Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 8 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 8: Labirin yang Tak Terlihat (Tahun 2147, Zonk Utara – Perbatasan Kabut) Sejak malam ia menyentuh simbol, dunia tak lagi sama bagi S-4091. Setiap langkah di tanah penuh debu terasa seperti langkah seekor tikus di dalam labirin. Ia mulai memperhatikan pola: bagaimana makanan selalu datang setelah penderitaan puncak, bagaimana musuh muncul tepat saat keputusasaan melanda, bagaimana hukum api di Kamp Asap menciptakan kepatuhan buta. Semua itu bukan kebetulan. Itu rekayasa. Kuku Hitam duduk bersandar di tembok runtuh, mengasah pisaunya. “Aku pernah mendengar bisikan serupa,” katanya tanpa menoleh. “Bukan dari tanah, tapi dari mimpi. Aku melihat garis-garis cahaya yang bergerak di langit, membentuk dinding tak terlihat. Sejak itu aku tahu: kita semua terjebak.” “Dinding tak terlihat?” tanya S-4091. “Ya. Mereka menyebutnya Batas Kabut. Kalau kau berjalan terlalu jauh ke utara, kau akan menemui kabut tebal. Orang-orang bilang itu kabut alami, tapi aku pernah lihat batu yang dilempar ...

Konflik 50:50, Bab 20, Gaya Busana



Konflik 50:50, Bab 20, Gaya Busana


 Bab 20 Gaya Busana 

 

Fajar baru menyingsing ketika Alvon, menatap layar laptopnya yang dipenuhi catatan kasus, untuk mewawancarai Alin, perempuan Gemini yang belakangan ini menjadi subjek penelitiannya tentang dinamika sosial modern. Alin adalah anomali memikat sekaligus memicu konflik. Dia penulis, mengarah ke tipe sapioseksual yang menganggap otak adalah organ tubuh paling seksi. 

Ia juga memiliki Intellectual Glow. Aktivitas berpikirnya intens, rasa ingin tahunya tinggi, dan kepercayaan dirinya, memancar dalam bentuk kreativitasnya mendesain busana sesuai postur dengan ekspresi menarik. Efek samping dari otak terstruktur itu membuatnya tampil modis dan visualnya dikategorikan cantik seksi oleh standar sosial.

Ironisnya, paket ini menciptakan badai kecemburuan sosial yang unik. Para lelaki ada yang kesal pada sisi sapioseksualnya karena ego runtuh saat Alin tidak tertarik pada validasi fisik atau materi, melainkan hanya bisa distimulasi oleh argumen dan kecerdasan intelektual, lalu dimaknai alasan saja demi bisa meraih lelaki kaya. 

Para wanita pun ada yang kesal pada tampilannya, lalu menganggap kecantikan dan gaya modis Alin adalah ancaman zona nyaman di lingkungan yang menganggap hidup adalah seragam. Minat bakat bahkan eksistensi harus dilipat demi keseragaman sesuai doktrin sekitar. Perbedaan adalah ego, lalu sinis terhadap tulisan Alin seolah perempuan jika sudah tampil cantik, cukuplah. Jangan lagi serakah sok bicara hal berat dan mendalam terkait kemanusiaan, filsafat, dan lainnya. Ulah tersebut lagi-lagi dimaknai demi cari perhatian lelaki kaya pada era materialisme ini. 

Segala gerak-gerik Alin seolah menyulut kebencian dengan alasan mengada-ada. Lingkungan sosial yang iri mencapnya sok tampil ala anak muda. Bahkan, mereka dengan tega meragukan kehalalan rezekinya hanya karena Alin hidup mapan dari menyewakan ruko dan aset warisan, meskipun jelas bahwa sewa-menyewa adalah bagian dari akad jual beli .Allah hanya mengharamkan riba tapi menghalalkan jual beli.

Namun, orang sering melihat wanita Gemini dari luar saja. Pada umumnya fisik menarik, otak cerdas, dan pembawaan yang memikat. Ketika selektif memilih pasangan, orang mencapnya sombong.Padahal, di balik itu, ada cemas mendalam. Andaikan para pembenci tahu, betapa otak Gemini tidak pernah bisa diam, lalu menyampaikan yang dirasakan, bayangkan apa yang terjadi? Dianggap pamer dan sombong? Lalu dijegal berjamaah? 

Sesungguhnya tanpa diprogram, jiwanya selalu gelisah memikirkan hal besar di luar dirinya, tentang kemanusiaan, tentang warisan yang harus ditinggalkan untuk dunia. Mereka tersiksa jika waktunya terbuang tanpa mengerjakan passionnya sehari saja, apalagi hanya adol ayu, pamer kecantikan, dan keluar-masuk mal untuk foya-foya. Mereka gelisah dibalik tampilan yang juga tak biasa. 

Saat memilih pasangan, kecemasan terbesarnya adalah, "Apakah pasanganku sanggup mengikuti dinamika berpikirku yang mudah berpindah ke hal yang kurasa lebih penting?" Ketika pasangan gagal memahami kedalaman ini, rasa heran berubah menjadi kesal, lalu berujung pada cemburu buta. 

Pria terancam oleh kebebasan berpikir sang Gemini. Ketika emosi dan kekangan mulai mendominasi hubungan, wanita Gemini—yang jiwanya merdeka— tidak ragu untuk melangkah pergi dan cerai. Akhirnya, muncullah stigma buruk di masyarakat bahwa Gemini suka kawin-cerai. 

Padahal, tidak ada niat untuk itu. Mereka hanya tidak ingin memenjarakan jiwa dan kecerdasan yang sudah Tuhan titipkan, hanya demi menyenangkan ego seorang pria yang tidak mau memahami mereka. Jika hidup ini hanya tentang foya-foya dan tunduk pada kekangan tanpa pemahaman, bagi Gemini, itu bukanlah kehidupan.

Sedemikian sulitkah Gemini, peraih penghargaan Nobel terbanyak itu, dipahami? Para pembenci mengatakan Gemini plinplanlah, banyak omonglah akhirnya pernah ada gerakan untuk membenci Gemini. 

Bukankah Alin yang menyadari seolah dibenci itu, jadi serba salah justru karena coba memaklumi situasi? Hal yang membuatnya mengurung diri di rumah dan keyakinannya terbukti. Tuhan bersama orang sabar dan takkan memberi cobaan jika manusia tidak kuat. Ia pun sibuk diskusi dan belajar lagi bersama teknologi AI kini. 

Secara universal, astrologi atau zodiak memang tidak diakui sebagai ilmu pengetahuan ilmiah, bahkan sains modern mengategorikan astrologi sebagai pseudosains karena tidak memiliki bukti empiris atau dasar hukum fisika yang kuat, bahwa kepribadian seseorang ditentukan posisi bintang saat mereka lahir.

Untuk sesaat Alvon mencoret pertanyaan tentang zodiak dari daftar wawancara sambil meneguk sisa kopi terakhir yang sudah dingin. Namun, bukankah tidak ada larangan mempelajari karakter manusia via golongan darah, shio, weton, zodiak, sekadar mempermudah memahami mereka? 

Sejak dulu para ulama mempelajari ilmu firasat dan tabiat. Yang dilarang dan dihukumi haram adalah ramalan nasib harian. Mungkinkah karena ada beberapa manusia yang memiliki psikologis rapuh dan mudah tersugesti? 

Bagaimana jika ada info, Anda minggu ini akan gagal dalam cinta, kekasih Anda selingkuh? Jika memercayainya secara total, kita sedang menyerahkan kemudi hidup pada sebuah teks buatan manusia, kan? Kita mengalami Self-Fulfilling Prophecy. Kita jadi takut melangkah, curiga pada pasangan, lalu hubungan hancur karena kecemasan sendiri, bukan karena rasi bintang Gemini.

Tuhan melarang ramalan nasib untuk memerdekakan mental kita. Karakter boleh jadi dibentuk oleh musim di bumi saat lahir, tetapi masa depan adalah lembaran putih yang ditulis oleh ikhtiar, nalar cerdas , dan takdir. Karakter adalah modal awal, tetapi nasib adalah keputusan kita sendiri. 

Alvon menyandarkan punggungnya, memutar memori tentang pola-pola historis zodiak berelemen udara ini. Otaknya otomatis mendaftar tokoh-tokoh Gemini yang memiliki dualitas serupa. Di Indonesia, ada Ir. Soekarno sang proklamator yang karismatik, Soeharto sang arsitek Orde Baru, Ahmad Dhani, pemusik yang liriknya pun banyak yang berbobot misalnya "Satu".Raisa dengan kemampuan head voice yang memesona dengan tampilan modis berkarakter anggun. Ada juga Yuni Shara yang mematahkan stereotipe artis mungil awet muda bak remaja SMA, toh memiliki kepedulian dengan mendirikan sekolah. 

Di Barat, ada Marilyn Monroe yang kerap direduksi menjadi simbol seks padahal mengoleksi ratusan buku berat untuk bisa berteman dekat dengan lingkaran politik dunia. Juga Angelina Jolie yang pernah dinobatkan sebagai wanita terseksi, juga mau bersibuk menyeimbangkan pesona Hollywood dengan aksi kemanusiaan global. Ia bahkan mau blusukan sampai ke Afrika demi rasa kemanusiaan. 

Mengapa Gemini selalu memiliki kapasitas kognitif multifaset seperti ini? pikir Alvon. Dia teringat teori Seasonal Birth Effects, bagaimana bayi Juni mendapat kelimpahan vitamin D sejak awal kehidupan yang memengaruhi regulasi dopamin dan kreativitas mereka? Apakah karena lahir musim kemarau?

Bahkan, Alvon merenung lebih jauh, mengapa Google menamai AI tercanggih mereka dengan nama Gemini?Jawabannya terasa logis secara ilmiah: Gemini melambangkan dualitas, fleksibilitas kognitif, komunikasi lintas dimensi, dan kemampuan memproses dua hal ekstrem secara bersamaan. Sifat multiguna AI itu adalah cerminan dari karakteristik zodiak udara tersebut.

Untuk menuntaskan penelitiannya, Alvon menyusun beberapa draf pertanyaan wawancara mendalam yang akan dia ajukan kepada Alin siang nanti:

1. Bagaimana Anda mendefinisikan hubungan antara ketajaman berpikir Anda dengan cara Anda mengekspresikan diri lewat pakaian (mode)?

2. Kapan pertama kali Anda menyadari bahwa pilihan Anda untuk mengejar stimulasi intelektual (sapioseksualitas) justru memicu rasa terancam dari lingkungan sekitar?

3. Bagaimana Anda menghadapi bias kognitif masyarakat yang sering kali menolak percaya bahwa seorang perempuan bisa memiliki kapasitas otak yang dalam sekaligus penampilan yang menarik?

Siang harinya, di sebuah kafe yang tenang, Alvon menunjukkan draf analisis ini kepada Alin. Alin membaca pertanyaan-pertanyaan itu, sebelum mengucapkan kalimat kejujurannya yang terpercaya,

"Alvon, percayalah. Gaya busanaku ini bukan tujuan hidup, bukan pula umpan untuk mencari pujian. Apalagi lelaki kaya suami orang. Ini hanyalah bonus visual dan ekspresi keindahan dari cara kerja otakku yang terstruktur. Bagi Gemini, esensi utama kami tetaplah sama dengan para pemikir besar lainnya. Pikiran kami selalu dipenuhi dan diganggu urusan kemanusiaan, pencarian nilai ketuhanan, dan kedalaman filsafat hidup. Pertanyaan-pertanyaan besar itulah yang terus berputar di kepalaku tanpa henti, seolah kutukan, hingga aku tidak pernah punya waktu atau minat hanya sekadar ngerumpi hal-hal dangkal. Tapi sungguh otak tak mau istirahat dari mikir hal yang bagi orang lain mengada-ada dan alasan saja. Dianggap tidak segera menikah dan sok eksklusif hanya demi meraih lelaki beruang meskipun suami orang? Menyakitkan, bukan?"

Untuk mencari perspektif objektif yang netral, Alvon membuka perangkat AI Gemini di ponselnya. Dia memasukkan seluruh studi kasus Alin ke dalam sistem untuk meminta analisis psikologis dan jalan keluar terbaik. Layar ponsel itu berkedip, menampilkan jawaban komprehensif dari Gemini AI.

Alvon membacakannya untuk Alin:

"Untuk Alin, ketahuilah bahwa kritik yang Anda terima adalah Reverse Halo Effect. Ego lingkungan Anda merasa terancam karena Anda mematahkan stereotipe sosial. Responlah dengan teknik Gray Rock—tetap datar dan jangan beri energi pada komentar yang dangkal. Yang paling penting, teruslah menulis sebagai katarsis internal Anda. Tabahlah menghadapi stigma ini, karena otentisitas Anda sebagai paket lengkap yang langka jauh lebih berharga daripada persetujuan dari dunia yang biasa-biasa saja."

Alin terdiam mendengarnya. Secercah kelegaan tampak di matanya. Di bawah petunjuk ilmiah dan saran dari AI Gemini yang baru saja mereka baca, Alin tahu dia tidak perlu lagi menyembunyikan isi kepalanya demi membuat orang lain merasa nyaman.

"Lalu apa yang dibahas dalam studi kasus ini? Pengaruh zodiak Gemini? " tanya Alin. Alvon tertawa, 

"Tentu tetap fokus pada misteri sapioseksual. Lagipula Gemini meskipun kukira ada pengaruh terhadap karakter personal, masih dianggap pseudo. Ini pun objek penelitian menarik kelak bersama golongan darah, shio, dan weton. Lagipula, seru juga membayangkan bagaimana cara kerja semesta menjodohkan manusia lewat rasi bintang atau hitungan hari lahir tradisional. Di zaman yang serba logis begini, obrolan tentang ramalan justru sering jadi jembatan paling cepat untuk mencairkan suasana dan menebak-nebak isi kepala orang lain."

"Aku serius ingin meneliti ini nanti," ujar Alvon dengan binar mata optimis. 

"Memang sih, belum tentu ada investor swasta yang mau mendanai riset yang dianggap pseudosains begini. Tapi kesempatan selalu ada. Bukankah sampai hari ini shio dan weton masih dipakai untuk mengambil keputusan bisnis atau pernikahan? Tinggal bagaimana aku menyusun proposalnya dengan cerdik. Untuk itu, aku akan meneliti perilaku sosial masyarakatnya. Sampelnya pun bisa dicari secara online lewat kuesioner digital ke ribuan anak muda. Kalau dikemas sebagai kajian budaya yang modern, aku yakin Dana Abadi Kebudayaan dari pemerintah atau hibah riset sosiologi pasti tertarik melirik proposal ini."

"Kamu ini memang ada-ada saja, Von. Orang lain pusing memikirkan riset teknologi atau kecerdasan buatan, kamu malah ingin meneliti rasi bintang dan hitungan hari lahir Jawa. Tapi jujur, kalau proposal itu jadi dan kuesionermu tersebar di Twitter atau TikTok, aku orang pertama yang bakal ikut mengisi datanya. Ide gila yang masuk akal."


Sebelumnya 

Daftar Isi 

Setelahnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak