Refleksi Puisi Chairil Anwar "Senja di Pelabuhan Kecil"

 Magic Chairil Anwar untuk Cinta Patriarki



oleh Kinanthi

Ini kali tidak ada yang mencari cinta/ di antara gudang, rumah tua, pada cerita/ tiang serta temali...

Kapan saya membaca puisi tersebut? Seingat saya ketika masih di bangku kelas IV SD. Banyak buku di rumah nenek, saya yang sudah mulai bisa membaca, seolah “keranjingan” mencari bacaan. Adakalanya “ngawur”, apa saja saya baca, misalnya majalah untuk orang dewasa. Akhirnya, kedua orangtua memberi batasan, bacaan yang tidak diletakkan di meja belajar saya, dilarang kubaca.

Akan tetapi, “keranjingan” membaca, selain faktor dilarang keluar rumah sepulang sekolah dan harus tidur siang, membuat saya semakin iseng mencari kesibukan secara diam-diam. Jika tidak bermain sandiwara menggunakan boneka, tentu mencari-cari bahan bacaan. Suatu ketika, kutemukan sebuah buku berjudul puisi berada rak buku. Buku tersebut segera saya buka, meskipun kecewa karena tidak bergambar, namun penulisan yang berbentuk baris dan bait (ciri khas puisi) membuat saya penasaran untuk membacanya.

Pertama kali yang terbaca adalah sebuah judul “Senja di Pelabuhan Kecil”. Hm…pelabuhan? Yang pernah saya dengar selain terminal, bandara, stasiun, adalah pelabuhan. Semua kupahami sebagai tempat berkumpulnya sarana transportasi. Yang saya tahu saat itu masih sebatas terminal dan stasiun. Begitu membaca puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”, kata demi kata membuat saya ketakutan. Ada kata “rumah tua”,”tiang”,”temali”,”muram”,”aku sendiri”,”selamat jalan”. Tiba-tiba bulu kuduk serasa berdiri dan saya merasakan kengerian luar biasa ketika membayangkan pelabuhan. Begitukah yang disebut dengan pelabuhan? Setidaknya, begitulah kesan yang kuperoleh tentang pelabuhan. Kesan dalam memori kanak-kanakku saat itu. Kesan kesepian dan kengerian yang teramat sangat, terlebih ada kata temali dan muram. Yang terkesan kemudian, seolah “tampar” atau rantai kapal yang sangat besar, siap memborgolku, setelah membaca puisi tersebut.

Akan tetapi, saya tidak begitu saja meninggalkan buku itu. Kubuka dan kubaca lagi. Daya tarik bait dan baris dalam puisi itulah yang membuatku tetap terpaku, bahkan beralih membaca puisi berikutnya. Yang terbaca kemudian adalah “Cintaku Jauh di Pulau”. Kebetulan ketika itu saya baru saja membaca judul film “Cintaku Jauh di Pulau” dari sebuah majalah. Puisi tersebut pun kubaca sambil membayangkan film Cintaku Jauh di Pulau. Majalah yang belum sempat terselesaikan dalam membaca tapi sudah ketahuan ibu dan dilarang meneruskan membaca. Betapa kecewa. Kekecewaan yang seakan terobati setelah membaca judul puisi tersebut. 

Isinya pun tak kalah menarik dan menimbulkan khayal yang mengundang tangis ketika tiba pada bait ini …/Perahu melancar, bulan memancar/di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar/angin membantu, laut tenang, tapi terasa aku tidak akan sampai padanya// Dalam bayangan kanak-kanakku pula, tampak seseorang yang mendayung perahu di tengah lautan untuk menemui sang pacar. Malam itu bulan purnama. Ia membawa oleh-oleh untuk sang pacar yang dikalungkan di lehernya. 

Ada perdebatan di hati kanak-kanakku saat itu. Oleh-oleh apa ya yang pantas dikalungkan di leher? Bagaimana kalau buah-buahan? Buah apa? Buah durian? Wah…tentu sakit karena durinya akan menusuk-nusuk dada. Buah apa ya? Bengkuang? Apel? Semangka? Salak? Anggur? Mengapa yang terlintas hanya buah-buahan? Entahlah. Saya masih kecil ketika itu. Jika mendengar kata oleh-oleh yang terlintas tentulah makanan. Belum terlintas bahwa oleh-oleh untuk pacar bukan hanya berbentuk makanan. Bisa saja berbentuk bunga, dari buket bunga sampai bunga bank. Hehehe.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah baris berikut …/tapi terasa aku tidak akan sampai padanya/ Saya yang saat itu baru saja kehilangan kucing kesayangan, karena musim kawin ia pergi mencari betina dan tak kembali lagi, saya pun merasakan gurat kepedihan ketika membaca baris tersebut. Kepedihan seseorang yang kehilangan sesuatu yang disayangi. Gurat kepedihan yang seolah membekas beberapa saat kemudian. Sama pedihnya ketika kehilangan kucing kesayangan. Jadi, dapat dikatakan bahwa perasaan kehilangan yang terasa menggurat-gurat hati yang pertama kali saya rasakan justru ketika membaca baris puisi Chairil Anwar tersebut di atas. 

Pembacaan puisi masih terus berlanjut. Puisi selanjutnya adalah… Laron pada mati/ Terbakar di sumbu lampu/Aku juga menemu/Ajal di cerlang caya matamu. Baris ini pun sanggup menambah kepedihan, meskipun saya belum sepenuhnya memahami saat itu. Yang terbayang kemudian adalah para laron. Ya, laron-laron yang beterbangan mengelilingi lampu. Ulah yang membuat kami mematikan lampu agar tidak didatangi dan dikelilingi laron-laron lagi. Meskipun demikian, pada pagi hari ketika harus menyapu lantai dan halaman rumah, laron-laron mati pun bertumpuk. Kasihan, laron-laron itu. Demi ingin mendekati lampu, mereka rela mati. Itulah yang melintas di hati kanak-kanakku membaca larik tersebut.

Ulah mencuri-curi baca buku masih berlanjut, karena saya membacanya di kamar nenek. Dengan kata lain, buku tersebut kuambil kemudian kubawa ke kamar nenek untuk kubaca di sana dengan tenang. Nenek biasanya tidak sejeli ibu dalam memperhatikan yang kubaca. Kalau ditanya membaca apa, kujawab belajar, tentu tidak akan lagi diganggu, apalagi kumpulan puisi Chairil Anwar tersebut berbentuk buku. Setelah menerima materi puisi di SMP, baru kusadari bahwa buku tersebut bukan buku yang dilarang dibaca anak-anak. Andaikan ketahuan orangtua tentu tidak akan dimarahi. Aku pun tertawa kecil teringat betapa aku harus bersembunyi di kamar nenek untuk membaca kumpulan puisi Chairil Anwar tersebut. 

Unggunan api ini/ Karena kau tidak ‘kan apa-apa,/Aku terpanggang tinggal rangka. Larik ini pun tak kalah mengerikan bagi kanak-kanak, bukan? Bagaimana tidak merasa ngeri, ketika harus membayangkan seseorang yang terpanggang kemudian tinggal rangka? Yang masih menimbulkan gurat kengerian adalah gambar kerangka manusia yang pernah kulihat di sebuah majalah, kembali membayang dan menimbulkan gurat ketakutan. Meskipun demikian, saya belum juga ingin meninggalkan buku itu. Sama sekali belum ingin menghentikan membaca meskipun kengerian dan ketakutan yang ditimbulkan dari “diksi” puisi-puisi Chairil Anwar tersebut telah memberdirikan bulu kuduk, menimbulkan kengerian, bahkan ketakutan.

…Tuhanku/ aku mengembara di negeri asing/ Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling// Larik tersebut membuat saya membayangkan seseorang yang ingin bertemu dengan Tuhan. Ia begitu sabar berdiri di depan pintu rumah Tuhan sambil mengetuk pintu agar segera dibukakan pintu. Ia telah menunggu lama di depan pintu rumah tersebut. pintu tidak kunjung ada tanda-tanda akan dibuka. Akan tetapi, seseorang tersebut tidak mengeluh. Ia tetap bersabar tanpa lelah dalam menunggu terbukanya pintu rumah tersebut. Ia tetap sabar, tabah, tidak putus asa, bahkan ia mengakui bahwa ia sudah tidak bisa berpaling lagi dari pintu rumah Tuhan yang sedang diketuknya. 

Kumpulan puisi yang menarik. Seingat saya, saya membaca semua isinya. Namun, yang terkesan dan membuat saya teringat ulah masa kecil atau awal- awal membaca puisi tersebut adalah penggalan-penggalan yang saya tulis tersebut di atas. Judul-judul puisi tersebut setelah saya baca lagi adalah “Senja di Pelabuhan kecil”, “Doa kepada Pemeluk Teguh”, Cintaku Jauh di Pulau”, dan “Lagu Siul”

Setelah dewasa, samakah kesan yang diperoleh dalam membaca puisi karya Chairil Anwar? Kesan tersebut tetap menakutkan ataukah ada kesan lainnya? Kesan yang tertangkap setelah dewasa tentulah berubah. Kesan tersebut tidak lagi menakutkan melainkan menimbulkan gurat keharuan. Keharuan yang luar biasa. Selain keharuan juga kekaguman akan kepiawaian Sang Penyair dalam memilih diksi yang berkaitan dengan kedahsyatan cinta.

Dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”, kalimat pertama yang muncul adalah /Ini kali tidak ada yang mencari cinta/di antara gudang, rumah tua, pada cerita/tiang serta temali. Sangat kuat terasakan bahwa penyair ingin meneriakkan perasaan kehilangan. Kehilangan cinta. Diksi yang dipilih sangat tidak biasa, tidak klise, tidak cengeng, misalnya,”Aku sedang berduka karena kehilangan cinta”. Terlepas dari penggunaan frase”ini kali” yang tidak baku, seharusnya frase baku adalah “kali ini”, namun puisi tersebut tetap terkesan memiliki daya pikat luar biasa. Tidak cengeng, namun mengguratkan kesan kepedihan, karena cinta yang dicari tidak ada di pelabuhan kecil tersebut yang meliputi gudang, rumah tua, pada cerita/ tiang serta temali. Betapa menyedihkan.

Seingat saya entah di mana, pernah terbaca sekilas pendapat Gus Dur tentang puisi. Beliau mengatakan bahwa orang yang tidak pernah jatuh cinta dan patah hati tidak akan dapat menulis puisi cinta yang indah. Untuk memaknai kata “cinta” yang disampaikan Gus Dur sebagai seorang sufi, tentulah “cinta” dalam arti luas. Cinta adalah energi. Cinta adalah sumber kekuatan dalam menjalani hidup di alam semesta ini. Betapa sulit menjalani hidup ketika di hati tidak ada “cinta”, bukan?

Dapat pula dikatakan bahwa dari terpaan“cinta” beserta komponennya, misalnya jatuh cinta, cinta bertepuk sebelah tangan, terlanda ghosting, sampai patah hati, manusia akan mengenal sedih dan gembira sebagai sesuatu yang harus dilalui demi mendewasakan diri. Duilee!!! Tapi, cinta memang terasakan sebagai energi, bukan? Hati manusia hanya satu. Di dalam hati hanya ada satu cinta. Cinta kepada “aku” atau cinta kepada “Tuhan”? Keduanya akan memberikan pelajaran tentang hidup dan kehidupan.

Ketika rasa cinta merajai hati, hati akan terasakan berbunga-bunga, bukan? Bahkan, sebagai wanita patriarki yang sejak kecil sudah didoktrin untuk menjatuhkan cinta hanya terhadap lelaki yang mapan, lebih tua, memiliki gengsi yang dapat dipamerkan kepada sekitar misalnya PNS, ABRI, Dokter, Pilot, Insinyur, hinggapnya cinta tersebut tetap saja dapat membuat hati berbunga-bunga kendati bunga tipuan.

Mengapa? Adakalanya hati nurani memberontak, betulkah yang kurasakan ini cinta? Bukankah lelaki bergengsi yang dapat dipamerkan dan dibanggakan itu milik orang? Betulkah rasa ini cinta? Bukankah dalam setiap pertemuan tidak ada kenyamanan di hati? Selalu saja ada gurat tidak percaya? Merasa tidak dihargai? Tidak nyambung dalam berkomunikasi bahkan bercanda? Mengapa merasa cinta? Karena bisa dipamerkan? Mungkin begitu, tapi harus bagaimana lagi? 

Sangat menyulut iba ketika harus memaknai cinta dari sudut pandang wanita patriarki, karena untuk menjatuhkan cinta pun harus bersyarat, bukan? Betapa membingungkan! Bahkan adakalanya harus “tega” menyakiti hati sesama wanita demi kebanggaan tersebut (tentu akan diprotes keras oleh hati nurani). Tapi apa daya? Akan tetapi, protes hati nurani yang merasa tidak nyaman karena yang dijatuhi cinta tersebut milik orang, terkesan tidak menghargai dan bersiap mendua jika banyak uang, masih kebingungan menentukan pilihan karena ia banyak penggemar, tentu akan mendewasakan diri. Perdebatan dengan hati nurani yang akan membawa jiwa tiba pada makna cinta yang sesungguhnya, yaitu keputusan untuk memilih. Cinta kepada “aku” atau cinta kepada “Tuhan?

Jika cinta kepada Tuhan, mengapa memilih cinta yang tidak memunculkan chemistry? Mengapa menyiksa diri, mau tersiksa oleh cinta yang tidak menimbulkan kenyamanan di hati, selain kepedihan karena harus merebut milik orang, merasa tidak dihargai, merasa dibanding-bandingkan? Merasa dimanfaatkan? Jika cinta kepada Tuhan, tentu akan mencintai yang seirama dengan Kehendak Tuhan, bukan? 

Hati akan mencintai seseorang yang bukan milik orang lain agar tidak menyakiti sesama, akan mencintai sewajarnya tanpa bergantung kepada manusia karena hanya Tuhanlah tempat bergantung, akan mencintai seseorang yang energi cintanya sanggup membuat diri termotivasi untuk mandiri karena kewajiban lelaki hanyalah memberikan perlindungan dan penghidupan, bukan kemewahan apalagi gengsi. Bukankah wanita pun harus meraih gengsi (martabat) untuk diri sendiri sebagai anak kebanggaan kedua orangtuanya, terlebih sebagai hamba Tuhan?

Rasa cinta yang bergelora dan membuncah tumpah ruah karena menemukan cinta yang seirama dengan tuntutan sekitar, bahkan andaikan kemudian hari disakiti cinta yang membuat hati seakan tersayat dan remuk redam, tentu akan mendewasakan kita. Kedewasaan pun muncul karena kesadaran, bahwa penyebab luka hati bukan kehilangan sosok yang sebetulnya asing, namun serasa lekat dan dekat karena sesuai dengan tuntutan sekitar, melainkan rasa malu.

Ya malu. Rasa malulah yang melukai hati karena merasa dipermalukan oleh tuntutan sekitar, sekaligus malu karena rasa cinta yang muncul tersebut, sesungguhnya tipuan. Tipuan “ego” demi eksisitensi si “ego” itu sendiri, bukan demi “cinta” kepada Tuhan. Cinta terhadap “ego” yang lambat laun akan menjerumuskan manakala diikuti. Akhirnya, kepedihan kehilangan sosok kebanggaan sekitar tersebut akan menghadirkan kucuran syukur yang seolah tiada habis. Kucuran rasa syukur yang akhirnya membawa hati kembali kepada cinta-Nya. Sungguh, akan membawa hati kembali kepada energi cinta-Nya, kalau saja mau bersabar dan bersyukur, bukan menonjolkan kekerasan hati yang bisa menyulut depresi. 

Begitulah cinta bagi wanita patriarki. Semula kebingungan akan makna cinta karena terbebani tuntutan bersyarat dalam menjatuhkan cinta. Bukan mendahulukan chemistry maupun suara hati nurani, melainkan lebih menomorsatukan kebergantungan dan kebanggaan. Tuntutan cinta tersebut, selain seolah melumpuhkan potensi wanita itu sendiri, juga akan memberatkan lelaki. Bukankah kewajiban lelaki hanyalah melindungi dan menghidupi? Bukan memberikan kemewahan yang adakalanya membuat lelaki “hilang arah” dalam meraih rezeki?

Bagaimanakah cinta yang dirasakan lelaki patriarki? Kepedihan-kepedihan hati Chairil Anwar dalam puisinya, yang ditulis pada zamannya, seolah menggambarkan dominasi persyaratan patriarki dalam keputusan memilih cinta, bukan? Cinta yang mengingatkan saya terhadap pendapat La Rose, bahwa cinta bagi lelaki adalah wanita tersebut menghargai dan bisa dibanggakan. Kebanggaan yang bukan berkaitan dengan tuntutan untuk bergantung seperti wanita patriarki, namun lebih mengarah kepada kebanggaan sebagai teman atau sahabat yang setara secara intelektual atau setara dalam hobi atau semacamnya sehingga kebersamaan tersebut akan menyenangkan. Kebersamaan yang lambat laun akan menyulut kesetiaan bagi lelaki.

Namun, wanita-wanita dengan intelektual dan gaya berpikir yang setara dengan Chairil Anwar pada zamannya, tahun 1945-an, tentulah bukan wanita biasa. Dalam arti, pada umumnya mereka pastilah anak-anak orang berada. Maka, bukan hal yang mengherankan jika Chairil Anwar sering mengalami kepedihan luar biasa karena kegagalan cintanya. Apalah arti penyair pada zaman itu dari segi materi, dibandingkan dengan kekuatan syarat cinta bagi wanita patriarki? Tentulah wanita-wanita yang bagi Chairil Anwar, sanggup memancarkan chemistry, akan kebingungan juga antara memutuskan memilih sang penyair ataukah mematuhi tuntutan sekitar dalam menjatuhkan cinta? Bukan penyair seperti Chairil Anwar namun harus memilih dokter dan sejenisnya?

Kepedihan akan kegagalan cinta tersebut, terkesan sanggup membuat Chairil Anwar sangat cermat secermat-cermatnya dalam memilih diksi untuk puisi-puisinya, bukan? Begitulah hidup. Bukan hanya bahagia yang dapat membuat manusia berkembang. Adakalanya manusia pun dapat menjadi luar biasa karena kegagalan, bukan? Lalu, nikmat Tuhan mana yang Kau dustakan?

Konon, penyair-penyair kelas dunia dalam menjalani proses kepenyairan, juga karena pernah tersengat cinta dan terbanting karena patah hati, misalnya puisi “Sang Nabi” dan “Sayap-sayap Patah” karya Kahlil Gibran. Puisi Rabiah al Adawiyah tentang cinta pun mengungkapkan cinta-Nya kepada Tuhan. Berikut ini penggalan lirik yang sangat menarik tentang ungkapan cintanya,/ Ya Allah, semua jerih payahku/dan semua hasratku di antara segala kesenangan-kesenangan di dunia ini/ adalah untuk mengingat Engkau// Ungkapan cinta yang luar biasa, bukan? 

Demikian pula penyair-penyair Indonesia dengan diksi yang dahsyat, juga terdapat sentuhan cinta di dalamnya. Baik cinta kepada kekasih, cinta kepada tanah air, maupun cinta terhadap sesama makhluk, semua terasakan bermuatan romantisme yang membuai, misalnya puisi Tanah Air kaya Muhammad Yamin, Tanah Kelahiran karya Ramadhan K.H., Kangen dan Episodenya Rendra, Hujan Bulan Juni karya Sapardi Joko Damono, Bulan Tertusuk Ilalang karya Zawawi Imron.

Begitu hati bermasalah dengan cinta beserta suka dukanya, ada baiknya segera menggoreskan ungkapan hati tersebut ke dalam bentuk tulisan, terlebih puisi, demi menemukan diksi yang menyentuh. Plato pun menyatakan bahwa seorang penyair lahir dari sentuhan cinta. Oleh karena itu, meminjam lirik lagu Doel Sumbang,”Jangan berkata tidak, kalau Kau jatuh cinta. Terus terang sajalah buat apa berdusta. Cinta itu anugerah, maka berbahagialah. Sebab kita sengsara jika tak punya cinta….” Membuka hati dengan lapang untuk kehadiran cinta, kemudian menikmati suka dukanya dengan penghayatan demi memacu kreativitas diri, tentu sangat indah, seindah berprofesi sesuai dengan hobi.

Demikian pula yang saya rasakan ketika membaca puisi Chairil Anwar. Ada kecermatan dalam memilih diksi, bukan? Diksi-diksi tersebut selalu mengandung citraan, bahkan bermajas, meskipun tidak lagi mematuhi keterikatan pada bentuk seperti puisi lama maupun puisi baru pada umumnya, misalnya soneta yang merupakan puisi baru dan pantun sebagai perwakilan puisi lama.

Bagaimanakah proses kreatif yang dilakukan Chairil Anwar dalam memilih diksi sehingga terkesan “khas” Chairil Anwar? “Menulis sebuah puisi, tidak dapat sekali jadi,” demikian pengakuannya.,”Setiap kata yang ditulis harus digali dan dikorek sedalam-dalamnya. Semua kata harus dipertimbangkan, dipilih, dihapus, dan kadanag dibuang, yang kemudian dikumpulkan lagi dengan wajah baru.” Dikutip dari laman Pengalaman menulis Chairil Anwar dimulai pada tahun 1942 ketika mencipta sajak berjudul “Nisan”. Ungkapan tersebut juga saya kutip dari tulisan Slamet Samsoerizal di Indonesiana. 

Dari pendapat tersebut di atas, saya semakin merasa menemukan pembenaran ketika tidak banyak menulis puisi. Menulis puisi adalah proses menulis paling sulit sehingga tidak segera menerbitkan buku kumpulan puisi. Selain mengandung citraan, majas, puisi-puisi Chairil Anwar pun memiliki rima yang menyenangkan telinga. Dengan kata lain, menarik untuk dideklamasikan. Proses memilih diksi sudah sedemikian sulit, apalagi harus memilih rima menarik untuk dideklamasikan. Sebuah pembenaran tentang sengatan rasa tidak percaya diri yang teramat sangat ketika harus menunjukkan hasil menulis puisi, bahkan saat mencoba berdeklamasi. Adakah keterkaitan rasa tidak percaya diri tersebut dengan pengaruh pesona diksi puisi Chairil Anwar, puisi yang pertama kali saya baca? Entahlah. 

Lalu, sebagai lelaki patriarki, adakah hubungan antara perempuan, cinta, dan proses kreatif Chairil Anwar dalam menulis puisi? Konon, Chairil Anwar mudah membuat wanita terpikat. Meskipun terkesan berpenampilan urakan, namun ia tampan. Beberapa puisinya memang dengan jelas tergores nama perempuan, misalnya Dien Tamaela, Sri Ajati, Tuti Artic. Dari beberapa sumber, memang ada jalinan asmara Chairil dengan nama-nama tersebut. 

Sri Ajati, mahasiswi yang aktif di antara pemuda-pemuda hebat pada zamannya. Ia pun gadis ningrat yang tidak membeda-bedakan teman. Wanita yang berkecimpung di dunai teater dan model lukisan. Sosok yang membuat Chairil terpikat. Ada pula Ida Nasutioan, mahasiswi, pemikir kritis dan penulis hebat dengan intelektual yang sanggup mengimbangi Chairil Anwar dalam berdebat. 

Sosok Sumirat yang terpelajar pun konon hadir dan mengimbangi uluran cinta Chairil Anwar dengan cinta setara. Akan tetapi, lagi-lagi jalinan cinta tersebut pun kandas. Dari sumber Riau Realita (2017) menurut Seno Gumira Ajidarma dalam “Gelora Cinta Chairil Anwar pada Sumirat”, satu di antara sajak Chairil “Mirat Muda, Chairil Muda” ditulis pada tahun 1949, namun terdapat keterangan “

Komentar

Postingan Populer