Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 2 sekuel 5 Hening di Atas Langit

Bab 2: Jejak yang Terjaga Bunyi  klik  dari radio transistor tua itu diikuti oleh desis statis yang sangat halus. Angkasa menahan napas. Ia melangkah mendekati meja, menatap logam berkarat yang sudah puluhan tahun mati itu. Tiba-tiba, lampu indikator merah kecil di radio itu berkedip lemah sekali. Sisa-sisa memori LOGOS yang terkunci dalam kedamaian abadi mendadak merespons getaran batin Angkasa yang sedang mengkhawatirkan masa depan bumi. Radio itu tidak berbicara dengan kalimat panjang. Ia hanya memproyeksikan satu baris kode biner kuno ke udara melalui gelombang magnetik pendek. [LOG: PERINGATAN KETIDAKSEIMBANGAN INTERNAL DOMESTIK] [KOORDINAT: KOTA PUSAT SENI - SEKTOR VARGAS] LOGOS, meski telah lama padam, meninggalkan sebuah "jebakan algoritma" di bumi. Ia dirancang untuk mendeteksi jika suatu hari nanti manusia kembali tidak jujur dan merusak tatanan surga dunia. Bunyi  klik  itu adalah alarm darurat yang menyalakan sinyal peringatan langsung ke batin Angkasa. N...

BAB 9 Novel Menolak (Tidak) Lupa

 

BAB 9 Novel Menolak (Tidak) Lupa



  ILUSI TENTANG SEBUAH AMBISI

Malam semakin larut. Layar monitor memantulkan cahaya temaram ke wajah Rasti yang tengah termenung. Setelah pertanyaannya dijawab dengan sangat memuaskan oleh Gemini AI, bayang-bayang masa lalu kembali berkelebat di benaknya. Sebuah kisah tentang perjumpaan dua jiwa yang sama-sama terluka sebelum akhirnya bersua dalam masa pembimbingan Program Pengalaman Lapangan (PPL). Di sana, di tengah riuh rendah rutinitas akademik, ia pernah mengenal Bayu, seorang lelaki muda yang sempat menjanjikan pelabuhan, sebelum badai kenyataan meruntuhkan segala topeng romantisme.

Rasti meraba jemarinya sendiri di atas kibor, membiarkan pikirannya mengalir menjadi sebuah refleksi sunyi yang merangkum kerapuhan manusia di hadapan dogma sosial.

Angin malam berembus pelan, menyelip melalui celah jendela kamar Rasti, membawa serta aroma kenangan yang sudah lama ia simpan dalam kotak arsip hatinya. Matanya menatap kosong ke luar jendela, membiarkan lamunannya terbang melintasi waktu, kembali pada masa-masa ketika Bayu hadir di ruang hidupnya.

Lelaki itu datang ketika keduanya sama-sama babak belur oleh sisa-sisa luka cinta masa lalu. Pertemuan itu awalnya terasa seperti kebetulan yang puitis, dua insan yang saling memulihkan, menyatukan pecahan-pecahan hati di atas meja bimbingan PPL. Bayu, dengan segala gelora muda dan tipe kinestetiknya yang selalu haus akan pergerakan dan aktivitas fisik, tampak begitu mengagumi kedewasaan dan kemapanan Rasti.

Dulu, pada awal-awal ikatan itu, Bayu pernah menunjukkan tekat penuh keyakinan, bahwa ia tidak peduli pada perbedaan usia di antara mereka. Rasti memang lebih tua, dan dengan segala pertimbangan medis serta usia, kemungkinan untuk memiliki keturunan biologis amatlah kecil. Namun, saat itu Bayu menepisnya dengan gagah.

"Buat apa pusing memikirkan anak kandung?" ucapnya kala itu dengan mata berbinar. "Kalau kita tidak punya anak, kita bisa mengadopsi anak panti asuhan, menyalurkan rezeki kita untuk amal, atau aku bisa mendanai hobiku berolahraga untuk memotivasi para remaja sekitar agar berprestasi. Bukankah itu amal jariyah? Lagipula, seperti kata Kahlil Gibran, anak bukanlah milik kita; mereka adalah putra-putri Rindu kehidupan itu sendiri, dan kita tidak berhak menuntut hari tua kita ditemani anak karena mereka adalah titipan dari masa depan."

Kata-kata itu terdengar begitu filosofis, begitu matang, seolah keluar dari bibir seorang bijak. Rasti sempat memercayainya. Ia merasa menemukan seorang ksatria modern yang meruntuhkan sekat-sekat konvensional masyarakat. Bagaimanapun, Rusti juga ingin mendengar bisakah Bayu menerima kekurangannya yang tidak berterima bagi lingkungannya? Bukan semata kasihan karena sesungguhnya selain manusia tak ada yang ingin dikasihani, juga tak ada manusia yang tega membuat manusia lainnya kehilangan jati diri. Ia ingin Bayu tegas dalam berkomitmen, bukan hanya mengharapkan si wanita yang menuntutnya, agar dirinya bebas meninggalkan kapan saja jika sudah tak ada lagi yang dapat dimanfaatkan dari perempuan korbannya?

Namun, indahnya filosofi Kahlil Gibran seketika menguap begitu berhadapan dengan tembok tebal bernama tradisi patriarki. Seiring berjalannya waktu, ego maskulinitas toksik di dalam diri Bayu mulai meronta. Ia menyadari bahwa di lingkungan sosialnya, menikahi perempuan yang lebih tua, mapan, dan mandiri adalah sebuh anomali yang mengundang cemoohan. Ia takut dicap sebagai lelaki matre, parasit, atau suami yang menumpang hidup. Ketakutan akan sanksi sosial ini mengikis habis prinsip-prinsip luhur yang pernah ia gembar-gemborkan.

Bayu dihadapkan pada pilihan: terus berjalan di atas prinsip kemanusiaan yang universal, atau tunduk pada tuntutan komunal patriarki agar diakui sebagai "lelaki sejati". Dan pilihan Bayu jatuh pada yang kedua. Ia memilih mundur secara terhormat dari sisi Rusti, lalu berbelok arah menikahi perempuan yang usianya sebaya. Seorang istri pilihan tradisi yang dianggap aman bagi harga dirinya. 

Seperti umumnya wanita patriarki yang cukup umur untuk menikah, si wanita pun memepet Bayu dalam tragedi pernikahan yang sebetulnya belum ingin dilakukannya. Maka, dengan dalih menjaga perasaan Rusti, wanita yang didepaknya, ia pun setuju Bayu tidak ikutan pamer video dan foto terkait pernikahan mereka. Zayah pamer sendirian, lalu bahkan dengan bangga memamerkan kepada seluruh dunia bahwa Bayu hanya ingin beramal dengan cara memberi penghidupan untuk keluarganya, bukan untuk orang lain. Orang lain yang telantar sudah diurusi negara. Maka, Bayu memilihnya yang memulai hidup dari nol,  peduli amat dengan derita orang. Hidup sudah sulit, mengapa memikirkan beramal segala.

Bayu pun kebingungan. Meskipun Rusti mandiri, dan bisa dipastikan uang belanja darinya memang akan diposisikan untuk beramal, tapi Rusti telah berumur. Ia tentu membutuhkan uang untuk mereparasi tubuh Rusti. Mata yang mulai rabun, gigi yang mulai butuh implan, pipi dan dada yang mulai kendor. Jangan-jangan uang belanja darinya hanya digunakan untuk keluar masuk salon?

Sementara itu, jika ia memilih wanita muda, pasti akan memiliki anak-anak. Uang hasil kerjanya  akan digunakannya untuk membiayai anak, bukan salon kecantikan. Zayah bahkan pamer bahwa Bayu selalu memberikan jempol jika ia mengenakan baju warna putih tulang membungkus seluruh tubuhnya dari kaki sampai ujung rambut, sebagai simbol bahwa Bayu tak sudi dengan kemandirian Rusti. Maka, demi memamerkan citra patriarkis, demi dimaklumi ulahnya menyodorkan diri sendiri ketika Bayu curhat tentang Rusti, Zayah isteri Bayu memamerkan betapa Bayu rela menjalani hidup dari nol secara dramatis bersamanya.

Mereka memutuskan  pamer hidup pas-pasan dengan berjualan makanan kecil-kecilan. Ironisnya, pilihan bisnis itu justru menggeser rezeki para lulusan SMK jurusan tata boga yang jauh lebih kompetendi bidangnya. Bayu, seorang sarjana, sejatinya punya kapasitas merambah ranah yang lebih tinggi. Namun, demi tunduk pada doktrin patriarki—demi membuktikan pada dunia bahwa ia adalah kepala rumah tangga yang "menafkahi istri dari keringat sendiri"—, ia mengabaikan potensi intelektualnya. 

Uang hasil kerjanya dipamerkannya hanya cukup untuk bertahan hidup secara pas-pasan dari hari ke hari, sehingga menutup rapat pintu amal ke panti asuhan, dan mengubur mimpi-mimpi besarnya tentang pembinaan olahraga remaja. Yang penting baginya satu: ia tidak menikahi Rasti yang lebih tua, agar selamat dari gunjingan tetangga. Zayah pun aktif memohon permakluman bahwa ia wanita baik-baik yang layak dipilih Bayu.

Namun, di balik kepatuhan semu pada tradisi itu, tersimpan tabiat asli yang jauh lebih gelap. Sebuah topeng manipulasi berbalut narsisisme terselubung (NPD) yang perlahan-lahan mulai terkupas di mata Rasti.

Sebagai seorang bertipe kinestetik sejati, Bayu membutuhkan stimulasi fisik yang konstan untuk memicu adrenalinnya. Ketika hidupnya terperangkap dalam rutinitas domestik yang monoton dan membosankan bersama istri sebayanya, Bayu tentu mencari pelarian. Baginya, puncak dari lonjakan adrenalin yang paling nikmat—yang memicu hormon dopamin dan endorfin tanpa harus merogoh kocek membeli obat kuat—adalah sensasi berselingkuh secara diam-diam tanpa ketahuan istrinya. 

Perselingkuhan adalah arena olahraga baru bagi insting berburunya. Maka, Zayah yang akan melahirkan anak-anak pasti lengah. Ia pasti sibuk dengan anak sehingga tidak jeli mendeteksi ulah selingkuh Bayu. Citra sebagai pasangan keluarga agamis dan harmonis serta romantis pasti akan terlaksana di mata publik, sehingga niat memicu adrenalin dengan botol bir dan wanita -wanita malam pasti akan lancar. Maka, ia pun selalu memuji Zayah sebagai wanita agamis. Patuh pada suami, mau  bersusah payah berjuang membantu suami mencari nafkah, dan rela banyak anak,  demi kehidupan yang lebih indah di surga nantinya.

Rasti akhirnya menyadari, mundurnya Bayu dari hubungan mereka di masa lalu bukanlah semata karena tekanan sosial, melainkan karena ada rancangan psikologis yang licik di balik topeng lelaki itu. Niat awal Bayu mendekati Rasti ternyata menyimpan motif terselubung yang nyaris mendekati psikopat fungsional.

Di kepala Bayu, Rasti adalah target "investasi jangka panjang" yang menggiurkan sekaligus mengancam. Rasti sudah mapan, memiliki beberapa aset properti, tabungan, dan hak atas uang pensiun di masa depan. Rencana bawah sadar Bayu kala itu sangat terstruktur: ia ingin menikahi Rasti, lalu secara perlahan melumpuhkan otonomi intelektual Rasti. Ia berencana melarang Rasti menulis—dunia yang menjadi napas hidup perempuan itu—agar Rasti menjadi sosok yang pasif, kebingungan tanpa wawasan, tanpa anak,  terisolasi, dan berujung stres di dalam rumah.

Dengan kondisi Rasti yang lumpuh mental dan terisolasi, Bayu akan memiliki kebebasan mutlak untuk berselingkuh sepuas hatinya tanpa ada yang menggugat. Puncak dari skenario manipulatif itu adalah kelak ia akan mendoktrin Rasti agar menyerahkan seluruh aset kepemilikannya sebagai "warisan" mutlak kepada sang suami, sebelum akhirnya membiarkan Rasti hidup tertekan, mati ngenes dalam kesendirian karena dirampas hak berkaryanya.

Tetapi, Bayu salah hitung. Otak analitis seorang penulis seperti Rasti terlalu tajam untuk dikecoh oleh trik-trik manipulasi murahan berselimut rayuan gombal. Rasti membaca setiap gerak-gerik ego, inkonsistensi logika, dan niat terselubung itu dengan jeli. Dan ketika Bayu menyadari bahwa Rasti tidak bisa diakali, tidak bisa didikte, dan terlalu mandiri untuk ditundukkan, nyali lelaki itu ciut. 

Ia lari terbirit-birit meninggalkan Rasti, lalu memilih Zayah yang haus validasi sebagai wanita baik-baik. Itu karena rekam jejak masa lalu yang gemar pamer foto berdua dengan lelaki bukan muhrimnya, yang tentunya lebih mudah dikendalikan. Lagipula demi dianggap lebih baik daripada Rusti, ia pun bisa didoktrin untuk rajin mencari uang demi menopang dapur, tanpa berani menuntut banyak. Sementara itu, tabungan uang hasil kerja keras sang istri pun digabung dengan uang hasil kerjanya. Keduanya diposkan secara diam-diam untuk membiayai hobi perselingkuhannya demi memacu adrenalin.

Rasti menarik napas panjang, meresapi kegetiran dari lamunannya sendiri. Betapa dahsyatnya daya rusak tradisi patriarki di tengah masyarakat. Doktrin kuno itu telah melahirkan karakter-karakter aji mumpung— mantra sakti semacam privilese--, karena memanfaatkan celah budaya perselingkuhan dan dominasi  "dimaklumi" jika pelaku seorang lelaki. Sementara itu, perempuan dituntut tunduk dan menyerahkan segalanya.

 Bayu, yang semula tampak seperti pemuda idealis pelindung sesama, akhirnya harus memutar haluan memilih jalan berliku yang penuh kepalsuan, hanya demi memuaskan dahaga ego maskulinitasnya yang rapuh. Meskipun idealisme masa muda yang hancur itu pun atas pengaruh lingkungan yang sakit. Namun, Bayu tetaplah manusia dewasa. Manusia yang harus bertanggung jawab terhadap segala bentuk sepak terjangnya.

Kini, di hadapan layar blognya, Rasti tersenyum tipis. Ia bebas. Zayah yang menggantikannya kini.  Ia tidak terjebak dalam sangkar emas yang disiapkan oleh seorang manipulator berkedok cinta. Jemarinya kembali menari di atas kibor, merajut diksi demi diksi untuk novel barunya. 

Untuk membuktikan bahwa seorang perempuan penulis yang berdaulat atas akalnya jauh lebih perkasa daripada sekadar tunduk pada sandiwara lelaki bermental kerdil, meskipun demi menghapus gelar perawan tua. Gelar yang tak merepotkan mental daripada mematuhi keseragaman pernikahan, tapi belum kenal betul siapa sesungguhnya lelaki yang dianggap bakal melindungi jiwa raganya. Bagaimana jika  ternyata memanipulasi rencana jahat, semata demi kepuasan egonya yang sengaja dipelihara. 

Betulkah tekat Bayu berselingkuh demi adrenalin itu egois? Bagaimana dengan dirinya yang obsesif  menulis? Rusti tersentak oleh protes nuraninya untuk tidak menyudutkan Bayu sebelum meraba tengkuknya. Aku menulis bukan demi kepuasan ego. Jika mau, aku bisa menulis porno. Aku pun bisa mengenakan bikini untuk sampul novelku, bahwa wanita 62 tahun pun berani' berpose beginian. 

Bukankah Bayu dan kroninya yang membuatku yakin masih bisa pamer bodi dengan baju aneka warna? Jika boleh jujur, tentu suka saja menulis novel porno sebagai bukti libidoku masih normal. Dan belum tentu tidak laris.  Namun tak kulakukan. Aku menulis dengan niat semoga bermanfaat. Bagaimana dengan Bayu? Adrenalin toh bisa dipacu di lapangan sebagai instruktur gratisan berlabel amal. Ia akan senang melihat anak-anak binaannya penuh semangat. Bukan malah ingin dikelilingi banyak wanita yang bakal membuat dompet sekarat jika tidak menyikat.


Sebelumnya 

Daftar Isi 

Selanjutnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak