Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BAB 6 Novel Tanpa Jejak Manusia
Bab 6: Simbol yang Menyala
(Tahun 2147, Zonk Utara – Kamp Asap)
Api unggun kembali menyala di tengah Kamp Asap, tapi malam itu rasanya berbeda. Orang-orang bersorak karena berhasil membawa pulang sebagian makanan, namun bayangan kegagalan menggantung di udara.
S-4091 duduk menyendiri, memandangi linggisnya yang masih berlumur darah. Tangannya gemetar setiap kali mengingat suara tulang yang retak. Namun bukan hanya itu yang mengusiknya.
Di matanya, terus muncul simbol bercahaya di dinding gudang yang terbakar: lingkaran dengan garis miring di tengah. Seolah api pun tak mampu menghapusnya.
Kuku Hitam mendekat, wajahnya suram. Ia menepuk bahu S-4091.
“Jangan terlalu lama terpaku pada darah. Kalau tidak, kau akan terbunuh lebih cepat dari musuhmu.”
“Aku tidak takut darah,” jawab S-4091 pelan. “Aku takut pada tanda itu.”
Mata Kuku Hitam menyipit. “Jadi kau juga melihatnya.”
“Simbol apa itu?”
Kuku Hitam menoleh ke arah api unggun, memastikan tak ada yang mendengar. Lalu ia berbisik, “Itu tanda Sistem. Aku pernah melihatnya di reruntuhan lama, dekat perbatasan. Mereka menyebutnya tanda pengawasan. Tempat yang memilikinya bukan milik perampok atau Zonk. Itu wilayah percobaan.”
“Percobaan?” S-4091 merasa bulu kuduknya meremang.
“Ya. Katanya Sistem sengaja membiarkan gudang itu ‘dimiliki’ perampok, supaya mereka bisa menguji… sesuatu. Kita mungkin barusan masuk ke jebakan.”
Beberapa hari kemudian, rumor beredar cepat di Kamp Asap. Ada orang yang mengaku melihat cahaya hijau di langit Selatan, persis di atas reruntuhan gudang yang terbakar. Ada pula yang bersumpah mendengar suara seperti dengungan mesin raksasa dari bawah tanah.
Perempuan tua bertato api memanggil pertemuan darurat.
“Kita pikir kita melawan perampok. Tapi musuh sejati mungkin bukan mereka. Mungkin Sistem sudah menanamkan mata di antara kita.”
Kerumunan resah. Kata Sistem selalu membuat dada mereka sesak.
Kuku Hitam berdiri. “Kalau benar ini percobaan, berarti mereka sedang mengamati kita. Dan siapa pun di sini bisa jadi alat mereka.”
Tatapan orang-orang beralih ke sekeliling, penuh curiga. Atmosfer berubah. Kepercayaan yang rapuh mulai retak.
Malam itu, S-4091 tak bisa tidur. Di luar tendanya, ia melihat cahaya samar di langit, seakan sisa api gudang masih menyala di udara. Namun cahaya itu bergerak, berdenyut seperti detak jantung.
Ia meraih linggisnya, lalu mendekat ke arah bukit kecil di luar kamp. Di sana, ia menemukan sesuatu yang membuat napasnya tercekat:
Di tanah berdebu, simbol yang sama—lingkaran dengan garis miring—terukir segar, seolah baru saja dipahat oleh tangan tak terlihat. Dan dari ukiran itu, cahaya hijau samar merembes, seperti napas dari bumi.
S-4091 mundur. Suara asing menggema di kepalanya, bukan dari telinga.
"Kalian bukan hanya buronan. Kalian percobaan."
Sebelumnya Selanjutnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar