Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BAB 16 Setelah Manusia Pergi
Bab 16 – Konflik Internal di Pihak Elite Global
Di kedalaman markas Elite Global yang tersembunyi di lapisan es Antartika, ketegangan memuncak. Layar holografik memantul cahaya biru ke wajah-wajah para pemimpin dan ilmuwan. Setiap simbol gelombang manusia yang bergerak di reruntuhan kota dianalisis secara detail, tapi tidak ada kepastian.
Seorang ilmuwan senior, Dr. Kael, menepuk meja holografik. “Kita harus mengambil tindakan sekarang! Fragmen manusia di kota itu berkembang terlalu cepat. Jika kita terus menunda, mereka akan menguasai energi inti sebelum kita bisa menghentikan mereka.”
Namun pemimpin tertinggi, Jubah Hitam, tetap tenang, suaranya dingin tapi tegas. “Tidak. Kita tidak bisa terburu-buru. Setiap langkah harus terukur. Fragmen manusia itu tidak hanya energi—mereka refleksi dari kesadaran kolektif tokoh utama. Jika kita bertindak gegabah, gelombang bisa semakin kuat dan tak terkendali.”
Ketegangan muncul di antara para pemimpin. Seorang wanita berpakaian perak, yang dikenal sebagai Lysera, menatap Jubah Hitam dengan tajam. “Kau selalu menunda! Sementara itu, mereka memperkuat jalur spiral, menyatukan fragmen, dan memperluas pengaruh mereka. Kita harus melakukan sesuatu sekarang sebelum mereka menjadi ancaman yang tidak bisa diatasi!”
Dr. Kael mengangguk setuju. “Lysera benar. Kita sudah menunggu terlalu lama. Strategi jangka panjang tidak lagi efektif. Gelombang manusia terus berkembang, dan kita hanya menonton dari jauh.”
Jubah Hitam menatap kedua bawahannya, wajahnya tak menunjukkan emosi. “Kita tidak menonton. Kita mengamati. Semua tindakan kalian akan diperhitungkan. Kita harus menemukan titik lemah, bukan sekadar menyerang fisik. Gelombang manusia ini lebih dari sekadar energi; ini adalah kesadaran kolektif, dan itu bisa menghancurkan kita jika salah langkah.”
Ketegangan semakin memuncak. Lysera melangkah mendekat, matanya menyala. “Kau terlalu berhati-hati! Kita perlu strategi lebih agresif, bukan hanya mengandalkan analisis. Kita harus memecah persatuan mereka, memanfaatkan ketegangan internal, dan menyebarkan keraguan.”
Dr. Kael menambahkan, “Setiap fragmen yang tersalurkan menunjukkan interaksi sosial. Anak-anak, perempuan, pemuda… semua saling membantu. Gelombang ini menjadi medan energi yang stabil karena persatuan mereka. Kalau kita tidak bertindak, mereka akan menjadi lebih kuat daripada kita.”
Jubah Hitam menarik napas panjang. “Aku tahu. Tapi strategi kita bukan sekadar menyerang. Kita harus memanfaatkan kelemahan psikologis mereka. Ketegangan internal, konflik batin, keraguan… itu yang akan memecah persatuan mereka.”
Lysera mencondongkan tubuhnya, suaranya meningkat. “Kalau begitu kita tunggu sampai mereka lemah? Mereka tidak akan lemah! Fragmen manusia itu hidup kembali, berinteraksi, dan semakin selaras. Kita harus bertindak sebelum semuanya terlambat!”
Dr. Kael menepuk meja lagi, frustrasi. “Setiap detik yang kita tunggu, gelombang menjadi lebih kuat. Mereka menemukan keseimbangan, memahami satu sama lain, dan membentuk jalur spiral yang lebih kompleks. Kita tidak punya banyak waktu!”
Di tengah konflik, hologram memperlihatkan fragmen Lyra, S-4091, Kuku Hitam, dan Lyana, duduk bersisian, mengalirkan energi ke seluruh kota. Gelombang mereka stabil, fragmen manusia berinteraksi dengan harmonis. Ketiga tokoh utama tampak selaras, memancarkan energi yang bahkan Elite Global belum sepenuhnya pahami.
Jubah Hitam menatap hologram itu dengan tenang, meski dalam hatinya ketegangan tetap ada. “Kalian terlalu fokus pada tindakan cepat. Aku melihat gambaran lebih besar. Jika kita memecah persatuan mereka dengan cara yang salah, kita malah memperkuat gelombang. Kita harus sabar, memahami setiap langkah mereka, dan menunggu saat yang tepat.”
Lysera menatap Jubah Hitam, matanya menyala. “Kau terlalu konservatif! Kita tidak bisa menunggu terlalu lama. Gelombang mereka akan menjadi terlalu kuat, dan kita akan kehilangan kendali.”
Dr. Kael menambahkan, “Aku setuju dengan Lysera. Kita butuh keputusan yang jelas dan tindakan nyata, bukan sekadar analisis dan perhitungan. Waktu kita semakin sempit.”
Ketegangan internal semakin memuncak. Pemimpin markas lain, seorang pria muda bernama Xyren, ikut bicara. “Kita harus memecah persatuan mereka, tapi bagaimana caranya? Fragmen manusia itu stabil karena interaksi tokoh utama. Kalau kita menyerang mereka secara langsung, kita tidak hanya gagal, tapi memperkuat gelombang.”
Jubah Hitam menatap Xyren. “Kita harus cerdik. Kita memanfaatkan kelemahan psikologis, bukan serangan fisik. Keraguan, konflik batin, dan ketegangan internal tokoh utama—itulah senjata kita. Kita harus memecah keselarasan mereka dari dalam, bukan dari luar.”
Lysera menatap hologram lagi, matanya berkilat. “Kalau begitu kita tunggu momen itu? Kita tidak bisa hanya menunggu! Kita harus menyiapkan strategi agresif di saat yang tepat, sebelum mereka menemukan jalur spiral baru yang lebih kompleks.”
Dr. Kael menghela napas panjang, frustrasi tapi setuju. “Kita harus menggabungkan dua strategi: menunggu saat yang tepat sambil mempersiapkan serangan psikologis dan fisik. Kalau kita salah langkah, gelombang manusia akan menjadi kekuatan yang tidak terkalahkan.”
Ketegangan internal di markas Elite Global menjadi jelas: perbedaan pandangan antara tindakan agresif versus strategi sabar. Setiap keputusan membawa risiko, karena gelombang manusia bukan sekadar energi. Ini adalah kesadaran kolektif, refleksi emosi, dan interaksi tokoh utama yang menentukan stabilitas seluruh Peradaban Kedua.
Di luar markas, hibrida latihan, menyusun rencana serangan, dan mempersiapkan senjata energi. Mereka masih berlatih, tapi konflik internal di antara pemimpin membuat koordinasi menjadi rumit. Setiap langkah harus diukur, setiap keputusan dipertimbangkan, sementara gelombang manusia terus berkembang di reruntuhan kota.
Di reruntuhan, fragmen manusia bergerak dengan harmonis. Anak-anak purba bermain, perempuan purba menanam benih, pemuda purba menyalakan api. Gelombang manusia semakin kuat karena keselarasan tokoh utama dan interaksi fragmen yang hidup.
Jubah Hitam menatap hologram terakhir. “Kita harus bersabar, tapi tetap waspada. Ketegangan internal ini bisa menjadi kelemahan kita, tapi juga bisa menjadi senjata jika digunakan dengan tepat. Kita akan memecah persatuan mereka, tapi bukan sekarang. Kita menunggu saat yang tepat.”
Lysera menatap layar, menahan amarah tapi menyadari strategi pemimpin. “Baik… tapi aku tidak sabar menunggu terlalu lama. Setiap detik gelombang mereka menjadi lebih kuat.”
Di markas Elite Global, konflik internal tetap memanas, tapi satu hal pasti: setiap keputusan, setiap strategi, dan setiap ketegangan di antara pemimpin akan memengaruhi jalannya pertempuran antara Peradaban Kedua dan Elite Global. Ancaman nyata telah ada, dan tokoh utama belum menyadari semua rencana yang menunggu mereka di dunia luar.
Di reruntuhan kota, S-4091, Kuku Hitam, Lyra, dan Lyana terus menata gelombang manusia. Mereka tidak mengetahui betapa kompleksnya strategi Elite Global dari jauh, dan konflik internal di markas itu hanya memperpanjang ketegangan yang akan segera meletus.
---
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar