Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Setelah Merdeka, Apakah Perempuan Indonesia Pun Merdeka Menentukan Hidupnya?
Setelah Merdeka, Apakah Perempuan Indonesia Pun Merdeka Menentukan Hidupnya?
“Kita sering mengatakan Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Tetapi pernahkah kita bertanya: apakah perempuan Indonesia juga sudah benar-benar merdeka menentukan hidupnya sendiri?”
Bukan merdeka dari laki-laki. Bukan pula merdeka dari keluarga, agama, atau tradisi. Tetapi merdeka untuk memilih jalan hidup yang baik tanpa terus-menerus dihantui ketakutan: takut disebut perawan tua, takut mengecewakan orang tua, takut berbeda dari perempuan lain, bahkan takut menjadi perempuan yang terlalu mandiri.
Sebelum meneruskan membaca
Simak videonya di sini
Apa sebenarnya arti kemerdekaan bagi seorang perempuan?
Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya sejak 1945.
Tetapi semakin bertambah usia, saya justru bertanya kepada diri sendiri:
Apakah seorang perempuan otomatis merdeka hanya karena negaranya sudah merdeka?
Atau jangan-jangan, ada perempuan yang secara administratif hidup di negara merdeka, tetapi sepanjang hidupnya masih sibuk menjalankan hidup berdasarkan ketakutan?
Takut mengecewakan orang tua.Takut dianggap egois.Takut dianggap terlalu tua.
Takut disebut perawan tua.Takut dianggap perempuan yang terlalu banyak berpikir.
Takut jika terlalu berpendidikan nanti sulit mendapatkan pasangan.
Takut kalau punya mimpi sendiri dianggap tidak tahu diri.
Dan akhirnya, tanpa sadar, sebagian perempuan menghabiskan hidupnya dengan pertanyaan:
“Apa yang orang lain inginkan dariku?”
bukan:
“Apa yang seharusnya kulakukan dengan kehidupan yang Tuhan berikan kepadaku?
Saya teringat banyak kisah keluhan perempuan tentang pernikahannya, bahwa
Pendidikan tidak menjamin rumah tangga bahagia.Gelar tidak menjamin seseorang bertemu pasangan yang egaliter.Pergi ke luar negeri juga tidak otomatis membuat seseorang bebas dari persoalan relasi.
Betapa banyak perempuan hebat yang telah menghabiskan energi luar biasa untuk membangun dirinya, tetapi ketika memasuki hubungan pribadi, ia masih berhadapan dengan pola relasi yang membuat dirinya mengecil.
Dan saya tidak ingin menyimpulkan bahwa semua laki-laki seperti itu.
Tidak.
Ada banyak laki-laki baik.
Ada laki-laki egaliter.
Ada laki-laki yang bahagia melihat istrinya berkembang.
Ada laki-laki yang tidak merasa harga dirinya berkurang ketika istrinya lebih berpendidikan atau lebih sukses.
Yang kita persoalkan adalah pola pikirnya, bukan jenis kelaminnya.
Sebab patriarki yang tidak sehat bisa merugikan perempuan sekaligus merusak laki-laki.
Laki-laki dipaksa selalu menjadi penguasa.
Perempuan dipaksa selalu menjadi pengikut.
Padahal bukankah hubungan yang sehat seharusnya terdiri dari dua manusia dewasa yang saling menghormati?
sebenarnya untuk apa saya hidup?
Saya sekarang sudah memasuki usia 62 tahun.
Dan semakin tua, saya justru semakin merasa bahwa hidup tidak boleh hanya dibagi menjadi:
bekal dunia dan bekal akhirat seolah-olah keduanya harus dipisahkan.
Saya mencoba memahami ibadah secara lebih luas.
Ibadah bukan hanya ritual.
Tentu ritual adalah bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.
Tetapi berbuat baik kepada diri sendiri, keluarga, manusia lain, lingkungan, bangsa, dan alam juga merupakan bagian dari tanggung jawab kehidupan.
Karena itu saya mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda.
Belajar bisa menjadi ibadah.
Menulis bisa menjadi ibadah.
Mengajar bisa menjadi ibadah.
Membuat konten yang bermanfaat bisa menjadi ibadah.
Bepergian untuk mengenal kebesaran ciptaan Tuhan bisa menjadi ibadah pengalaman spiritual.
Bahkan merawat diri sendiri agar tetap sehat dan tidak menjadi beban orang lain pun bisa menjadi bentuk syukur pun ibadah.
Maka di usia ini saya ingin melakukan reset.
Bukan reset karena saya menyesali seluruh masa lalu.
Tidak.
Masa lalu tetap bagian dari saya.
Ada keputusan yang benar.
Ada keputusan yang salah.
Ada masa ketika saya terlalu patuh.
Ada masa ketika saya terlalu takut.
Ada masa ketika saya mungkin lebih sibuk memenuhi harapan orang lain daripada mendengarkan suara hati sendiri.
Tetapi saya tidak ingin menghabiskan sisa hidup dengan terus-menerus menyalahkan masa lalu.
Pada usia 62 ini, saya ingin mematikannya sebagai pola, bukan menghapusnya sebagai sejarah.
Saya ingin berkata:
“Cukup. Mulai sekarang saya hidup dengan kesadaran yang baru.”
Perempuan tidak harus memilih antara ilmu dan keluarga
Ini juga penting.
Saya tidak sedang mengajak perempuan membenci pernikahan.
Sama sekali tidak.
Pernikahan bisa menjadi sesuatu yang sangat indah.
Memiliki pasangan yang baik bisa menjadi salah satu bentuk kebahagiaan terbesar manusia.
Tetapi ada perbedaan antara:
menginginkan pasangan
dan
menggantungkan seluruh makna kehidupan kepada pasangan.
Saya memilih yang pertama.
Saya boleh berharap bertemu seseorang.
Saya boleh berdoa mendapatkan pasangan yang sefrekuensi.
Saya boleh berharap pada hubungan yang hangat, dewasa, egaliter, penuh kasih, bahkan memiliki kedekatan fisik dan emosional.
Itu manusiawi.
Tetapi saya tidak mau lagi mengatakan kepada hidup:
“Saya baru akan bahagia kalau seseorang datang.”
Tidak.
Saya bahagia sekarang.
Kalau suatu hari seseorang datang dan ternyata ia membuat kehidupan ini semakin indah:
Alhamdulillah.
Kalau tidak?
Saya tetap hidup.
Tetap belajar.
Tetap menulis.
Tetap membuat konten.
Tetap bepergian.
Tetap berbuat baik.
Tetap tertawa.
Tetap menikmati setiap saat, detik, dan waktu.
Tetap melihat dunia.
Justru di sinilah saya menemukan gagasan tentang pasangan yang sehat.
Kalau suatu hari ada seseorang datang kepada saya, saya tidak akan bertanya terlebih dahulu:
“Apakah dia kaya?”
atau:
“Apakah dia tampan?”
atau bahkan:
“Apakah dia mau menikahi saya?”
Saya ingin bertanya:
“Apakah bersama manusia ini saya menjadi lebih baik?”
Apakah dia menghormati pendidikan saya?
Apakah dia menghormati pekerjaan dan karya saya?
Apakah dia senang ketika saya berkembang?
Apakah dia bisa berdiskusi tanpa harus menang?
Apakah dia menghormati kata tidak?
Apakah dia konsisten?
Apakah dia bertanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri?
Apakah dia datang membawa kedamaian atau justru membawa kekacauan?
Dan yang paling penting:
Apakah dia ingin berjalan bersama saya, atau ingin mengendalikan arah perjalanan saya?
Karena pasangan bukan pemilik kehidupan kita.
Pasangan adalah teman perjalanan.
Jadi saya boleh membuka pintu.
Tetapi saya tidak perlu mengejar siapa pun.
Saya masih punya banyak sekali kehidupan untuk dijalani dari rezeki lahir batin yang kumiliki sehingga justru merasa bersalah jika tidak didata lalu dikejar tanpa lupa waktu bahwa Saya masih ingin kuliah S3, menulis, membuat blog, video, belajar bersama AI, berjalan-melihat dunia dan Indonesia lebih dalam.
Saya ingin membawa pulang cerita, foto, pengetahuan, lalu mengubah semuanya menjadi tulisan dan video.
Mungkin suatu hari ada anak muda yang membaca tulisan saya dan berpikir:
“Oh, ternyata umur 60-an bukan akhir kehidupan intelektual.”
Kalau satu orang saja berpikir begitu, tulisan saya sudah mempunyai manfaat.
Saya bahkan punya mimpi yang lebih besar.
Kalau suatu hari Allah memberi rezeki dan kesehatan yang cukup, saya ingin mempunyai rumah yang tidak pernah benar-benar sepi.
Ada anak-anak belajar.
Ada orang membaca.
Ada kegiatan seni.
Ada musik.
Ada literasi.
Ada pendidikan.
Mungkin suatu hari ada ruang untuk anak-anak.
Mungkin ada ruang untuk orang tua.
Mungkin ada pendidikan anak usia dini yang terjangkau.
Tetapi saya tidak akan terburu-buru.
Saya akan belajar dulu.
Mencoba model kecil dulu.
Melihat kemampuan saya.
Menghitung uangnya.
Menghitung tenaga manusianya.
Dan kalau memang Tuhan membuka jalan, baru diperbesar.
Amal tidak harus langsung berbentuk gedung besar.
Satu anak yang berhasil membaca buku dengan senang hati juga sudah merupakan sesuatu.
Satu orang yang kembali bersemangat belajar juga sudah berarti.
Satu tulisan yang membuat seseorang tidak menyerah juga sudah berarti.
Jadi mungkin inilah arti kemerdekaan saya pada usia 62.
Bukan bebas melakukan apa saja.
Tetapi bebas memilih kehidupan yang bertanggung jawab.
Saya tidak lagi ingin menjalani hidup hanya karena:
“Begitulah perempuan seharusnya.”
Saya ingin bertanya:
“Apakah ini baik?”
Baik bagi Tuhan.
Baik bagi diri sendiri.
Baik bagi manusia lain dan sesama makhluk.
Baik bagi lingkungan.
Baik bagi masa depan.
Kalau jawabannya iya, saya jalani.
Kalau tidak, saya belajar berkata:
“Tidak.”
Dan kalau suatu hari ajal datang?
Saya tidak ingin mati dengan daftar:
“Seandainya dulu saya kuliah…”
“Seandainya dulu saya menulis…”
“Seandainya dulu saya bepergian…”
“Seandainya dulu saya berani…”
Saya ingin ketika waktunya tiba, saya bisa berkata:
“Saya sudah mencoba hidup dengan sebaik-baiknya.”
Bukan hidup sempurna.
Tetapi hidup yang sadar.
Pernah salah.
Pernah kecewa.
Pernah menangis.
Pernah tertipu oleh harapan.
Pernah terlalu patuh.
Tetapi kemudian bangun.
Belajar.
Reset.
Lalu melanjutkan perjalanan.
Karena mungkin kemerdekaan perempuan yang sesungguhnya adalah ini:
Ia boleh mencintai seseorang tanpa kehilangan dirinya.
Ia boleh menikah tanpa kehilangan cita-citanya.
Ia boleh melajang tanpa merasa gagal.
Ia boleh belajar pada usia berapa pun.
Ia boleh menghasilkan uang tanpa merasa bersalah.
Ia boleh bepergian tanpa menunggu seseorang mengizinkannya menjadi manusia.
Ia boleh berkarya.
Ia boleh berkata tidak.
Ia boleh berkata ya.
Ini yang paling penting
Perempuan boleh menentukan sendiri apa yang akan dilakukan dengan umur yang Tuhan titipkan kepadanya.
Saya tidak tahu berapa tahun lagi yang Tuhan berikan kepada saya.
Mungkin dua puluh tahun.
Mungkin sepuluh.
Mungkin lebih.
Saya tidak menuntut umur panjang.
Saya hanya ingin kalau masih diberi umur, umur itu tidak berlalu dalam keadaan sia-sia.
Kalau bisa kuliah, saya kuliah.
Kalau bisa menulis, saya menulis.
Kalau bisa bepergian, saya bepergian.
Kalau bisa mengajar, saya mengajar.
Kalau bisa membuat konten yang bermanfaat, saya membuat konten.
Kalau bisa membantu orang, saya membantu.
Dan kalau suatu hari ada seseorang yang datang dan ternyata ia adalah teman seperjalanan yang baik,
saya bersyukur.
Tetapi saya tidak akan lagi menghentikan perjalanan hanya karena seseorang belum datang.
Karena saya akhirnya mengerti:
Pasangan boleh menjadi bagian dari perjalanan. Tetapi Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa perjalanan hidup saya harus berhenti sampai pasangan itu datang.
Dan mungkin…
inilah reset terbesar saya setelah usia 62 tahun.
Bukan mencari kembali masa muda.
Tetapi menggunakan sisa hidup dengan kesadaran yang jauh lebih muda daripada usia di kartu identitas.
Belajar.
Berjalan.
Menulis.
Mencintai.
Berbagi.
Dan sesekali…
berbicara dengan AI sambil tertawa sendiri karena ternyata pada usia 62 saya masih punya banyak sekali ide. 😄
Inilah kehidupan yang ingin saya jalani.
Bukan kehidupan yang sempurna.
Tetapi kehidupan yang saya pilih dengan sadar.
Dan kalau satu perempuan lain yang sedang menonton video ini kemudian berkata,
“Kalau dia yang sudah 62 tahun masih berani mereset hidupnya, mungkin aku juga boleh.”
Maka…
video ini sudah selesai menjalankan tugasnya.
Penutup
“Teman-teman, kemerdekaan bukan berarti kita hidup tanpa aturan. Kemerdekaan adalah ketika kita mampu memilih kehidupan yang baik dengan kesadaran kita sendiri. Semoga di usia berapa pun kita berada, kita tidak hanya menghitung berapa tahun yang sudah lewat, tetapi juga bertanya: berapa banyak kebaikan yang masih bisa kita lakukan dengan tahun-tahun yang tersisa?”
“Saya Kinanthi. Usia 62 bukan akhir cerita. Mungkin justru ini awal bab yang paling merdeka dan siap kembali kapan saja karena niat menjalani hidup tidak lagi kupisahkan antara kebutuhan dunia akhirat, karena keduanya bekal tak terpisahkan.
Belajar bisa menjadi ibadah.
Menulis bisa menjadi ibadah.
Mengajar bisa menjadi ibadah.
Membuat konten yang bermanfaat bisa menjadi ibadah.
Bepergian untuk mengenal kebesaran ciptaan Tuhan bisa menjadi ibadah pengalaman spiritual.
Bahkan merawat diri sendiri agar tetap sehat dan tidak menjadi beban orang lain pun bisa menjadi bentuk syukur yang juga merupakan ibadah.
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar