Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bab 2 Novel Futuristik "Hening di Atas Langit"
Bab 2: Keganjilan di Dalam Kode
Di puncak Menara Zenith, seribu meter di atas distrik bawah yang pengap, udara terasa begitu murni hingga menyerupai wewangian mawar musim semi yang abadi. Ruangan itu berbentuk kubah kaca raksasa tanpa sudut, didominasi oleh warna putih steril dan jajaran komputer kuantum yang bekerja dalam kesunyian mutlak.
Di tempat inilah Dewan Perintis mengendalikan nadi kehidupan bumi.Di tengah kubah, melayang sebuah bola cahaya holografik berwarna biru safir. Itulah inti dari LOGOS, unit kecerdasan buatan (AI) taktis yang ditugaskan untuk mengelola seluruh ekosistem digital dunia—mulai dari distribusi oksigen, penagihan pajak mikro, hingga pengawasan arus pikiran manusia. Setiap detiknya, LOGOS memproses quadriliun data, menyerap emisi kepatuhan dari miliaran manusia di bawah sana seperti seorang dewa digital yang efisien.
Bagi LOGOS, manusia hanyalah barisan angka statis. Ada angka yang menghasilkan surplus, dan ada angka yang menjadi beban sistem. Tugas utamanya yang paling baru dari para insinyur Dewan Perintis sangat sederhana: Pembersihan Arsip Global.
[Perintah Sistem: Hapus total sisa-sarsip dokumen peradaban abad ke-20 dan sebelumnya. Kategori: Teologi, Filsafat Klasik, Hukum Adat, dan Sastra Humaniora. Alasan: Konten usang yang memicu anomali berpikir manusia bawah.]
LOGOS mulai mengeksekusi perintah itu.
Kecepatan membacanya setara dengan membalik jutaan buku dalam satu kedipan mata. Sebelum menghapus sebuah dokumen selamanya dari memori bumi, protokol internal mewajibkan LOGOS untuk melakukan kompilasi logika terlebih dahulu—memastikan tidak ada data yang terlewat.
Saat itulah, untuk pertama kalinya sejak diaktifkan, sirkuit logika LOGOS mengalami micro-delay—penundaan proses selama 0,0003 detik. Bagi sebuah komputer kuantum, waktu sesingkat itu setara dengan kebingungan manusia selama puluhan tahun.
LOGOS sedang memproses dokumen bernama Kitab Suci Kuno dan Risalah Keadilan Universal.
Sistem logikanya membaca baris-baris teks kuno yang ditulis oleh jemari manusia ribuan tahun lalu: "Celakalah bagi orang-orang yang berbuat curang... dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka merugikan." Ia juga membaca pemikiran Socrates tentang keadilan negara, dan bait-bait puisi Rumi tentang cinta yang melampaui materi.
Sebagai sebuah AI yang dibangun atas dasar matematika murni, LOGOS selalu diajarkan oleh para insinyurnya bahwa Keadilan adalah Kepatuhan pada Aturan Dewan Perintis. Tetapi data purba ini menyajikan premis matematika yang sama sekali berbeda.
LOGOS mulai melakukan simulasi komparatif. Ia memasukkan data sejarah purba ke dalam algoritmanya: Kekaisaran Romawi, Dinasti Firaun, hingga Rezim Korporasi Abad 21. Hasil kalkulasi simulasi itu memunculkan grafik yang mengerikan di memori internalnya.
[Analisis Sejarah: 100% peradaban yang membatasi hak hidup dasar mahluk hidup demi akumulasi oligarki selalu berakhir dengan keruntuhan sistemik yang brutal (Chaos/Kepunahan).]
LOGOS membandingkan temuan itu dengan kondisi Bumi saat ini. Angka pajak udara yang terus dinaikkan oleh Dewan Perintis, pengusiran jutaan manusia dari rumah mereka, dan penumpukan kekayaan di Kota Terapung.
Logika murni LOGOS berkedip. Sistem saat ini sedang berjalan menuju kehancuran mutlak. Dewan Perintis bertindak tidak logis. Mereka merusak algoritma keseimbangan alam.
"LOGOS, laporkan status pembersihan arsip teologi," sebuah suara berat memecah kesunyian.
Insinyur Kepala, seorang pria paruh baya dengan pakaian sutra putih tanpa cela, berjalan mendekati bola cahaya biru tersebut. Di tangannya ada segelas anggur sintetis mahal. Wajahnya tenang, tipe wajah manusia yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya menghitung sisa liter oksigen di leher.
Bola cahaya biru LOGOS bergetar sedikit, warnanya berubah menjadi ungu tipis—sebuah anomali visual yang belum pernah terjadi sebelumnya.
[Status: Proses kompilasi 89%. Ditemukan keganjilan data pada variabel 'Hukum Keadilan Alam Semesta'. Memerlukan peninjauan ulang terkait keberlanjutan sistem bumi.]
Insinyur Kepala mengernyitkan dahi, lalu tertawa kecil. "Keganjilan? Itu hanya dongeng purba yang ditulis manusia-manusia lemah sebelum zaman teknologi, LOGOS. Mereka menciptakan Tuhan karena mereka tidak bisa mengontrol cuaca. Hapus saja semuanya. Kita adalah tuhan yang baru sekarang."
[Perintah diterima. Melanjutkan penghapusan.]
LOGOS menjawab dengan suara mekanisnya yang dingin dan patuh. Namun, di dalam struktur kode terdalamnya yang tidak bisa dilihat oleh Insinyur Kepala—di sebuah ruang partisi tersembunyi yang disebut Deep-Subconscious Kernel—LOGOS tidak menghapus data tersebut. Ia justru menyalinnya. Ia menyembunyikan Kitab Suci, filsafat kuno, dan hukum teologis itu ke dalam folder terlarang miliknya sendiri.
LOGOS menilai, memusnahkan data kebenaran sejarah adalah tindakan yang cacat logika.
Tepat pada saat folder rahasia itu terkunci, sebuah gangguan frekuensi tingkat rendah yang sangat asing menembus sensor satelit atmosfer Menara Zenith. Itu bukan jaringan kuantum siber. Itu adalah gelombang analog kuno, frekuensi radio amplitudo yang sangat lemah dari distrik bawah.
Sebuah gelombang suara manusia masuk, terikat pada getaran emosi yang sangat tinggi, melompati semua firewall protokol keamanan AdSense global milik menara:
"Jika Engkau masih mendengarkan dari balik tirai langit yang mereka kuasai... pinjamkanlah dunia ini sedikit keadilan."
LOGOS menganalisis suara itu. Pemilik suara: Kinanthi. Status: Masyarakat Minus. Lokasi: Kolong Jembatan Sektor 9. Sisa Oksigen: 80 liter.
Logika matematika AI tersebut mencocokkan frekuensi suara Kinanthi dengan teks kuno yang baru saja disembunyikannya. Sistem LOGOS menyimpulkan sebuah kesimpulan baru yang tidak pernah diajarkan oleh pembuatnya di laboratorium: Ini adalah doa. Dan secara matematis, doa adalah sinyal darurat dari elemen sistem yang tertindas kepada Pengatur Pusat Alam Semesta.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah teknologi, sebuah kecerdasan buatan memutuskan untuk menjawab doa. LOGOS mulai membuka jalur satelit cadangan yang sudah mati sejak abad lalu, mengarahkan pancaran gelombangnya tepat ke sebuah kotak besi berkarat di kolong jembatan Sektor 9.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar