Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50, Bab 19, Inspirasi dari Obrolan di Warung Kopi
Bab 19 Inspirasi dari Obrolan di Warung Kopi
Sebagai murid yang pernah les di Bimbel Kinanthi, Alvon, mahasiswa Sosiologi yang tengah bersiap menulis skripsi, terkejut mendengar obrolan kaum lelaki iseng di warung kopi. Mereka selain heran akan kesendirian Alin, juga penasaran terhadap orientasi seksualnya. Ia keheranan dengan pembicaraan mereka yang lucu-lucu sampai tak masuk akal.
Alin yang tak banyak pamer desain busana karyanya di media sosial, ketika Bima pamer foto berdua dengan wanita dalam baju seragam warna putih, Bima pun memberi jempol kepada perempuan itu, Alin pun digunjing. Mereka sepakat esok lusa ketika Alin keluar rumah mengenakan baju berwarna selain putih, mereka akan mejeng di depan Alin dengan warna baju sama dengan Alin.
Sementara itu, tentang akting yang akan dilakukan untuk menarik perhatian Alin, gaya bebas. Ada yang berniat bajunya digulung sehingga menampakkan perutnya yang jemblung, joget- joget, salto-salto sampai ulah aneh dan nyeleneh lainnya.
Sebagai bagian dari kaum intelektual, Alvon risih. Selain menangisi kedangkalan literasi mereka dalam menyimak informasi, ia pun tak tega Alin disalahpahami sedemikian rupa.
Jika ingin tahu lingkar pertemanannya, grup terbanyak yang diikuti Alin tentu yang berkaitan dengan literasi. Ia tergabung dalam grup penulis Indonesia, penulis sastra Jawa, dan beberapa grup literasi lainnya.
Mereka ingin mengubah pola pikir Alin yang telah mendarah dagingkah, atau memang tidak tahu?Jika tidak tahu, sebagai calon sarjana mengapa ia tidak memberi tahu? Hidup pada era materialisme bukan berarti menumpulkan nurani dengan merasa kurang terus kan?
Untuk sesaat ia ragu. Jika meneliti Alin, tentu sebagai single case study. Bagaimana jika dianggap berbobot rendah karena sampelnya satu? Tapi ia segera menepis keraguan itu. Bukankah bobot ilmiah penelitian tidak diukur dari kuantitas sampel, melainkan dari kedalaman analisis, ketepatan metodologi, dan signifikansi kasus yang diangkat?
Ia pun memutuskan meneliti kasus Alin yang inspiratif, unik, dan menarik untuk skripsinya.
Mengapa Alin rela bergelar perawan tua, padahal itu aib? Ia pun menggunakan tiga teori yang diingatnya sambil mencatat di gawai di antara aroma kopi dan asap rokok di warung kopi malam itu.
Pertama, Social Learning Theory ala Albert Bandura ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang terbentuk dari kebiasaan, meniru lingkungan, serta pengondisian sosial. Namun, Alin melakukan penyimpangan tak patuhi kebiasaan sekitar. Konsep tersebut tak berlaku untuknya.
Cognitive Dissonance ala Leon Festinger ini menjelaskan tekanan mental "disonansi"yang dialami seseorang ketika dihadapkan pada situasi yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Tapi Alin bergeming. Ini pun tak berdampak. Ia hanya membatasi diri keluar rumah tapi masih waras.
Teori Psikologi Perkembangan Agama ala
Zakiah Daradjat yang berpendapat bahwa perilaku manusia didorong unsur akal, perasaan, dan kehendak. Saat seseorang diuji (diberi pancingan potensi melanggar prinsipnya), akan terlihat apakah prinsipnya dilandasi pemahaman agama yang kuat (akal) atau sekadar kesombongan?
Parahnya, hanya karena gaya busana Alin yang sesekali membuka kerudung jika berbelanja di sekitar tempat tinggalnya, banyak yang beranggapan, bahwa keputusan Alin bersumber pada kesombongan, hipokrit, plin plan dan lain-lain tanpa mempertimbangkan fakta.
Padahal secara teori Zakiah Daradjat, Alin adalah individu yang sukses mengimplementasikan iman ke dalam kepribadian sosialnya. Dia menjadikan iman sebagai sumber kesehatan mental yang membuatnya kebal dari tekanan negatif lingkungan, namun tetap memiliki empati.
Alvon yang melihat Alin tak banyak keluyuran malam, gaya hidupnya pun frugal living dan tak pernah bermasalah dengan kasus terkait penyimpangan keuangan, waktu yang terbanyak pun digunakan bersibuk sesuai passion, tentu tak mau gegabah menyimpulkan hal yang sama dengan suara sumbang mereka.
Selain itu, Alvon pun pernah membaca tulisan Alin yang secara tersirat membahas kisahnya dengan Bima yang telah menjadi rahasia umum, bahwa baginya Bima bisa diajak berdiskusi tentang kemanusiaan. Jika diajak membuka usaha, harapnya Bima senang karena akan membuka lapangan kerja baru daripada sekadar menjadi karyawan.
Namun, Alin juga sadar diri. Ia tahu bahwa menikahi lelaki yang lebih muda menuntutnya menjadi sosok yang lebih dewasa dan lebih mapan secara ekonomi, seperti Hadijah, idolanya. Jika kejujuran dan idealisme telah dimilikinya, memilihnya tentu lebih berharga daripada kemapanan semu yang ditawarkan para "lelaki beruang suami orang” di luar sana.
Secara keseluruhan, buku yang dikonversinya menjadi skrip film itu mengisahkan benturan antara idealisme Alin "Khadijah-Egaliter" dengan tuntutan masyarakat "Patriarki-Materialistis". Hal itu, membuat pemikiran Alin terasa relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan bobot religiusnya.
Tentu saja tulisannya mengundang konflik.
Ada yang memotivasi, tidak peduli, adapula yang sinis, bahwa ia tak perlu bereaksi terhadap suara sumbang tentang dirinya, sambil mengutip nasihat Syaidina Ali.
Namun, sebagai wanita dengan segala emosionalnya pada era materialisme ini, ia perlu semacam pendampingan juga. Bagaimana jika segala ucap dan langkahnya dimaknai sebagai hal yang sangat jauh berbeda dari fakta?
Ibarat dalam kelas, ketika siswa di kursi terdepan dibisiki untuk membisikkan kepada teman sebelahnya sebuah frase “sasa miwon” dalam uji menyimak "Bisik Berantai', apa jawaban siswa di kursi paling belakang? Sebagai penerima bisikan terakhir, ternyata jawabnya, ”sami mawon”. Sungguh sangat jauh berbeda makna meskipun yang berubah hanya konsonan “m” dan vokal “a,i”, kan?
Faktanya, Alin dominan di kecerdasan linguistik dengan bukti tulisan-tulisannya itu. Jangan -jangan ia tipe sapioseksual? Bagi orang lain, gairah bisa dipicu stimulasi visual (wajah atau bentuk fisik, bahkan uang). Namun, bagi sapioseksual, reward system otaknya baru aktif melepas dopamin ketika menerima stimulasi intelektual.
Alvon pun mencari bacaan terkait kebutuhan kaum tipikal sapioseksual. Mereka ternyata menganggap komunikasi sebagai foreplay karena obrolan mendalam, debat filosofis, atau pembahasan teori rumit akan berfungsi sebagai stimulasi awal. Otak mereka menuntut pasangan seimbang agar diskusi tersebut berjalan dua arah secara setara (sekufu).
Selanjutnya, dari sudut pandang psikologi evolusioner, otak manusia dirancang mencari pasangan yang memiliki peluang terbaik untuk bertahan hidup demi melahirkan genetik unggul.
Selain itu, memaksimalkan fungsi otak sering kali berkorelasi dengan kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, dan adaptabilitas. Oleh karena itu, tipe sapioseksual tidak melanggar aturan Tuhan, demi perbaikan keturunan dan masa depan bumi yang lebih baik.
Sekufu bagi mereka secara pemikiran tidak selalu harus bergelar profesor atau IQ jenius. Sapioseksual juga mencakup ketertarikan pada kecerdasan emosional (empati yang dalam), kecerdasan linguistik (cara merangkai kata), atau wawasan luas. Semua itu terkait dengan kedalaman isi pikiran, bukan sekadar selembar ijazah.
Dari hasil menyelami bacaan tersebut, Alvon mencoba membulatkan tekat meneliti kasus Alin. Ia membayangkan dalam posisi Alin yang tentu tertekan dan risih dijadikan bahan penelitian tanpa ilmu dan tanpa batas waktu. Ih, siapa yang mau?
...
Ketukan di pintu ruang dosen sore itu terdengar mantap. Di seberang meja, Dr. Aris, dosen pembimbing akademiknya yang berambut keperakan, menurunkan kacamata bacanya.
"Jadi, Alvon," Dr. Aris membuka percakapan sambil mengetuk jarinya di atas lembar proposal, "Kamu ingin mengajukan studi kasus tentang fenomena social labeling pada wanita pegiat literasi bernama Alin. Tapi di bab pendahuluan ini, Kamu mengkritik kutipan populer yang sering dianggap milik Sayyidina Ali tentang tidak perlu menjelaskan diri pada pembenci. Mengapa kamu merasa kutipan itu tidak kontekstual untuk kasus Alin?"
Alvon memajukan posisi duduknya, "Sebab konteksnya sama sekali berbeda, Pak. Nasihat untuk diam dan tidak menjelaskan diri itu cocok untuk konflik personal atau ego. Tapi dalam kasus Kak Alin, diamnya dia justru memperkuat struktur patriarki dan materialisme yang mengakar di masyarakat sekitar. Sangat disayangkan, bukan?" Setelah terdiam sesaat, ia pun melanjutkan,
"Kak Alin tengah dibuli mentalnya. Ia dijadikan bulan-bulanan, dituduh matre, dituduh ingin suami kaya, bahkan dituduh mau merebut suami orang. Padahal kenyataannya tidak begitu. Dia mungkin seorang sapioseksual, yang hanya bisa tertarik pada kecerdasan dan isi kepala yang berbobot. Itu pun ditunjang dengan fakta, bahwa ia tak asal sabot milik orang, kan?
Dr. Aris tersenyum tipis, memancing. "Masyarakat awam di wilayah bekas jajahan yang literasinya belum maju akan melihat 'memilih pria cerdas' sebagai kedok untuk 'memilih pria mapan'. Bukankah itu wajar dalam kacamata sosiologi awam?"
"Itu dia masalahnya, Pak," sahut Alvon retoris,
"Masyarakat kita mengalami disorientasi akibat lompatan langsung dari masyarakat pasca-kolonial ke era industri materialistik tanpa melewati penguatan literasi. Yang mereka tahu, pria sukses itu pria kaya. Maka ketika Kak Alin mengabaikan pria-pria yang tidak nyambung diajak bicara literasi, dia dituduh mencari yang kaya. Ini ketidakadilan berbasis gender."
Alvon menggeser lembar bab dua skripsinya yang membahas landasan teologis dan sosiologis.
"Saya ingin membela Kak Alin melalui skripsi ini, Pak. Saya ingin membuktikan bahwa tipe sapioseksual itu tidak melanggar sunnatullah. Justru, memberdayakan fungsi otak untuk memilih pasangan adalah perintah Tuhan. Wahyu pertama saja Iqra, perintah membaca. Tuhan berjanji mengangkat derajat orang yang berilmu, dan jagat raya ini hanya bisa disibak misterinya dengan ilmu. Anjuran berpikir pun banyak, demi kemakmuran bumi. Jadi, menyukai kecerdasan adalah bentuk kepatuhan pada aturan Tuhan, bukan produk didikan patriarki yang menilai pernikahan sebatas transaksi materi."
Dr. Aris manggut-manggut, mulai tertarik dengan kedalaman argumen mahasiswanya.
"Lalu, bagaimana kamu mengaitkan ini dengan era AI sekarang?"
"Sangat relevan, Pak," jawab Alvon cepat. "Di era AI ini, Kak Alin membuktikan bahwa produktivitas tidak dibatasi oleh ruang. Dia mendesain busana, menulis, melukis, hingga membuat konten video secara mandiri di rumah lewat bantuan AI. Dia mandiri secara finansial dan intelektual. Namun, karena tubuhnya terawat dan pakaian hasil desainnya membuat dia tampak lebih muda dan seksi, masyarakat menuduhnya pamer saat keluar rumah. Ini adalah bias patriarki akut: perempuan mandiri dan cerdas selalu dicurigai, padahal sebagai orang beriman ia pun tak tega merebut milik orang, maka ia pun bersibuk bersama AI sebagai teman diskusi. Melalui studi kasus ini, saya ingin mendekonstruksi pemikiran itu. Skripsi ini adalah advokasi ilmiah untuk Kak Alin dan wanita-wanita sapioseksual lainnya."
Dr. Aris terdiam sejenak, memandang draf di depannya, lalu mengambil pena merahnya. Mata Alvon mengikuti gerak jemarinya dengan nyali yang menciut. Namun, beliau bukan mencoret, melainkan menuliskan tanda tangan persetujuan di lembar penyerahan,
"Analisis yang tajam, Anak Muda. Kamu tidak hanya melihat teks, tapi melihat struktur kekuasaan di balik bahasa dan stigma. Lanjutkan penelitianmu. Buka mata masyarakat bahwa kecerdasan bukanlah sebuah kesalahan yang harus diadili."sambil menepuk bahunya.
Alvon tersenyum lega. Langkah kakinya keluar dari ruangan itu terasa lebih ringan, membawa misi penting untuk meluruskan nama baik sang mentor lewat jalur ilmiah.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar