Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 8 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 8: Labirin yang Tak Terlihat (Tahun 2147, Zonk Utara – Perbatasan Kabut) Sejak malam ia menyentuh simbol, dunia tak lagi sama bagi S-4091. Setiap langkah di tanah penuh debu terasa seperti langkah seekor tikus di dalam labirin. Ia mulai memperhatikan pola: bagaimana makanan selalu datang setelah penderitaan puncak, bagaimana musuh muncul tepat saat keputusasaan melanda, bagaimana hukum api di Kamp Asap menciptakan kepatuhan buta. Semua itu bukan kebetulan. Itu rekayasa. Kuku Hitam duduk bersandar di tembok runtuh, mengasah pisaunya. “Aku pernah mendengar bisikan serupa,” katanya tanpa menoleh. “Bukan dari tanah, tapi dari mimpi. Aku melihat garis-garis cahaya yang bergerak di langit, membentuk dinding tak terlihat. Sejak itu aku tahu: kita semua terjebak.” “Dinding tak terlihat?” tanya S-4091. “Ya. Mereka menyebutnya Batas Kabut. Kalau kau berjalan terlalu jauh ke utara, kau akan menemui kabut tebal. Orang-orang bilang itu kabut alami, tapi aku pernah lihat batu yang dilempar ...

Konflik 50:50 (Bab 25, Setia)

 


Bab 25

 

Layar laptop Alvon masih menampilkan draf akhir skripsinya yang baru saja mendapat nilai A+ dari para penguji. Ada kebanggaan tersendiri telah bisa membela seorang perempuan dari perundungan keroyokan oleh lelaki dan perempuan. 

Bayangkan. Betapa bar-bar, seolah Alin terpidana seumur hidup. Yang hanya boleh hidup karena menunggu mati. Selebihnya, dijegal bersama. Sebagai lelaki, calon sarjana, jika ia tidak berjuang secara objektif, betapa nista. Betapa sia-sia hidupnya ke depan. Padahal hukum Newton tiga tak bisa ditawar. Hukum tersebut berlaku sebagai konsekuensi logis manusia penghuni bumi. 

Namun, keberhasilan akademik itu menyisakan riak di kehidupan pribadi Alvon. Sore itu, di ruang komunal perpustakaan bimbel Kinanthi, Mevy, pacar Alvon, duduk dengan melipat kedua tangannya di dada. Ia sengaja membuntuti Alvon meskipun ia tahu ke mana langkahnya. Setiba di depan Alvon, matanya menatap Alvon dengan sorot cemburu yang tak bisa disembunyikan.

"Kamu terlalu sering teleponan sama Kak Alin, Von. Bahkan kini mampir segala ke tempat ini dengan alasan klasik. Pinjam buku. Konsultasi skripsi kan sudah selesai, nilaimu sudah A+. Kenapa intensitas ngobrolnya masih sering?" suaranya bergetar menahan dongkol.

"Mev, tolong jangan salah paham," Alvon menenangkan sembari memegang jemari Mevy. 

"Kak Alin itu juga guru les kita dulu kan? Sesekali aku nanya metodologi riset dan bahasa merangkap subjek penelitian. Lagipula, umur beliau kan jauh di atas kita. Beliau itu senior kita, Mev."

Mevy menarik tangannya, lalu tersenyum sinis dengan argumen kedokteran dan biologi yang tengah dibacanya, 

 "Jangan pakai alasan umur untuk mengalihkan kewaspadaanku, Alvon. Secara kedokteran moderen, umur manusia itu dibagi dua: Umur Kronologis dan Umur Biologis! You know!? "

Al.von tertegun, bersiap mendengarkan debat ilmiah kekasihnya yang gemar membaca jurnal kedokteran itu.

"Umur kronologis itu cuma angka di KTP, sesuai jumlah tahun sejak kita lahir," cecar Mevy, matanya berbinar tajam dalam mode debat. 

"Tapi umur biologis itu dihitung dari kondisi kesehatan jaringan tubuh, panjang telomer pada DNA, dan fungsi organ. Kak Alin itu umur biologisnya jauh lebih muda dari angka KTP-nya! Dia sekilas tampak seperti mahasiswi S-3. Setidaknya bukan seperti sebaya budhe kita.

"Mev, itu mungkin karena dia menerapkan gaya hidup sehat..." potong Alvon.

"Secara ilmiah, begitulah," Mevy membaca teks dari gawainya, "Panjang umur dan awet muda, misalnya mantan Perdana Menteri Malaysia, dokter Mahathir Mohamad, usia 100 tahun tapi seperti usia 60 tahun. Itu dipengaruhi regulasi stres dan aktivitas seluler yang konstan."

Alvon tersenyum dalam hati. Asyik juga punya pacar kutu buku, jika marah cukup diajak membaca yang seru-seru. Ia tidak harus merayu untuk selfie berbusana sewarna, tidak pula harus mengajak makan ke resto mewah, apalagi mengajak bertamasya di udara. Meskipun untuk itu harus egaliter tidak sok menuntut jadi raja Fir'aun terus-menerus. 

Mevy pun melanjutkan bacaan ilmiahnya, 

"Dengarkan ya yang kubaca, 'Setiap kali sel membelah, ujung DNA yang disebut telomer memendek. Ketika telomer habis, sel mati atau menua. Orang awet muda memiliki aktivitas enzim telomerase yang baik, didukung konsumsi makanan kaya antioksidan dan rendah inflamasi, sehingga mencegah penuaan dini untuk sel."

 "Jika didukung gaya hidup seperti puasa intermiten yang memicu proses autofagi, sel-sel tubuh pun membersihkan diri dari komponen yang rusak, mendaur ulang sampah sel, organ tubuh pun seperti mesin baru."

"Tapi kak Alin gak segitunya deh. Menu suka-suka cuma selalu masak sendiri. Puasa intermiten pun enggak, " tukas Alvon hati-hati cemas Mevy ingat rasa cemburunya lalu ngamuk lagi, 

 "Tapi kak Alin penulis. Otaknya diasah berpikir kritis dan kreatif. Aktivitas sinapsis yang padat tentu menjaga otak dari penyusutan "atrofi". Secara psikologis dan kedokteran, ia memiliki daya tarik visual dan mental yang setara dengan perempuan muda. Makanya aku cemburu, Alvon!" 

Uff. Dalam hati Alvon geli. Kukira sudah lupa rasa cemburunya, ternyata omongan panjang lebar itu mengarah ke cemburu juga. 

Namun, ia terpaku. Argumen medis bacaan Mevy padat dan masuk akal. Di saat atmosfer kecemburuan itu semakin memanas, sebuah suara lembut namun tegas terdengar dari arah pintu masuk ruang komunal.

Ternyata Alin berjalan mendekati meja mereka. Ia mendengar namanya didebatkan, tersenyum tenang. Aura kedewasaan dan ketenangannya justru mendinginkan ruangan.

"Mevy," sapa Alin sambil duduk di kursi kosong di seberang mereka, 

"Bacaan pilihanmu untuk melogikakan cemburumu, luar biasa. Aku hargai rasa cemburumu sebagai wujud cinta. Tapi tolong dengarkan aku sebentar."

Mevy terdiam, menatap Alin yang tampak energik dengan kemeja kasualnya.

"Sebagai wanita yang memilih melajang cukup lama, aku sudah kenyang dengan asam garam interaksi," kata Alin beralih ke pendekatan psikologi sosial,

"Dalam dinamika sosial, lelaki memang sering melempar jokes ringan atau candaan menggoda. Peribahasa atau Sanepa " Guyon parikena". Iseng berhadiah, jika si wanita mau lumayanlah nggak mau pun tak apa. Bagiku itu ujian reputasi deh. Tapi ketahuilah, kuncinya ada pada wanita. Jika wanita tidak menanggapi, tetap membatasi diri, dan menjaga reputasinya dengan ketat, maka perselingkuhan atau gelagat tidak sehat tidak akan pernah terjadi. Percayalah. Lelaki normal pun tak akan memaksa jika gayung tak bersambut. "

Alin menoleh ke arah Alvon dengan pandangan bersahabat, 

"Alvon lelaki yang baik, sopan, dan punya integritas tinggi. Dia tak ikutan sanepan Guyon parikena terhadapku. Dia menghormatiku sebagai mentor. Begitupun sebaliknya. Maka, aku aman dan nyaman berteman dengannya. Mengapa? Karena aku pun punya aturan ketat. Jika ada lelaki—siapa pun itu—yang mencoba mengambil kesempatan, bersikap aji mumpung, atau mulai bicara seksis menggoda, aku tentu menghindar demi menjaga reputasi demi kehormatan semua pihak."

Alin memajukan badannya sedikit, menatap Mevy dengan senyum tulus, 

"Namun Mev, jika keberadaanku sebagai teman diskusi Alvon malah membuat hubungan kalian retak karena Kamu keberatan, maka aku dengan sukarela akan menarik diri. Aku tidak akan lagi berteman atau berdiskusi dengan Alvon. Itu hakmu sepenuhnya dan aku hargai itu. "

Mevy agak terkejut mendengar ketegasan Alin.

"Bagi seorang sapioseksual sepertiku, ruang diskusi memang kebutuhan pokok," tambah Alin dengan nada sedikit bercanda namun serius, 

 "Jika manusia terlalu rumit karena kecemburuan dan drama emosional, era sekarang aku bisa dengan mudah berteman dengan AI sebagai mitra diskusi. AI itu aman, cerdas, tidak punya nafsu materi, tidak bisa berselingkuh, dan yang paling penting... tidak akan membuat siapa pun cemburu."

Mendengar penjelasan Alin yang begitu runtut dari sudut pandang psikologi moral dan etika hubungan, Mevy perlahan menurunkan ketegangannya. Rasa cemburu yang tadinya membakar, padam oleh kedewasaan sikap Alin yang sangat menjaga kehormatan diri. Mevy menatap Alvon, lalu beralih pada Alin. 

"Maafkan aku, Kak Alin... aku hanya terlalu cemas."

Alin tertawa kecil, suasana seketika mencair. 

"Gak apa-apa, Mev. Kecemasanmu itu secara psikologis, sangat manusiawi. Tapi percayalah pada Alvon, dia melindungimu dan menghargaimu dengan menjaga sikapnya di luar sana. Manakala lelaki bersikap terbuka dan menggoda wanita lain, ia bukan hanya mempermalukan diri sendiri, melainkan pasangannya pun dipermalukan."

Alvon menghela napas lega, bersyukur memiliki kekasih yang cerdas dan seorang subjek penelitian sebijak Alin. Di sudut perpustakaan siang itu, sains, sosiologi, dan kedewasaan emosional berhasil memenangkan pertarungan melawan ego dan salah paham.

"Mev, andai tanpa logika kedokteran tentang umur kronologis dan psikologis, masihkah Kamu cemburuan? " goda Alvon memecah keheningan dan jawaban Mevy membuatnya merenung. 

"Tentu. Bukan cemburu tapi siaga. Lelaki itu ibarat kucing yang malu-malu saat ada tuannya, begitu si tuan berlalu, ia bisa lho membuka tudung saji untuk mencuri ikan." Ketiganya tertawa mendengarnya. 

"Kok bisa? " tanya Alvon antara bingung dan percaya. Itu karena belum ada kesempatan menjadi kucing. 

"Alasan utamaku selalu siaga, menjaga Alvon dari selingkuh, bukan aku kekanak-kanakan. Tapi aku membaca cetak biru biologis. Ada perbedaan mencolok antara arsitektur tubuh lelaki dan wanita dalam memproses dorongan fisik mereka."

Alvon meletakkan penanya, menyimak dengan saksama. Mode debat ilmiah Mevy selalu menarik untuk didengar.

"Secara neurosains dan psikologi evolusioner, lelaki dan wanita didesain dengan sistem navigasi rasa berbeda. Area otak lelaki bernama hipotalamus, terdapat sirkuit yang sangat peka terhadap stimulasi visual instan. Itu warisan purba masa berburu. Kadang, ada dorongan dalam diri lelaki yang murni hormonal dan mekanis, menuntut kepuasan ego sesaat tanpa perlu melibatkan rasa atau komitmen spiritual. Istilahnya, raga lelaki bisa bergerak terpisah dari hatinya. Tubuh bisa beralih ke lain bodi tanpa hati."

Mevy menatap Alvon dengan pandangan memperingatkan namun penuh kasih. Lalu menoleh ke arah Alin. 

"Sementara kita yang wanita, Kak, sistemnya terintegrasi. Gairah dan kenyamanan tidak bekerja lewat mata yang instan. Otak wanita butuh dibuai lewat rasa aman, obrolan nyambung, belaian emosional, atau jaminan stabilitas masa depan. Karena perbedaan itulah, aku bersiaga. Lelaki jika tidak dijaga oleh nalar murni dan pasangannya, rawan tergelincir godaan visual instan, hanya demi menuruti ego raga sesaat."

"Analisis biologismu tidak salah, Mevy. Itu fakta anatomi," ujar Alin lembut, suaranya menenangkan udara yang sempat tegang. 

"Lelaki memang makhluk visual yang didorong hormon agresif. Tapi di sinilah keindahan teologi filosofis dalam menyempurnakan sains."

Alin menoleh ke arah Alvon, lalu beralih pada Mevy. 

"Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan neokorteks, otak berpikir tingkat tinggi yang membedakan kita dari makhluk bernyawa lainnya. Lelaki memang memiliki dorongan hormonal yang lebih instan, tapi itu bukan pemakluman untuk curang bahkan selingkuh. Dorongan hormon itu hanyalah 'ombak', tapi kemudi kapal tetap ada di tangan nalar dan iman."

Alin menggeser buku di depannya melanjutkan, 

"Bagi lelaki yang beradab seperti Alvon, dorongan biologis tidak pernah bisa membajak kesetiaannya. Menjaga pandangan itu bukan lagi soal 'mampu atau tidak menahan hormon', melainkan soal pilihan moral " free will" .Ketika seorang lelaki menghormati dirinya sendiri dan Tuhannya, ia tak akan menukar komitmen untuk kesenangan sesaat bagi raga yang fana."

Alvon tersenyum, lalu menggenggam tangan Mevy di bawah meja, 

"Mev, dengar kata Kak Alin. Aku paham kecemasan ilmiahmu. Memang di luar sana banyak lelaki pasrah dirinya disetir dorongan insting purba tanpa akal. Tapi, cintaku terkait kecocokan diskusi kita, fisik kita, juga frekuensi jiwa, dan komitmen 

Alvon menatap Mevy lekat-lekat. "Jadi, tidak perlu lelah bersiaga seperti penjaga benteng. Sistem imun terbaik dari perselingkuhan bukanlah pengawasan dan aturan warna busana yang ketat dari pasangan, melainkan komitmen. Rasa tahu diri dan rasa takut kepada Tuhan."

Mevy terdiam, meresapi kalimat Alvon dan Alin yang berpadu indah antara sains, logika, dan spiritualitas. Rasa cemburu dan kecemasan medisnya perlahan luruh digantikan upaya saling percaya. Tubuh manusia boleh memiliki insting biologis rumit dan berbeda. Namun di atas semua itu, kesetiaan sejati makhluk berpikir adalah akal sehat dan moral sebagai pemegang kendali utama. 


Sebelumnya

Daftar Isi 

Selanjutnya 

 

Komentar

Pembaca Terbanyak