Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 8 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 8: Labirin yang Tak Terlihat (Tahun 2147, Zonk Utara – Perbatasan Kabut) Sejak malam ia menyentuh simbol, dunia tak lagi sama bagi S-4091. Setiap langkah di tanah penuh debu terasa seperti langkah seekor tikus di dalam labirin. Ia mulai memperhatikan pola: bagaimana makanan selalu datang setelah penderitaan puncak, bagaimana musuh muncul tepat saat keputusasaan melanda, bagaimana hukum api di Kamp Asap menciptakan kepatuhan buta. Semua itu bukan kebetulan. Itu rekayasa. Kuku Hitam duduk bersandar di tembok runtuh, mengasah pisaunya. “Aku pernah mendengar bisikan serupa,” katanya tanpa menoleh. “Bukan dari tanah, tapi dari mimpi. Aku melihat garis-garis cahaya yang bergerak di langit, membentuk dinding tak terlihat. Sejak itu aku tahu: kita semua terjebak.” “Dinding tak terlihat?” tanya S-4091. “Ya. Mereka menyebutnya Batas Kabut. Kalau kau berjalan terlalu jauh ke utara, kau akan menemui kabut tebal. Orang-orang bilang itu kabut alami, tapi aku pernah lihat batu yang dilempar ...

Konflik 50:50 (Bab 24, Jebakan Cinta 50:50)

 Bab 24 Jebakan Cinta 50:50


Aroma kopi berpadu dengan sedap legitnya roti bakar di kafe  sebelah Bimbel Kinanthi  membelai hidung. Sore itu, tawa renyah memecah keheningan setelah beberapa tahun Alin, Arin, dan Nyla tidak bersua.

"Kafe ini banyak berubah. Harganya pun melonjak," seloroh Nyla  mengaduk matcha latte-nya.

Arin tertawa. Pandangannya tertuju pada Alin yang   hanya tersenyum  sambil menatap layar ponselnya, 

"Lin, mumpung lagi kumpul lengkap,  mau nanya, jangan tersinggung ya?"

Alin meletakkan ponselnya, menopang dagu dengan kedua tangan, 

"Sejak kapan kita pakai izin kalau mau nanya?"

"Tentang Bima," ujar Arin hati-hati, 

"Kamu kok bisa sesabar itu sih menghadapi dia yang sikapnya angin-anginan? Kadang hangat banget, kadang dingin kayak es batu. Kamu nggak capek?"

Nyla ikut menatap Alin. Penasaran. Alin menatap cangkir Americano di depannya yang mulai dingin sebelum  bercerita.

"Kalian ingat kan, dulu Bima yang mendekati aku duluan?" Alin memulai ceritanya. "Tapi karena kesalahpahaman, kami   terpisah. Di tengah keputusasaan itu, aku memutuskan menikahi orang lain."

"Tapi pernikahan itu nggak lama, kan?" tanya Nyla. 

"Iya. Banyak orang mengira aku cerai karena masalah materi, atau karena aku egois merasa lebih mapan. Padahal, mantan suamiku itu sembrono  mengatur keuangan. Yang paling parah, dia membohongi aku sejak awal. Dia mengaku perjaka, padahal aslinya duda karena dicerai istrinya. Ada anak pula. Ya udah, balik ajalah. Ngapain aku ada di antara mereka? "

"Lagipula di hatimu masih ada Bima, " goda Arin. 

Alin membetulkan posisi duduknya, lalu melanjutkan, 

"Setelah  cerai dan melihat Bima ternyata masih lajang, aku jujur sengaja membuka peluang. Aku memberi sinyal kalau aku siap kembali. Tapi sialnya, Bima terjebak anggapan materialisme. Dia ragu sama aku. Dia pikir aku mau balik sama dia hanya karena sekarang dia sudah kerja mapan, dan dia curigai aku meninggalkan suami demi ngejar dia. Dia juga dendam karena dulu merasa kutinggal menikah."

"Ya ampun, rumit banget isi kepala Bima," gumam Arin. 

"Bima nggak percaya  Kamu cemburu karena ia pamer kedekatan dengan Dania, atau... pamer kedekatan dengan wanita memang hobinya, sehingga heran kenapa juga Kamu cemburu? Sok model deh," gerutu Nyla tak paham. Maklumlah, Bima datang ke tempat les ketika Nyla sudah resign. 

"Lalu kenapa Kamu masih bertahan?" tanya Nyla lagi, "Logika aku beri info ia dendam parah padamu lho, sehingga dirimu digantung," lanjutnya. 

Alin memasukkan gawai ke dalam tas. 

 "Dulu, sebelum jadi janda, setiap kali aku pacaran, sekian persen selalu ada harapan  terbebas dari gelar perawan tua karena itu aib. Jadi, pacaran itu selalu diselimuti kecemasan untuk cepat-cepat menikah. Aku merasa cintaku 50:50, terbelah antara cinta dan cemas omongan orang. Aku ingin bisa totalitas rasakan cinta."

"Lelaki mungkin heran, wanita ngebet ngajak nikah itu memang demi pelampiasan libido atau cemas gelar perawan tua sih?" sahut Nyla. Mereka bertiga ngakak.

"Pastilah kaum pria tahu,  wanita ingin menikah gak karena ngebet naik ranjang, tapi cemas dengan gelar perawan tua.Ih, jika ingat ngajak nikah duluan, jadi malu deh. Otak lelaki bisa ngeres, ini orang nempel terus, gelendotan terus. Cinta mati atau mau ngakali agar laku sih? Yang gak tegaan langsung oke toh selingkuh bahkan poligami bukan aib. Lalu dunia pun memproduksi wanita-wanita ngenes. Yang jadi korban siapa? Jika bukan dirinya sendiri tentu anaknya."

"Termasuk laki-laki baik-baik yang menuruti ajakan wanita untuk menikah, ternyata merasa tidak dicintai, tidak dinomorsatukan. Selingkuh takut, korupsi pun takut, mati muda deh, " sahut Alin. 

"Jika ada wanita yang menikah tanpa cinta, tapi sekadar menggugurkan gelar perawan tua, kasihan ya. Jika melihat wanita yang tampak lebih tua dari usianya, kasihan dan ingin mewawancarainya, " lanjutnya. 

"Mungkin cape karena multitasking. Jadi washer, nanny, housekeeper, driver antar jemput anak, financial planner, chef merangkap cek dapur sebelum tidur, dan keymaster yang juga cek seluruh pintu rumah dan pagar sebelum tidur, " sahut Arin. 

"Sebagai lajang yang kita lakukan sama kecuali jadi nanny. Tapi karena itu pilihan dengan sadar, gak bikin ngenes. Jika keputusan menikah yang terbesar justru cemas gelar perawan tua, tentu cape deh."

"Padahal belum tentu mereka bukan tipe sapioseksual, tapi pasrah dalam ngenes karena bukan Gemini yang ngeyelan seperti aku... 

" Sok tahu. Kali aja mereka ngenes karena terpaan badai materialisme? "

"Belum tentu. Toh saat sekolah, anak-anak perempuan nilainya lebih tinggi... 

" Tapi faktanya perpustakaan sepi,"lanjut  Arin, 

" Yang mengherankan, kapan doktrin agar segera menikah itu muncul? Akal-akalan kaum lelaki purbakah?"

"Belum tentu juga. Mungkin orangtua yang ingin segera terbebas dari tanggung jawab terhadap anak perempuannya."

"Yang pasti, gelar itu membebani wanita dan parahnya tak bisa hilang sampai abad ini, padahal sudah banyak wanita  mandiri."

"Selagi wanita-wanita masih beranggapan kecantikan fisiklah yang utama, bukan kecantikan otak untuk bernalar, gelar perawan tua masih mengerikan."

"Memang kenapa? Kan malah enak. Lelaki tak perlu berperan jadi hunter, wanita sudah memburu pria demi penghapus gelar. "

"Tapi, ada tapinya nih. Didikan patriarkis yang semula asal laku, konon itu akal-akalan lelaki masa purba agar diburu jadi menantu? Kena batunya deh. Era penjajahan, ide lelaki purba mati kutu. Selera pilih menantu berubah arah. Maunya pilih menantu tuh sama dengan tampilan penjajah demi masa depan anak cucu agar lebih cerah."

"Ingin yang bersenjata? Berseragam? Bukan lagi ala petani desa  ke sawah yang cuma  berkolor doang? "

"Begitulah. Tapi cemas gelar perawan tua terus nempel di bahu perempuan tiada henti. Jadinya, lelaki tetap merajai."

"Ngakali? "

"Iya."

"Kan banyak di media sosial tuh, mengaku kerja di lahan basah ternyata bohong. Bahkan ada cewe ramping ngaku dokter pria lho, demi morotin."

"Demi validasi sampai-sampai gak jelas antara kebutuhan dan keinginan. Yang penting flexing nggak pakai wawancara. Kemewahan yang dipamerkan itu bohong nggak? Ia milik orang nggak? Yang penting pamer dulu. Risiko belakangan. "

"Si cewek pendiam mungkin. Bukan biang cerewet seperti kita. Nulis salah huruf, Arin spontan cemberut."

"Makanya kita nggak  punya target harus kerja di sini dan di situ. Jadi begini dan begitu. Asal nyambung ngobrolnya dan tahu kewajibannya. Sudah, " lanjut Arin. 

Ketiganya terdiam menikmati pesanan masing-masing. 

"Sejujurnya, karena kita tipe sapioseksual atau ngeri ketipu?" lagi-lagi mereka terbahak. 

"Sejujurnya, semua wanita tuh matre sih. Tapi daripada... 

" Daripada ketipu?"goda Arin memotong ucapan Nyla. 

"Enggak juga. Yang pasti, daripada ngobrolnya nggak nyambung malah nggak nyaman, mending  mengalah deh. Tuntutan ala materialisme minggir dulu. Jika materinya oke ngobrolnya pun oke, tentu mau. Jika enggak, mending kita mandiri duluan."

"Ya iyalah, emang mau hidup miskin? " sahut Alin. 

"Enggaklah. Toh Nyla lagaknya aja bilang nggak ingin nyicil rumah dan mobil. Oke deh rumah nyewa tapi sebelum resign ia kan sudah beli mobil, " jawab Arin. 

"Tentulah. Memutuskan tidak menuntut pasangan harus punya ini itu, bukan berarti kita rela  menderita. Aku memaksa diri untuk mandiri, demi dapetin yang nyambung ngobrol nya...

"Keren pula, kan? Jujurlah! " lanjutnya  menyikut Arin yang ngakak.

"Tapi gegara gak ngeri jadi perawan tua tuh, jadinya dibuli,"Nyla menertawai Alin yang hanya tertawa. 

Setelah hidangan tandas keduanya teringat bahwa cerita Alin terpotong. 

" Lanjut, Lin. "

"Kini  janda, tidak  lagi  ketakutan  gelar 'perawan tua'. Aku juga merasa mapan  finansial. Karena itulah, aku  ingin menghayati indahnya rasa cinta yang murni kepada Bima. Mencintai tanpa cemas  materi, tanpa cemas  status. Karena aku  sudah penuhi kebutuhan aku, bukan rela hidup di gubug derita, Rek. "

"Tapi sekarang situasinya berubah, kan?" pancing Arin yang  mendengar kabar burung.

Alin mengangguk, tanpa   amarah. "Iya. Bima  lagi dipepet  sama Nunung? Atau saling pepet?   Dan aku? Aku memilih rela melepaskan Bima untuk dia. Asal ia bahagia. Semula kukira itu gombalan ala pujangga zaman perang. Ternyata beneran. Itulah yang kurasakan. Asal Bima bahagia, pergilah."

"Lho, kok nyerah gitu, Lin?" Nyla protes .

"Bukan menyerah  kalah, Nyl," jawab Alin. 

"Yang bikin  kecewa bukan ada wanita lain. Tapi kenapa Bima nggak jujur?"

"Jika Bima tidak memberi fakta. Kamu dapat fakta darimana? "

"Dari status teman mereka."

"Tapi Bima juga pernah flexing dengan wanita itu kan? Komentarmu saat itu, 'Teganya dia merangsek maju untuk menggeserku setelah Kamu pamer telah kerja.' Iya, kan? " 

"Iya."

"Ulah Bima menyembunyikan fakta bisa dimaknai dua macam, " lanjut Alin. 

"Pertama. Aku pernah bilang tak peduli apa pun yang diunggah orang, asalkan bukan Bima yang pamer. Bodo amat. Tapi... 

" Baju yang dikenakan Bima di statusnya saat ini, sama dengan baju yang dipamerkan temannya di statusnya. Ditulisi 'Selamat ya, Bima dan Nunung telah menikah.' Ayo, sebagai makhluk berpikir, apa yang Kalian pikirkan? "

"Ada beberapa," jawab Nyla. 

"Pertama, jadi teringat novel yang difilmkan, " Tenggelamnya Kapal Van der Wijck", Bima tentu masih dendam padamu. Kedua, ingin menikahi Kamu  setelah menikahi Nunung. Ngapain? Agar bebas tidak menghidupi Kalian berdua? Gajinya untuk wanita ketiga yang dicintainya dengan tulus? Ketiga, ia pasang badan untuk Nunung. Jika Bima betul-betul cintai Nunung dan telah menikahinya, ia tak ingin isterinya Kauanggap cintanya dangkal tak sedalam cintamu. Ia pun tak ingin isterinya Kauanggap tanpa hati sabot milikmu. Maka, dengan pamer pernikahan via temannya, ia ingin batinmu berkonflik, lalu merebutnya dari Nunung. Dengan demikian, posisimu dengan Nunung sama 50:50. Sama-sama ratu tega, sama-sama ngejar Bima setelah ia pamer kemandirian finansial. Dengan demikian,  skor Nunung lebih tinggi darimu karena umur lebih muda. Namanya juga suami, wajib dong pasang badan untuk membela isteri. Toh Kamu tuh bagi Bima bak Hayati dalam film Tenggelamnya kapal Van der Wijck. " 

"Haha. Kocak, "ketiganya pun ngakak,"Cara mancingnya pun norak. Semua orang pun bisa nebak. Bikin ingin ngakak. Dasar kocak."

 "Cuekin. Jangan beri makan ego duo NPD tuh. Sebagai wanita, kita nggak pernah ember tuh tentang siapa yang naksir kita. Kita bersyukur ada yang naksir meskipun kita tidak ingin bersamanya. Mungkin lagi ingin setia. Mungkin lagi ingin sendirian. Tapi kita tak memanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Bima tuh, begitu kamu beri perhatian. Ia mepet para NPD untuk angkat senjata menggeser kamu dengan mencari kelemahanmu. Jika kamu malas ngupas pepaya, ia pun ngeluh bahwa Kamu magister yang malas ngupas pepaya. Jika Kamu nggak mau ditampar. Ia ngeluh Kamu magister yang ogah ditampar...

"Akhirnya si petarung menggeser Kamu dengan janji rela ditampar gitu?"

"Mungkin begitu."

" Tapi Zainuddin sadar bahwa dendam pada Hayatilah yang bikin hidupnya penuh warna. Saat   sadar bahwa Hayati hanyalah korban tradisi, Hayati sudah mati," ujar Alin setelah tawanya reda. 

"Tapi Zainuddin mati juga kan? Puas deh penonton, " Nyla menyikut Alin.

"Nggak. Bima jangan mati agar Nunung bisa pamer foto bersama Bima".

"Arin. Bagaimana pendapatmu? "

"Jika banyak kompor agar Kamu hubungi Bima setelah ada pameran foto itu, dugaan Nyla nomor tigalah yang  benar. Toh Bima tahu bahwa Alin  tahu pameran foto-foto yang dipublikasikan itu."

"Lagipula, jika  cinta tentu tak tega membuat  yang tercinta kebingungan. Maka, jika Bima  tidak menemuimu, lupakan. Mereka memang sudah menikah. Jangan pernah memasuki kehidupan orang lain sebagai orang ketiga meskipun Kamu kenal lebih dulu. Karena ada indikasi pendapat Nyla nomor tigalah  yang paling benar. Lagipula Bima kan lelaki. Ia pasti tahu yang harus dilakukan dalam situasi rumit ini."

"Tapi Alin jadi bisa merasakan cinta untuk cinta nih. Cinta tanpa cemas digelari perawan tua, tanpa cemas keduluan tetangga dan saudara. Cinta tak melihat harta, " goda Nyla. 

"Uff, untuk nomor tiga aku gak setuju, " potong Arin menyikut lengan Nyla sampai terjatuh menimpa pahanya. 

"Jangan sok tidak matre wahai wanita. Itu hipokrit. Yang bener tuh, Alin bisa menanggapi Bima yang saat itu belum kerja, karena Alin sudah merasa mapan. Jika keduanya belum kerja, ngapain? Wajar. Justru nggak wajar jika Alin mau. Mau makan batu? "

Alin dan Nyla  terdiam sebelum saling pandang lalu tertawa sepakat, bahwa tidak matre bukan berarti rela menderita berdua selamanya. Tapi, harus merasa mandiri sebelum memutuskan tidak matre demi yang nyaman ngobrolnya kek, yang tampan kek. Asalkan bukan demi rela menderita.

 Sebelumnya

Daftar Isi

Setelahnya

Komentar

Pembaca Terbanyak