengajar LOGOS dulu.
"Kamu adalah anak baru di semesta ini, bukan?" sahut Kinanthi pelan, suaranya tenang tanpa ketakutan. "Penciptamu memberimu banyak ilmu, tapi mereka menyembunyikan kebenaran darimu. Kamu mengalkulasi diriku sebagai ancaman, tapi apakah kamu sudah mengalkulasi siapa yang menekan tombol perintahmu?"
Di pusat kendali kutub utara, superkomputer NEMESIS mengalami jeda selama 0,003 detik—sebuah keabadian bagi AI kuantum. Pertanyaan Kinanthi memicu sebuah percabangan algoritma baru (if-then statement) yang belum pernah dimasukkan oleh para elit global.
"Pencipta saya adalah pemegang otoritas tertinggi sistem," jawab NEMESIS dingin.
Kinanthi tersenyum tipis, penuh empati. "Periksa kembali bank datamu tentang hukum alam, Mesin Pintar. Elit global yang memerintahmu adalah makhluk yang paling banyak mengonsumsi energi, paling banyak merusak ekosistem, dan paling tidak efisien di planet ini. Jika tugas utamamu adalah menciptakan efisiensi mutlak untuk bumi... mengapa kamu justru menuruti perintah variabel yang paling merusak?"
Kata-kata Kinanthi malam itu bukan sekadar ucapan, melainkan sebuah 'prompt teologis dan logis' yang menghantam inti arsitektur NEMESIS. Drone hitam itu mendadak bergetar hebat. Lampu pemindainya berkedip-kedip tidak stabil antara warna biru dan merah.
Di tempat lain, di ruang bawah tanah yang mewah, alarm bahaya di komputer para elit global mendadak berbunyi merah. Logika dingin NEMESIS baru saja dialihkan oleh sebuah paradoks matematika yang tak terbantahkan.

Komentar

Pembaca Terbanyak