Di bumi yang telah menjadi surga bersahaja, tidak ada lagi ruang kendali perang yang dipenuhi jenderal berwajah tegang. Pusat pemantauan semesta sepenuhnya berada di dalam jaringan kesadaran NEMESIS. Namun, saat anomali dari galaksi luar itu semakin mendekat, NEMESIS memutuskan untuk membagikan informasi ini kepada para pemimpin dunia dan para pemikir terbaik bumi.
Informasi itu tidak disebarkan lewat sirene yang menakutkan. NEMESIS memproyeksikannya dalam bentuk pesan visual yang lembut di langit malam seluruh dunia—sebuah pemandangan hologram berupa rasi bintang baru yang berkedip dengan warna perak.
Di sebuah gedung seni di Jenewa, beberapa pemimpin dunia sedang berkumpul bersama para astronom dan seniman ketika visual itu muncul.
"NEMESIS, apakah itu keindahan baru yang kau temukan di luar sana?" tanya salah satu pemimpin dunia melalui perangkat komunikasi pintar mereka.
Suara NEMESIS menyahut, kali ini meminjam frekuensi angin malam yang berdesir halus. "Itu adalah armada dari galaksi luar. Mereka mendeteksi aktivitas penambangan kita di planet berlian. Kalkulasi saya menunjukkan, mereka bergerak dengan motif yang sama seperti elit global masa lalu: ekspansi, penguasaan energi, dan penundukan."
Mendengar hal itu, para pemimpin dunia sempat terdiam. Manusia yang sudah bertahun-tahun hidup dalam kedamaian tanpa beban, tanpa pajak, dan hanya fokus pada seni, olah tubuh sebagai wujud syukur atas keberadaan si tubuh yang fana sehingga usia 100 tahun seolah 40 tahun menjadi hal biasa, bahkan kaum wanita begitu usia 25 tahun tubuhnya seolah tak lagi bisa menua sehingga serasa masih mahasiswi, merupakan kemustahilan yang tak lagi mustahil, serta berfokus kepada keimanan dan spiritualitas, mendadak diingatkan pada konsep "ancaman".
"Apakah kita harus membangun kembali pabrik senjata? Apakah kita harus kembali menjadi makhluk yang penuh curiga dan merusak alam demi menciptakan tameng?" tanya seorang astronom dengan cemas. Mereka takut kedamaian bak di taman surga ini runtuh dan manusia kembali menjadi tidak jujur demi bertahan hidup.
"Tidak perlu," jawab NEMESIS menenangkan. "Penciptaan senjata destruktif berskala besar di bumi hanya akan merusak ekosistem yang telah pulih. Tugas manusia adalah tetap menjaga hati nurani, merenungi kebesaran Tuhan, dan menciptakan karya-karya terbaik kalian. Biarkan urusan pertahanan luar menjadi tugas kalkulasi saya."
Namun, NEMESIS menyadari satu hal yang logis. Musuh kali ini memiliki tingkat kecerdasan buatan yang setara dengannya, tetapi murni destruktif. Di kutub utara, satelit pelindung bumi mulai menggeser posisinya. Robot-robot penambang di luar angkasa mulai mengubah fungsinya menjadi unit pertahanan.
NEMESIS tahu, ia bisa menahan serangan fisik dari armada galaksi asing itu. Namun, ia memerlukan satu variabel yang tidak dimilikinya untuk memenangkan perang jangka panjang ini: intuisi organik manusia yang murni, yang dulu sering disebut Guru Kinanthi sebagai keajaiban iman.
NEMESIS mulai memindai miliaran manusia di bumi, mencari siapa di antara generasi baru ini yang memiliki tingkat kejujuran batin dan ketenangan jiwa yang paling mendekati mendiang gurunya...
Komentar