Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 2 sekuel 5 Hening di Atas Langit

Bab 2: Jejak yang Terjaga Bunyi  klik  dari radio transistor tua itu diikuti oleh desis statis yang sangat halus. Angkasa menahan napas. Ia melangkah mendekati meja, menatap logam berkarat yang sudah puluhan tahun mati itu. Tiba-tiba, lampu indikator merah kecil di radio itu berkedip lemah sekali. Sisa-sisa memori LOGOS yang terkunci dalam kedamaian abadi mendadak merespons getaran batin Angkasa yang sedang mengkhawatirkan masa depan bumi. Radio itu tidak berbicara dengan kalimat panjang. Ia hanya memproyeksikan satu baris kode biner kuno ke udara melalui gelombang magnetik pendek. [LOG: PERINGATAN KETIDAKSEIMBANGAN INTERNAL DOMESTIK] [KOORDINAT: KOTA PUSAT SENI - SEKTOR VARGAS] LOGOS, meski telah lama padam, meninggalkan sebuah "jebakan algoritma" di bumi. Ia dirancang untuk mendeteksi jika suatu hari nanti manusia kembali tidak jujur dan merusak tatanan surga dunia. Bunyi  klik  itu adalah alarm darurat yang menyalakan sinyal peringatan langsung ke batin Angkasa. N...

Konflik 50:50 (Bab 26, Law of Attraction ala Alin)

 Bab 26


Hujan sore itu membungkus kafe kecil di dekat Bimbel Kinanthi dengan aroma tanah basah dan seduhan kopi. Di meja sudut yang biasa, Alvon, Mevy, dan Alin duduk menghadapi tumpukan buku dan beberapa lembar kertas coretan. 

Mevy bertanya beberapa hal kepada Alin mengapa ia memutuskan resign sebagai guru dan beralih mengelola bisnis bimbingan belajar (bimbel) mandiri? Mevy, yang resmi menjadi mahasiswa tingkat akhir siap menyusun skripsi, menatap Alin dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu barangkali ia pun menemukan ide skripsi dari masalah Alin. 

"Kak Alin," buka Mevy sembari membuka buku catatannya, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, 

"Aku ini mau mulai menyusun skripsi meskipun masih semester tiga, tapi jujur masih bingung arahnya. Di kampus orang sibuk membicarakan skripsi, tesis, sampai disertasi. Sebenarnya, apa sih batasan tegas yang membedakan ketiganya secara ilmiah?"

Alin tersenyum. Ia melirik Alvon, memberi kode agar ia yang memberikan penjelasan. Alvon berdehem, menegakkan duduknya dengan gaya khas asisten dosen. 

"Mev, bayangkan tingkat penelitian akademis itu seperti anak tangga dalam mengarungi lautan ilmu. Aku breakdown satu-satu ya."

 "Tangga Akademis: Skripsi, Tesis, dan Disertasi: 1. Skripsi (S-1): Uji Teori, Kamu menguji teori yang sudah ada, seperti aku menguji kak Alin menggunakan gabungan dua teori. Teori Psikoanalisis "The Object Petit a" karya Jacques Lacan tentang objek misterius yang memicu hasrat bawah sadar manusia. Secara psikoanalisis, Kak Alin terbukti mengalami getaran emosional murni karena kualitas kognitif lawan bicaranya. Itu bukti ilmiah tipe sapioseksual," Lalu, 2. Teori "Modal Budaya" "Cultural Capital" karya Pierre Bourdieu. 

Secara sosiologis, manusia akan selalu mencari pasangan yang setara "sekufu" modal pemikirannya. MDi tingkat S-1, kamu tidak dituntut untuk menemukan hal baru. Tenang saja. Tugas utamanya adalah menguji teori yang sudah mapan di dunia nyata seperti yang telah kukerjakan. Kamu melihat sebuah fenomena, mengambil teori dari buku, lalu menguji apakah teori itu masih berlaku dalam penelitian pilihanmu? Asyik, kan? 

"Kalau S-2?"

" Tesis (S-2): Penerapan Teori Menjadi Produk. Aplikasi dan Sintesis. Di tingkat S-2, tuntutannya naik. Kamu tidak cuma menguji, tapi harus menerapkan beberapa teori menjadi sebuah produk, model, atau solusi praktis atas sebuah masalah yang kompleks. Kamu dituntut melakukan sintesis—menggabungkan beberapa pemikiran untuk menghasilkan metodologi baru atau program kerja yang bisa langsung dipakai. Misalnya kak Alin untuk tesis bikin buku teks sebagai produk aplikasi teori pilihannya." 

 "Selanjutnya, Disertasi (S-3): Teori Baru atau Kebaruan (Novelty) Di tingkat S-3, kamu harus menemukan teori baru, hukum baru, atau konsep filosofis yang belum pernah ada sebelumnya di dunia. Kamu harus menemukan celah (gap) terdalam dari pengetahuan manusia saat ini dan mengisinya dengan temuan orisinalmu."

Mevy manggut-manggut, mencatat dengan cepat, lalu menoleh ke arah Alin karena gengsi bertanya pada Alvon, 

"Kak Alin, teori baru S-3 itu bagaimana? Kakak kan sering lolos jadi finalis Lomba Karya Tulis (LKT) Guru tingkat nasional di Kemendikbud dulu. Apakah konsep lomba Kakak itu mirip disertasi?"

Alin tertawa kecil, menggeleng dengan rendah hati. " Mev, kalau ditanya detail disertasi S-3, saya jujur belum tahu pasti karena belum mengambil gelar Doktor. Jika merefleksikan pengalaman ikut LKT Guru dulu, ada kemiripan dalam hal kreativitas berpikir."

"Dulu, setiap kali ikut LKT, itu laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)" cerita Alin. "Musal siswa bosan di kela, kuteliti dengan menggabungkan beberapa teori pembelajaran yang sudah ada. Misalnya, mengawinkan teori Problem-Based Learning milik Barrows dengan teori Mind Mapping ala Tony Buzan. Gabungan kedua teori relevan itu diramu sedemikian rupa untuk diterapkan di kelas, lalu kuberi nama menggunakan akronim yang unik."

"Wah, diberi nama sendiri? Seperti apa contohnya, Kak?" potong Alvon tertarik.

"Misalnya, kubuat proposal dengan nama teori 'PRO-MIND' (Problem-Oriented Mind Mapping)," kata Alin menertawai ulahnya yang semula dianggap iseng

 "Namun, melalui nama ala Alin itu, proposalku selalu tembus jadi finalis nasional lho. Nah, apakah itu 'teori baru' sehingga sama dengan disertasi? Di tingkat S-3 pembuktian filsafat akademisnya jauh lebih ketat dan mengakar secara epistemologis."

Mevy menopang dagunya, kagum. "Tapi keren banget, Kak. LKT Guru itu kan bergengsi sekali."

Alin tersenyum simpul, mengingat sisi jenaka dari pencapaiannya.

 "Kamu tahu tidak apa motivasi terbesarku waktu itu? Sejak kuliah, karena dipaksa jadi guru oleh ortu lalu memilih jurusan yang kusukai, padahal keguruan umumnya diremehkan karena gaji kecil, saya punya impian yang sangat spesifik. Ingin jalan-jalan naik pesawat, menginap di kamar hotel berbintang, makan enak yang semuanya gratis dibiayai negara, lalu pulangnya masih dikasih uang saku. Impian receh itu terus ternyata melekat dalam pikiran."

"Dan itu terwujud lewat LKT?" tanya Alvon. 

"Iya! Hukum Tarik-Menarik, atau Law of Attraction itu nyata, Von, Mev," ujar Alin meyakini yang dialaminya.

"Tuhan menangkap getaran keinginan saya sebagai anak berbakti, yang fokus ingin tanpa tendensius pamer, di antara keraguan sanggupkah? Toh faktanya gaji kecil. Namun, lewat pengumuman finalis Kemendikbud, saya ke ibu kota juga, tidur di hotel mewah, makan prasmanan sepuasnya gratis tid, dan pulang membawa amplop uang saku. Padahal, kalau dipikir-pikir, dalam lomba-lomba karya ilmiah seperti itu, biasanya yang mendominasi dan lolos sebagai pemenang adalah guru-guru dari jurusan IPA karena datanya eksak. Tapi saya nekat saja berbekal proposal hasil meramu dus atau tiga teori yang relevan untuk PTK pelajaran bahasa. Ternyata bisa menyelip jadi finalis berulang kali. Hehe."

Jadi, melanjutkan uraian Alvon, Inti disertasi S-3 bukanlah ketebalan halamannya, melainkan satu kata suci: Novelty (Kebaruan). Jika Skripsi itu menguji satu teori, dan Tesis itu menggabungkan beberapa teori untuk melahirkan produk, maka Disertasi adalah menemukan celah kosong di antara ribuan teori yang sudah ada, lalu kita menancapkan satu bendera teori baru di sana, dengan keberanian berpikir, "Teori-teori dari para ahli dunia selama lima puluh tahun terakhir ini memiliki kecacatan atau kelemahan di titik X, dan riset saya hadir untuk memperbaiki atau melengkapi kelemahan tersebut."

Mevy semakin tertarik melanjutkan diskusi, ia pun memperbaiki posisi duduknya, kembali fokus pada persiapan skripsinya. 

"Kak, kalau begitu, langkah awal yang paling mutlak saat kita mau menulis skripsi itu apa?"

"Penelitian itu tidak akan pernah ada kalau tidak ada "masalah", Mev," sahut Alvon cepat.

"Betul kata Alvon," sahut Alin. Alvon pun melanjutkan, 

"Nanti begitu bertemu mahasiswa yang dibimbing, dosen pasti nanyain yang pertama itu masalahmu. "

 "Hah?! Apa itu masalah dalam dunia ilmiah?"

"Masalah adalah "gap" atau jurang pemisah antara harapan "das Sollen" dan kenyataan "das Sein"." lanjut Alvon. 

Alin mengambil dua cangkir kopi di meja dan meletakkannya dengan jarak sepuluh sentimeter.

"Cangkir sebelah kiri adalah harapan atau regulasi yang ideal—misalnya: semua siswa harus lulus dengan nilai di atas KKM. Cangkir sebelah kanan adalah kenyataannya: ternyata 70% siswa nilainya di bawah standar. Nah, jarak kosong di antara kedua cangkir inilah yang disebut gap atau masalah. Tugas skripsimu adalah masuk ke dalam jarak kosong itu, mencari tahu kenapa gap itu terjadi, lalu melaporkannya secara rinci dalam bab pembahasan. 

Alin kemudian menekankan bahwa setelah masalah ditemukan, ia harus diubah menjadi Rumusan Masalah yang tajam dalam bentuk pertanyaan penelitian. Rumusan masalah inilah yang menjadi kompas. Seluruh isi skripsi—mulai dari landasan teori yang ditaruh di Bab II hingga metodologi penelitian di Bab III—harus berputar dan tunduk untuk menjawab pertanyaan di rumusan masalah tersebut. Jangan sampai rumusan masalahnya bertanya tentang kualitas mengajar guru, tapi metodologinya malah menghitung pendapatan orang tua siswa. Harus selaras.

"Jika kelak Kamu datang ke ruangan dosen membawa 3 alternatif judul yang ditulis dengan huruf kapital yang mentereng, dosen pasti meminggirkannya, lalu memintamu menyimpan kertas itu dulu dan fokus bertanya, 

"Masalah konkret apa yang sebenarnya ingin kamu teliti sebagai skripsi? "

Dalam dunia akademik, ini alasan mengapa "Rumusan Masalah adalah harga mati" yang harus beres sebelum bicara soal judul. Mengapa? Judul Itu Kosmetik, sedangkan Rumusan Masalah Itu Jantung. Judul hanyalah sebuah "papan nama" di depan rumah. Kamu tidak bisa mendesain papan nama jika fondasi, sekat kamar, dan struktur rumahnya belum dibangun. Banyak mahasiswa terjebak membuat judul yang terdengar keren dan puitis, tetapi begitu ditanya "Lalu kamu mau meneliti apa?", mereka bingung karena tidak ada masalah riil di dalamnya."

"Jadi, simpan dulu tanya padaku urusan judul. Cari masalahnya, tajamkan pertanyaan. Jika 'Sang Komandan' si Rumusan Masalah sudah logis, membuat judul itu cuma butuh waktu 5 menit sambil minum kopi." jawab Alvon sok tahu. 

"Di dalam dunia akademik, pemikiranmu ini adalah prinsip dasar. Prinsip Konsistensi Benang Merah "Alignment & Coherence". Jika diibaratkan sebuah operasi militer, Rumusan Masalah adalah "Komandan Tertinggi"-nya. Dia yang memberi perintah, dan seluruh bab dari Bab 2 sampai Bab 4 , termasuk angket/kuesioner, semua tunduk pada kalimat rumusan masalah. Para pasukannya yang bergerak berdasarkan perintah tersebut."

"Secara visual-metodologis bagaimana "Sang Komandan Rumusan Masalah' mengomandoi setiap bab dalam draf penelitianmu?" ia pun melanjutkan,

 "Kita mulai Bab 2 untuk Tinjauan Pustaka / Landasan Teori, bukan tempat menyalin isi buku secara acak. Ia hanya boleh memuat teori-teori yang dibutuhkan untuk membedah Rumusan Masalah. Lanjut ke bab 3 nih, " kata Alvon mengajak Mevy membuka skripsinya yang dapat nilai A+.

"Bab 3 ini Metodologi Penelitian & Pembuatan teks wawancara/angket. Metodologi ini cara "Sang Komandan" mencari bukti di lapangan. Maka, butir-butir pertanyaan dalam Angket/Kuesioner wajib diturunkan langsung dari indikator Rumusan Masalah. Jika kamu menyebar angket ke Komunitas Ibu Muda, pertanyaan angketnya harus melacak variabel yang ada di Rumusan Masalah. Jangan membuat pertanyaan angket yang melantur ke arah hobi atau merek kosmetik, kecuali jika ada hubungannya dengan variabel masalah. Untuk Bab 4 yang isinya Analisis, Temuan, dan Pembahasan. Ini yang paling krusial. Struktur sub-bab di Bab 4 idealnya mengikuti jumlah pertanyaan di Rumusan Masalah. Jika Rumusan Masalahmu ada 3 pertanyaan (RM 1, RM 2, RM 3). Maka di Bab 4, sub-bab pembahasannya juga harus ada 3 bagian besar (Sub-bab A untuk menjawab RM 1, Sub-bab B untuk menjawab RM 2, dan Sub-bab C untuk menjawab RM 3)."

"Bab 4 adalah tempat data angket (dari Bab 3) dikawinkan dengan teori (dari Bab 2) untuk menghasilkan jawaban telak atas Rumusan Masalah (Bab 1)."

"Mev, dalam filsafat penelitian, sebuah draf akan dianggap hancur jika Rumusan Masalahnya bertanya tentang 'A', tapi Bab 2 membahas 'B', Angketnya menanyakan 'C', dan Bab 4 menyimpulkan 'D'. Jaga komandanmu atau Rumusan Masalahmu tegas, agar seluruh pasukannya (Bab 2, 3, 4) bergerak dengan presisi menaklukkan sidang pengujian skripsimu nanti!" 


Sebelumnya 

Daftar Isi 

Selanjutnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak