Konflik 50:50 (Bab 5, Benih Patriarkis)

 



Bab  5 Benih Patriarkis 

Bima tertegun. Untuk sesaat, rasa sakit akibat putus cinta itu terhenti, seperti detak jantung yang terlewat satu kali. Ada sesuatu pada cara Alin berpenampilan. Ia ramah tapi tidak terkesan kegenitan maupun mengundang perhatian apa pun gaya busana yang dikenakan. Ia tampil dengan berbagai desain busana dan aneka warna, semata menjalani kodratnya sebagai wanita. Ia seolah pasrah menerima dan menjalani percikan sifat "Tuhan Maha Indah" yang mencintai keindahan dari kreativitasnya dalam berbusana dan berpenampilan.  

Jika energi keindahan Tuhan sudah merasuki wanita melalui kreasi mereka dalam berpenampilan demi memancarkan keindahan, kaum lelaki pun tak berkutik. Mereka harus mengalah dengan cara menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Bahkan sesama wanita pun dilarang julid, toh dosa tidaknya mereka bergantung niat, padahal niat manusia, yang tahu hanya Tuhan dengan yang bersangkutan. Kalau pun bukan julid tapi niatnya ikhlas mengingatkan, itu pun yang tahu hanya Tuhan dengan yang bersangkutan. Ia mengingatkan secara japri atau secara terbuka di media sosial dengan tujuan mengundang polemik, semua bergantung niat. Jika niat baik tentu berpahala. Itu saja. Habis perkara. Titik. Tanpa koma. 

Hm...Bima menghela napas sambil menatap ikan aneka warna yang bergerak lincah di kolam. Sebagai lelaki, ia tahu itu karena ibunya pernah memberitahu, lelaki harus menghargai wanita dengan menundukkan pandangan tatkala mereka mengekspresikan energi keindahan dari Tuhan. Bukankah Tuhan memang begitu kreatif melalui aneka desain ciptaan yang penuh warna? Apalagi Bima tak punya saudara perempuan, jadi ia tak pernah mendengar ucapan julid bagi telinga lelaki dalam melihat lagak dan gaya perempuan. Saudara-saudaranya sesama lelaki paling hanya berkomentar lucu,  

"Duh, wanita dengan tampilan agar tampak old money dan berkelas gitu, dari ujung rambut sampai kaki, berapa dolar yang dibutuhkan? Jika lelaki yang harus mendanai semuanya, mana tahan!"

Hal itu membuat Bima merasa kecil sekaligus penasaran. Teman-temannya, yang biasanya berisik seperti tawon, bisa sedikit lebih kalem saat Alin memasuki kelas mereka,

"Baju yang dikenakannya gak bermerk tuh. Palingan tas dan sepatu dipilih yang kuat karena mobilitasnya yang tinggi sebagai guru harus naik turun tangga. Tas pun isinya laptop dan buku. Tapi tetap tampak berkelas ya," komentar anak perempuan teman les dari sekolah lain seolah memahami galau Bima. Beberapa teman les yang lelaki, bahkan memberikan kode pada Bima, sebuah solidaritas generasi Z- kah? Saat mereka tahu Bima sedang hancur? 

"Maju, Bim. Dia pembimbing baru, namanya Kak Alin," bisik salah satu temannya sambil menepuk bahu Bima dengan mantap. "Kami kasih jalan buat Kamu. Biar nggak kian syok gara-gara mantan."

Bima hanya tersenyum kecut. Maju? Bagaimana mungkin seorang prajurit yang baru saja kehilangan perisainya bisa maju menuju medan tempur yang baru? Namun, ada satu hal yang tidak Bima ketahui. Alin, wanita dewasa dan tampak tenang itu, sebenarnya sedang membawa luka yang tak kalah menganga di balik senyum profesionalnya.

Alin baru saja terluka dari dunia digital yang dianggapnya kejam, meskipun ia sadar, luka itu akibat pandangannya yang sempit terhadap hubungan berpasangan. Ia mempertimbangkan banyak hal tentang "apa kata orang", tanpa menanyai relung hatinya terdalam. Ia baru saja menyadari bahwa pria yang ia cintai melalui layar ponsel, pria yang mengaku lajang dan penuh janji manis di Facebook, ternyata adalah seorang pengecut yang menyembunyikan cincin kawin di balik foto profil palsunya yang selalu sendirian. 

 Sungguh, ulah tidak simpatik bagi anggapan sesama wanita, karena wanita sesungguhnya lebih respek kepada lelaki yang jujur apa adanya dalam bermedia sosial. Foto profil diisi berdua dengan isteri itu lebih elegan. Dengan demikian, Alin tidak merasa tertipu. Ulahnya yang semula tampak lajang ternyata telah menikah lalu seolah pasrah apa maunya Alin selanjutnya, membuatnya merasa diadu domba dengan sesama wanita. Alin tentu tidak tega dan kecewa berkenalan dengan mental tukang sabung ayam. Ia merasa bodoh karena gelar sarjananya ternyata tidak cukup untuk melindunginya dari penipuan keji berkedok lajang. 

Dua jiwa yang sama-sama koyak itu kini berada di bawah atap yang sama. Bima, sang remaja yang merasa insekur karena patriarki mengajarkannya bahwa ia harus selalu menjadi pemenang. Lalu Alin, wanita dewasa yang merasa martabatnya dinjak-injak oleh kebohongan seorang pria bermental tukang sabung ayam yang tidak jujur terhadap status pernikahannya. Sekaligus ia iba dan heran mengapa isterinya diam saja? Apakah asal lelakinya mau diajak menikah daripada rela bergelar perawan tua seperti dirinya?

 Hm... hipokrisi yang dinormalisasi. Alin iba, sangat iba terhadap sesama wanita yang tak juga berani bergelar perawan tua jika hubungan tersebut merugikan mereka. Dunia sudah berganti era, tapi kaum patriarkis tetap merajalela dalam memanipulasi wanita. Betapa malang terasakan. Namun, itulah dunia. Konon, sejak dahulu kala si kuat menekan si lemah, dan si lemah terbawah yang lebih mudah ditekan tentulah wanita. Lalu, wanita yang merasa tertekan pun akan menekan sesama wanita yang lebih lemah. Wanita paling lemah tentunya yang berani melawan tradisi seperti dirinya yang berani bergelar perawan tua. Tradisi purba yang tak kunjung hilang disela teknologi yang kemajuannya kian menjadi-jadi. 

Bima duduk di bangku paling belakang kelas, matanya terus mencuri pandang ke arah luar pintu, berharap bisa melihat bayangan Alin sekali lagi. Ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan bayangan lelaki dewasa yang mungkin disukai wanita seperti Alin. Ia merasa kecil. Ia hanya seorang siswa kelas 3 SMA yang bahkan belum tahu bagaimana cara mencukur kumis dengan benar tanpa melukai kulitnya sendiri. 

Keinginan untuk mengatur, keinginan untuk memiliki kekuasaan atas wanita agar tidak lagi ditinggalkan, mulai tumbuh di benak Bima sebagai mekanisme pertahanan. Ia tidak sadar bahwa benih-benih "patriarkis"sedang bersemi di hatinya, sebuah ego yang lahir dari rasa takut akan kehilangan.

 Ia ingin menjadi pusat dunia bagi seorang wanita, agar wanita itu tidak punya alasan untuk pergi. Jika dirinya yang pergi lebih dulu bolehlah, asal bukan wanitanya. Egoisme yang mulai merayap perlahan setelah terluka merasa ditinggalkan ketika sedang sayang- sayangnya. 

Sore itu, di tempat kursus yang sederhana, Bima mulai menyusun strategi untuk mendekati Alin. Bukan dengan kelembutan seorang Yusuf yang menghargai Zulaikha, melainkan dengan kecemasan seorang penguasa yang takut akan pemberontakan rakyatnya. Ia belum tahu bahwa Alin sebenarnya adalah sosok yang sangat menghargai perlindungan tulus, seperti saat nanti ia akan melindungi Alin dari batu yang melintang di jalan.

Lonceng kelas berbunyi, menandakan pelajaran segera dimulai. Bima membuka buku catatannya, namun bukan rumus-rumus fisika yang ia tulis. Di sudut kertas, ia menuliskan satu nama dengan tinta hitam yang tebal: Alin.

Ia tidak tahu bahwa perjalanan mencintai Alin akan membawanya terbang jauh ke negeri kincir angin, hanya untuk menyadari bahwa ia tidak bisa lari dari dirinya sendiri. Ia tidak tahu bahwa ia akan terjebak dalam pusaran wanita-wanita lain—Juwita, Alana, Nunung—hanya untuk mencari validasi atas egonya yang rapuh.

Namun hari ini, Bima hanyalah seorang anak laki-laki yang sedang mengumpulkan puing-puing hatinya, sambil menatap seorang wanita yang ia harap bisa menjadi pelabuhan terakhirnya. Tanpa ia sadari, tantangan sesungguhnya bukanlah memenangkan hati Alin, melainkan memenangkan pertarungan melawan sisi gelap patriarki dalam dirinya sendiri.

Dunia sedang menanti. Akankah Bima menjadi lelaki egaliter yang memuliakan wanitanya, ataukah ia akan terus bersembunyi di balik jubah "patriarki" karena ia terlalu takut untuk menjadi lemah di hadapan cinta?

Gantungan kunci bintang itu akhirnya ia masukkan ke dalam saku celana paling dalam. Biarlah ia terkubur di sana, bersama masa lalunya yang baru saja mati. Di depannya, ada Alin. Dan bagi Bima, itu adalah satu-satunya alasan untuk tetap bernapas di tengah sesaknya udara Surabaya sore itu.

Langkah kaki Bima sore itu terasa seberat timah, meskipun ia berusaha menegakkan bahunya di bawah seragam putih-abu-abu yang mulai kusut. Dunia di sekitarnya berjalan seperti biasa—klakson kendaraan yang bersahut-sahutan di jalanan Surabaya, terik matahari yang membakar aspal—namun di dalam dada Bima, sebuah badai baru saja meratakan harga dirinya hingga ke dasar bumi. Diska telah pergi. Kalimat pemutusan hubungan yang diucapkan Diska di sudut kantin sekolah siang tadi masih terngiang-ngiang, berputar-putar seperti kaset rusak yang menyiksa telinga. 

 Yang membuat dada Bima serasa dihantam godam bukan hanya kenyataan bahwa mereka adalah teman sekelas yang harus bertemu setiap hari di kelas 3 SMA, melainkan alasan di balik kepergian gadis itu. Diska mencampakkannya demi seorang lelaki yang berstatus mahasiswa semester akhir. Seorang lelaki yang sudah diizinkan menyetir mobil sendiri ke mana pun pergi, yang bicaranya terdengar dewasa, dan yang di mata Diska, jauh lebih "jadi" ketimbang Bima yang masih berkutat dengan seragam OSIS dan kecemasan nilainya jelek dalam ijazahnya.  

"Kamu itu masih anak-anak, Bim. Masih labil, masih mikir ujian. Aku butuh seseorang yang sudah jelas masa depannya," kata-kata Diska sore itu bukan sekadar penolakan, melainkan sebuah pengebirian terhadap ego maskulinitas Bima yang baru saja mekar. Sebagai anak tengah yang selalu tersisih di rumah, kehilangan Diska dengan cara seperti ini membuat Bima merasa menjadi makhluk paling tidak berguna di dunia.

Dengan sisa-sisa harga diri yang koyak, Bima membelokkan langkahnya menuju sebuah papan nama yang berdiri anggun di bawah keteduhan pohon mangga "Bimbel Kinanthi". Ini adalah hari pertamanya datang ke tempat les tersebut untuk memulai persiapan intensif ujian kelas 3 SMA. Ia membutuhkan pengalihan, membutuhkan tempat bersembunyi dari bayang-bayang Diska yang kini terasa mencekik.

Namun, begitu sepasang kakinya melewati gerbang dan melangkah masuk ke dalam pekarangan tempat les itu, atmosfer mendadak berubah. Riuh rendah jalanan Surabaya seolah teredam oleh ketenangan yang dibangun di tempat ini. Dan di ambang pintu ruang penerimaan tamu, takdir langsung menyuguhkan sebuah pemandangan yang menghentikan detak jantung Bima sejenak.Sosok wanita yang menyambutnya sore itu bukanlah seorang guru paruh baya berwajah kaku dengan kacamata tebal seperti yang ada di dalam benak Bima. Wanita itu adalah Alin.

Alin berdiri dengan keanggunan alami. Tubuhnya dibalut pakaian yang pas, kacamata desain kekinian, yang memancarkan kesan seksi berkelas, tidak murahan, namun tetap memikat mata yang memandang. Wajahnya tampak imut, jauh lebih muda dari usia biologisnya yang sebenarnya, dengan sepasang mata yang berbinar cerdas dan senyum teduh yang meruntuhkan ketegangan di pundak Bima. Alin tampak seperti seorang mahasiswi tingkat akhir yang cemerlang, atau bahkan seorang lulusan muda yang menguapkan aura intelektual.

"Selamat sore. Kamu Bima, ya? Yang kemarin sudah mendaftar lewat telepon?" sapa Alin dengan suara yang lembut, namun memiliki intonasi yang sangat teratur dan menenangkan.

Bima tertegun. Ia berdeham berkali-kali, mencoba menguasai dirinya yang mendadak gagap. "I... iya, Mbak. Eh, Bu... saya Bima. Ingin memulai bimbingan untuk persiapan ujian."

Alin tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar seperti musik puitis di telinga Bima. "panggil Bu Alin saja kalau di kelas, tapi kalau di luar, senyamanmu saja. Mari masuk, kita periksa jadwal dan target kampus impianmu."

Saat melangkah mengikuti Alin masuk ke dalam ruangan yang harum aroma esensial lavender, sebuah letupan aneh terjadi di dalam kepala Bima. Rasa riang gembira yang luar biasa mendadak membuncah di dalam hatinya, mengusir kabut hitam yang dibawa dari sekolah tadi. Rasa sedihnya menguap, digantikan oleh sebuah kalkulasi ego yang liar dan cepat.

Bab sebelumnya                 

Bab selanjutnya               Daftar Isi 

Komentar

Postingan Populer