Konflik 50:50 (Bab ke-7, Sapioseksual)
Bab 7
Alin menatap layar monitor komputer di meja administrasi tempat kursus, namun fokusnya tidak benar-benar pada deretan angka pendaftaran siswa baru. Matanya tampak menyimpan kabut tipis. Setiap kali tangannya bergerak merapikan formulir, ada getaran kecil yang ia sembunyikan. Di balik citranya sebagai pembimbing yang cerdas dan berwibawa, Alin sedang menanggung beban pengkhianatan yang terasa seperti duri di dalam daging.
Luka itu masih sangat basah. Luka yang berawal dari tipikal sapioseksual akibat kutu buku sejak kecilkah? Yang pasti karena obrolan deep talk tentang berbagai masalah bak klasifikasi buku sistem Dewey, jauh sebelum mereka bersua, Alin pun merasakan getaran cinta. Ia rela berperan bagaikan Kahlil Gibran dan May Zaidah yang menjalin cinta jarak jauh hanya mengandalkan surat-menyurat tanpa pernah bersua sekitar 20 tahun.
Namun, komunikasi mereka masih enam bulan ketika Alin pulang umrah lalu pria tersebut minta izin ke rumahnya. Setelah mengaku telah menikah dan pasrah terhadap keputusan Alin, Alin pun merasakan kekecewaan yang menyesak tentunya. Selain tidak tega terhadap sesama wanita, ia pun heran lelaki sebijaksana itu ketika "deep talk" melalui media sosial dalam jalur privat, ternyata tega berbohong tentang statusnya.
Kekecewaan mendalam yang segera ditepisnya. Di sela tetes airmatanya, ia pun tertawa. Ia menertawai dirinya. Bukankah kini era AI? Bisa saja kan, segala ajakan Alin untuk diskusi tentang berbagai hal, jawabannya dikerjakan oleh AI? Ia tinggal kopi paste? Ulah salin tempel yang luput dari kejelian Alin hanya karena kesepian?
Hah! Sepi? Jujurkah ia kesepian sebagai penyandang kecerdasan linguistik dominan? Bukankah semua informasi yang melintas di media sosial, membuatnya ingin mencoba dan sangat banyak yang belum dicoba? Dari aplikasi yang mengajari mengubah foto menjadi video sampai belajar bahasa-bahasa asing? Alin pun menyalahkan diri sendiri. Ia merasa latah bak wanita ngidam. Meskipun mengatai ngidam sebagai latah adalah kejam, karena bisa jadi ngidam merupakan sinyal tubuh wanita yang telah berisi janin itu sedang butuh asupan nutrisi.
Demikian pula dari rasa sepi yang mengganggu, bisa jadi isyarat otak sebagai makhluk sosial yang membutuhkan koneksi sosial dan rasa aman dari kedekatan emosional. Tuntutan yang tidak mudah karena tak bisa hanya dialihkan dengan cara bermesraan lalu selesai. Tuntutan emosional tak akan terpuaskan hanya dengan aktivitas sentuhan sesaat, meskipun sentuhan sesaat tersebut mungkin bisa meledakkan hormon dopamin dan endorfin. Itu hanyalah efek semu.
Efek semu itu tak akan berlangsung lama. Kesepian akan kembali melanda. Maka, jika tak menemukan pasangan setara yang aman dalam arti tak melakukan pelanggaran nurani dalam deep talk sebagai kebutuhan alami, ia memilih bersibuk di dunia yang disukai. Karena itu, beberapa hari sejak hatinya terluka, ia selalu datang ke tempat bimbingan belajar miliknya. Sesekali mencoba mengajar kebetulan anak buahnya ada yang cuti melahirkan.
Meskipun masih saja berkonflik dalam batin karena merasa tertipu, karena ketulusannya telah disalahgunakan oleh pria yang mencari hiburan di luar pernikahan, ia harus tetap tabah. Sebagai sarjana, Alin hanyalah merasa bodoh. Bagaimana mungkin ia yang begitu banyak membaca buku tentang psikologi dan sastra bisa terjerat oleh rayuan binal seorang suami orang? Sampai lupa bahwa AI-lah teman ngobrolnya via lelaki itu.
Ego Alin terluka. Ia merasa ada noda di balik gelar akademisnya. Inilah yang membuatnya cenderung menutup diri, membangun benteng pertahanan yang tinggi di sekitar hatinya. Ia tidak ingin lagi menjadi korban dari laki-laki yang hanya pandai berkata-kata. Ia merindukan sesuatu yang nyata, sesuatu yang bukan sekadar profil palsu di layar ponsel.
Di sela-sela lamunannya, Alin sesekali melirik ke arah lobi. Ia menyadari ada sekelompok siswa laki-laki yang adakalanya memperhatikannya. Sebagai wanita dewasa, ia tahu betul tatapan seperti apa itu itu tatapan kekaguman sekaligus rasa penasaran yang mentah. Salah satunya adalah Bima.
Alin memperhatikan Bima. Siswa kelas 3 SMA itu memiliki aura yang berbeda dari teman-temannya yang lain. Jika yang lain tampak berisik, Bima cenderung lebih tenang, meski Alin bisa melihat ada kegelisahan yang sama besarnya dalam sorot mata remaja itu. Alin belum tahu bahwa Bima pun baru saja diputuskan oleh kekasih sebayanya. Ia hanya melihat seorang anak muda yang tampak sedang berusaha keras menjaga "cool"-nya di tengah badai batin.
Ada sebuah paradoks yang dirasakan Alin. Di satu sisi, ia merasa skeptis terhadap laki-laki setelah kejadian pahit di Facebook itu. Ia mulai merasa bahwa laki-laki cenderung ingin mendominasi dan berbohong demi kepuasan ego mereka sendiri. Sebuah bibit patriarki yang ia benci. Namun di sisi lain, ada bagian kecil dalam dirinya yang masih haus akan perhatian tulus. Mungkinkah datang dari remaja yang masih bening hatinya? Yang masih idealis dalam mendeteksi ketulusan cinta wanita tanpa tendensi patriarkis? Sepolos cinta Yusuf terhadap Zulaikha, karena sadar dicintainya saat dirinya masih belum jadi apa-apa dan bukan siapa-siapa?
"Apakah semua laki-laki memang seperti itu?" batin Alin sambil menutup buku agenda dengan suara cukup keras, hingga membuat beberapa siswa di dekatnya menoleh. "Hanya ingin disembah, tapi takut untuk jujur?"
Ia teringat kembali pada pria Facebook itu. Seorang pria yang ingin terus dianggap "lajang" dan "bebas" demi mendapatkan pemujaan dari wanita lain. Sebuah ego yang tak jauh beda dari Firaun yang ingin diakui kekuasaannya tanpa memedulikan penderitaan orang lain. Alin berjanji dalam hati, jika suatu saat ia membuka hati lagi, ia hanya akan menerimanya dari lelaki yang berani jujur dan menghargainya sebagai wanita.
Ia tidak sengaja bertatapan mata dengan Bima yang sedang duduk di bangku belakang lobi. Bima segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan buku catatannya. Alin tersenyum tipis, sebuah senyum pahit yang menyimpan keraguan.
"Masih sangat muda," gumam Alin pelan. "Apakah anak-anak seperti dia juga sudah mulai belajar cara berbohong?"
Alin tidak menyadari bahwa Bima sebenarnya memiliki sisi pelindung yang sangat alami, sebuah sifat yang nantinya akan membuatnya terhibur saat ia hampir terantuk batu di depan tempat les. Untuk saat ini, Alin hanya melihat Bima sebagai bagian dari dunia laki-laki yang ia curigai. Namun, takdir sedang menenun benang-benang luka mereka menjadi satu pola yang sama. Sebuah pencarian akan cinta yang tulus di tengah dunia yang makin penuh kepalsuan.
Sore itu, Alin berdiri dari kursinya, merapikan blusnya, dan bersiap masuk ke dalam kelas. Ia harus profesional. Luka hatinya harus ia kunci rapat-rapat di dalam laci meja kerja. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa menit ke depan, interaksinya dengan Bima akan mulai mengubah arah hidupnya, membawanya pada dilema antara keinginan untuk dicintai atau ketakutan akan menjadi perawan tua yang akhirnya membuatnya terjebak dalam pernikahan "asal saja" dengan Tino.
Luka yang sama telah mempertemukan mereka. Namun, apakah luka itu akan menyembuhkan, atau justru saling melukai lebih dalam lagi? Matahari Surabaya sore itu tampak seperti kuning telur yang pecah, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca jendela tempat kursus. Jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit, waktu gelombang siswa bergantian antara yang pulang dan yang baru datang. Alin berjalan terburu-buru keluar dari lobi. Pikirannya masih berkelana pada tumpukan formulir dan sisa-sisa sesak napas akibat luka pengkhianatan yang baru saja ia bahas dalam hatinya.
Ia ingin segera sampai ke parkiran, menghidupkan mobil, dan tenggelam dalam kemacetan kota atau mengemudi di pinggir kali di antara persawahan—tempat ia bisa menjadi anonim dan tidak perlu tersenyum secara profesional pada siapa pun-- Oleh karena tergesa-gesa, Alin tidak memperhatikan langkahnya. Di depannya, sebuah batu kali yang cukup besar menyembul dari tanah trotoar yang tidak rata, seperti sebuah jebakan kecil dari semesta.
"Kak, awas!"
Sebuah suara berat remaja memecah lamunan Alin. Belum sempat ia menyadari bahaya di bawah kakinya, sebuah tangan kokoh menangkap lengannya dengan sigap. Tubuh Alin limbung ke depan, namun tertahan oleh dorongan lembut namun kuat dari bahu seseorang yang pasang badan tepat di depannya.
Alin terengah. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena nyaris tersungkur, tapi karena posisi mereka yang begitu dekat. Ia mendongak dan mendapati wajah Bima hanya berjarak beberapa inci darinya. Mata remaja kelas 3 SMA itu menatapnya dengan kekhawatiran yang murni, tanpa ada jejak nafsu atau keangkuhan.
"Hati-hati, Kak. Trotoarnya lagi diperbaiki, banyak batu melintang," ucap Bima sopan. Lalu sambil perlahan melepaskan pegangannya setelah memastikan Alin berdiri tegak kembali.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti berputar. Alin merasakan sebuah rasa dilindungi--sebagai anak sulung, rasa itu termahal di dunia-- Bukan oleh kata-kata manis di layar medsos dulu itu yang ternyata palsu, melainkan oleh tindakan nyata seorang lelaki yang bahkan belum lulus sekolah. Di mata Alin, Bima saat itu tidak tampak seperti siswa kecil. Ia tampak seperti seorang pelindung yang memiliki kepekaan alami untuk menjaga kaum lemah di sekitarnya. Bima tampak perkasa bak pejuang yang menuruti naluri lelakinya sebagai pelindung bagi sesama, bukan semata berjuang demi keluarganya saja.
Semua itu sejalan dengan prestasi Bima sebagai penyandang berbagai duta. Maka, Alin yang sudah merasa lebih dahulu mandiri itu pun, tiba-tiba merasa percaya diri. Bima tentu konsisten sebagai duta penuh peduli, sehingga ia yang mengidolakan Hadijah, serasa menemukan harapan rela berkorban demi kemajuan sesama, mungkin literasi, atau apalah yang sesuai dengan idealisme Bima.
Bima dengan prestasinya sebagai aneka duta tentu lolos uji wawancara sebagai pejuang kemajuan. Maka memilih Alin yang lebih tua dan mandiri tentu bukan aib. Ia tentu tak akan melankolis memilih wanita yang rela diajak berjuang bareng dari nol, demi hidup bahagia hanya untuk keluarga kecilnya semata. Bima sang pemilik prestasi berbagai duta, tentu berpikiran antimainstream demi naluri melindungi sesama.
"Terima kasih, Bima," bisik Alin, suaranya sedikit bergetar. "Aku... aku tadi kurang fokus."
Bima tersenyum tipis. "Sama-sama, Kak
"Lain kali jangan melamun sambil jalan."



Komentar