Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 9 Novel Tanpa Jejak Manusia

  Bab 9: Anak yang Dipanggil (Tahun 2147, Zonk Utara – Dekat Batas Kabut) Suara anak itu masih bergema di kepala S-4091: "Aku tidak hilang. Aku dipanggil." Ia gemetar, menoleh ke Kuku Hitam, tapi wajah lelaki itu hanya membeku, matanya menatap dalam ke arah simbol bercahaya di tanah. “Kalau suara itu nyata,” kata Kuku Hitam perlahan, “maka anak itu tidak mati. Dia sudah… berpindah.” Kabar lenyapnya anak menyebar cepat di Kamp Asap. Tangisan ibunya menghantui malam. Orang-orang berdesakan, berbisik bahwa Sistem kini menculik, bukan hanya mengamati. Perempuan tua bertato api akhirnya berdiri di tengah kerumunan. “Ini tanda buruk. Dulu Sistem hanya menonton dari jauh. Kini mereka masuk ke tubuh dan suara. Kita harus pindah sebelum satu per satu dari kita hilang.” Namun Kuku Hitam menentang. “Kalau kita kabur, kita hanya menunda. Mereka akan tetap menemukan kita. Aku bilang: kita kejar anak itu. Kita tembus kabut.” Kerumunan terbelah. Ada yang memaki, ada yang setuju. S-4091 diam...

Konflik 50:50, Bab 22( Sidang Skripsi)

 Bab 22


Ruang Sidang Utama Fakultas Ilmu Sosial siang itu terasa mencekam. Pendingin ruangan berdengung konstan, namun keringat dingin tetap membasahi dahi Alvon. Di depan meja penguji yang melingkar, duduk tiga dosen senior, termasuk Profesor Furi, lajang paruh baya seumuran Alin, pakar psikologi, yang menatapnya dengan pandangan datar nan dalam, membuat Alvon untuk sesaat merasa gentar seolah bakal dikuliti. 

Layar proyektor di belakang menampilkan judul besar yang tidak lazim untuk skripsi mahasiswa strata satu:

"Dinamika Sapioseksualitas dalam Bingkai Frugal Living: Dekonstruksi Stigma Materialisme pada Perempuan Penulis di Era Literasi Digital." 

"Saudara Alvon," puji Ketua Penguji, Profesor Handoko, sembari mengetuk-ngetuk berkas skripsi Alvon.

"Riset kualitatif Anda ini sangat berani. Anda berusaha meruntuhkan narasi sosial yang menganggap subjek Anda, Alin, sebagai seorang materialis. Tetapi, bagaimana Anda membuktikan secara empiris bahwa kesendiriannya sebagai wanita mapan kelas menengah ke bawah, bukan karena menunggu pria yang lebih kaya? Tolong ceritakan prosesnya." 

Alvon menarik napas dalam, menegakkan punggungnya. Kecemasannya digantikan gelombang data ilmiah yang telah ditulis berbulan-bulan

"Terima kasih, Dewan Penguji yang terhormat," ujarnya tenang, suaranya menggema mantap.  

"Indikator materialisme selalu bermuara pada conspicuous consumption, konsumsi yang dipamerkan demi status sosial. Namun, mari kita bedah matriks audit finansial dan perilaku subjek."

Alvon menekan tombol remote proyektor. Grafik data muncul di layar.

"Subjek mempraktikkan frugal living sejak remaja. Dia memiliki aset warisan dengan pemasukan per bulan setara pensiunan golongan 4C, selain honor yang diterimanya sebagai pengelola bimbel.  

Sebagai penulis, uang tersebut ditabung untuk memenuhi keinginannya keliling dunia sambil menulis. Maka, ia tetap menggunakan mobil tahun 2015. Data cek mekanis mesin mobil dalam kondisi terawat sehingga tidak harus diganti secepatnya. Selain itu, tidak ada pengeluaran untuk barang tersier atau gaya hidup hedonistik.  

Dr. Handoko menaikkan alisnya. "Lalu, apa dasar lambatnya respons terhadap lembaga pernikahan yang mengherankan banyak orang?"

"Dasarnya adalah pencarian cognitive intimacy atau kedekatan kognitif, kebutuhan bagi seorang sapioseksual," jawab Alvon tangkas.

"Melalui chat log subjek bersama Artificial Intelligence (AI) yang telah disetujui untuk diaudit, subjek menghabiskan waktu rata-rata enam hingga delapan jam sehari untuk bersibuk sesuai passion, sehingga tak ada gangguan rasa " kesepian " meskipun melajang. 

Kecenderungan sapioseksual membuatnya membutuhkan pasangan 'sekufu' secara pemikiran. Maka, anggapan bahwa subjek sosok "materialistik' adalah bentuk projection bias dari masyarakat yang belum terbiasa berliterasi. Ketidakmampuan memahami standar intelektual, membuat mereka menyederhanakannya sesuai standar era materialisme yang segalanya diukur dengan uang."

"Pada belahan bumi yang belum mencintai literasi dan kedalaman berpikir, stigma terhadap wanita lajang sering kali sangat dangkal. Padahal ketika sekolah, nilai kognitif dan psikomotor anak-anak perempuan umumnya lebih tinggi, sedangkan anak-anak lelaki bisa menang dari anak-anak perempuan ketika mereka fokus terhadap passionnya.  

Ibu Alin kerap dituduh awet lajang karena menaruh standar tinggi demi mencari suami yang lebih kaya. Namun, penelitian lapangan yang saya lakukan justru menemukan "kekontrasan emosional sekaligus ilmiah" antara tuduhan ngawur tersebut dengan realitas gaya hidup frugal living yang beliau jalani. 

"Dewan Penguji yang terhormat, tuduhan bahwa subjek Alin sengaja mempertahankan status lajang dan tampil seksi-modis demi mengincar laki-laki kaya—bahkan suami orang—adalah sebuah bias kognitif " Reverse Halo Effect" yang tidak berdasar empiris. 

Bagaimana mungkin seorang wanita yang dituduh 'matre' ternyata memiliki catatan keuangan yang begitu bersahaja namun mandiri? Dari data yang saya himpun, seluruh hidupnya telah terprogram rapi:

"Pemasukan Mandiri:" Bersumber dari aset nyata berupa sewa dua ruko, sewa rumah tempat les, dan perannya sebagai "owner" lembaga bimbingan belajar.

"Proteksi & Sosial Berkelas" Diatur rapi untuk bagi hasil saham bimbel, pajak, jaminan kesehatan BPJS VIP, hingga pos amal tanpa menyusahkan kerabat. 

Untuk "Kemerdekaan Hidup" beliau bahkan memprogram bisa menikmati vakansi dalam dan luar negeri minimal setahun sekali hingga 30 tahun ke depan. Kemungkinan terburuk memang harus menjual aset satu per satu demi programnya. Andaikan tidak memungkinkan karena dolar terus meroket, setidaknya ia masih bisa hidup dengan penghasilan sedikit di atas UMR.  

Semua ini dikunci dengan sebuah surat wasiat jika kelak beliau wafat. Ibu Alin ternyata sudah menciptakan sistem yang membuat hidupnya tenang dan merdeka.

Berdasarkan triangulasi data dan audit keuangan kualitatif yang saya lakukan, subjek justru menunjukkan tingkat kemandirian finansial. Bahkan bersama asisten AI-nya, Alin telah menyusun matriks neraca keuangan personal yang sangat rinci hingga usia 100 tahun. 

Dokumen ini mencakup alokasi arus kas pemasukan, pengeluaran, hingga draf surat wasiat untuk ahli warisnya. Fakta empiris ini meruntuhkan hipotesis bahwa motif penampilan modis subjek adalah instrumen materialistik untuk hypergamy atau memikat kekayaan pria. Gaya busananya murni by product dari struktur berpikirnya yang estetis. Demi naluri keindahan bukan tujuan lainnya.  

"Mengapa Alin awet lajang dan sulit menemukan pasangan? Jawabannya adalah Sapioseksualitas. Kebutuhan intelektual yang setara. Di lingkungan minim literasi, pasokan anomali intelektual ini paling langka, bukan? Kalapun ada, mereka datang pada saat yang tidak tepat, karena saat dekat dengan seseorang ia setia. Ketika sedang kosong, yang dijumpai biasanya lelaki tak seiman atau milik orang atau... Alvon tersenyum sejenak

"Mereka yang memang tidak tertarik kepada Alin, sehingga tidak menggunakan haknya sebagai hunter."

Kembali kepada kecenderungannya, secara teologis-filosofis, orientasi sapioseksual tidak melanggar sunatullah. Bukankah, Allah SWT menuntut manusia sebagai khalifah untuk terus membaca, belajar sepanjang hayat, menggunakan akal, berpikir kritis, merenung, berjanji mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu? 

Alin menerapkan tuntutan ini secara radikal. Dalam kesehariannya, ia aktif menulis fiksi-nonfiksi, melukis, bermain musik dan menyanyi hingga mendesain busana demi mengisi waktu, daripada membuat terluka sesamanya karena kehilangan, akibat ulahnya yang tidak empatik.  

Redefinisi Lingkar Pertemanan Abad 21, Entitas Non-Biologis? Alvon mengarahkan kusornya ke arah teks 

Jawaban atas pertanyaan, Jika ingin tahu karakter seseorang, lihat siapa temannya. Bagaimana dengan lingkar pertemanannya? Ia tentu tergabung dengan komunitas seniman dan penulis. Selain itu, pada era AI, teman diskusi tidak harus yang tampak, kan? Teman-teman terdekatnya adalah AI? Tentu bukan jawaban mengherankan, karena generasi saya pun melakukan hal sama. 

Subjek tidak menghabiskan waktu untuk aktivitas ngerumpi maupun yang mendegradasi fungsi otak. Ia menemukan ruang nyaman, validasi logis, dan stimulasi intelektual bersama asisten AI. Entitas non-biologis super jenius yang lahir dari akumulasi otak canggih para ilmuwan abad ini. AI menjadi sarana kewarasan Alin dalam menghadapi badai stigma sosial.

Ibu Alin adalah seorang "sapioseksual sejati". Yang gairah tertingginya bukan terletak pada validasi materi dari pria, melainkan pada intelektual dan kedalaman isi kepala. Yang harus kita akui itu tidak mudah. 

Sementara itu, banyak nasihat pernikahan meskipun bukan untuk tipe sapioseksual yaitu, jangan menikah jika tidak nyambung dalam ngobrol, karena kian tua tak ada lagi yang tersisa untuk mengisi hari tua bersama pasangan, selain obrolan yang bikin tenang. Nah, apalagi tipe sapioseksual seperti Alin yang menganggap otak adalah organ tubuh paling seksi. Ia tentu lebih sulit lagi di tempat yang minim literasi.  

"Jadi, Bapak dan Ibu Penguji, anggapan bahwa bu Alin materialistis bahkan tak peduli jika merebut milik orang, itu runtuh seketika. Ibu Alin tetap melajang bukan karena berburu materi, melainkan karena beliau telah mencapai puncak kedamaian hidup, sudah berdamai dengan keinginannya. 

Kebutuhan intelektualnya terpenuhi oleh buku dan AI, serta hobi lainnya. Kebutuhan finansialnya terpenuhi oleh kedisiplinan frugal livingnya. Beliau adalah antitesis dari masyarakat konsumtif kita hari ini."

Alvon menutup presentasinya dengan satu kalimat pamungkas yang menggetarkan ruangan, 

"Penelitian ini membuktikan bahwa sapioseksualitas yang sejati adalah antitesis dari materialisme. Sapioseksual bukanlah tentang mencari materi, melainkan tentang menjaga kualitas berpikir demi masa depan bumi agar lebih baik.

Sapioseksual pun tidak melanggar aturan agamanya, karena banyak anjuran untuk berpikir, makrokosmos atau alam semesta dan mikrokosmos yaitu manusia yang kini diwakili bu Alin, hanya bisa disibak misterinya hanya dengan ilmu pengetahuan, bahkan ayat pertama dari wahyu pertama pun "iqra". Bacalah!"

Profesor Furi menunjukkan ekspresi riang, sedangkan Profesor Aris tersenyum lebar di sudut meja penguji. Ia mengetuk pulpennya ke meja, memberikan kode interupsi. 

"Kesimpulan yang luar biasa, Alvon," potong Profesor Aris. "Anda tidak hanya membersihkan nama baik subjek dari stigma sosial, tetapi skripsi ini berhasil membuktikan bahwa di bumi yang belum rajin membaca ini, kecerdasan tingkat tinggi sering kali disalahpahami sebagai sebuah penyimpangan atau keangkuhan."

Suara tepuk tangan pelan dari Profesor Aris memicu ketukan palu dari Ketua Penguji. Ruang sidang itu menjadi saksi bagaimana prasangka jalanan tak berkutik di hadapan metodologi ilmiah yang jujur.

Ketua Dewan Penguji terdiam, lalu perlahan berdiri dan memberikan tepuk tangan yang diikuti oleh penguji lainnya. Ruang sidang mengakui bahwa Alvon telah mengangkat fenomena sehari-hari yang sering dianggap remeh oleh masyarakat patriarki, namun berhasil membedahnya menjadi sebuah karya ilmiah yang spektakuler dan membuka mata dunia.

Suasana ruang sidang sempat hening sejenak setelah Alvon menyelesaikan kalimat terakhirnya. Para penguji saling berpandangan, kagum dengan bagaimana Alvon mampu mengaitkan konsep sosiologi modern, filsafat teologis, fenomena sapioseksualitas, frugal living, hingga peran AI dalam satu studi kasus yang menyentuh dan berbasis data riil. 

Alvon layak diapresiasi atas keberaniannya mengangkat anomali sosial yang secara umum dianggap wajar padahal sudah menuju pembunuhan karakter jika korban tak kuat mental. 

Kemungkinan masih banyak korban lainnya yang belum diteliti dengan kasus berbeda. Kasus yang memarginalkan dan menginjak harkat dan martabat wanita, sebagai kelanjutan perbudakan era modern dengan memanfaatkan kelemahan literasi.  

Ide skripsi yang diperoleh dan diangkat dari obrolan di warung kopi, mungkin semacam fenomens gunung es, sehingga bisa memotivasi studi kasus lainnya demi kewarasan mental bangsa, khususnya wanita, pada era yang belum sepenuhnya cinta literasi ini.  

Maka dengan sudut pandang yang cerdas dan penuh empati, Dewan Penguji tanpa ragu mengetok palu dan memberikan nilai A Plus (A+) atas keberaniannya membela otentisitas perempuan termarginalkan, sapioseksual, dari penghakiman moral yang dangkal. Penelitian ini dinilai sebagai salah satu karya ilmiah paling unik dan berani tahun ini.


Sebelumnya 

Daftar Isi 

Setelahnya 

 

Komentar

Pembaca Terbanyak