Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

Konflik 50:50 (Bab 14 Fase Baru Bima)

 




Bab 14

Fase Baru Bima

Namun, Bima tanpa disadari, sedang menempuh jalan sunyi. Ia sedang menjauhkan diri dari esensi cinta yang sesungguhnya demi sebuah ego patriarki yang tak akan pernah kenyang. Di Surabaya, Alin mungkin sudah mulai bangkit, sementara di Belanda, Bima masih sibuk menggali lubang insekuritasnya sendiri. 

Inilah perjalanan Bima di luar negeri. Ini mempertegas bahwa tanpa adanya perubahan mindset (dari patriarkis ke egaliter), hubungan apa pun yang ia jalani akan selalu membuatnya kecewa. Ini adalah "pintu masuk" menuju konflik yang lebih besar ketika ia nanti bertemu dengan Juwita, Alana, dan Nunung.

Bima mulai memasuki fase baru dalam "pelariannya" di Belanda. Sesuai dengan perkembangan karakternya, ia bertemu dengan sosok Juwita. Wanita yang tampak sempurna untuk memulihkan egonya, namun sebenarnya hanyalah cermin dari kehampaan hatinya. 

Musim semi di Leiden membawa mekarnya bunga tulip di sepanjang kanal, namun bagi Bima, keindahan itu terasa hambar. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus, ia bertemu dengan Juwita, seorang mahasiswi asal Indonesia yang baru saja memulai program magisternya. Juwita adalah sosok yang manis, penurut, dan sangat menghargai setiap bantuan yang diberikan Bima. Bagi ego Bima yang sedang sakit, Juwita adalah "obat" yang sangat ia butuhkan.

Di dekat Juwita, Bima merasa menjadi pria dewasa yang sesungguhnya. Ia yang mengatur jadwal belajar mereka, ia yang memilihkan tempat makan, dan ia yang menjadi pelindung Juwita di negeri asing ini. Rasa insekuritas yang dulu sering muncul saat bersama Alin, kini tertutup oleh rasa superioritas yang ia dapatkan dari kepatuhan Juwita.

"Kamu hebat ya, Bim. Bisa tahu jalan pintas sesunyi ini," puji Juwita suatu sore saat mereka berjalan di sepanjang pinggiran Oude Rijn.

Bima tersenyum bangga. "Hanya perlu memperhatikan detail, Ju. Aku nggak mau kamu tersesat di sini."

Namun, di balik senyum itu, batin Bima sedang melakukan penipuan besar. Setiap kali ia menatap Juwita, yang ia cari sebenarnya adalah validasi bahwa ia lebih hebat dari Alin. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa mengendalikan seorang wanita tanpa harus merasa terancam oleh kecerdasannya. Bima sedang terjebak dalam sindrom "Firaun kecil"; ia tidak mencari pasangan yang egaliter, melainkan " pengikut dan pembebek" yang setia.

Tragisnya, setiap kali Juwita melakukan sesuatu yang mengingatkannya pada kemandirian Alin—seperti saat Juwita berhasil memperbaiki sepedanya sendiri tanpa bantuan—Bima justru merasa tidak nyaman. Ada rasa cemburu yang aneh muncul, bukan karena cinta, tapi karena ia takut kehilangan posisinya sebagai "sang penguasa" dalam hubungan itu.

Konflik 50:50 dalam dirinya makin meruncing. Separuh hatinya merasa nyaman dengan Juwita karena ia merasa aman, namun separuh lainnya masih terkenang Alin. Juwita hanyalah sebuah proyeksi, sebuah bayangan yang ia ciptakan untuk menutupi lubang besar yang ditinggalkan Alin. Ia mencintai Juwita karena Juwita membuatnya merasa berharga, bukan karena ia benar-benar mencintai sosok Juwita apa adanya.

"Apakah kamu pernah memikirkan masa depan di Indonesia, Bim?" tanya Juwita tiba-tiba.

Bima tertegun. Pertanyaan itu menariknya kembali ke kenyataan pahit di Surabaya. Di tengah mekarnya tulip, Bima menyadari bahwa ia sedang membangun sebuah istana pasir bersama Juwita. Ia menggunakan Juwita untuk melupakan Alin, namun setiap gerak-gerik Juwita justru menjadi pengingat betapa ia sangat merindukan kedalaman jiwa yang hanya dimiliki Alin.

Ia sedang menjalin hubungan dengan Juwita, tapi pikirannya sedang berdebat dengan bayangan Alin. Bima belum sadar bahwa ia sedang menyakiti dua wanita sekaligus: Alin yang ia abaikan secara pengecut, dan Juwita yang ia jadikan sekadar alat pemulihan harga diri.

Malam itu, di bawah langit Leiden yang bertabur bintang, Bima menyadari bahwa pelariannya melalui Juwita hanya akan membawanya pada kebuntuan yang baru. Insekuritasnya belum sembuh; ia hanya sedang memberikan perban pada luka yang terus memburuk di dalam.

Hal ini menunjukkan sisi manipulatif Bima yang tidak disengaja akibat pola pikir patriarki. Ia mencari wanita yang "lebih rendah" secara posisi agar ia merasa aman. Ini adalah awal dari rangkaian kegagalan hubungan Bima dengan wanita-wanita lain sebelum ia akhirnya dipaksa menghadapi kenyataan tentang Alin.

Bima bertemu dengan Alana. Jika Juwita adalah air yang menenangkan egonya, Alana adalah api yang membakar insekuritasnya hingga ke akar. Di sini, sisi "Mental Detective" mulai terasa tekanannya. Anehnya, di tengah upaya mencari wanita baru, bayangan Alin justru makin kuat mengejarnya. 

Setiap kali ia memulai bahkan saat gagal menjalin hubungan yang sehat, ia selalu membandingkan mereka dengan Alin. Namun, Alin yang ia bayangkan bukan lagi sosok yang nyata, melainkan sosok yang ingin ia tundukkan suatu hari nanti. Ia mencintai Alin dengan cara yang keliru; separuh ingin memuliakannya, separuh lagi ingin menjadikannya bukti bahwa ia sudah menjadi "atasan" bagi wanita yang dulu pernah membuatnya minder sekaligus tertantang untuk menaklukan. 

Kondisi batinnya kini benar-benar terbelah 50:50. Ia terjebak dalam paradoks: ia ingin menjadi lelaki yang egaliter seperti teladan Rasulullah pada Khadijah—sebuah konsep yang mulai sering ia baca di sela-sela waktu kuliahnya di Belanda—namun praktiknya, ia justru ingin disembah layaknya Firaun yang minta dipatuhi.

Bima mulai menyadari bahwa pindah ke Belanda hanya mengubah latar tempat, bukan latar suasana jiwanya. Ia masih Bima yang sama; lelaki yang merasa terancam oleh wanita yang kuat, namun terus mencari wanita kuat untuk ia taklukkan. Pola ini terus berulang, menciptakan lingkaran setan yang membuatnya makin sulit untuk benar-benar move on atau pulang ke tanah air dengan kepala tegak.

Malam-malam di Leiden dilewatinya dengan merenungi foto-foto lama di ponselnya. Ia merindukan Alin, tapi ia lebih merindukan rasa berkuasa yang ia rasakan saat melindungi Alin dari batu kali dulu. Ia ingin kembali ke momen itu, namun kali ini dengan posisi yang berbeda. Ia ingin Alin berterima kasih padanya setiap hari, seolah-olah hidup Alin bergantung sepenuhnya pada perlindungannya. Bima tidak sadar, ia sedang menempuh jalan yang sunyi. Ia sedang menjauhkan diri dari esensi cinta yang sesungguhnya demi sebuah ego patriarki yang tak akan pernah kenyang. 

Kenangan masa lalu entah berapa puluh kali pun terlintas. Betapa ia kesal Alin beranjak meninggalkannya, ketika ia mendekatinya, setelah isu dirinya bersama Dania merebak memenuhi sudut-sudut tempat les. Itu hanyalah upaya pertahanan diri karena ada empat orang lawan yang datang tiba-tiba, ketika hatiku mulai berbunga-bunga. Bukan melulu salah Alin, tapi salahkah aku jika kesulitan menaruh muka saat itu? Lalu kulakukan ulah nekat itu, toh Dania pun mau. 

Mengapa Alin begitu marah lalu menikah? Okelah karena cemas gelar perawan tua. Namun, gelar itu sudah hilang. Ia telah bergelar janda kini, entah randa kempling entah apa aku tak peduli toh aku pamer ke seluruh dunia bahwa aku pun bukan lelaki sepi wanita. Yang kuingin tahu, setelah aku pamer ke seluruh dunia bahwa aku tidak pernah sepi wanita, toh statusnya sudah janda, akankah ia tak acuh padaku, jika kelak aku datang lagi padanya? 

Jika ia tak acuh lagi, alasan apa yang diyakini di hatinya? Cemburu? Karena aku pernah dikelilingi banyak wanita? Lalu, pernikahannya tidakkah membuatku cemburu? Jika ia tak acuh lagi padaku, ia tidak adil. Aku ada alasan kuat menghapusnya dari hatiku. Tanpa kelakuan minus yang harus kudeteksi tuntas, sulit rasanya mengusir bayangannya yang melekat erat. Bayangan yang membuatku sulit move on, padahal betapa banyak bunga segar yang ingin kupetik. 

Dulu ia tak acuh padaku karena aku belum mapan, cemburu pada Dania, atau risih dengan gelar perawan tua? Aku harus mendeteksi jalan pikirannya dengan tuntas. Jika aku pamer telah ada wanita lain sekaligus pamer kesuksesan, apakah ia menghubungi aku? Jika ia nekat, semudah itukah prinsipnya berubah tentang empati dan rezeki? 

Mestinya jika ia betul-betul beriman, begitu aku pamer kesuksesan sekaligus pamer ada wanita lain, ia sadar diri pernah meninggalkan aku untuk menikahi lelaki lain, ketika aku belum mapan. Tentu ia bukan malah memburuku. Hati nurani orang beriman pasti tak tega terhadap sesama perempuan. Keyakinannya bahwa Tuhan tetap memberi rezeki makhluk-Nya sampai datang ajalnya, pun pasti menghalanginya untuk memburuku. 

 Jika ia nekat, benar-benar dirinya ternyata tak punya prinsip hidup kuat terkait empati. Percuma tampil agamis dan ngomong soal moral serta keadilan. Bulsit! Aku harus mengujinya. Harus. Jangan harap Tuhan tak mengujinya ketika ia mengaku beriman. Enak aja. Dan aku bersedia dijadikan sarana uji oleh Tuhan untuk menguji kedalaman imannya. Tekatnya sambil kembali membaca buku sosiologi. 

Malam itu, di kamar apartemennya yang sepi, Bima memandangi foto profil Alin yang sudah lama tak ia buka. Ia mencintai Alin, tapi ia lebih mencintai egonya sendiri yang menolak untuk kalah? Sebetulnya bukan alasan itu yang terkuat.

 Ia tak ingin Alin ternyata hanyalah wanita hipokrit. Apalagi Alin kutu buku dan telah berani pamer sebagai penulis. Jika ia ingin aku mendukungnya, ia harus konsisten. Ia harus menerapkan falsafah Jawa Berbudi Bawa Laksana yang pernah ditulisnya. Aku lelaki meskipun lebih muda. Sebagai tulang rusuk, ia harus selalu diluruskan jika ingin hobinya kudukung. Itu harus, tekatnya.

Di seberang laut, Alin sedang menata puing-puing hidupnya, tanpa tahu bahwa lelaki yang dulu melindunginya dari batu kali kini sedang berkutat dalam labirin pikirannya sendiri. Hal ini memperdalam karakter Bima sebagai sosok yang belum mampu keluar dari belenggu patriarki. Ataukah demikianlah yang harus dilakukan lelaki sejati dalam memutuskan memilih isteri? Agar suami tenang memercayai kiprah isteri dalam upaya ikut mengais rezeki, tanpa bergantung sepenuhnya kepada lelaki?


Sebelumnya           Daftar Isi     Selanjutnya 

 

Komentar

Pembaca Terbanyak