Labirin




 

Labirin

Oleh Kinanthi (Nanik w)

 

            Ia melangkahkan kaki ke ruangan itu. Suasana terasa sepi. Para guru sibuk mengerjakan e rapor. Para siswa sibuk melakukan kegiatan classmeeting. Suara di lapangan terdengar gaduh dengan aneka lagu yang diperdengarkan mengiringi aktivitas mereka. Hmm...masa remaja yang tak akan terulang. Sesuatu yang sama pun pernah dirasakannya saat remaja adalah betapa senang datang ke sekolah tapi tidak ada pelajaran, difasilitasi pula, seperti classmeeting saat ini. Biarlah anak-anak tenggelam dengan kesibukannya yang menyenangkannya hari ini sementara para guru pun sibuk mengerjakan e rapor.

   

         Ia pun melongok ke sudut-sudut ruang tersebut. dalam hatinya selalu timbul pertanyaan, adakah pengunjungnya? Di pojok baca terlihat empat orang siswa. Dua lelaki dan dua wanita. Mereka berdiskusi entah apa yang dibicarakan. Di meja ada dua siswa yang sibuk dengan laptopnya. Ada empat orang siswi yang tiduran di karpet dengan beberapa buku di sebelahnya. Hanya itu. Selebihnya, tidak ada.

            Ia kecewa. Tentu saja. Bukan karena perpustakaan merupakan kepanjangan dari turunnya wahyu pertama,iqra, dalam surat al Alaq. Bacalah....Bacalah dan Tuhanmu Maha Mulia...Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.  Bukan pula karena ke tempat itulah ia melangkah tatkala kepedihan mencekam jiwa. Ia melarikan diri ke sana dan berusaha menenggelamkan hatinya di antara bacaan. Dengan cara ini, kepedihan hatinya bisa terkikis dan terurai. Seringkali malah tanpa tangis, padahal ia memerlukan airmata untuk membasahi matanya. Untunglah, perasaannya mau memahami sehingga ia dengan mudah meluruhkan airmatanya manakala kerinduan kepada suaminya yang sedang bekerja di luar kota memporakporandakan ketenangannya. Jika tidak, dapat dipastikan ia tidak akan meluruhkan airmata jika mencari obat duka ke perpustakaan. Obat segera diperoleh dengan cepat tanpa menguras air mata.

            Hmm...sepi. Para pustakawan kebetulan hamil bersamaan sehingga mengambil cuti melahirkan pun bersamaan. Sebagai guru bahasa, ia tidak bisa membiarkan ruang itu menjadi sepi seolah tanpa penghuni. Maka, tatkala beberapa guru bahasa memasukinya, ia pun meminta mereka mencari solusi dari kebekuan tersebut.

            “Harus dibentuk petugas piket sementara. Agar tidak merepotkan, petugas piket kita ambil dari tiga tingkat kelas. Dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas,” ia mengawali pembicaraan.

            “Kelas XII tidak usah dilibatkan. Mereka harus belajar menghadapi UN.”

            “Walaupun menteri sudah memberikan ancang-ancang untuk menghapus UN?”

            “Tapi kan masih wacana. Biarlah anak-anak kelas X dan XI saja yang piket.”

            “Per tingkat ada 12 kelas dikalikan 2, berarti ada 24 kelas. Jika per kelas isinya 36 siswa, ada berapakah siswa yang harus piket per hari dalam setahun?”

            “Mengapa Kamu membuat soal cerita?” seorang guru bahasa Inggris tertawa sambil menoleh,

            “Mana guru matematika? Aku males ah menghitungnya,”lanjutnya sambil bergurau. Ia pun tertawa pula,

            “Anak-anak mengeluh kalau ada soal cerita. Sebagai guru bahasa, perasaanku menjadi pilu bak ditusuk sembilu,”sahutnya puitis.

            “Kita hitung simpel saja, jika dikalikan 10 kan ada 360 siswa. Dibulatkan saja menjadi sekitar 400-an siswa. Lalu kita bagi 12.”

            “Dibagi 10 saja, karena ada hari libur.”

            “Baiklah, daripada ribet menghitungnya.”

            “Lha, 400 dibagi 10 jadinya kan 40? Masa sehari yang piket ada 40 siswa?”

            “Kita ambil sepuluh siswa saja. Masing-masing tingkat dilayani tiga orang siswa. Ada yang mencatat peminjaman, pengembalian, serta mengembalikan buku ke dalam rak.”

            “Untuk pengembalian buku ke dalam rak, tidak cukup satu orang. Buku harus dikembalikan sesuai dengan klasifikasi buku.”

            “Berarti per hari kita memerlukan sekitar 12 siswa untuk piket sementara petugas sedang cuti.”

            Ia terdiam sebentar teringat para guru yang sedang sibuk di lab. komputer untuk mengerjakan rapor.

            “Jika hasil kerja guru terlihat dari penilaian dalam rapor, hasil kerja pustakawan pun terlihat dari data statistik sederhana tentang grafik pengunjung dan peminjam serta klasifikasi buku apa yang paling diminati siswa.”

            “Anak petugas piket kan bisa menyusun tabel tersebut. Mereka mencatat jumlah pengunjung per hari, jumlah peminjam per hari, jumlah buku yang paling diminati siswa sesuai klasifikasi. Lalu tabel tersebut diubah menjadi grafik. Dari situ akan terlihat kelas berapa yang paling sering ke perpustakaan, kelas berapa yang paling banyak meminjam buku, kelas berapa yang terbanyak meminjam buku fiksi, filasafat, karya umum, siswa yang paling sering meminjam buku beserta klasifikasinya.”

            “Lalu, kita beri hadiah?”

            “Apa salahnya? Bukankah itu juga bermanfaat?  Walaupun dari uang pribadi?”

            “Betul.”

            “Bukankah jika perpustkaan sepi, kita sebagai guru bahasa yang secara tidak langsung akan terkena getahnya?”

            “Betul.”

            Para guru bahasa tersebut pun keluar dari perpustakaan satu per satu melanjutkan mengerjakan raport, mencetak, menunggu tanda tangan kepala sekolah, memberi stempel, kemudian memasukkan kertas penilaian tersebut ke dalam map. Map siap dibagikan kepada wali siswa pada hari yang telah ditentukan.

Anak-anak biasanya menemani guru membagikan raport dengan cara memberikan nomor kehadiran kepada para undangan seperti nomor antrean di bank. Dengan cara ini, tidak ada lagi yang memberikan raport sesuai dengan abjad nama siswa karena orangtua yang memiliki anak bernama Zaenab padahal datang paling awal, harus menahan gelisah. Mereka  merasa bersalah jika hal ini terjadi. Maka, para guru pun berinisiatif membuat tabel nomor, mencetak, menggunting. Nomor satu diberikan kepada orangtua siswa yang hadir pertama kali dan seterusnya sampai nomor terakhir untuk yang datang paling akhir walaupun nama anaknya diawali dengan abjad “A”.

            Ia kembali sendirian di perpustakaan sambil mengenang beberapa peristiwa yang membuatnya bersedih. Jika demikian, ia akan melakukan salat sunah lalu istigfar. Setelah itu ia curahkan segenap permasalahan yang menyesaki dadanya. Permasalahan  ibarat benang kusut yang tak sanggup diuraikannya. Tuhanku...Tuhanku...aku mengeluhkan  masalah kepada-Mu. Hanya Engkaulah yang tahu, betapa aku mencintai-Mu, bergantung kepada-Mu, memohon petunjuk-Mu atas kegelisahan dan sakit hati yang menderaku akibat ketidakadilan, kekecewaan, kesalahpahaman, dan semuanya. Tuhanku...Tuhanku...dalam kepedihan, aku selalu menyebut nama-Mu. Waktu kecil, aku berteriak mencari ibuku jika sedih. Kini, nama-Mulah yang kusebut jika bersedih.

            Jika sudah demikian, kekesalan sebesar apapun yang menggumpal menyesaki hatinya, akan menepi. Ia merasakan seolah tangan Tuhan membelainya, lalu dengan pelan menyadarkannya, bahwa sumber masalah itu ada pada dirinya sendiri. Bukankah ia telah memutuskan memilih peran sebagai guru bahasa? Jika masyarakat seringkali panas cepat naik darah akibat ucapan seseorang di media sosial, yang belum tentu maksudnya sesuai dengan pemahaman pendengar atau pembaca, siapakah yang ikut berduka? Tentu guru bahasa bukan?

            Jika hanya merasa ikut berduka saja, cukupkah? Jika ada solusi yang lebih baik dan lebih nyata untuk membumikan literasi, mengapa tidak? Ia pun sudah lelah dan malu jika mengadukan keluhan duka kepada Tuhan karena seolah selalu dijawab, lakukan sesuatu. Ibarat penumpang perahu, jangan pasif. Carilah penyebab kebocoran perahu. Jika tidak, kalian akan tenggelam bersama. Itulah hukum alam.

            Ingatan yang memberikan semangat walaupun suka duka silih berganti menghampiri. Dana pembelian buku perpustakaan sudah terprogram dan pustakawan menganggarkan berbelanja buku setiap tiga bulan. Seringkali ia diajak untuk menemani memilih buku bacaan. Toko buku seringkali memberikan diskon sehingga kepala sekolah pernah bertanya, mengapa jika membeli buku perpustakaan tidak pernah meminta uang transport? Dijawab karena uang transport dan makan sudah diperoleh dari diskon buku. Kesibukan memilih buku bacaan bermanfaat tapi berdiskon merupakan kesibukan melelahkan walaupun menyenangkan bagi penggemar buku. Oleh karena itu, kepala sekolah mengatakan, diskon buku dibagi saja untuk teman-teman yang ikut berbelanja buku. Mereka kan sudah memilih bacaan yang sesuai untuk siswanya. Untuk uang transport pun tetap akan diberikan.

Akan tetapi, bendahara mengambil keputusan berbeda. Wah...tidak bisa. Uang diskon harus dikembalikan ke sekolah. Untuk uang transport tetap diberi tanpa harus mengusik uang diskon buku. Mana uang diskonnya? Para pustakawan terdiam lalu memberikan uang diskon buku kepada bendahara. Setelah itu, mereka  tidak lagi memiliki keberanian  untuk mengajak para guru bahasa  berbelanja buku, cemas mereka menolak, padahal mereka selalu mau menemani jika ada waktu.

 

Komentar

Postingan Populer