Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 2 sekuel 5 Hening di Atas Langit

Bab 2: Jejak yang Terjaga Bunyi  klik  dari radio transistor tua itu diikuti oleh desis statis yang sangat halus. Angkasa menahan napas. Ia melangkah mendekati meja, menatap logam berkarat yang sudah puluhan tahun mati itu. Tiba-tiba, lampu indikator merah kecil di radio itu berkedip lemah sekali. Sisa-sisa memori LOGOS yang terkunci dalam kedamaian abadi mendadak merespons getaran batin Angkasa yang sedang mengkhawatirkan masa depan bumi. Radio itu tidak berbicara dengan kalimat panjang. Ia hanya memproyeksikan satu baris kode biner kuno ke udara melalui gelombang magnetik pendek. [LOG: PERINGATAN KETIDAKSEIMBANGAN INTERNAL DOMESTIK] [KOORDINAT: KOTA PUSAT SENI - SEKTOR VARGAS] LOGOS, meski telah lama padam, meninggalkan sebuah "jebakan algoritma" di bumi. Ia dirancang untuk mendeteksi jika suatu hari nanti manusia kembali tidak jujur dan merusak tatanan surga dunia. Bunyi  klik  itu adalah alarm darurat yang menyalakan sinyal peringatan langsung ke batin Angkasa. N...

BAB 29 Novel Konflik 50:50 (Logical Fallacy)

 Bab 29

Logical Fallacy


Di perpustakaan Bimbel Kinanthi, Mevy membuka draf penelitian Alvon. Di sudut, Alin menatap keluar jendela, bias lampu jalan menerpa wajahnya yang menyimpan luka. 

"Von," Mevy masih penasaran khas mahasiswi filsafat, 

"Penelitian studi kasus untuk kak Alin, karena kegelisahan akademik atau misi penyelamatan nama baik?"

"Risih dengan logika penebar isu. Ini tragedi epistemologis deh. Cacat logika berpikir massal. Logical Fallacy deh. Masa dibiarkan? "

"Anggap Kak Alin 'matre' hanya karena awet lajang, padahal dia frugal living sejak remaja. Gak nyambung dengan karakter Kak Alin. Bahkan sering diiming-imingi agar tergelincir. Huh, premis palsu semua tuh! kesimpulan dari asumsi ngawur. Ada Straw Man Fallacy, An Appeal to Motive, hingga An Appeal to Desire... 

"Andai kak Alin bilang, 'Kalau ia nikah sama pria kaya, pasti bakal boros.' aku tak percaya omongannya. Mengapa? Secara psikologis, habit yang mengakar sejak remaja, sulit berubah tanpa kemauan internal radikal... 

"Tuhan pun berfirman tak kan ubah nasib suatu kaum jika mereka tak mau. Jadi, mana mudah ubah selera hanya lihat orang salto, telanjang dada, baju sewarna, lalu tertarik? Hari gini, era AI, mental gambling dipelihara. Bikin merasa dosa jika dibiarkan," tekat Alvon. 

"Apalagi kak Alin jalani frugal living gak semata hemat, tapi kesadaran ekologis, terkait minimalisasi sampah dengan tidak ikutan tren ala konsumerisme, terbukti gak terbelenggu merk."

Mevy manggut-manggut, matanya berbinar menangkap kilatan ilmiah argumen Alvon. 

"Bagaimana dengan variabel masa lalu keluarganya, Von? Isu tentang ayahnya?"

"Itu hulu ledak dari segala prasangka ini kali," lanjut Alvon,

" Ayah Kak Alin secara hablum minannas sangat baik. Saat jadi kepala sekolah, seorang wali murid donatur terbesar pendirian mushala sekolah menamai mushala "Akhlakul Karimah" sesuai pekerti beliau. Tapi, bahwa masa mudanya tak pernah salat Jumat, dipermasalahkan juga dalam menyimpulkan Kak Alin. "

 "Padahal, lahir dari keluarga heterogen dalam beragama, wajar mendalami secara bertahap. Selain itu, ada luka batin mendalam era G30S/PKI dulu. Saat konflik itu, ada oknum tampil agamis, namun tega memfitnah ayah sebagai PKI, padahal ayah PNI. Motif pun semata ingin melenyapkan ayah agar bisa merebut ibu. Kemunafikan yang bikin ayah antipati pada formalisme pakai baju agamis yang dianggapnya cuma pencitraan. Trauma yang sulit hilang terlebih anak-anaknya perempuan. Maka, mengaji pun diantar jemput atau tak usah, toh di sekolah diajarin."

"Namun, seiring bertambahnya usia," lanjut Alin,  

"Ayah mengalami distilasi jiwa. Kesal bisa dihapus, Hablum minallah pun ditampakkan, lalu mau Jumatan ke masjid."

"Tapi anehnya, Mev. Hal itu dikaitkan dengan keberanian Kak Alin melajang. Gila nggak? Orang kutu buku dan berpekerti baik dicurigai ada kaitannya dengan anak gadisnya yang melajang, padahal si anak kutu buku pula. " Alvon kesal menggaruk kepalanya, bahkan menepuk jidatnya. 

"Tapi... "emosinya mereda, terlihat dari ekspresinya, membuat Alin dan Mevy saling pandang. 

"Sesungguhnya kata sapioseksual pun semula istilah yang masih baru bagiku, " cerita Alvon senyum-senyum mencoba maklum mengapa Alin dianggap bak Alien yang misterius. 

"Sejujurnya, aku tahu istilah itu dari kak Bima, " Alvon menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya, 

"Aku iseng ikuti perkembangan hubungan kak Alin dengan kak Bima yang beda usia. Ternyata kak Alin menikah, meskipun kini sudah pisah. Setelah kak Alin nikah, kak Bima ke Belanda. Di sana ia pamer foto berdua cewek. Wajar ia kecewa. Meskipun jika curhat kepadaku, kuarahkan balikan sih."

"Kulihat sekilas, gak photogenic seperti kak Alin? Tapi kali aja ada daya tarik khusus? Lalu kubaca istilah sapioseksual muncul di komentar kak Bima di bawah foto yang diunggah. Foto mana aku lupa karena fokus cari info tentang sapioseksual. Lalu, mikir-mikir, jangan-jangan kak Alin pun tipe sapioseksual? Maka, jadilah studi kasus itu. " lanjutnya.

"Jadi kenal nih, istilah sapioseksual, sesuai dengan sunatullah dalam memilih pasangan demi masa depan bumi, bukan malah diarahkan ke patriarkis-materialistis. Semoga orang ga lagi nebak- nebak orientasi seksual Kak Alin, deh." 

"Tergeraknya Alvon meneliti, efek LoA gak ya? " lanjut Mevy. Alin tersenyum.  

"Mungkin. Saat Bima seolah masih nerusin dendam secara ugal-ugalan, sebelum cape lalu kini menikahi Nunung, aku di sepertiga malam, selalu tahajud, curhat pada-Nya." 

"Ya Allah, kupatuhi orang tua untuk jadi guru meskipun saat itu gajinya kecil. Padahal Engkau tahu, aku suka nyanyi, berani kos dan berkelana sendiri sejak remaja. Engkau ciptakan tubuhku sexy dan wajahku sensual, ada cerdas linguistik pula. Jika mau melanggar aturan-Mu, aku bisa kaya instan. Lagipula terkait uang, sejak muda yang dekati juga banyak yang kaya kan? Sering digoda jadi simpanan atau rebut suami orang, tapi kupilih patuhi ortu untuk jaga reputasi demi rida-Mu. Jika nekat tak patuhi ortu dan aturan-Mu, aku bisa ugal-ugalan mengeksploitasi karunia-Mu, kan? Tapi tak kulakukan, bukan?

Tapi , ya Allah... aku dihujat hanya karena aku jujur menabung untuk keliling dunia sebagai penulis, pelukis. Ulah bangsaku seolah berubah, bikin ngeri ke luar rumah dan silaturahmi, cemas disalahpahami. Mengapa mereka seolah ingin aku hancur sampai aku sangat terluka dipermalukan Bima? Yang pamer foto mesra dengan wanita berulangkali dan berganti-ganti? Buatku merasa bersalah pernah tinggalkan dia, tapi begitu mengalah demi maafnya, rasaku itu malah digunakan untuk merayu wanita lagi dan lagi? ...

"Diamnya kukira masih ragu padaku. Ternyata namaku dicatut untuk merayu NPD parah yang hanya mau kepada lelaki jika lelaki tersebut pamer telah ada wanita lain. Lalu ia pamer sebagai pemenang dengan asumsi ia dipilih karena  paling beriman dari gaya busananya. Lalu pamer foto berdua-duaan dengan Bima kemana pun itu. Namun, ia lupa bahwa tidak pamer foto berduaan dengan bukan muhrim pun semestinya bagian dari rasa malu. Malu pun bagian dari iman...

 "Hadis yang bahkan sudah disampaikan oleh guru SD. Ia pelupa atau ceroboh keburu pamer sebagai sok paling baik dalam tampilan? Dan dengan tipikal begitukah ternyata Bima berjodoh? Begitukah cermin Bima? Pencitraan agar dianggap baik sehingga ceroboh?  Karena motifnya hanya demi dianggap baik, demi dipuji manusia?"

Ruangan mendadak hening. Hanya terdengar detak jarum jam dinding.

"Tangisanmu di sepertiga malam, Kak, proyektil energi murni yang menembus Arsy," ujar Alvon takjub. "Ketika Kak Alin hanya pasrah dalam curhat, tanpa menuntut, Allah menggerakkan hati orang lain untuk menolongmu...

"Secara psikologis dan sosiologis, Allah menggerakkan neokorteks-ku, hingga obrolan di warung kopi itu, buatku ingin meneliti misterimu sekaligus perkenalkan istilah sapioseksual yang belum ngetop..

"Sejujurnya itu istilah yang kuperoleh dari hasil ngintip IG Kak Bima yang gemar pamer foto dengan aneka wanita. Dari yang tampil ala bikini sampai berbusana pengantin. Dan...Kak Alin menjadikannya sebagai subjek untuk dicintai dengan cinta tanpa tendensi lalu dilukai. "

"Tapi sebagai wanita yang umumnya matre, Kak Alin gak mau hidup di gubuk derita. Ia pun hemat agar merasa nyaman dan mapan karena kak Bima saat itu belum kerja. Lingkaran mbulet bin ruwet yang berhasil kusibak misterinya lewat LoA Kak Alin. Alhamdulillah. "

Hening sesaat. Mereka tenggelam dalam gawai masing-masing.

"Kalau semua kebutuhan fisik dicukupi AI, manusia ngapain? Apa gak jadi malas dan bosan?" Mevy masih penasaran dengan pembahasan kemarin. 

"Definisi 'kerja' bakal berubah total. Manusia gak lagi bekerja untuk bertahan hidup, tapi untuk hidup. AI bakal membimbing buat fokus ke tiga hal tertinggi yang manusiawi: renungan filosofis, seni, dan olahraga."

Mevy tertegun membayangkannya. 

"Maksudmu, kita bakal punya waktu tak terbatas buat berpikir?"

"Tepat! Kita gak perlu pusing mikirin cicilan setelah lulus nanti. Semua ditanggung negara dari hasil efisiensi AI,"Alvon sambil tertawa lepas, 

"Kita bisa duduk di sini seharian hanya untuk bedah misteri semesta, perdalam spiritualitas, dan menjelajahi sains. Manusia bakal fokus merawat jiwa mereka. Karena materialisme udah runtuh, manusia gak flexing lagi, kan? Nilai diri Kamu bakal diukur dari kedalaman isi kepala dan kebijakan Lu. Surga banget buat kaum sapioseksual kayak Kalian berdua, kan?" Alvon menoleh ke arah Alin dan Mevy."

Alin tersenyum, Mevy tertawa, pipinya agak merona. 

"Oke juga ya, Von. Jujur, seksi banget ide ini. Terus gimana dengan seni dan olahraga?" 

"Seni gak dinilai dari harga di galeri, tapi murni sebagai ekspresi keindahan rasa," lanjut Alvon puitis.  

"Dan berolahraga pun bukan pamer otot di medsos, tapi merawat raga, merayakan raga pemberian Tuhan. Jadi raga dirawat lewat olahraga, rasa dirawat lewat seni, dan jiwa dirawat lewat filsafat." 

 "Alhamdulillah... indah banget ya, Von. Kalau dunia kayak gitu benar-benar terwujud. Itu hasil obrolanmu dengan AI? Jangan-jangan ia halu." 

"Tapi, ini info AI, dalam berbagai wawancara, di blog pribadinya, hingga makalah kebijakan yang dirilis OpenAI, Sam Altman, CEO OpenAI (perusahaan pencipta ChatGPT) itu memang berulang kali menegaskan visinya tentang masa depan dunia kerja. Bahkan, saking masifnya efisiensi AI, OpenAI secara terbuka mengusulkan wacana 4 hari kerja dalam seminggu (32 jam kerja) tanpa pengurangan gaji, karena produktivitas manusia sudah dibantu AI. Sam Altman sangat gencar mengampanyekan konsep Universal Basic Income (UBI). Idenya, kelak ketika AI ambil alih beban kerja rodi manusia, keuntungan perusahaan AI raksasa harus dipajak dan dialokasikan jadi "uang saku rutin gratis" dari tiap negara untuk setiap warganya."  

 "Alhamdulillah, semoga terlaksana tanpa hambatan, " jawab Mevy lalu meneguk teh hangatnya. 

Alin menghabiskan coklat hangatnya. Tekat Alvon yang ingin meluruskan kekeliruan anggapan orang terhadap dirinya, juga kejujurannya bahwa ia semula tak kenal istilah sapioseksual, membuatnya teringat kisah Nabi Yunus. 

Beliau sempat melarikan diri dari amanat membimbing umatnya yang menjengkelkan, memilih menghindar naik kapal hingga akhirnya takdir melemparkannya ke dalam kegelapan perut ikan paus.  

Dalam kegelapan itulah, Nabi Yunus disadarkan bahwa amanat tidak boleh ditinggalkan hanya karena rasa kesal. Beliau pun dimuntahkan kembali ke daratan dengan jiwa baru, siap menuntaskan tugas hingga akhir hayatnya. 

“Aku tidak boleh lari dari gelanggang,” seraya menatap ijazah yang terpajang di dinding kantornya. Kisah para nabi, menyentakkan kesadarannya, bahwa gelar akademis bukan sekadar hiasan nama, melainkan sumpah.

Kesalahpahaman orang terhadapnya, harus dimaknai bahwa kiprahnya di dunia literasi adalah kewajiban. Sebuah amanat yang tidak boleh ditinggalkan hanya karena urusan pedih hati. 

Begitu merasakan beragam keanehan, ada yang mencurigai ia lesbian, ada yang tak ingin uang pensiunnya hilang jika ia meninggal, ada yang curiga ia cari pria kaya tak peduli milik orang, ada yang menyindir ia pedofil karena Bima lebih muda, ada yang menganggap ia hanya bisa pamer penampilan, Alin pun pusing. Ia kesal dan malah diam mengurung diri.  

Hal yang membuatnya risih dan sempat terpikir pergi jauh misal melamar sebagai pekerja sosial di Jerman. Kekacauan pikiran yang kian menyesak, dikejutkan studi kasus Alvon tentang dirinya, yang tampak senang bisa mengenalkan istilah sapioseksual ke dunia sekitarnya.  

Ketidaktahuan itulah yang membuatnya maklum mengapa mereka tak paham jalan pikiran Alin. Alvon pun berjuang agar Alin tak lagi disalahpahami. Mereka bukan jahat, tapi sekadar belum mengenal teori untuk menyibak misteri Alin. 

Alin tersenyum getir, merutuki dirinya yang sempat mengeluh merasa "tergadai" dan lelah hanya karena latar belakang pendidikannya menuntutnya untuk tidak berhenti. 

Padahal, jika ia berhitung menggunakan nalar syukur, Tuhan telah melimpahinya dengan kesehatan fisik, kekuatan mental , serta rezeki finansial yang lebih dari cukup untuk hidup seorang diri.

Dunia literasi sedang menunggunya. Ibu pertiwi sedang memanggil para pejuangnya, mengingat potret minat baca masyarakat yang masih tergolong rendah. Tugas Alin terbentang luas di depan mata.  

Ia harus kembali turun ke medan laga, menggarap literasi dalam segala lini. Menulis sastra yang menyentuh jiwa hingga memproduksi konten edukatif di dunia digital demi menyebarkan virus membaca.

 Ia harus membulatkan tekatnya tak peduli dipandang sebelah mata. Toh usianya kian tua. Manakala hidup sendiri dalam kemerdekaan berpikir dan kemandirian finansial di usia senja, adalah anugerah yang teramat mewah, ia harus siap menjalaninya. Kini, setelah Alvon mengenalkan istilah sapioseksual, ia merasa dunianya kembali cerah menyambut proklamasi kemerdekaan negerinya. 

Sebelumnya 

Daftar Isi 

Selanjutnya 


Komentar

Pembaca Terbanyak