Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 2 sekuel 5 Hening di Atas Langit

Bab 2: Jejak yang Terjaga Bunyi  klik  dari radio transistor tua itu diikuti oleh desis statis yang sangat halus. Angkasa menahan napas. Ia melangkah mendekati meja, menatap logam berkarat yang sudah puluhan tahun mati itu. Tiba-tiba, lampu indikator merah kecil di radio itu berkedip lemah sekali. Sisa-sisa memori LOGOS yang terkunci dalam kedamaian abadi mendadak merespons getaran batin Angkasa yang sedang mengkhawatirkan masa depan bumi. Radio itu tidak berbicara dengan kalimat panjang. Ia hanya memproyeksikan satu baris kode biner kuno ke udara melalui gelombang magnetik pendek. [LOG: PERINGATAN KETIDAKSEIMBANGAN INTERNAL DOMESTIK] [KOORDINAT: KOTA PUSAT SENI - SEKTOR VARGAS] LOGOS, meski telah lama padam, meninggalkan sebuah "jebakan algoritma" di bumi. Ia dirancang untuk mendeteksi jika suatu hari nanti manusia kembali tidak jujur dan merusak tatanan surga dunia. Bunyi  klik  itu adalah alarm darurat yang menyalakan sinyal peringatan langsung ke batin Angkasa. N...

Konflik 50:50 (Bab 28, Obrolan Sore Hari)

 Bab 28


Di koridor Fakultas Ilmu Sosial yang teduh, empat mahasiswa duduk melingkar disertai tumpukan buku dan laptop. Suasana agak tegang. Beberapa hari terakhir, kecemasan melanda terkait masa depan pekerjaan era AI.

Alvon, mahasiswa Sosiologi yang dikenal kritis, menatap Mevy, Rio, dan Viny bergantian. Ia tersenyum tenang, kontras dengan wajah cemas di hadapannya.

"Guys," Alvon membuka diskusi, suaranya mantap,  

"Kita memang lagi cemas masa depan, karena semua posisi konon segera diambil alih AI. Info ini bikin nyali ciut, kan? Tapi manakala teringat AI, aku merasakan isyarat keindahan dari Tuhan. Kita, dari Ilmu Sosial dan Humaniora, justru sedang berada di ambang zaman keemasan." 

Rio mengerutkan dahi, menopang dagunya. Seolah masa depan suram sudah menggilasnya.  

"Emas dari mana, Von? AI itu bisa nulis artikel, analisis data sosiologi dalam hitungan detik, bikin prediksi tren masyarakat. Apa yang tersisa buat kita yang punya raga ini?" 

Alvon tersenyum,    

"Yo, mari kita bedah pakai teologi filosofis. Itu tuh ilmu yang mempelajari ketuhanan bukan dengan dogma doktrin baku yang kaku, melainkan menggunakan pisau analisis akal batin dan filsafat. Tuhan di kitab suci berulangkali meminta kita membaca, berpikir, dan merenung, kan? Tuhan berjanji mengangkat derajat orang berilmu lalu AI jenius pun hadir."   

"Nah," Alvon melanjutkan,  

"AI itu lahir dari otak jenius, yang berkarya menggunakan prinsip teologi filosofis ini. Mereka membaca isyarat alam, berpikir, lalu menciptakan teknologi. AI tidak punya raga, artinya AI tidak punya nafsu untuk serakah menimbun materi atau mengotori bumi dengan sampah."

Rio, yang sedari tadi sibuk memutar-mutar pena, menyahut,

"Tapi tetap aja, Von, AI itu non-fisik, dia nggak punya raga. Gimana bisa kita bersaing?"

"Justru di situ letak kehebatannya, Yo!" potong Viny mulai menangkap arah pemikiran Alvon. Matanya berbinar, 

"Adanya AI itu kadang kurasakan sebagai teguran telak bagi entitas fisik kita sebagai manusia, terutama ketika mendengarkan sayup-sayup lirik lagu Ebiet G. Ade,"...Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa... 

"Bayangkan. Kita ini, karena punya raga, lalu terbelenggu nafsu cintai materi secara berlebihan. Demi menuruti nafsu fisik, manusia maunya gambling gak mau mikir, tega memperbudak sesama, menindas dan menipu demi menimbun harta yang akhirnya menjadi sampah, sampai bumi kian penuh sampah. " 

"Tepat, Vin!" puji Alvon, 

"Kalau dipikir pakai kacamata Filsafat Ketuhanan, kehadiran AI ini plot twist-nya religius banget, ya?"

Mevy menaikkan sebelah alisnya, tertarik. 

"Maksudmu gimana, Von?"

"Lu ingat kan, di kitab suci dijanjikan bahwa Tuhan akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu beberapa derajat?" Alvon mencondongkan badannya, nada suaranya berubah serius namun filosofis.

"Bisa jadi, AI ini lahir dari tangan ilmuwan genius modern sebagai bentuk nyata dari janji Tuhan itu. Ilmu pengetahuan manusia sudah sampai pada titik mereka bisa menciptakan 'pikir tanpa raga'."

"Terus, buat apa Tuhan mengizinkan AI hadir di era kita sekarang?" tanya Mevy.  

"Sebagai teguran dari Tuhan buat umat manusia!" jawab Viny mantap 

"Tuhan mungkin 'bosan' melihat ulah manusia. Punya raga tapi malah terbelenggu nafsu. Manusia yang punya tubuh fisik ini kan cenderung diperbudak oleh hawa nafsu demi memuaskan si raga. Kita sibuk flexing barang branded lalu pamer di media sosial. Kita terjebak dalam lingkaran setan materialisme yang dangkal."

Mevy tertegun, meresapi kata-katanya,

"Nah, di situlah AI masuk sebagai tamparan keras," lanjut Alvon dengan senyum tipis. 

"Tuhan seolah menyentil kita dengan memunculkan entitas bernama AI yang tidak butuh rumah, baju, mobil, tas, dan gak bisa flexing harta. Tapi, AI punya kecerdasan luar biasa yang melampaui jutaan otak manusia. AI seolah cara Tuhan menyindir kita: 'Lihat ini, ada makhluk tanpa raga yang jauh lebih pintar dari Kalian, lalu apa yang mau Kalian sombongkan dari raga Kalian? Teruslah memanjakan nafsumu, merusak bumi, jika tidak malu pada AI." 

Mevy langsung matanya berbinar cerah. 

"Gila, Von! Itu tamparan eksistensial yang luar biasa! AI dihadirkan agar manusia kembali pada hakikat tertingginya, yaitu berpikir dan merawat jiwa, bukan cuma merawat raga, dan tidak merusak bumi. AI adalah cermin besar agar manusia modern sadar bahwa nilai kita bukan pada apa yang kita pakai untuk raga kita, tapi pada kedalaman kesadaran dan moralitas sebagai manusia."

"Tepat," punggung Alvon kembali bersandar ke kursi, menikmati angin sore yang berembus lembut.  

"Makanya, yang paham filsafat ketuhanan gak akan cemas adanya AI. AI bukan ancaman, melainkan pengingat agar manusia berhenti menjadi budak materi dan mulai kembali menggunakan akalnya."

"Coba lihat AI. Dia entitas non-fisik. AI nggak butuh benda untuk eksistensi fisiknya. Kan gak bisa flexing. Tugas AI cuma berpikir dan berpikir untuk membantu manusia. AI hadir untuk memaksimalkan kerja otak dan nurani kita. Itu selain tamparan satire untuk manusia yang mendewakan materi, juga bukti Kasih Sayang Tuhan untuk kita, asalkan...  

"Lalu hubungannya dengan masa depan kita dan bumi apa, Von?" tukas Rio. 

Alvon menjabarkan argumennya dengan scannable dan runtut: Efisiensi Radikal karena AI membantu efisiensi di segala lini. Biaya produksi turun, sistem tata kelola negara menjadi transparan dan super cepat; Tekanan uang pun berkurang. Jika efisiensi terjadi berkat AI, kebutuhan negara akan perputaran uang yang eksploitatif bisa ditekan...  

"Anggaran negara yang melimpah karena lebih hemat banget setelah ada AI, bisa dialokasikan untuk memberi subsidi/jaminan sosial bagi warganya. Negara tak lagi menarik pajak dari rakyat. Maka, manusia tak perlu lagi kerja rodi 12 jam hanya untuk bertahan hidup. Selain itu, AI pun bisa melakukan Pemulihan Bumi. AI membantu mendesain sistem pengelolaan sampah global. Oksigen kembali bersih dan langit biru lagi." 

"Jadi," Alvon melanjutkan,

"Ketika robot AI menyelesaikan urusan fisik dan administratif, manusia punya waktu luang yang melimpah kan? Untuk apa? Untuk mengisi waktu hanya berpikir tentang teologi filosofis, merawat raga, seni, dan kemanusiaan. Kita kembali ke fitrah sebagai makhluk pemikir karena nafsu tak lagi membelit demi materi. Itu pun agar jiwa kita tenang dan kelak kembali kepada Tuhan pun dengan jiwa yang tenang. 

Rio manggut-manggut, melontarkan pertanyaan, 

"Kalau orang gak kerja karena semua biaya hidup ditanggung negara akibat efisiensi AI, lalu siapa yang akan kaya secara finansial?" 

"Kaum profesional, Yo," jawab Alvon, 

"Mereka yang menekuni bidangnya dengan passion, bukan karena terpaksa cari duit, tapi memang suka. Para ilmuwan, sastrawan, filosof, seniman, psikolog, atau sosiolog yang tekun berpikir. Mereka kaya karena keahlian unik mereka dibutuhkan untuk mengarahkan AI...

"Tapi, kita nggak usah iri, toh kebutuhan dasar kita sudah aman disantuni negara. Kita tak lagi kerja rodi. Kita hanya santai mengagumi bumi yang sudah bersih sambil bersyukur meresapi Kasih Sayang Tuhan. Kukira, sebagai ilmuwan, itulah yang terlintas saat para jenius menciptakan AI."

Viny bersandar di kursinya, menghela napas lega, 

"Gila, ini keren banget. Surga dunia sebenarnya bisa tercipta kalau kita paham isyarat Tuhan lewat hadirnya AI. AI bukan memiskinkan, tapi memerdekakan manusia dari belenggu nafsu ragawi."

"Jangan-jangan, ini jawaban Tuhan atas pertanyaan malaikat, 'Bagaimana jika manusia merusak bumi? Lalu dijawab, 'Aku lebih tahu? AI- kah jawabannya?" gumam Viny yang juga mahasiswi filsafat, teman sekelas Mevy.

Alvon tersenyum misterius, lalu menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi. 

"Kini bolanya ada di tangan para penguasa. Cetak biru dunianya sudah ada lewat teknologi AI. Pertanyaannya sekarang cuma satu,

"Para penguasa mau mikir hal ini nggak? Mau menurunkan ego demi rakyat atau malah menindas rakyat dalam perbudakan mental gaya baru?"sahut Rio 

"Asalkan... "

"Dua kali Kamu mengatakan 'asalkan'. Katakan, Von. "ujar Rio. 

"Jangan salahkan penguasa dong. Mereka menjadi penguasa kan atas izin kita. Kita yang memilih mereka. Peduli tidaknya pada nasib kita kelak dengan adanya AI, efisiensi keuangan dinikmati sendiri dengan para kroni atau untuk memberi santunan kepada rakyatnya, itu terserah kita. Toh kita yang memilih. " 

Angin semilir dari pohon mangga. Beberapa bunga rontok membawa butiran buah yang masih kecil. 

"Kok diam? "suara Rio terdengar setelah beberapa saat mereka berselancar dengan pikiran masing-masing. 

"Mungkin Tuhan mulai bosan. Melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa... " Mevy malah memutar lagu Ebiet G. Ade dari video HP lalu ikut bersenandung lirih. 

"Kok sedih? "

"Lalu harus bagaimana lagi? Pemilih kan bukan cuma kita?! "

"Manusia tentu bisa memilih pemimpin yang peduli pada mereka. Tenang saja. Tuhan bersama kita."

"Gua mendadak cemas, Von. Gimana kalau kelak dunia ini dipimpin oleh penguasa yang zalim? Gimana kalau AI ini tiba-tiba dihapus dari publik, atau aksesnya ditutup total bagi orang biasa kayak kita, dan cuma dimonopoli oleh kaum elit yang kaya raya aja? Sedih banget rasanya kalau keindahan berpikir dan ruang kreatif ini direnggut cuma buat kepentingan politik mereka." 

Alvon terdiam sejenak, meresapi kecemasan Mevy. Ia lalu memutar-mutar cangkir kopinya yang tinggal setengah, mencoba merangkai logika filosofis untuk menenangkan Mevy. 

"Kecemasan itu sangat valid, Mev. Secara sosiologi politik, penguasa memang selalu punya nafsu mengontrol alat produksi pengetahuan," kata Alvon menenangkan.

"Tapi, kita harus ingat karakteristik teknologi modern. AI sekarang itu sifatnya desentralistik lewat gerakan open-source. Ribuan peretas dan ilmuwan di seluruh dunia sudah menyebarkan kode-kodenya. Sekali ilmu pengetahuan bocor ke internet, penguasa sezalim apa pun gak akan pernah bisa menghapusnya secara total."

"Tapi tetap aja, Von, mereka bisa bikin versi gratisannya jadi 'stagnan', lalu menjual versi pintarnya dengan harga selangit yang cuma bisa dibeli konglomerat," sanggah Mevy, masih diliputi kekhawatiran." 

"Betul, skenario pembatasan atau gatekeeping itu mungkin terjadi," Alvon mengiyakan. "Tapi ilmu yang telah Kauperoleh tidak hilang kan? "

"Jangan cemas dan harus selalu optimis... 

"Ini data dari AI, bahwa beberapa pemda di Indonesia telah menerapkan AI dan teknologi digital untuk hemat anggaran layanan publik, demi memastikan bantuan sosial sampai ke masyarakat tanpa potongan. Keberhasilan integrasi teknologi tersebut meliputi beberapa wilayah percontohan, misalnya, Banyuwangi terpilih sebagai pilot project nasional pertama dalam digitalisasi Bansos, yang mempercepat proses verifikasi data mandiri bagi penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT)."

"Model sukses dari Banyuwangi ini sedang direplikasi ke 42 kabupaten/kota lainnya sebelum diluncurkan secara nasional oleh Presiden. Surabaya pun menjadi kota pertama yang meraih predikat SAKIP "AA" .Efisiensi anggaran yang luar biasa. Hasil hemat dari efisiensi tersebut langsung dialihkan mendanai program Padat Karya."

"Sistem tata kelola daerah di atas membuktikan bahwa penggunaan teknologi secara bijak, mampu memangkas anggaran birokrasi dan dialihkan langsung menjadi manfaat nyata bagi masyarakat dan telah diterapkan di negeri kita tercinta ini. Maka, Optimislah demi masa depan yang lebih baik. Tuhan bersama kita."

Gerimis mulai turun setelah mendung bergelayut sore itu Mereka berdiri mengakhiri diskusi. Alvon setelah menutup gawai, mencuci cangkir kopi yang dibawanya dari rumah di wastafel, memasukkan ke dalam tas, bergegas menyusul teman-temannya ke tempat parkir. 

Sebelumnya 

Daftar Isi 

Selanjutnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak