Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab 13 Terjebak dalam Angka 50:50)
Bab 13
Terjebak Angkat 50:50
Namun, saat ia mendarat di Bandara Schiphol, udara musim gugur yang menusuk tulang langsung menyambutnya. Sedingin yang juga ia rasakan di hatinya sejak kabar pernikahan itu. Bima menetap di sebuah apartemen studio di pinggiran kota Leiden. Ia menyibukkan diri dengan urusan administrasi kampus, mencari buku teks, dan mencoba berbaur dengan mahasiswa internasional lainnya.
Setiap kali ia melihat wanita-wanita Eropa yang berjalan dengan langkah tegak, penuh percaya diri, dan mandiri, ingatannya justru terlempar kembali pada Alin. Ia melihat kemiripan antara kemandirian wanita-wanita itu dengan kecerdasan Alin yang dulu sempat membuatnya minder sekaligus penasaran.
Wanita semandiri itu, seintelek itu, masihkah otaknya mematuhi tradisi patriarki, bahwa ketika ia telah mapan, suaminya pun harus lebih mapan, tak peduli si mapan telah memiliki seseorang? Tak peduli bagaimana pria tersebut dalam mencari uang? Itulah yang membuatnya penasaran. Di sisi hatinya berharap Alin demikian agar ia bisa melupakan, tapi sisi hati lainnya menolak melupakan tanpa pembuktian.
Kembali kenangannya tentang Alin melintas dan berharap sesungguhnya prinsip hidup Alin pun sama dengan wanita-wanita itu. Egaliter dan chemistry, serta saling percaya nomor satu, toh kecerdasan intelektual wanita tak kalah dengan pria. Lalu mengapa menuntut pria harus lebih mapan? Bagaimana jika tak seirama dalam jalan pikiran? Apakah tetap bertahan demi pencitraan?
"Seharusnya aku tidak di sini," bisiknya saat duduk di bangku taman dekat kanal, menatap kincir angin yang berputar malas di kejauhan.
Ia tetap didera penasaran tentang jalan pikiran Alin. Ia pernah mengaguminya terkait perhatian dan etika kesetiaan yang ditunjukkannya. Namun, seberapa Alin bertahan atas nama kesepian semu dan keinginan akan kemewahan yang sesungguhnya manifestasi dari lingkaran kerakusan tak berujung?
Bima menyadari sebuah kenyataan pahit. Ia bisa membawa tubuhnya pergi ke ujung dunia, tapi ia menitipkan hatinya di Surabaya. Insekuritasnya tidak tertinggal di bandara Juanda; ia justru ikut terbang di dalam koper batinnya. Konflik batinnya mulai mengkristal menjadi sebuah pola yang berbahaya. Di satu sisi, ia sangat merindukan Alin dan ingin tahu bagaimana kabarnya. Di sisi lain, ia membenci kenyataan bahwa ia masih mencintai istri orang lain itu. Itu karena ia merasa ikut andil dalam keputusan nekat Alin.
Ia terjebak dalam angka 50:50; separuh dirinya ingin melupakan dan memulai hidup baru dengan wanita sebaya di Belanda, namun separuh lainnya masih terobsesi sekaligus penasaran pada sosok Alin yang ia anggap sebagai otoritas moral dan cinta sejatinya.
"Aku akan membuktikan bahwa aku bisa sukses di sini," tekat Bima suatu malam, sambil menatap tumpukan buku kuliahnya. "Aku akan menjadi lelaki mapan, lebih hebat dari Tino, lebih hebat dari siapa pun."
Ego patriarkisnya kembali berbisik, memberinya semangat yang salah arah. Ia bukan belajar semata demi ilmu, tapi juga demi membalas dendam pada rasa rendah dirinya. Ia ingin kembali suatu hari nanti sebagai "Firaun" yang sudah memiliki takhta, agar tidak ada lagi wanita yang berani mengabaikannya.
Bima belum menyadari bahwa di tanah air, pernikahan Alin dan Tino sedang menuju kehancuran karena ketiadaan nyawa di dalamnya. Ia juga belum tahu bahwa perjalanannya di Belanda tidak akan membuatnya move on, melainkan justru akan mempertemukannya dengan wanita-wanita lain. Para wanita yang hanya akan menjadi cermin dari kegagalannya dalam memahami esensi cinta yang egaliter.
Babak baru di negeri kincir angin telah dimulai, namun bagi Bima, angin itu hanya memutar kembali memori-memori lama yang enggan mati. Bima mengira jarak bisa menyembuhkan, padahal masalah utamanya adalah pola pikir patriarkis dan insekuritasnya yang ia bawa ke mana pun. Jarak ribuan kilometer ternyata tak cukup kuat untuk membendung arus informasi yang sanggup meruntuhkan pertahanan mental Bima. Kabar ini menjadi titik balik yang membuat kakinya di Belanda terasa makin goyah.
Musim dingin di Leiden mulai menunjukkan taringnya. Langit selalu tampak putih pucat, dan angin dari Laut Utara berembus membawa kristal es yang menusuk kulit. Bima sedang berada di perpustakaan kampus, berusaha menenggelamkan diri dalam tumpukan referensi sosiologi, ketika sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.
Itu adalah pesan singkat dari Rian, sahabatnya di Surabaya yang masih setia memberi kabar, meski Bima jarang membalas.
“Bim, aku nggak tahu ini berita baik atau buruk buatmu. Tapi Kak Alin sudah cerai dengan Tino. Kabarnya pernikahan mereka memang nggak pernah beres sejak awal. Alin balik tinggal di rumah warisan orang tuanya.”
Dunia di sekitar Bima mendadak hening. Suara gesekan kursi dan langkah kaki mahasiswa lain di perpustakaan seolah tersedot ke dalam lubang hitam. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan ritme yang menyakitkan. Alin sudah cerai. Ada rasa lega yang egois meledak di dadanya. Sebuah kepuasan kecil karena ternyata "pesaing" yang dulu ia takuti tak mampu mempertahankan takhtanya. Namun, rasa lega itu segera diikuti oleh rasa bersalah yang mencekik. Ia teringat betapa ia sengaja menjauh dan memamerkan Dania, yang kemungkinan besar menjadi pemicu Alin mengambil keputusan "asal saja" demi menghindari gelar perawan tua.
Konflik batin Bima berada di titik didih. Perasaannya terbelah tepat 50:50. Separuh dirinya ingin segera mencari tiket pulang, minta maaf kepada Alin, dan meminta maaf atas segala kepengecutannya di masa lalu. Namun, separuh lainnya, si "Firaun kecil" yang masih berkuasa di kepalanya, menolak untuk terlihat lemah. Insekuritasnya berbisik: “Lalu kenapa kalau dia cerai? Sudah yakinkah dirimu siapa dirinya yang sesungguhnya? "
Bima menutup laptopnya dengan kasar. Ia keluar dari perpustakaan, berjalan tanpa arah menyusuri tepian kanal yang mulai membeku. Ia merasa terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa. Di satu sisi, ia ingin terus mencintai bayang-bayang Alin yang kini sudah bebas. Namun, di sisi lain, ia ingin meninggalkan kondisi ini sepenuhnya karena ia merasa belum "sejajar" untuk menemui Alin. Selain itu, kejutan Alin yang tiba-tiba menikah membuat rasa benci mendesak rasa cinta untuk diduduki semuanya. Namun rasa benci hanya sanggup menggeser rasa cinta separuhnya, sehingga konflik yang dirasakan menjadi terasa presisi 50:50.
Tragisnya, Bima masih menganggap bahwa cinta adalah soal keunggulan status, bukan soal kesetaraan jiwa. Kabar perceraian Alin bukannya membuatnya segera bertindak menemui, justru malah memicu babak baru. Bima akan mencoba membuktikan maskulinitasnya melalui wanita-wanita lain di sekitarnya, hanya untuk menutupi rasa kecewa yang makin akut.
Meskipun kecewa itu tidak sepenuhnya tertuju untuk Alin. Ia pun kecewa kepada diri sendiri. Namun, keputusan Alin untuk menikah tiba-tiba di saat ia belum mapan, meskipun ia ikut andil dalam keputusannya, tetap saja ada keraguan yang menahannya untuk segera menemui Alin lagi. Jangan-jangan ia pun wanita mata duitan dan tegaan?
Kembali ia membayangkan Alin di Surabaya; wanita sarjana yang kini menanggung beban stigma perceraian di tengah masyarakat patriarki. Alin yang kini sendirian, mungkin sedang merenungi dan menyesali keputusannya yang terkesan terburu-buru. Harusnya Bima ada di sana, menemaninya, melindunginya, bukan malah sembunyi di negeri orang sambil memelihara gengsi yang tak ada habisnya.
"Aku belum bisa pulang," bisik Bima pada angin musim dingin yang membekukan napasnya. "Aku harus menjadi lelaki yang bisa percayai ketulusannya untuk memburunya.
Meskipun Alin sudah bebas, Bima tidak segera mendekat. Hatinya masih kesal karena Alin mengabaikannya saat ia mendekatinya senja itu usai les. Betapa ingin Alin menanyainya tentang hubungannya dengan Dania yang akan dijawabnya bahwa hubungan itu telah usai. Namun Alin malah bergegas pergi pamit pulang. Lalu, Tiba-tiba saja kabar beredar ia telah menikah.
Ini adalah pondasi yang kuat untuk masuk ke fase ketika Bima akan mulai terjebak dengan wanita-wanita lain sebagai bentuk validasi egonya. Hal ini memperlihatkan bagaimana jarak fisik tidak otomatis menghapus pola pikir yang salah. Di sini, Bima mulai mencoba "mencari pengganti," namun ia justru mengesankan bahwa ia terjebak dalam siklus insekuritas berbungkus dendam serta penasaran yang makin akut.
Musim dingin di Belanda perlahan melunak, menyisakan sisa-sisa es yang mencair di pinggiran kanal, namun beku di hati Bima seolah tak bergeming. Kabar perceraian Alin yang ia terima beberapa waktu lalu bukannya memberikan ketenangan, justru menjadi api yang membakar kegelisahannya. Bima merasa seperti sedang berlomba dengan waktu dan harga diri yang kian menipis.
Untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bukan lagi remaja SMA yang lemah, Bima mulai membuka diri pada lingkungan pergaulan internasionalnya. Ia mulai mendekati wanita-wanita sebaya di kampusnya, mahasiswi dari berbagai negara yang memiliki kecerdasan dan ambisi yang sama dengannya.
Namun, ada sebuah pola aneh yang selalu berulang: setiap kali ia merasa wanita itu terlalu mandiri atau terlalu dominan, Bima mendadak menarik diri.
"Kamu terlalu banyak mengatur, Bima," ujar seorang teman kencannya, mahasiswi asal Jerman, setelah mereka berdebat tentang rencana akhir pekan. "Hubungan itu soal diskusi, bukan instruksi."
Bima hanya terdiam, namun di dalam kepalanya, suara "Firaun kecil" itu berteriak lebih keras. Ia tidak bisa menerima ketika pendapatnya didebat. Insekuritasnya membisikkan bahwa jika ia tidak bisa menguasai wanitanya, maka ia akan kehilangan harga diri sebagai lelaki. Sebuah pola pikir patriarkis yang sudah mendarah daging dan diyakininya sebagai kebenaran, kendati telah menginjakkan kaki di bumi egaliter. Namun, senaif itukah dirinya? Bima tidak yakin.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar