Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50, Bab 17 (Ulah yang Tak Sesuai Pola)
Bab 17
Ulah yang Tak Sesuai Pola
Dari balik jendela kamar yang masih menyisakan rintik sisa hujan, Alin menatap layar ponselnya sambil menyelesaikan program kerjanya. Ia menghapus nama dua sahabatnya, Arin dan Nyla, dari program kerja barunya, karena sudah mengundurkan diri. Semula mereka bertiga mengawali membuka kursus itu.
Arin mengundurkan diri karena ingin bersibuk dengan passionnya sebagai desainer busana. Ia bahkan telah beberapa kali memenangi lomba mendesain yang membuatnya beberapa kali pula melanglang buana. Namun, ia memang kaya sejak lahir.
Nyla pun mundur karena menikah. Suaminya memintanya memilih antara menikah lalu memiliki anak atau tanpa anak? Ia memilih ada anak. Alasannya bukan demi pertanyaan klise yang telah dihapalkan para lajang di luar kepala, yaitu:1 "Kapan menikah? ", 2." Kapan punya anak? ", pertanyaan ketiga ini dilakukan sambil berbisik, " Sst... Suaminya kerja apa? Jadi apa? Tinggal di mana?" dan seterusnya yang berujung pada pemberhalaan terhadap konsumerisme.
Nyla tidak peduli. Ia pun memutuskan menjadi ibu dan isteri. Itu artinya ia di rumah saja. Rumah pun baginya yang sudah memutuskan berperan sebagai ibu rumah tangga, bukan merupakan keharusan. Toh ia tidak hidup pada abad sebelum abad ke-21.
Dulu, rumah harus besar banyak kamar agar tidak kesulitan jika kerabat datang menginap. Dapur pun luas karena selalu memasak jika ada acara besar, yang dibantu tetangga sekitar. Hidangan pun dari menyembelih ternak piaraan di kebun yang lebih luas lagi. Hal itu tidak berlaku lagi abad ini. Maka, ia cukup menyewa rumah di kota, yang tak jauh dari pasar, sekolah, dan tempat les anak-anak, juga tidak jauh dari halte jika terpaksa harus naik angkutan umum. Entah sampai kapan mereka harus menyewa rumah, tak lagi menjadi beban pikirannya.
Yang dipikirkannya hanyalah bagaimana ia bisa fokus menemani tumbuh kembang anaknya kelak. Bukankah balita tidak bisa begitu saja dilepaskan bermain sendiri asal tidak rewel atau asal tidak nyebur kali? Demi anak-anaknya yang merangkap sebagai bahan eksperimen naluri keibuannya, ia rela tidak memiliki rumah, toh banyak rumah disewakan, daripada merepotkan suaminya yang gajinya setara UMR.
Bagaimana kelak masa tua? Ia menabung sedikit demi sedikit agar kelak tidak bergantung kepada anak-anaknya. Rumah pun tak harus dimiliki jika masih ada yang bisa disewa. Nyla tidak mempermasalahkannya. Toh jika mati pun tak dibawa. Yang utama, para bahan eksperimen naluri keibuannya tidak terbengkalai.
Sebagai busur, ia ingin totalitas berperan sebagai busur yang baik, agar anak panahnya melesat dengan mantap. Puisi Kahlil Gibran tentang anak kembali terbayang. Ia pun siap menjadi ibu demi masa depan bumi yang lebih baik. Selain itu, yang diketahui hanyalah, suaminya lelaki yang ingin berjalan lurus dan ia harus mendukungnya.
Kelak, jika ada penyimpangan, siapakah yang memulai dan apa penyebabnya? Itu yang harus diantisipasi dan diteliti. Arin tertawa mendengarnya,
"Kamu mengapa seirama dengan Alin? Ia melakukan studi kasus untuk dirinya. Seberapa kuat ia menjalani frugal living, ternyata katanya nyaman saja tuh. Ia pun ingin setia, agar merasakan suka duka yang seolah sakit jiwa, tapi jika dikhianati pun cepat amnesia, agar tidak bablas sakit jiwa beneran. Kapan kebutuhan biologis wanita memaksa muncul? Ternyata cuma saat masa subur alias musim kawin. Selebihnya, tidak. Kecuali ada sentuhan karena saling sayang."
"Setuju itu. Orang yang mengenal diri sendiri lebih cepat mengenal Tuhannya, "lanjut Nyla mendukung pendapat Alin.
" Apa rencanamu untuk anak-anakmu? " tanya Arin yang tidak tergerak untuk segera punya anak meskipun menikah.
"Kamu menikah diam-diam sepulang dari Spanyol? "
"Enggak juga. Kan kalian datang, " kilahnya.
"Nikah apaan itu? " Nyla menggoda.
"Nikah siri. Ia kan wanita mapan pemilik saham terbesar tempat les ini, " jawab Alin.
"Sesekali dalam pernikahan, wanita cobalah nikah siri dan jangan playing victim. Justru malah asyik lho, gak ada pembagian harta gono-gini, kan penghasilan aku lebih gede, " jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Bagaimana reaksi suamimu? "
"Ngapain marah, toh yang dimaui cuma saya? Bukan harta saya. Asal sah, cukup kan? Ia tetap berperan sebagai pelindung dan pemberi nafkah semampunya. Kami berlakukan simbiosis mutualisme. Justru suamiku berpesan jangan jatuh cinta karena konsep simbiosis parasitisme. Itu niat ngakali, bukan mencintai. Lagipula, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."
"Tentu saja. Teman dicari bukan untuk direpotin, dikibulin, dikadalin, "jawab Nyla melanjutkan rasa penasarannya,
" Ia berperan sebagai apa dalam usaha garmenmu? Owner?" Arin menggeleng,
"Owner tentulah diriku. Ia model desainku, sekaligus managerku. "
"Ngobrolnya nyambung nggak? " Arin tertawa.
"Pastilah. Minat dan hobi kami sama. Justru ide desain busana sering kudapat darinya. Tapi ia tak bisa menggambar sepertiku. Kecerdasan kinestetiknya oke sehingga tampak berkelas saat mengenakan desain idenya."
"Kamu ragu menikah resmi, karena ia model tampan? Bukankah konon tipe kinestetik suka cari perhatian lawan jenis demi aktivasi adrenalin?Tapi anakmu kelak gak bisa masuk KK jika tak menikah sesuai aturan negara. Sebagai warga negara yang baik, patuhilah ulama dan umara juga dong." Arin tidak segera menjawab,
"Itu urusan nanti. Aku risih dengan tradisi tegur sapa kapan nikah? Lalu aku pun nikah tapi karena ingin, bukan karena tuntutan orang lain. Alin malah gak segera menikah." ketiganya pun tertawa di tepi sawah, ketika mereka berhenti sejenak untuk menikmati lontong kupang dan es degan (kelapa muda).
"Rencanaku untuk anak-anakku kelak, takkan kupaksa menguasai semua pelajaran jika memang tidak suka. Bukankah kita pun tak pernah lihat gajah dan ikan ikut lomba terbang? Ikan pun tak bisa lari, mengapa dipaksa? Kita harusnya membaca apa saja termasuk membaca alam, dalam mendidik anak kita menjadi profesional di bidangnya. Yang umum kan, kita memaksa anak les justru untuk nilai jelek. Akhirnya, ia les karena terpaksa. Nilai yang jelek tetap jelek. Nilai yang semula bagus jadi jelek. Akhirnya lahir generasi jelek. Mengambang. Seperti buih di laut. Nggak ke kiri nggak ke kanan. Stagnan," ungkap Nyla bersemangat dengan teorinya yang diperoleh dari hasil mengamati, meskipun belum meneliti.
"Tapi Einstein dulu begitu kan? Tidak suka pelajaran hapalan yang dalam dimensi proses kognitif Taksonomi Bloom masih level C-1. Katanya, janganlah menghapal sesuatu yang jawabannya masih bisa dicari dibuku. Menurutnya, menghapal informasi mentah adalah pemborosan kapasitas otak, " kata Arin, lulusan University of Oxford, terkait ilmu pendidikan makro dan desain kurikulum internasional. Ketiganya pun ngakak,
"Betul juga sih. Bukankah pendidikan itu melatih berpikir? Menganalisis, mengevaluasi, mengonversi hapalan yang bisa dibaca di buku? Lalu ngapain jika cuma dihapalkan saja tanpa tindak lanjut? Semua pasti setuju. " tukas Nyla.
"Tapi Kamu mau hanya jadi IRT saja, memang cukup gaji suamimu? " lanjut Arin masih ingin menggodanya.
"Sedemikian besarkah biaya hidup? Toh gak ingin nyicil rumah dan mobil. Keduanya bisa disewa, mati pun tak mungkin kubawa. Mikiiir. Anakku jika pandai pasti bisa mikirin tempat tinggalnya sendiri. Janganlah jadi anxiety untuk masa depan anak terkait materi jika sudah dididik mandiri. Untuk rumah akan kucari sewa di tempat yang dekat ke mana-mana."
"Tapi kan mahal."
"Jatuhnya sama karena transportasi mudah."
"Iya sih. Toh kerabat jika berkunjung tidak menginap di rumah. Banyak hotel, motel, apartemen, homestay disewakan. Jika ada acara bisa pesan antar. Tamu pun bisa dijamu di resto, kafe, " Arin melanjutkan ucapannya yang bernada menggoda,
"Tapi Kamu nggak malukah jika dilabeli miskin? Ih, sama dengan Alin deh, gak malu jadi perawan tua," goda Arin jenaka. Keduanya pun ngakak lagi,
"Malu memang bagian dari iman. Malu ngibul dan merampas hak orang lain. Itu harus malu. Tapi miskin dan tidak segera menikah itu pilihan dan tak melanggar aturan,"
"Tapi bisa diremehkan jika miskin,"
"Apa peduliku? Gak usah berteman dengan mereka. Lagipula jika nggak utang kepada mereka, ngapain diremehkan? Kita disegani bukan karena tampil mewah tapi karena nggak ngrepotin."
Alin kembali teringat percakapan mereka ketika keduanya memutuskan menyerahkan pengelolaan kursus kepadanya. Kekompakan memutuskan jalan hidup sesuai hati nurani, itu pun setelah memperluas wawasan dan sudut pandang, membuat mereka akrab. Meskipun untuk itu, ia sering dibebani prasangka yang aneh-aneh dan unik-unik yang membuatnya ngakak sekaligus nelangsa. Apa sumber prasangka buruk itu?
Tentu karena kesendiriannya. Lelaki yang tak mau sedikit jeli melihat perbedaan ciri fisik serta hormon antara pria wanita, spontan menyangka ia mencari lelaki yang kuat bergulat. Maka, mereka pun berlagak bak orang bengek dan tersengal-sengal dalam bernapas, agar telinga Alin mendengar, betapa mereka jagoan ranjang.
Orang yang otaknya hanya uang, uang, dan uang tentu mencurigai Alin akan memburu pria beruang. Demikian pula dengan mereka yang terdoktrin mencari suami harus seperti para penjajah yang berseragam dan bersenjata, ketika kita masih jadi bangsa terjajah ratusan tahun, akan menganggap Alin punya obsesi sama.
Ulah yang tak sesuai pola. Bertahun-tahun, mungkin puluhan bahkan ratusan tahun, sikap lelaki bangsanya santun. Namun, setelah ia ada kedekatan dengan Bima, ulah mereka berubah dan ini mencurigakan. Ia pun tak ingin menyulut masalah yang membuat simpulan orang jadi tanpa arah. Karena Bima lebih muda, lalu ia dianggap terobsesi untuk tampil lebih muda?
Maka, ia pun keluar sebagai guru honorer setelah kakeknya mewariskan dua ruko untuknya dan satu rumah yang digunakan membuka kursus, orangtuanya mewariskan rumah, lalu kedua temannya pun memberikan hak penuh kepadanya untuk mengelola bimbel Kinanthi.
Kinanthi, akronim nama mereka bertiga. Ki dari nama Arin "Karina Wulandari", "N" Itu nama Nyla Amelia, dan Alina Saraswati, karena Kinanthi tembang macapat tersebut menggunakan aksara Jawa "tha", tentu tidak bisa diubah dari aslinya. Jadi bukan Bimbel Kinanti melainkan Bimbel Kinanthi yang kini sepenuhnya miliknya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar