Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

BAB ke...

 


Bab ke...


Untuk Bab yang tak ada,

 lanjutan di Tokopedia  ada diskon jadi Rp 75.000 ya.  Yang lainnya mungkin sama, tapi saya belum lihat. Terima kasih telah berkenan berkunjung ke

 blog Ruang Hening Kinanthi 


Bab ke....

Hidangan telah tertata rapi dan menarik. Dengan celemek di dadanya, Roby bersama tim juru masak laki-laki menata menu tersebut di atas tikar yang telah digelar. Sisi sang ketua MPK benar-benar teliti dalam kecerewetannya atau tetap cerewet dalam ketelitiannya. Ia tetap bertindak bagaikan seorang ibu yang beranggapan bahwa anak tetaplah anak yang harus diingatkan berkali-kali.

“Ayo makan, Kawan. Ambil makanan ala prasmanan. Jangan mengambil berlebihan jika hanya untuk disisakan. Jangan ada makanan terbuang sia-sia. Lebih baik mengambil sedikit kalau kurang nambah lagi daripada makanan tersisa dan dibuang-buang.” 

Acara makan malam pun tuntaslah. Kami makan dengan lahap. Di lapangan terbuka berteman langit malam bertabur bintang hanya ditemani kerlip lilin, suasana makan malam terasa nikmat. Apalagi makan bersama teman-teman. Sesuatu yang jarang terjadi. Kesyahduan terasakan merayapi hati sanubari. Segala kekesalan dan amarah saat berdebat dalam rapat, melenyap sudah, digeser posisinya oleh kesadaran betapa waktu sedemikian cepat berlalu. Bulan Juli, kami sudah menapaki bangku kelas XII. Segala aktivitas di luar pelajaran harus dikurangi demi persiapan USBN dan UNBK. 

“Kawan, setelah setahun kita bersama sebagai anggota MPK dan pengurus OSIS, tibalah saatnya kita akan berpisah. Waktu perpisahan yang sudah sekian sentimeter di ujung hidung, janganlah disia-siakan. Marilah kita isi acara malam ini... untuk sesaat, Vita pembawa acara spontan, terdiam, kemudian menoleh ke arah Sisi yang telah siap menyenandungkan lagunya. Saya harap Saudari Sisi, sang ketua MPK untuk maju mengawali menyanyi.”

Sisi pun dengan tenangnya mengalunkan lagu yang telah dipersiapkan diiringi petikan gitar dan latar suara George. Kami pun bertepuk tangan karena tidak menyangka suara Sisi juga lumayan bagus, seimbang dengan kecerewetannya. Tiba-tiba, Beny meraih mike yang dipegang Vita kemudian memberikan karangan bunga kepada Sisi.

“Ibu ketua yang terhomat,”katanya sambil berdiri di samping Sisi,”Lagu yang Ibu nyanyikan sangat menyentuh terutama liriknya. Hm... Jika boleh tahu, sampaikanlah sepatah dua patah kata, lagu tersebut untuk siapa, kemudian berikan karangan bunga ini kepada beliau yang berbahagia.”

Sisi sesaat tampak tersipu. Suasana mendadak hening. Sisi, ketua MPK, yang terkenal galak dan cerewet, malam ini terlihat anggun bahkan sekilas mirip Raisa yang sesungguhnya usai menyanyikan lagu “Teduhnya Wanita” dengan posturnya yang tinggi ramping.

Ia terlihat beberapa kali menghela napas, salah tingkah. Kami dibuat menahan napas menunggu kalimat yang meluncur dari bibirnya. Tangannya untuk sesaat mengambil gawai dari sakunya kemudian jemarinya terlihat mengirim sms dan bergegas membacanya, sebelum akhirnya ia memegang kembali mike di depannya.

Entah mengapa, jantungku berdebaran. Ada harap dan asa yang tiba-tiba melambungkan anganku bagaikan balon yang terlepas ke udara. Hatiku terasa lapang dan tubuhku mendadak ringan serasa melayang berselimut riang.

“Hmm... kawan-kawan yang berbahagia dan baik hati. Izinkanlah saya menyampaikan sesuatu. Itu pun karena saya merasa tertodong,”ungkapnya. Suaranya terdengar agak gemetar,”Lirik lagu tersebut memang mengingatkan saya pada para suporter saya dalam mengemban tugas sebagai ketua MPK yang tidak ringan, bahkan sangat berat. Bukan berat dalam menyusun program, tapi berat saat berhadapan dengan Kalian, Kawan, karena saya sadar akan selalu timbul pro dan kontra, dan saya harus menghadapi dengan sabar. Sekali lagi dengan sabar.” Ia terdiam sesaat. Kulihat ia menahan air mata,”Suporter pertama tentu saja nenek dan kedua orangtua saya juga bapak ibu guru. Sedangkan suporter berikutnya adalah...” lagi-lagi ia terdiam. Beberapa suara ada yang mulai riuh menggodanya,

“Bonie,”teriak Dafa.

“Milla,”teriak Wimar. Sisi memang bersahabat dengannya dan sering terlihat berdua.

Jantungku semakin berdebaran menunggu kata yang akan meluncur dari bibirnya. Terbayang airmatanya yang hampir berlinang saat dibentak Bonie dan aku berada di sampingnya saat itu. Sekali lagi, Sisi malam itu bagaikan Raisa karena lagu yang dibawakannya. Andaikan malam ini airmatanya tumpah dan kepalanya tersandar di bahuku...

“Ia, selalu mendengarkan keluhanku, keresahanku, dan berkali-kali memberikan suport manakala aku hampir tumbang, tidak sanggup lagi meneruskan jabatanku sebagai ketua MPK. Maka, lirik lagu tadi bahkan judul lagu tadi dalam hati kuubah menjadi Teduhnya Lelaki... Betapa kuat pengaruhnya bagi ketegaranku. Andaikan ia selalu memberikan semangat, kubayangkan aku akan selalu siap dan siap untuk menjadi ketua pada tahun-tahun ke depan, tatkala aku menjadi mahasiswa, bahkan tatkala aku sudah berkecimpung sebagai warga masyarakat dewasa...

“Bang Jali,”suara usil Aldo menggodanya. Tapi teman-teman tak ada yang tertawa, semua seakan terhipnotis untuk menunggu dengan manis suara yang akan meluncur lewat bibirnya. Sebuah nama yang tentu terukir indah di hatinya sebagai seseorang yang ternyata telah banyak memberikan dorongan dan semangat juang baginya dalam memimpin kami.

“Abim,”lirih suaranya, diiringi ledakan riuh suara teman-teman. Ledakan yang terasakan juga meledakkan harapanku. Harapan yang mendadak hancur berkeping terlanda pengakuan jujurnya.

“Ayo! Maju! Maju!” teriak teman-teman. Di luar dugaan, George, Habib, dan Aldo mengangkat tubuh Abim kemudian membawanya ke depan ke samping Sisi.

Seperti biasa, dengan gaya low profile dan malu-malu, Abim menerima karangan bunga dari Sisi. Untuk sesaat, ia terdiam lalu menoleh ke arah Arif yang segera memberikan gitarnya. Maka, mengalunlah lirik lagu “Harmoni” karya Grup Band Padi. Kami terdiam menghayati lirik demi lirik serta iramanya yang syahdu, terlebih Abim benar-benar menjiwai saat menyanyikannya. 

Akan tetapi, begitu tangan Sisi melambai mengajak kami menyanyi, kami pun mendekat dan bernyanyi bersama. Ada yang berpelukan diiringi derai airmata, teringat perjuangan dan susah payah kami dalam menjalankan tugas sebagai pengurus OSIS dan anggota MPK. Jerih payah, perdebatan sengit bahkan saling tak bertegur sapa mempertahankan pendapat, keluh kesah karena tak jarang harus kehilangan waktu bersantai, semua sirna terbawa kesyahduan lirik lagu tersebut.

Aku mengenal dikau

Tak cukup lama, separuh usiaku

Namun begitu banyak, pelajaran

Yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini

Kita terlahir bagai selembar kertas putih

Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai

dan terwujud harmoni

Segala kebaikan

Tak kan terhapus oleh kepahitan

Kulapang resah jiwa

Karna kupercaya

Kan berujung indah

                              **********************

...Kau membuatku mengerti hidup ini... Sayup terdengar kembali suara Abim.

Acara sudah usai. Teman-teman sudah terlelap meringkuk berselimut dinginnya malam kemudian mencari kehangatan ke dalam tenda. Satu dua ada yang masih terjaga, bergurau, berbincang sambil membakar jagung. Aku tidak bersemangat bergabung. Batinku lunglai, badanku apalagi. 

Masih terbayang tatapan Abim kepada Sisi saat mengalunkan sebaris lirik tersebut. Tiba-tiba, hatiku kembali serasa tercubit. Ada kenyerian yang terasakan menjangkit dan mengungkit, membuat mata semakin enggan terpejam dalam malam yang semakin kelam.

Bahwa Abim bisa memahami hasrat Sisi yang mau dan mampu menjadi pemimpin, aku tahu itu. Bahwa Abim selama ini tidak selalu menyudutkan kebijakan Sisi, bahkan mencoba menetralkan situasi bila perdebatan semakin memanas, aku juga tahu. Bahwa, Abim sesekali juga menyanggah Sisi, walau dengan gaya slow seperti sifatnya yang penyabar, aku juga tahu. Akan tetapi, betulkah Sisi menyukainya karena itu? 

Bahwa Sisi memang membutuhkan sosok seperti Abim untuk tampil sebagai penopangnya di belakang layar, aku juga tahu. Akan tetapi, tiba-tiba terbayang garasi orangtua Abim dengan beberapa mobil yang berderet seperti showroom mini. Manakala mengingat hal itu, perutku mendadak terasa nyeri. Hanya itulah kelebihan Abim dariku, kukira. Untuk urusan menyanyi, aku pun bisa, bahkan saat Pentas Seni, kami akan tampil bersama dalam grup band, yang tentu saja, Abimlah pemilik seperangkat alat musiknya. Akan tetapi, akulah vokalis utamanya. Untuk urusan akademis, ia juga kalah denganku. Urusan fisik, apalagi. Jelas aku lebih tampan dan lebih tinggi. 

Aku gelisah lagi. Bukannya aku iri dengki kepada Abim, sahabatku yang baik hati itu. Bukan pula aku patah hati karena Sisi memilih dirinya, toh bukan hal sulit bagiku untuk menembak bunga-bunga lainnya, bahkan yang lebih cantik daripada Sisi. Akan tetapi, luka yang terasakan mengusikku adalah paksaan untuk menyadari bahwa aku kalah secara materi, dan hal itu sangatlah menyakitkan. 

“Tidak percayakah Kamu, bahwa lima atau enam tahun lagi, aku bisa membahagiakanmu? Mengapa memilih yang instan? Yang sudah mapan?” tanyaku kepadanya pagi itu, saat mencoba menyertainya berlari pagi.

Sisi terkejut,”Instan bagaimana maksudmu?” Sungguh, melihat ekspresi polosnya, luka jiwaku terasakan perlahan terobati. 

“Kamu...belum tahu, Abim itu anak konglomerat?”

Ia berhenti berjalan. Kemudian meninju bahuku,

“Tentu saja aku nggak tahu. Betulkah? Bukannya Kamu yang lebih tahu.”

“Sudahlah. Aku percaya. Kamu membutuhkan Abim, bukan harta orangtuanya...

Ia pun meneruskan berlari pagi sambil berteriak,

“Kamu terlalu lama terbelit obsesi, tanpa menyadari betapa rapuhnya aku dalam memimpin kalian. Kalau saja tidak ada Abim...”

Ia terus berlari dan aku berhenti mengejarnya. Perasaanku lega. Perlahan, rasa percaya diriku yang berkeping, bersatu kembali. Dengan riang, kusepak kerikil di depan kakiku sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku. Abim tanpa kusadari telah berada di sampingku.

Aku pun memeluk bahunya sambil menyenandungkan lagunya semalam. Lagu yang juga kami sepakati untuk dinyanyikan bersama para anggota MPK dan pengurus OSIS dalam Pentas Seni nanti, sebagai lagu kenangan suka duka kami dalam belajar berorganisasi dan bersosialisasi, yang telah mendewasakan kami.


Aku mengenal dikau

Tak cukup lama, separuh usiaku

Namun begitu banyak, pelajaran

Yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini

Kita terlahir bagai selembar kertas putih

Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai

dan terwujud harmoni

Segala kebaikan

Tak kan terhapus oleh kepahitan

Kulapang resah jiwa

Karna kupercaya

Kan berujung indah


Sebelumnya 

Daftar Isi 

Komentar

Pembaca Terbanyak