Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

Konflik 50:50 (Bab 15, Hero Compleks)

 



Bab 15 

Hero Compleks 


Jika hubungannya dengan Juwita adalah upaya Bima untuk mencari ketenangan, maka pertemuannya dengan Alana adalah sebuah kecelakaan emosional yang tidak terelakkan. Alana adalah mahasiswi hukum internasional asal Jakarta yang tinggal di gedung apartemen sama dengan Bima. Ia cerdas, sinis, dan memiliki lidah setajam pisau bedah.

Bagi Bima, Alana adalah personifikasi dari segala hal yang ia takuti sekaligus ia kagumi dalam diri Alin, namun dalam versi yang lebih meledak-ledak. Sejujurnya, ada adrenalin yang menggelora tiap berdiskusi bahkan berdebat dengan Alana. Namun, tetap tak mudah menghalau bayangan Alin yang lebih feminin meskipun lidahnya pun tajam. 

"Kamu tahu, Bima," ujar Alana suatu malam saat mereka sedang memasak bersama di dapur komunal. "Kamu itu tipe laki-laki yang punya hero complex. Kamu merasa harus jadi penyelamat supaya bisa merasa punya kuasa. Itu klasik banget, dan sejujurnya, agak menyedihkan."

Bima tertegun, tangannya yang sedang memotong bawang terhenti. Kalimat Alana menghunjam tepat ke jantung insekuritasnya. Alana tidak bisa dikendalikan seperti Juwita. Alana tidak melihat Bima sebagai pelindung, melainkan sebagai subjek penelitian psikologi yang menarik.

"Aku cuma mencoba jadi teman yang baik, Alana," jawab Bima, menjaga suaranya agar tidak bergetar berbungkus emosi yang mulai menjalar menuju kepala. 

Alana tertawa renyah, namun matanya menatap tajam. "Teman yang baik atau tuan yang ingin disembah? Aku lihat cara kamu memperlakukan Juwita. Kamu nggak mencari pasangan, Bima. Kamu mencari pengikut yang membebek bahkan pemuja. Anehnya, dengan tipikal begitu, Kamu bisa beku karena adrenalin tak terpacu. Sebaliknya, Kamu takut sama perempuan yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri, kan? Kamu takut kalau perempuan itu lebih pintar dari Kamu. Tapi Kamu juga tak suka wanita yang bergantung secara materi kepadamu. Aneh kan? Pusing kan? "

Skakmat. Bima merasa seolah-olah seluruh topeng yang ia bangun sejak di Surabaya dipreteli satu demi satu oleh Alana. Alana adalah cermin retak yang menunjukkan wajah asli Bima, wajah seorang "Firaun kecil" yang sebenarnya sangat ketakutan akan kegagalan. Insekuritas Bima meledak menjadi kemarahan yang tertahan. 

Ia benci  Alana bisa membaca pikirannya. Ia benci karena Alana mengingatkannya pada kecerdasan deteksi Alin, yang dulu menjadi sekian dari alasan yang membuatnya lari ke pelukan Dania. Namun, di saat yang sama, ada ketertarikan yang masokis. Ia merasa tertantang untuk menaklukkan Alana, untuk membuktikan bahwa ia bisa membuat wanita sekeras Alana pun tunduk padanya. Tantangan yang lagi-lagi membuat adrenalinnya menggelorakan semangat hidupnya. 

"Kamu terlalu banyak berasumsi," desis Bima sambil meletakkan pisau dengan dentang yang keras.

"Asumsi atau observasi?" balas Alana tenang. "Bima, sampai kamu berhenti merasa harus jadi 'Raja' untuk merasa berharga, kamu nggak akan pernah bisa mencintai siapa pun dengan benar. Kamu cuma akan terus mencari pelarian."

Malam itu, Bima tidak bisa tidur. Kata-kata Alana berputar-putar di kepalanya seperti badai. Ia mulai menyadari bahwa pola hubungannya dengan wanita—dari Alin, Dania, Juwita, Diska, hingga Alana—hanyalah sirkus untuk memuaskan egonya yang haus tantangan. 

Ia mencintai Alin bukan hanya karena sosoknya, tapi karena Alin adalah "piala" tertinggi yang gagal ia raih. Alin begitu cepat memutuskan menikah, ketika ia sedang sibuk-sibuknya memamerkan effort untuk Dania, padahal betapa inginnya ia melihat Alin, sosok yang sok berani menjadi perawan tua itu, takluk padanya, mengalunginya dengan bunga juara.

 Namun, Alin bak kancil yang ngacir saat menyadari pak petani datang membawa pisau untuk menyembelihnya, meskipun kelak sang kancil ternyata dikalahkan oleh siput karena menantangnya lomba lari. Yang bener aja cari lawan. Maka, semesta yang tak sedikitpun mau menoleransi kesombongan, membuat sang kancil pun terjungkal. 

Masalahnya, betulkah keberanian Alin bergelar perawan tua itu, semata kesombongan? Inilah PR yang membuat lelaki patriarkis di bumi yang belum cinta literasi menjadi pusing menebaknya. Anehnya, Bima pun tertantang menaklukkannya, kendati ada cinta juga di dalamnya. Salahkah? Tidak. Ia menggeleng pelan di depan cermin. Aku lelaki. Aku hunter. Bisik naluri kinestetiknya. 

Konflik 50:50 dalam dirinya kini berubah menjadi perang terbuka. Separuh dirinya ingin membenci Alana karena telah menghancurkan ilusinya, namun separuh lainnya mulai menyadari kebenaran pahit dari ucapan itu. Bima mulai bertanya-tanya, apakah perjalanannya ke Belanda ini benar-benar untuk studi, atau hanya pelarian panjang dari kenyataan bahwa ia adalah lelaki yang belum selesai dengan dirinya sendiri?

Di tengah keheningan malam Leiden, Bima merasa makin kecil. Ia merindukan Alin, tapi kini rasa rindu itu bercampur dengan rasa malu juga. Ia sadar, jika ia menemui Alin sekarang dengan mentalitas Firaun ini, ia hanya akan mengulangi tragedi yang sama. Momen "Mental Detective" manakala karakter Bima dibedah secara paksa oleh tokoh Alana. 

Alana berfungsi sebagai katalis yang menghancurkan zona nyaman Bima, memaksanya melihat sisi patriarkis dan insekuritasnya secara telanjang. Kepercayaan diri Bima telah retak menjadi serpihan kecil setelah konfrontasinya dengan Alana. Rasa insekuritasnya kini menyamar menjadi kebutuhan akut akan seseorang yang tidak akan mendebatnya, seseorang yang akan memandangnya dengan pemujaan tanpa syarat. 

Di titik nadir inilah, ia bertemu dengan Nunung, seorang pekerja migran yang bekerja di sebuah restoran Indonesia di Den Haag. Nunung adalah wanita yang sederhana, pekerja keras, dan memiliki tutur kata yang sangat takzim dengan suara lembut mendayu bak desir angin membelai bulu kuduk. Bagi Bima, Nunung adalah antitesis dari Alana yang tajam lidah dan pemikiran serta Alin si detektif yang juga tajam lidah dan pemikiran. 

Di depan Nunung, Bima merasa kembali menjadi "Raja". Ia sering datang ke restoran itu hanya untuk menikmati bagaimana Nunung melayaninya dengan penuh hormat, mendengarkan keluh kesah kuliahnya seolah-olah Bima sedang membicarakan teori penemuan dunia.

"Mas Bima itu pintar banget ya, sekolah tinggi-tinggi sampai ke sini," ujar Nunung suatu sore sambil menyuguhkan segelas teh hangat. "Saya mah apa, cuma bisa masak."

Kalimat itu adalah musik yang paling indah bagi ego patriarki Bima. Inikah yang ia cari? Seseorang yang memosisikan diri lebih rendah agar ia bisa merasa lebih tinggi, tapi tidak bergantung secara materi? Adrenalinnya anteng dan kadang gelisah mencari tantangan, tapi kepandaian Nunung dalam memasak tanpa itung-itungan harga, membuat Bima merasa nyaman. 

Bima pun mulai sering mengajak Nunung jalan-jalan di akhir pekan. Ia membelikan Nunung barang-barang kecil, menikmati peran sebagai pemberi dan pelindung. Untuk sesaat, ia merasa insekuritasnya telah sembuh. Ia merasa telah menemukan tempat berlabuh. Bagaimanapun, jika memungkinkan, ia tentu tak ingin kembali kepada Alin. Jika ia terlihat main tarik ulur, itu karena ia penasaran mengapa Alin begitu berani menjadi perawan tua di bumi patriarki? 

Nunung telah sanggup menghalau rasa cintanya terhadap Alin tanpa sisa. Desir kerinduannya selalu ditepisnya dan digantinya dengan dendam. Ia tetap tak ingin membuat Alin melepaskan diri dengan cara tidak memamerkan foto profilnya bersama Nunung, padahal biasanya jika ganti wanita ia selalu pamer ke media sosial. Dendamnya pada Alin, membuatnya ingin mengunggah foto mesra bersama Nunung jika saatnya tiba. Agar Alin tersungkur? Itulah yang dikatakan pada Nunung agar tak lagi menuntut diakui keberadaannya.

Nunung pun tidak menuntutnya. Yang dirasakan hanya, Bima pernah mengeluh bahwa Alin memburunya secara ugal-ugalan, padahal ia tak suka Alin. Alin adalah wanita materialistis yang kelak akan merampas seluruh gajinya, tampilannya dengan desain busana dan aneka warna seolah ia wanita yang menuntut lelaki untuk menggoda. 

"Nunung sih nggak gitu, Mas Bima. Nunung gak pernah tampil pakai baju aneka warna," sambil jemarinya diam-diam mengunci "X" menjadi privat, karena di situ banyak tersimpan gaya busananya yang lebih heboh daripada Alin. Tapi ulahnya itu tertangkap basah oleh Bima, 

"Nggak usah dihapus, Dik. Itu bukti bahwa Mas Bima berhasil mendidikmu menjadi wanita baik-baik."

"Iya Mas. Nunung akan patuhi Mas Bima untuk tidak lagi mengenakan baju aneka warna. Nunung pun akan bekerja keras tak minta uang Mas Bima kelak. Jika diberi Nunung terima, jika tidak pun Nunung tidak minta. " Bima pun gemas lalu mencubit ujung hidung Nunung. 

"Kamu wanita terbaik yang pernah kumiliki Dik Nunung" bisik Bima sambil menenggak bir yang dipegangnya. 

"Lupakan Alin yang sok mandiri itu. Akan kubuktikan bahwa aku bisa lebih baik darinya dari segala hal, bahkan jika aku harus tak menunjukkan eksistensi agar Kamu menjadi lelaki terhebat untukku," bisiknya. 

Sebelumnya                      Daftar Isi        Selanjutnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak