Mevy yang akhirnya sering menemui Alin di kantornya, untuk obrolan terkait penelitian, memecah keheningan.
"Kak Alin, dari hasil obrolan Alvon, kak Alin dicurigai penggila penampilan untuk flexing ya. Memang busana bermerk apa saja yang pernah Kak Alin tampilkan? Ada akun khusus busana? "
"Itu prasangka buruk atau apresiasi tanpa sadar, bahwa Kak Alin memang tampak lebih muda dari usia? Lalu dianggap terobsesi pamer?"lanjutnya.
Alin menghela napas,
"Begitulah. Padahal senada seirama dengan Low of Attraction, pamer pun potensial menyulut penyakit ain. Mana berani aku asal posting."
"Kak Alin percaya? "
Mevy menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Alin dengan binar mata khas mahasiswi Filsafat yang sedang menyibak sebuah misteri kehidupan. Sementara itu, Alvon, dengan ketenangan sosiolognya, bersandar santai memutar-mutar ponselnya.
Melihat ekspresi Mevy, ingatan Alvon melayang ke masa awal sebagai mahasiswa baru. Mevy, selalu punya gaya khas setiap kali ruang diskusi mulai memanas. Baginya, jurusan yang sering dituduh "sesat" ini justru merupakan seni membedah misteri dan dogma lewat pisau logika. Saat berargumen, lagaknya mengenangkan pada Ibnu Sina atau René Descartes, dua pemikir lintas zaman yang mencari jejak Tuhan lewat penalaran murni.
Bagi Mevy, skeptisisme itu tidak salah. Bukankah Nabi Ibrahim pun melakukan pencarian spiritual melalui pengamatan logis terhadap bulan, bintang, dan matahari, sebelum mengobrak-abrik patung-patung istana Raja Namrudz sebagai sindiran?
Namun, suasana kelas mendadak gerah ketika Alvon, melempar senyum meremehkan "Buat apa repot-repot berfilsafat cari Tuhan pakai logika kuno?" ejek Alvon sengaja memancing emosi Mevy,
"Sains modern sudah membelah dunia jadi dua kubu fisikawan. Albert Einstein yang percaya adanya Tuhan, terkait keteraturan kosmos. Namun, Stephen Hawking malah menganggap pencipta tidak ada, karena hukum fisika seperti gravitasi sudah cukup membuat alam semesta ada dari tiada. Di era AI, filsafat itu cuma dongeng usang yang kalah cepat dibanding algoritma. Masa depan itu milik kode biner, Mev, bukan teka-teki moral!"
Mevy menatap Alvon dengan tajam, bersiap membedah argumen cowok di depannya itu,
"Kamu pikir AI bisa menggantikan segalanya, Von?" balas Mevy tajam,
"Einstein dan Hawking berargumen pakai apa kalau bukan pakai filsafat berpikir? AI memang pintar mengolah jutaan data dalam sekejap. Tapi, AI hanya meniru cara kerja otak, bukan kesadaran manusia. AI bisa menghitung probabilitas apa saja, tapi tak tahu rasa berduka. Saat sains dan teknologi sibuk menjelaskan bagaimana dunia bekerja, filsafatlah yang menetapkan batas sejauh mana teknologi boleh mengontrol hidup kita!"
Perdebatan yang makin panas itu dipotong oleh ketukan meja dari Fahri, senior mereka
"Alvon,"
"Terkait Einstein vs Hawking, tak usah berdebat. Kita tetap Pancasilais.Kita rangkul keduanya dengan pemahaman bahwa Hukum Fisika yang dikagumi Hawking bisa jadi merupakan cara kerja dari kecerdasan agung (Tuhan) yang diyakini ada oleh Einstein. Justru era AI, filsafat dibutuhkan. AI tidak punya kesadaran moral, tidak mengerti keadilan, atau arti penderitaan. Tanpa landasan etika dari filsafat, teknologi hanya akan menjadi monster pintar tanpa jiwa dan etika, " Alvon terdiam, menatap Mevy yang tersenyum penuh kemenangan.
Ada kejengkelan di wajah Alvon. Namun, ada rasa kagum yang diam-diam mulai tumbuh di hatinya terhadap ketajaman berpikir gadis itu. Itulah awal getaran aneh yang kelak mengubah rivalitas mereka menjadi jalinan asmara. Bagi Mevy, ilmunya ternyata tidak hanya menjadi benteng terakhir kemanusiaan, tapi juga berhasil menaklukkan logika kaku seorang Alvon.
"Kak Alin, aku masih belum habis pikir. Law of Attraction (LoA). kenapa manifestasi Kakak justru tembus lewat mode sedih?"
"Nah! Di situ poin sosiologis dan psikologisnya . Banyak orang gagal paham tentang LoA karena mereka belajar dari buku-buku populer entah dari Barat atau mana pun itu yang terlalu mendewakan ambisi ego? "
"Mereka pikir LoA itu adalah menggebu-gebu, memvisualisasikan mobil mewah setiap hari dengan otot pikiran. Padahal, dalam teori vibrasi energi, ambisi yang terlalu agresif itu justru memancarkan frekuensi scarcity. Frekuensi bahwa kita 'sangat kekurangan' dan 'sangat butuh'. Akibatnya, semesta justru merespons dengan menjauhkan objek itu."
"Maksudmu, Von, mode sedihnya Kak Alin itu justru berada di frekuensi yang benar?"
"Bukan sedihnya, Mev, tapi surrender-nya. Kepasrahan totalnya. Ketika Kak Alin memilih berbakti pada orang tua "birrul walidain" untuk menjadi guru meskipun bergaji kecil, Kak Alin sedang melakukan pembersihan ego skala besar. Kak Alin menurunkan ego intelektualnya demi menyelaraskan diri dengan rida orang tua. "
"Begitu ego itu runtuh, mental block di kepala Kak Alin hilang. Doa Kak Alin meluncur murni dari jiwa yang kosong terbebas dari keserakahan. Maka, otak Kak Alin secara tidak sadar mengaktifkan Reticular Activating System (RAS), filter canggih di otak yang membuat Kak Alin mendadak sangat peka melihat peluang lomba LKTI Guru Nasional itu. Itu bukan sihir, itu adalah kerja sinergi antara rida Illahi, energi pasrah, dan ketajaman neokorteks."
"Betul, Von. Waktu aku menulis LKTI itu, sama sekali tidak berpikir menang atau pamer.
Fokusku murni pada kualitas konten dan bagaimana metodologiku bisa membantu meringankan beban muridku. Yang terlintas hanya suka dan ikhlas meskipun pulang malam karena harus ngetik dan ngeprint di warnet.
"Berlawanan dengan kisah ini kan? Karyawan muda, pintar, dan aktif di media sosial. Sejak awal tahun, terobsesi naik jabatan. Maka, setiap hari, yang dibayangkan adalah jika menang ingin beli mobil baru, mau menunjukkan kerja keras ke semua kenalan bahwa dia sukses. Dia ikut tiga kompetisi sekaligus. Anehnya, semuanya gugur , bahkan isi presentasinya dianggap tanpa landasan ilmu yang relevan hanya bermodal percaya diri dan ambisi. Kini, ia stres berat, sering jatuh sakit tak jelas sebabnya. Bikin orang berargumen macem-macem. Kerasukan jin, kek. Di ambang gila, kek."
"Begitulah hukum keseimbangan alam. Orang tersebut bergerak dengan energi insecurity, rasa tidak aman yang dibungkus dengan nafsu pamer "flexing". Ketika niat dasarnya mencari validasi dengan cara membuat orang lain merasa lebih kecil, merasa pedih hati, kita sedang menabung racun tak terlihat. Ini ada hubungan linier dengan pertanyaan Mevy tentang penyakit Ain."
"Ini menarik. Aku sedang menyusun Bab 4 draf skripsiku tentang kewaspadaan psikologis Gen Z. Bagaimana sosiologi dan filsafat menjelaskan korelasi antara flexing di media sosial, hukum LoA yang berbalik arah, dan penyakit Ain yang dalam teologi Islam disebut nyata adanya?"
"Mev, mari kita bedah Ain dari sudut pandang bioenergi dan sosiologi masyarakat digital. Ain secara leksikal bahasa artinya mata. Secara teologis, ia semacam kerusakan atau mudarat dari pandangan mata yang disertai rasa iri, dengki, atau bahkan rasa kagum namun pedih dan kosong dari mengingat kebesaran Tuhan. Nah, bagaimana mekanisme flexing pada media sosial?"
"Aku sering membaca hadis bahwa Ain itu nyata. Bisa membuat unta masuk ke dalam panci, atau membuat manusia masuk ke dalam kubur. Tapi bagaimana penjelasannya kalau ditarik ke ruang digital kita sekarang, Von? Pemahaman berdasarkan pengalaman saja deh."
"Bayangkan begini, Kak Alin, Mev. Di era modern, kaum flexing suka sekali memamerkan kemewahan. Mobil mewah, tumpukan uang, liburan mahal, keluarga bahagia, anak-anak ceria, atau pencapaian yang sengaja dicitrakan tanpa cela. Konten itu dilempar ke algoritma media sosial dan ditonton oleh jutaan orang."
"Di antara jutaan penonton itu, tidak semua orang sedang baik-baik saja. Ada bapak-bapak yang baru saja kena PHK dan bingung besok anaknya makan apa. Ada ibu muda yang bayinya sedang stunting karena tidak mampu beli susu formula. Ada guru honorer tua yang gajinya macet tiga bulan."
"Dan mereka melihat konten pamer itu..."
"Tepat. Jika mereka menghujat, layak disyukuri itu, bisa dipastikan tak akan berdampak kepada si pamer. Ada balita diposting, lalu dihujat. Eh, malah cantik, gemoy, gemesin, pinter pula, kan? Tapi, ada yang tidak menghujat, tidak mengetik kata-kata kasar demi rasa santun dan beradab, cuma diam. Tapi di dalam diam mereka, hati mengaduh, mengeluh, dan ngenes. Mereka membatin dengan dada yang sesak: 'Ya Allah, ngenesnya nasibku. Mengapa Engkau tega padaku? Mengapa orang itu hidupnya mudah sekali ya, sementara aku untuk bertahan hidup besok saja harus berdarah-darah.' Rasa ngenes, perih, dan iri yang tertahan dari ribuan orang yang tertekan dalam diam, itu bukanlah diam. Itu adalah emosi negatif tingkat tinggi."
"Astaghfirullah... Jadi emosi negatif yang tertahan itu memancar?"
"Secara kuantum, ya. Rasa ngenes kolektif itu berubah menjadi akumulasi proyektil energi negatif yang ditembakkan secara tidak sadar oleh massa menuju satu titik yaitu si pemilik akun yang pamer tadi.
Si pemilik akun, jika jiwanya kosong, sehingga butuh flexing untuk menutupi kekosongannya, tentu tidak memiliki benteng spiritual yang kuat, kan? Dia tidak punya pelindung berupa zikir, kerendahan hati, atau doa-doa keselamatan Niat flexing pun tak jelas. Semata niat pamer, butuh validasi, atau ada niat edukatif, informatif, estetis, atau malah dendam?"
Jika egonya hanya membisikkan yang penting posting dulu, bahaya, kan? Maka, niat dalam hati sebelum beraktivitas itu harus, kan? Jika tidak, proyektil energi Ain itu bisa saja menembus medan energinya, maka terjadilah benturan berlanjut kehancuran secara fisik maupun sosial."
"Hmmm...Luar biasa... Ini menjelaskan kenapa ada saja selebgram atau orang kaya baru yang mendadak terkena skandal besar, bisnisnya tiba-tiba bangkrut misterius, mendadak mengidap penyakit aneh yang tidak terdeteksi medis modern, setelah mereka ugal-ugalan pamer di ruang publik. Begitukah dahsyat runtuhnya sistem imun spiritual akibat serangan Ain dari penonton yang ngenes, ya. "
"Itulah mengapa Islam sangat menekankan kita untuk selalu mengucapkan Masya Allah Tabarakallah ketika melihat keindahan atau kesuksesan, agar energi kekaguman kita disaring oleh nama Tuhan dan tidak berubah menjadi racun Ain bagi orang lain.
"Dan bagi yang diberi nikmat, Islam mengajarkan untuk menyembunyikan sebagian nikmat tersebut, bukan malah diobral semua demi konten tanpa niat demi kebaikan. Toh, niat demi kebaikan, misalnya memotivasi, edukasi, informasi, estetis, tetap bisa menyulut pedih hati orang yang ingin, tapi tak kesampaian karena garis nasibnya memang demikian. Apalagi flexing tanpa niat selain posting sebanyak-banyaknya. Bahaya, kan? "
Mevy meletakkan tabletnya, menarik napas dalam-dalam,
"Von, Kak Alin... diskusi malam ini benar-benar mengunci pemahamanku. Strukturnya sangat lengkap dan ilmiah. Coba bayangkan, ini tentang pandangan mata pun diatur dalam konsep "Ghadhul Bashar" dan mitigasi penyakit Ain. Ini bukan sekadar dogma untuk menakut-nakuti manusia, tapi ini adalah hukum keselamatan psiko-sosial tingkat tinggi!"
Alin tersenyum menatap Mevy
"Jadi, bagaimana draf kesimpulan bab filsafatmu sekarang, Mev?"
"Aku akan menulis bahwa kedaulatan dan keselamatan manusia—terutama perempuan Gen Z—tidak terletak pada seberapa masif memamerkan eksistensi atau seberapa ketat mereka mengikuti standar validasi dunia digital. Keselamatan itu ada pada kekuatan surrender ala kak Alin dulu itu: bergerak dalam sunyi, berbakti pada nilai etis moral yang luhur, menjaga diri tidak menjadi pemicu rasa ngenes hati orang lain. Aku mencoba membacanya secara reading comprehension yang utuh, ternyata larangan flexing demi aman dari penyakit ain itu logis. Sangat logis bagiku. Bagaimana menurutmu?"
Komentar