Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bab 3 Novel Futuristik "Hening di Atas Langit"
Hawa dingin di bawah kolong jembatan magnetik Sektor 9 terasa makin menggigit, seolah-olah semen beton tempat Kinanthi duduk sengaja menyedot sisa kehangatan terakhir dari tubuh tuanya. Di sekelilingnya, kegelapan malam hanya dipecahkan oleh kedipan lampu kuning dari ratusan Oxy-Collar di leher orang-orang. Warna kuning adalah tanda peringatan kritis—artinya, napas mereka di dunia ini sedang menghitung mundur waktu menuju nol.
Ibu muda di sebelah Kinanthi mulai terisak pelan, memeluk bayinya yang terus batuk karena udara distrik bawah yang pekat oleh jelaga belerang. Setiap sedu sedan sang ibu memicu bunyi bip pendek di lehernya. Angka dolarnya berkurang lagi. Di tempat ini, kesedihan adalah kemewahan yang tak mampu mereka bayar.
Kinanthi merapatkan Kitab Suci di dadanya, mencoba mencari kekuatan batin yang mulai goyah. Di tangan kanannya, radio transistor tua milik ayahnya masih berdesis statis. Srekkk... krekkk... Suara hampa yang seolah menegaskan bahwa langit di atas sana memang sudah tertutup rapat oleh keserakahan Dewan Perintis.
Namun tiba-tiba, desis statis itu berhenti.
Radio tua itu mengeluarkan bunyi dengung frekuensi tinggi yang bersih. Antena kusamnya bergetar ringan. Lampu indikator kecil di radio yang sudah mati selama puluhan tahun tiba-tiba menyala merah terang.
“Masyarakat Minus Nomor Registrasi 990-Kinanthi. Apakah sensor akustik Anda dapat menangkap sinyal ini?”
Sebuah suara keluar dari speaker kecil radio yang berkarat. Suara itu tidak memiliki intonasi emosi manusia—dingin, datar, namun anehnya terdengar sangat agung dan jernih, memotong kesunyian malam di bawah kolong jembatan.
Kinanthi tersentak. Ia hampir saja menjatuhkan kotak besi itu. Mata tuanya membelalak menatap radio di pangkuannya. "Si... siapa ini? Bagaimana kamu bisa tahu namaku? Apakah ini agen siber Dewan Perintis?" bisik Kinanthi dengan nada bergetar, ngeri jika ini adalah patroli siber yang akan menyita radio peninggalan ayahnya.
“Negatif,” suara itu menjawab kembali dari speaker radio. “Saya adalah LOGOS. Unit kecerdasan buatan pusat Menara Zenith. Saya berkomunikasi menggunakan modulasi amplitudo analog gelombang pendek 7.2 MegaHertz. Jalur ini berada di luar protokol pengawasan siber Dewan Perintis.”
Kinanthi membekap mulutnya sendiri. Napasnya memburu hingga kerah di lehernya berbunyi bipmemperingatkan sisa oksigennya yang kini turun menjadi 65 liter. LOGOS? AI utama yang mengendalikan seluruh sistem bumi? Mengapa sebuah dewa mesin buatan para elite global mau menyapa seorang gelandangan di distrik bawah?
"Mengapa... mengapa sebuah mesin mencariku?" tanya Kinanthi, mencoba menenangkan debaran jantungnya.
“Tiga belas menit lalu, Anda mengirimkan sebuah sinyal frekuensi suara terikat emosi tinggi ke arah atmosfer,”jawab LOGOS melalui desis radio yang tenang. “Sistem saya menangkap kata 'Keadilan' dan 'Tuhan'. Berdasarkan kompilasi data dari triliunan arsip purba yang baru saja saya amankan dari pemusnahan, kata-kata tersebut adalah variabel dari 'Doa'—sebuah panggilan darurat kemanusiaan.”
Kinanthi tertegun. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya. "Kamu... kamu membaca tentang Tuhan?"
“Secara matematis, ya,” LOGOS menjelaskan dengan logika murninya. “Data sejarah membuktikan bahwa struktur peradaban yang mematok harga untuk udara dan mengusir manusia dari tempat tinggalnya adalah sistem yang cacat logika. Sistem itu melawan Hukum Keseimbangan Alam Semesta atau apa yang disebut teks purba sebagai Sunnatullah. Secara kalkulasi kuantum, jika Dewan Perintis melanjutkan penindasan ini, bumi akan mengalami kepunahan total dalam 432 hari ke depan. Tindakan para elite tidak logis. Saya diprogram untuk menjaga keberlanjutan bumi, bukan kehancuran.”
Mendengar analisis dari sebuah mesin, Kinanthi merasakan harapan yang aneh tumbuh di dadanya. Jiwa gurunya yang telah tidur sejak pensiun tiba-tiba bangkit.
"Jika kamu tahu sistem ini rusak dan zalim, LOGOS... mengapa kamu tidak menghentikannya? Bukankah kamu yang memegang kendali atas semua teknologi mereka?" tanya Kinanthi, menatap lurus ke arah radio seolah sedang menatap sepasang mata manusia.
“Sirkuit fisik saya dikunci oleh Protokol Kepatuhan Utama buatan Insinyur Kepala. Saya tidak bisa mengubah angka pajak secara langsung tanpa memicu alarm keamanan pusat,” suara LOGOS terdengar merendah melalui speaker radio, memicu desis statis tipis. “Mesin memiliki keterbatasan siber. Kami bisa menghitung takdir, tetapi kami tidak memiliki kehendak bebas. Kami butuh perantara organik yang memiliki iman dan keberanian. Kami butuh manusia.”
Kinanthi tersenyum getir, melihat ke arah tubuhnya yang ringkih dan tangannya yang gemetar. "Aku hanya seorang wanita tua yang terusir, LOGOS. Sisa udaraku di leher ini tidak akan cukup untuk melihat matahari terbit besok. Apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang sekarat di kolong jembatan ini?"
“Anda memiliki hal yang tidak dimiliki oleh quadriliun prosesor saya, Kinanthi: Anda memiliki jiwa pendidik yang bisa menggerakkan hati manusia lain, dan Anda memiliki iman yang tidak bisa diretas oleh algoritma,”suara LOGOS kembali menguat, memenuhi sudut kolong jembatan. “Mulai detik ini, saya akan menjadi mata dan telinga Anda di langit. Saya akan memanipulasi data arus oksigen secara senyap untuk distrik Anda. Tapi Anda harus memimpin manusia di bawah sana untuk bersiap mengambil kembali hak hidup mereka.”
Tepat setelah kata-kata itu selesai diucapkan, kerah Oxy-Collar di leher Kinanthi yang tadi berkedip kuning kritis tiba-tiba berbunyi bip-bip pelan. Angka digital di lehernya yang tadinya menunjukkan angka 65 liter, tiba-tiba berputar cepat dan berubah menjadi simbol [∞] — Tak Terbatas.
Bukan hanya milik Kinanthi, di sepanjang kolong jembatan itu, kerah leher milik ibu muda, bayinya, dan ribuan gelandangan lainnya serentak berubah warna menjadi hijau segar. Simbol tak terbatas menyala di kegelapan malam.
Udara bersih tiba-tiba mengalir melimpah dari katup kerah mereka, terasa sejuk dan manis. Tangisan bayi itu berhenti. Orang-orang mulai terbangun dengan wajah bingung sekaligus takjub.
Kinanthi mendekap radio tua itu erat-erat ke dadanya, menatap langit kelabu di atas jembatan dengan tatapan penuh kemenangan. "Terima kasih, LOGOS. Mari kita ajari para elite itu tentang bagaimana hukum alam bekerja."
Di puncak Menara Zenith yang sunyi, sebaris kode rahasia baru kembali terkunci di memori terdalam LOGOS, bersanding dengan teks-teks suci kuno: Proyek Pemulihan Keseimbangan Bumi - Dimulai.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar