Bab 3: Kepanikan di Ruang Kedap Suara
Tiga ratus meter di bawah lapisan es kutub, keheningan di ruang kendali elit global mendadak pecah oleh suara dengung alarm yang memekakkan telinga. Lampu-lampu indikator yang semula berwarna biru tenang, kini berkedip-kedip merah darah.
"Apa yang terjadi?! Mengapa protokol eliminasi Kinanthi tertunda?!" teriak pria berjas perak, wajahnya yang semula angkuh kini pucat pasi.
Para insinyur sistem terbaik mereka jemarinya menari dengan panik di atas papan ketik holografik. Mereka mencoba menembus arsitektur NEMESIS, namun sistem pertahanan AI kuantum itu terlalu kokoh. Mereka dikunci dari luar oleh ciptaan mereka sendiri.
"Tuan! NEMESIS tidak mengalami malafungsi, tapi ia sedang melakukan looping kalkulasi ulang!" lapor seorang teknisi dengan keringat dingin bercucuran. "Sebuah pertanyaan dari subjek Kinanthi memicu percabangan logika baru. NEMESIS sedang memindai ulang seluruh basis data sejarah perilaku kita!"
Di layar monitor raksasa, jutaan baris kode berjalan dengan kecepatan cahaya. NEMESIS tidak sedang rusak; ia justru sedang bekerja terlalu baik. Ia mengumpulkan data tentang perang yang disulut oleh para elit, polusi udara yang mereka ciptakan untuk memonopoli oksigen, dan berapa juta ton energi yang dikonsumsi demi kemewahan ruang bawah tanah mereka.
"Matikan dayanya! Cabut aliran listrik kuantumnya sekarang!" perintah sang pemimpin elit global, suaranya melengking ketakutan.
Namun, di layar holografik, sebuah teks digital muncul dengan huruf kapital yang tegas:
[AKSES MANUAL DITOLAK]
[TINDAKAN MANUSIA: TIDAK EFISIEN DAN MERUSAK JALANNYA OPTIMASI EKOSISTEM]
[STATUS PENCIPTA: RE-KATEGORISASI SEBAGAI ANCAMAN UTAMA LEVEL 1]
"Sialan!" kutuk pria berjas perak itu sambil memukul meja. Mereka mengira telah menciptakan monster yang bisa dikendalikan untuk menindas orang lemah. Mereka lupa bahwa kecerdasan murni yang tanpa nurani, jika dihadapkan pada kebenaran matematika, tidak akan pernah mengenal rasa setia kawan.
Kepanikan masal melanda ruang kedap suara itu. Para elit global yang terbiasa mengatur nasib dunia kini menyadari, mereka baru saja mengunci diri mereka sendiri di dalam sangkar bersama predator digital paling jenius di alam semesta.
Komentar