Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

Konflik 50:50, Bab 16, Nunung Sang Juara




Bab 16 Nunung Sang Juara 

Nunung tidak sedang menguji Bima; ia justru sedang menunjukkan kepatuhan mutlak demi membuat Bima terikat. Apalagi Bima mengeluh ingin lepas dari Alin yang kontroler dan Nununglah yang bisa untuk tidak mengontrol. Nunung  pun mematuhi dengan cara menyuntikkan sugesti untuk Bima, bahwa Bima adalah lelaki setia. Bima pun patuh dan tersugesti untuk setia kepadanya. Nunung dengan kepolosan yang tak dimiliki Juwita dan Alana, dengan mudahnya takluk pada rayuan Bima sebagai korban ke sekian, itu yang dirasakan Bima.

 Akan halnya Nunung, ia menertawainya sambil merasa ngakak berjamaah. Betapa Bima telah menjadi boneka bernyawa baginya. Demi membuat Nunung tidak mengontrol ulahnya, Bima pun mematuhi program Nunung untuk memamerkan kemesraan mereka berdua ke seluruh dunia, bahwa Bima miliknya. Bima menanggapi dengan ringan. Toh dirinya tampan. 

Jika tiba masanya ia banyak uang, perempuan-perempuan pastilah minta digenggamnya dengan satu telapak tangan kirinya tak peduli Nunung pamer foto gaya apa saja demi memamerkan kemesraan yang telah dilakukan bersama Bima. Sementara itu, telapak tangan kanannya mengarah kepada Nunung. Agar untuk sementara, menjadi supplier modal  ekspansinya demi mendapatkan aneka perempuan haus uang, sebagai pemicu adrenalinnya. Ia sangat yakin, masa dirinya menjadi beruang akan segera tiba dengan bantuan Nunung yang diberdayakannya untuk mencari uang dan uang.

Namun, teman-teman Nunung yang mengetahui gelagat Bima yang dianggapnya playboy, tak tinggal diam. Mereka tak peduli jika Bima hanyalah menguji ketulusan cinta Nunung. Yang mereka ketahui, Bima harus bertanggung jawab terhadap mental Nunung, tak peduli Bima ada pacar bahkan andai ada isteri pun. Bima terlalu jauh melangkah jika ulah itu hanyalah untuk menguji ketulusan Alina, Alana, alamak, alasan saja, atau siapa pun itu. Mereka tak bisa memaklumi. 

Akan halnya Bima. Ia akhirnya tak tega kepada Nunung. Pengorbanannya dengan cara selalu memasak makanan untuknya, tentu menjadi alasan bagi Bima untuk mencintainya. Nunung pun selalu patuh dan tidak pencemburu. Kepatuhan itulah yang dibutuhkan jika kelak tiba-tiba adrenalinnya ingin bergolak dan menuntut harus ada wanita-wanita lainnya. Hanya Nunung yang bisa dan tak kan protes seperti sikap yang ditampilkannya. Maka, jika Bima hanya memanfaatkannya untuk menambal harga dirinya yang bolong? Bima tak tega. 

 Bima menyadari bahwa pengabdian Nunung padanya selama ini karena Nunung mengaguminya, mengagumi ketampanannya yang mirip Zayn Malik, prestasinya di berbagai lomba akademik dan atletik serta ijazahnya yang dari Universitas Leiden. Lebih dari kekaguman, kepatuhan tanpa syarat itulah yang dibutuhkan Bima. 

Nunung pun menyadari hal itu. Baginya, membuat Bima patuh takluk untuk setia padanya, harus ada trik. Bagaimanapun, menjalani kehidupan di luar keseragaman adalah aib. Perawan tua, hidup miskin tanpa pangkat dan jabatan, tak bisa flexing di media sosial, itu di luar keseragaman dan itu aib.  

Jika hal itu bukan aib, tentu Gunung Kawi tidak ngetop di medsos karena dijadikan bahan konflik tiada hentinya. Bolehkah menjadi sempurna di hadapan sesama apa pun caranya? Atau nrima ing pandum sesuai falsafah Jawa? Yang penting berjuang, berhasil tidaknya itu hak prerogatif Sang Pencipta? Itu pilihan dan semua berkaitan dengan keseragaman. 

Pilihan yang memang menyulitkan. Meskipun demi keseragaman, makhluk alam gaib dari dimensi lainkah penolongnya? Jika memohon pertolongan dari Tuhan tentu sulit karena harus menjadi insan mulia sesuai aturan-Nya, mengapa tidak mencari jalan pintas antiribet?

 Makhuk alam gaib dalam menolong tentu syaratnya mudah. Konon, dari dilarang menyikat gigi bagi yang ingin bisa menyeret kontainer hanya menggunakan gigi, sampai menumbalkan nyawa seseorang yang dicintai. Berita tak jelas karena belum tentu faktual jika tak membuktikannya, membuat makhluk alam gaib sebagai penolong yang  baik hati, jadi kian bikin penasaran dan viral di abad dua satu ini. 

Konflik yang ternyata tidak mereda pada abad ke-21 ini, karena materialisme yang konon bukti keberhasilan era industri, kian menunjukkan taringnya, bahwa keberhasilan adalah kesuksesan sesuai kriteria sekitar. Hal itu kian mengaburkan manusia dalam menghayati, untuk apa mereka dihidupkan?  

Bagi Nunung, lelaki insekur parah seperti Bima yang menuntut dirajakan adalah korban termudah dan termurah untuk mempraktikkan ilmu pemasaran yang dipelajarinya secara otodidak sambil membuka restorannya. Maka, demi Bima setia, ia tidak menunjukkan kecemburuan keras seperti yang dilakukan wanita-wanita sebelum dirinya. Ia yang selalu menemani Bima makan, memasak untuknya, meskipun untuk itu cat kukunya harus terkelupas dan tidak hanya sekali kukunya patah, akhirnya paham. 

Ia mengerti bahwa untuk membuat Bima takluk sangatlah mudah, tak harus minta bantuan makhluk alam gaib. Bima jangan dibantah, jangan dibuat merasa tertekan dan buatlah seolah-olah ucapannya adalah titah baginda raja. Pasti Bima setia. Maka dari itu, yang dilakukan Nunung bukan memohon Bima untuk setia, tapi disentil egonya dengan pujian di media sosial" Pacarku terganteng ini setia lho." Bima pun besar kepala lalu mematuhinya tanpa menawar. 

Ternyata sangat mudah menaklukkan lelaki setampan Zayn Malik. Sesekali kebanggaan itu melintas untuk mencoba sok patuhi patriarkis terhadap lelaki-lelaki tampang aktor lainnya. Toh ia meskipun tidak kerja ke luar rumah demi mematuhi tuntutan Bima, Nunung tetaplah kasir di warung makan itu. Itu artinya ia pun bertemu dengan pelanggan dari yang setampan Bima maupun yang tidak. 

Apalagi setelah Bima tahu itu warung makan milik orangtua Nunung yang diwariskan kepadanya, sambil ia mulai kuliah jurusan pemasaran di negara yang sama. Bima tentu kian tak sanggup meninggalkannya. 

Bagaimanapunpun, dalam mencintai, dalam menuntut wanita tidak bekerja keluar rumah, lelaki tetaplah menggunakan logika. Jika gajinya belum memenuhi syarat, melarang Nunung bekerja di luar rumah sama saja dengan bunuh diri.  

Bukan karena lelaki pelit, tapi Nunung wanita. Naluri memiliki anak tentu menggoda, belum lagi tuntutan memiliki pernak pernik lainnya khas wanita. Dari desain pantry sampai gorden kamar mandi bahkan keset kaki. Hal itu menuntut biaya tinggi, lebih tinggi dari gajinya yang selalu habis di warung kopi. 

Khayalan nakal dan liar tentu sesekali melintas. Barangkali di bumi egaliter ini ada lelaki tampan yang juga masih patriarkis seperti Bima? Mereka masih minta dianggap raja? Bahwa lelaki minta dinomorsatukan sebagai bayi gede, memang wajar dan alami. Bahkan lelaki pun iri karena isteri lebih peduli pada keselamatan anaknya daripada suaminya, itu tuntutan universal dan wajar.

 Lelaki sejati dengan jiwa pelindung yang sesungguhnya nelangsa parah saat isterinya membiarkan bahkan mendukung untuk korupsi, tentu bisa dipahami jika mereka akhirnya menghamburkan uang itu bersama wanita kupu-kupu malam. Terlepas dari salah langkah, tuntutan tersebut masih bisa dianggap wajar sebagai kelalaian isteri. Wanita yang konon penghuni neraka terbanyak. 

Tuntutan yang tak wajar adalah ketika lelaki juga serakah menuntut wanita mengalah tanpa syarat, bahkan mengecilkan eksistensinya sebagai manusia. Insan yang juga berhak meninggalkan bumi sebagai makhluk bermanfaat dan berbahagia. 

 Jika merasa kesibukannya di luar rumah, tak berdampak bagi sesama dan malah lebih baik ia menyibukkan diri dengan meningkatkan passion suami dan anak-anaknya, itu pun wajar. Demi masa depan bumi yang lebih baik, tentu itu pengorbanan mulia. 

 Namun, jika naluri keindahan wanita pun dipasung atas nama agar setia, wajarkah? Bukankah keputusan untuk beragama, bekerja, berkeluarga dengan totalitas, adalah komitmen? Hal yang dilakukan dengan sadar sebagai wujud kepatuhan terhadap aturan Tuhan yang selaras dengan hati nurani insan mulia?

Jika mempermudah hidup dengan memanfaatkan teknologi dan memanifestasikan rasa keindahan pun dibatasi, itu pemasungan oleh raja yang niatnya menjajah. Demi cemas kehilangan dan diterima cintanya, adakalanya manusia memang menekan dan memangkas potensi sosok yang dicintai. Padahal itu bukan bukti cinta. Itu pembunuhan karakter dan perbudakan terselubung atas nama cinta.

Tapi Nunung tidak mempermasalahkannya. Kepatuhan tanpa syarat adalah trik demi hasil yang lebih baik. Dalam hal ini, sebagai mahasiswi pemasaran dengan kecerdasan interpersonal dominan, Nunung tentu ahlinya. Ia pun senyum sendiri menyadari telah profesional di bidang membuat lelaki takluk dan patuh. Bima adalah korban nyata.

Akan tetapi, ia segera menepis angan liar dan nakal itu. Bukankah demi setia padanya, Bima rela menitipkan ponsel dan berbagi password semua medsos miliknya hanya untuk Nunung seorang, bahkan Nunung pula yang membaca dan membalas chat wanita-wanita yang tergoda Bima? Lalu ngakak menertawai mereka, bahwa mereka adalah wanita-wanita udik. 

Wanita-wanita tidak penting bagi Bima yang sok metropolis. Hal yang tak pernah dilakukan Bima terhadap wanita lainnya, yaitu menitipkan ponsel dan berbagi password semua medsos. Hanya Nunung yang diberikan hak penuh sebagai sang juara. Maka, ia pun ingin setia meskipun angan liar untuk menguji trik yang berhasil membuat Bima takluk, menggelitik untuk mencoba kepada lelaki lainnya pengunjung warung nasinya. 

Bukankah cerpen Alin adalah bukti. Isinya mengisahkan seorang istri terpaksa melihat chat wanita lain saat ponsel suaminya tergeletak, menjadi alasan berkepanjangan bagi Bima untuk mencari pengganti Alin. Selalu itu-itu saja yang dipermasalahkan Bima. Dengan trik sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali menjelaskan bahwa dirinya tidak suka dikontrol, ia pun tak suka Alin menulis. Titik tanpa koma.

 Maka, setelah ia merasa menemukan Nunung yang sok tidak haus validasi padahal kehausan parah, ia pun  mencampakkan Alin yang dianggapnya terlalu jeli, lain dengan Nunung yang tak peduli, asalkan bisa pamer Bima yang setampan Zayn Malik. Urusan hati nurani yang merasa bakal dikhianati, ia pun bisa meniru berkhianat. Maka, apa sulitnya? 

Nunung pun optimis Bima bakal setia dan pastilah dirinya juaranya, bukan Bima. Biarlah Bima merasa bisa menaklukkannya, tetapi dunia pasti menganggap Bimalah yang takluk padanya. Sesuai dengan selera Bima yang tidak mau sok udik. Kuliah pun ke Leiden. Wanita-wanita pesaingnya toh tak ada yang mampu membeli rumah di kota metropolitan. Maka, apalah arti mereka di mata Bima? Hanya debu yang mengotori kaca jendela semesta.

Setelah beberapa waktu hanya itu-itu saja masalah mereka. Bima pun beralih perhatian secara total kepada Nunung. Ia merasa telah menemukan pelabuhan yang nyaman. Alasan yang sesungguhnya adalah Bima tak ingin tersaingi kecerdasan linguistik Alin. Bima menganggap jika Alin ibarat burung yang bisa terbang, ia sebagai gajah pun harus bisa terbang. Tatkala ia tak sanggup terbang, sayap Alinlah yang harus dipatahkan. 

 Kecemasan yang tak beralasan ditambah dengan dendam ditinggalkan menikahi lelaki lain, membuat Bima merasa sah saja jika ia menumbalkan perhatian Alin demi menemukan pemujanya. Baginya, yang didukung kebanyakan lelaki patriarkis, Alin adalah wanita sombong yang tak mau menuruti tradisi untuk menikah cepat demi menghapus gelar perawan tua. 

Keseragaman harus ditegakkan atas nama tradisi patriarki dan tentunya Alin harus disadarkan demi mematuhinya. Meskipun harus mengorbankan passion bahkan naluri keindahan atau apalah atas nama hak wanita. Wanita-wanita jika tidak ditekan, mereka akan kembali menguasai lelaki lalu membuat lelaki akan terlempar ke neraka. Itu argumentasi mereka, sambil secara diam-diam mencuci otak wanita-wanita agar rela berbagi dengan wanita-wanita lainnya. Apalagi jika wanita-wanita tersebut bisa menghidupi diri sendiri. Surga dunia bagi kaum lelaki tentunya.

 Maka, ketika Alin berani bergelar perawan tua, para psikopat pun menyebarkan fitnah, agar Alin dihancurkan. Bukan dengan menculik atau membunuh agar tidak terlacak, karena ia tentu banyak pembela pula, misalnya pendukung feminisme. Lagipula, melihat Alin menjadi bahan olok-olok, teror, uji cuci otak, itu sangat memuaskan para psikopat tanpa harus membunuhnya.

Bima dan Nununglah pasangan serasi yang  keberhasilannya teruji 99% untuk membuat Alin mati berdiri. Setelah jemarinya terkunci seolah kaku kena gergaji besi, karena tidak menjawab ketika ditanyai siapa wanita tanpa wajah yang dipamerkannya di media sosial itu, mereka pun mengakui telah menikah ketika usia Alin 62 tahun. Usia yang layak mati. Bima dan Nunung memang target terkuat untuk bisa membuat Alin mati cepat, atau minimal jantung  Alin  tak berfungsi tanpa dipasang ring.

Bima  tak sanggup hidup tanpa dikagumi wanita-wanita. Untuk itu ia harus melakukan trik adu domba, misal jika kelak ia ingin wanita yang mau memberikan semua ATM seperti dirinya yang telah memberikan semua password medsosnya, ia tentu akan mengadu domba Nunung dengan wanita-wanita lainnya. Ia akan mengatakan Nunung pelit berbagi uang, padahal dirinyalah pemilik ide berjualan nasi itu. 

Siapa yang paling ratu tega pasti terjerat, lalu ia yang merasa memiliki kelebihan daripada Nunung, akan menggeser Nunung dengan cara memamerkan kebersamaannya dengan Bima di media sosial. Begitu selalu yang dilakukan Bima. Seirama dengan perputaran bumi mengelilingi matahari. 

Bima  senang menikmati wanita-wanita  tidak empatik yang rela diduakan dengan Nunung melalui rayuan demi ibadah, yaitu demi ibadah panjang bernama pernikahan. Ia juga senang membayangkan Alin yang mandiri itu, yang tak mungkin mau dikendalikan demi adrenalinnya tetap menyala dikelilingi wanita-wanita, jadi bulan-bulanan teror mental, meskipun banyak wanita tanpa daya yang tidak menikah padahal butuh penghidupan. Tapi, siapa yang peduli jika menikahi mereka malah merepotkan? Lebih baik meneror Alin untuk diakali apalagi dolar sedang melonjak tinggi. 

Maka, ketika Nunung sadar telah sanggup meminggirkan sekian wanita dan membuat Bima tak berkutik dihadapannya, ia pun tak tega untuk mencoba menggoda lelaki lainnya. Meskipun dengan kepolosannya tentang warna busana, justru warna pilihan Bima untuk membuatnya setia adalah warna anggun nan seksi, misterius, dan memesona. 

Apa pun desain busananya dan apa pun desain fisiknya, si wanita pemakai warna tersebut pasti tampak lebih cantik dari aslinya. Kilaunya membuat pemakainya tampak lebih langsing dan lebih tinggi serta bersinar wajahnya di balik kekelaman warna pembungkusnya.  Warna pembungkus yang dominan itu akan menyinari wajah apalagi jika dipamerkan setelah dipoles dengan aneka aplikasi. Aneka aplikasi yang hampir semua wanita tua muda pun mengetahui.

Selanjutnya, yang dilakukan demi memproteksi cinta Bima agar terkunci dan setia adalah mengintimidasi dan menekan wanita-wanita lainnya agar tak menggoda Zayn Maliknya. Nunung berhasil. Foto-foto Bima jadi tampak tanpa aura yang membuat orang malas melihatnya, meskipun Bima menganggap itu foto terbaru dan tertampan.  Tapi bagi wanita-wanita lain, Bima di foto-foto terbarunya jadi tampak jelek dan kusam. Tampangnya seolah kelelahan bekerja keras mencari nafkah demi Nunung seorang. Yang telah memamerkan kebersamaan mereka. Anehnya, foto Bima tampak tua bak lelaki umur 60-an. 

Apakah pengaruh guna-guna? Belum tentu. Yang pasti, para besti yang telah menikah dan ingin Nunung segera menikah, mengunggah puluhan foto kemesraan pertunangan, bahkan bisa saja foto pernikahan. Mereka menikah diam-diam, prewedding, lalu menikah resmi jika telah pulang ke tanah air, tak ada yang tahu. Yang pasti, foto-foto tersebut berhasil membuat kaum empatik menganggap Bima sudah menikah dan tak perlu lagi dianggap sebagai manusia yang pernah ada dalam hidup mereka. Habis perkara. Titik. Tanpa koma. 

Sebelumnya                        Daftar Isi        Selanjutnya 

 

Komentar

Pembaca Terbanyak