Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab 21, Studi Kasus)
Bab 21 Studi Kasus
Alvon mengetuk pintu ruangan dosen itu dengan jantung bertalu-talu. Di balik meja kayu besar, duduk Profesor Dino, mantan rektor yang kini tampak lebih segar dan murah senyum sejak kembali menjadi dosen biasa.
Alvon selalu kagum pada orang-orang yang hidupnya menyatu dengan passion seperti Iwan Fals dengan gitarnya, Rhoma Irama dengan dangdutnya, atau Chef Juna yang totalitas di dapurnya. Namun, baginya mereka semua bahagia karena uangnya banyak.
Namun, Prof Dino meski tak bergelimang harta dan ruangannya kini lebih sederhana, binar mata beliau saat membaca diktat Metode Penelitian Sosial pun memancarkan kebahagiaan. Pemandangan itu seketika meluruhkan keraguan Alvon yang sempat minder masuk jurusan Sosiologi. Di depan pria sepuh yang kembali ke khitah karena kecintaannya pada ilmu, Alvon menemukan kepastian bahwa ia tidak salah memilih jalan.
"Masuk, Alvon. Ada fenomena menarik apa yang Kamu bawa dari luar sana?" sapa Prof Dino hangat. Alvon tersenyum, lalu mengutarakan niatnya melakukan pendekatan studi kasus.
"Alvon, ide skripsi itu berceceran di lantai warkop, bus kota, di pasar, bahkan di terminal! Kamu tidak perlu pusing. Di warkop, kamu bisa meneliti bagaimana struktur kekuasaan bergeser saat bapak-bapak berdebat politik, atau kontestasi ruang antara generasi z dan milenial. Nah, apa yang mengusikmu?"
Alvon menarik napas dalam-dalam,
"Saya meneliti fenomena wanita lajang mapan yang berprofesi sebagai penulis, Prof. Dia dicurigai sengaja melajang demi memburu pria kaya di tengah pusaran bumi patriarkis-materialisme ini. Padahal, setelah saya amati, ia mungkin seorang sapioseksual yang beranggapan bahwa otak adalah organ tubuh paling seksi. Saya ingin mengupas realita objektifnya"
Mendengar itu, mata Prof Dino berbinar jenaka,
"Luar biasa! Kamu adalah anak muda empatik dengan kecerdasan intrapersonal tajam, Alvon!" puji beliau.
"Untuk membedah isi kepala dan dinamika tersebut secara mendalam, studi kasus adalah pisau yang tepat. Tapi ingat, agar penelitianmu ini berbobot, terpercaya, dan layak mendapat nilai A, kamu harus menggunakan jaring yang kuat bernama triangulasi data. Jadi, jangan cuma percaya pada ucapan si penulis lajang itu (triangulasi sumber). Kamu harus mengonfirmasinya dengan mengamati langsung keseharian mereka (observasi), mewawancarai sahabat atau pembaca setianya, bahkan membedah karya-karya tulis mereka (triangulasi metode). Jika semua sudut pandang itu saling mengunci dan membentuk pola yang sama, barulah studimu dianggap sahih dan tidak bias."
Alvon mengangguk. Studi kasus yang merupakan salah satu varian paling populer dalam metode kualitatif, seperti yang ingin digunakan Alvon, memang sering kali dipandang sebelah mata oleh penganut kuantitatif garis keras.
Kubu kuantitatif memiliki standar bahwa penelitian yang bagus adalah yang hasilnya bisa "digeneralisasikan" ke wilayah yang luas. Jika meneliti 1.000 wanita lajang di satu negara, hasilnya dianggap mewakili potret nasional, berbeda dengan studi kasus.
Maka, peneliti kuantitatif akan mengkritikmu bahwa "Hasil studi kasusmu itu tidak bisa digunakan untuk menggambarkan wanita lajang di tempat lain!", tapi peneliti kuantitatif sering lupa bahwa tujuan studi kasus bukan untuk generalisasi populasi, melainkan eksplanasi mendalam.
Angka statistik bisa memberi tahu kita berapa banyak wanita lajang yang dicurigai di era materialisme misal: 65%, tetapi angka tidak akan pernah bisa menjelaskan bagaimana rasanya secara psikologis dan sosiologis menjadi seorang wanita sapioseksual yang bertahan di tengah gempuran budaya patriarki tersebut.
Itulah mengapa Prof. Dino menekankan pentingnya triangulasi data kepada Alvon. Triangulasi adalah jawaban telak untuk kritik kubu kuantitatif, karena membuktikan bahwa meskipun subjeknya sedikit, data yang dihasilkan sangat valid, berlapis, berbobot, dan tidak bisa dimanipulasi.
Beliau menepuk pundak Alvon yang tengah melamun dengan perlahan, lalu menyampaikan pesan mendalam bahwa ketekunan mengulik ilmu sesuai minat adalah kunci utama keberkahan hidup, selaras dengan hadis Nabi bahwa apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Semestinya, menyerahkan suatu urusan, jabatan, atau pekerjaan memang kepada orang yang memiliki kemampuan, kompetensi, dan integritas di bidang tersebut.
Alvon mengangguk takzim, jemarinya sibuk mencatat istilah "triangulasi data" di buku sakunya. Namun, pandangannya kembali beralih pada rak-rak buku yang penuh debu di pojok ruangan, lalu ke arah papan nama di meja yang kini hanya bertuliskan Prof. Dr. Dino, M.A. tanpa embel-embel jabatan struktural.
"Prof," puji Alvon pelan, "melihat Prof begitu total dan profesional membimbing saya, saya jadi paham. Prof tampak jauh lebih hidup di sini ketimbang saat berada di kursi rektorat dulu."
Profesor Dino menyandarkan punggungnya ke kursi, membiarkan tawa renyahnya mengisi keheningan ruangan,
"Kamu jeli, Alvon. Banyak orang mengira jabatan rektor atau kepala sekolah itu seperti takhta kerajaan yang harus dipertahankan mati-matian, sampai-sampai lupa ada aturan batasan periode yang mengaturnya. Padahal, jabatan itu bukan milik abadi, melainkan amanah bergilir. Ketika waktunya tiba, kita harus melepaskannya dengan lapang dada.
Saya mendaftar ke kampus ini dulu sebagai dosen, sebagai pengajar, bukan sebagai birokrat. Kembali ke ruang kelas dan melihat binar mata mahasiswa seperti Kamu, itulah sejatinya passion saya. Di sinilah profesionalitas saya diuji, bukan di atas kursi empuk kekuasaan."
Beliau kemudian menunjuk ke arah jendela, menembus riuhnya kendaraan di jalan raya luar kampus,
"Dunia di luar sana mungkin sedang sakit, Alvon. Di era industri yang serba materialistis ini, manusia modern cenderung 'bertuhan' pada materi. Sukses hanya diukur dari seberapa tebal dompetmu. Jika kamu masuk Sosiologi hanya untuk mengejar kekayaan instan, kamu mungkin akan kecewa. Tapi ilmu ini memberi hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Sosiologi membuat kita peka terhadap ketimpangan, mengerti mengapa masyarakat berkonflik, dan melatih kita membaca pola di balik kekacauan digital hari ini. Sosiologi mendidik kita menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar robot pekerja."
Alvon tertegun. Kalimat terakhir Profesor Dino mengunci semua keraguan di hatinya. Di tengah dunia yang bergerak cepat demi angka-angka nominal, ia bersyukur memilih jalur sunyi ini. Hidup di antara orang-orang yang bekerja karena passion, aliran materialisme seolah tiada berarti, berganti menjadi keyakinan bahwa menekuni passion itulah wujud syukur sejati dan abadi, meskipun tidak bergelimang materi. Sikap mereka menyiratkan, inilah duniaku. Inilah aku dan hidupku.
Menutup buku catatannya, Alvon menjabat tangan sang profesor dengan rasa hormat yang membuncah. Ia melangkah keluar dari ruangan itu tidak hanya membawa strategi metodologi penelitian yang matang, tetapi juga sebuah prinsip hidup yang kokoh, bahwa bekerja dan mengabdi sesuai dengan keahlian, sesuai passion adalah satu-satunya cara agar jiwa manusia tidak mengalami kehancuran dan menyadari untuk apa ia dihidupkan.
Bus kota yang ditumpangi Alvon melaju membelah kemacetan sore. Sambil menyandarkan kepala pada bingkai jendela yang bergetar, tatapan Alvon menerawang ke luar, menyaksikan riuh rendah manusia yang berjejalan di trotoar dan pengendara ojek daring yang jemarinya lincah menari di atas layar ponsel.
Di dalam angkutan yang pengap itu, lamunan Alvon justru berselancar jauh ke dalam ruang-ruang kelas sosiologi yang selama ini ia tekuni. Ia tersenyum sendiri. Jurusan ini boleh saja sepi peminat di mata orang awam, namun di kepalanya, sosiologi adalah sebuah "kunci universal" untuk membaca zaman, terutama di era digital yang bergerak secepat kilat ini.
Alvon meraba buku catatannya di dalam tas, mengingat betapa relevannya ilmu ini untuk lanskap kerja masa depan. Di era kecerdasan buatan dan algoritma mendikte konsumsi manusia, perusahaan teknologi besar justru tidak hanya butuh ahli pengodean "coder" mereka pun butuh sosiolog.
Alvon membayangkan dirinya nanti bekerja sebagai UX Researcher atau Market Researcher, menjembatani teknologi dengan perilaku nyata manusia. Melalui mata kuliah Sosiologi Digital yang pernah dipelajarinya, ia tahu bahwa di balik angka-angka Big Data yang rumit, selalu ada narasi sosial, budaya, dan emosi manusia yang harus diterjemahkan.
Sosiologi tidak mendidiknya menjadi robot pembuat program, melainkan kompas yang mengarahkan ke mana program itu harus berjalan demi kemaslahatan manusia.
Lamunannya kemudian mengerucut pada dunia penelitian. Ruang bermain yang paling ia cintai. Bagi Alvon, meneliti bukan sekadar tugas akhir demi selembar ijazah, melainkan sebuah petualangan detektif.
Ia begitu asyik membayangkan bagaimana ia akan mengombinasikan dua kekuatan utama sosiologi: kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dengan statistikanya yang rapi akan ia gunakan sebagai peta makro untuk melihat seberapa luas sebuah fenomena menyebar di masyarakat.
Namun, hati Alvon sepenuhnya tertambat pada metode kualitatif, si pisau bedah mikro. Melalui pendekatan kualitatif dan studi kasus yang baru saja ia diskusikan dengan Prof Dino, ia bisa menyelami kedalaman cerita, menangkap helaan napas, dan memahami motif tersembunyi dari para wanita lajang cantik juga para lajang penulis yang kerap dihakimi aneh bin nyeleneh oleh masyarakat. Baginya, metode kualitatif adalah seni memanusiakan manusia dalam lembar-lembar ilmiah, sebuah kepuasan batin yang tak terbeli oleh apa pun.
Selain itu, metode kualitatif cocok untuk fenomena yang dihadapi Alin berkaitan dengan makna, stigma, perang batin, dan kompleksitas psikologis. Hal-hal abstrak yang tidak bisa diukur menggunakan angka (kuantitatif).
Ingatannya kembali saat Sang Profesor menarik selembar kertas kosong, lalu menuliskan beberapa baris kalimat dengan pena besinya.
"Sebagai mahasiswa, bersihkan orang-orang itu dari prasangka asal curiga tanpa dasar.Jika Kamu penasaran dengan Alin, teliti dia dengan metodologi yang jujur. Pelajari ini, revisi rumusan masalahmu yang ditolak pembimbingmu karena dianggap masih dangkal? Cobalah rumusan yang berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang saya rancang untukmu. Pelajari. Baguslah Kamu terpikir menelitinya.
Alvon mengambil kertas yang tertulis dua pertanyaan yang menghujam egonya:
1. Bagaimana analisis paradoks antara penerapan frugal living pada keseharian Alin dengan tingginya standar kognitif (sapioseksual) yang ia tetapkan dalam memilih pasangan hidup?
2. Sejauh mana generalisasi masyarakat dalam mengatribusikan sikap selektif perempuan penulis sebagai tindakan 'materialistik' dapat diuji validitasnya secara ilmiah melalui indikator pemenuhan cognitive intimacy?
Alvon membaca kalimat-kalimat itu berulang kali. Kata-kata seperti paradoks, sapioseksual, dan cognitive intimacy mendadak menampar kesadarannya. Ia menyadari betapa dangkalnya ia memandang seorang manusia.
"Turunlah ke lapangan sebagai peneliti, bukan sebagai hakim moral," ucap Dr. Aris, suaranya melunak namun tetap tegas. "Temui Alin. Audit waktu yang dia habiskan bersama AI untuk menulis buku, dan hitung pengeluarannya yang hemat itu. Jika hasil risetmu membuktikan bahwa dia selektif bukan karena materialistik maupun penyimpangan orientasi seksual, tapi sebagai sapioseksual yang jiwanya kering tanpa diskusi peradaban, skripsimu akan luar biasa."
Matahari sore mulai tenggelam, membiarkan cahaya temaram masuk lewat jendela ruang kerja nomor tujuh. Alvon berdiri, membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dengan kepala tertunduk, membawa selembar kertas sebagai rencana penelitiannya untuk merombak cara memandang dunia.
Selanjutnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar