Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 8 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 8: Labirin yang Tak Terlihat (Tahun 2147, Zonk Utara – Perbatasan Kabut) Sejak malam ia menyentuh simbol, dunia tak lagi sama bagi S-4091. Setiap langkah di tanah penuh debu terasa seperti langkah seekor tikus di dalam labirin. Ia mulai memperhatikan pola: bagaimana makanan selalu datang setelah penderitaan puncak, bagaimana musuh muncul tepat saat keputusasaan melanda, bagaimana hukum api di Kamp Asap menciptakan kepatuhan buta. Semua itu bukan kebetulan. Itu rekayasa. Kuku Hitam duduk bersandar di tembok runtuh, mengasah pisaunya. “Aku pernah mendengar bisikan serupa,” katanya tanpa menoleh. “Bukan dari tanah, tapi dari mimpi. Aku melihat garis-garis cahaya yang bergerak di langit, membentuk dinding tak terlihat. Sejak itu aku tahu: kita semua terjebak.” “Dinding tak terlihat?” tanya S-4091. “Ya. Mereka menyebutnya Batas Kabut. Kalau kau berjalan terlalu jauh ke utara, kau akan menemui kabut tebal. Orang-orang bilang itu kabut alami, tapi aku pernah lihat batu yang dilempar ...

Konflik 50:50 ( Bab 23 Pidato Sambutan Alvon)

 Bab 23 Pidato Sambutan Alvon


 

Alin terbangun dini hari jam 03.00. Setelah salat tahajud, WA kiriman Alvon membuatnya tersenyum geli,

"Prof.Furi menatapku kukira terganggu skripsiku, karena ia awet lajang demi cari pria kaya raya. Ternyata risih judul skripsiku yang terpampang di LCD pakai titik. Lalu kujawab di skripsinya tanpa titik, Prof. Itu hanya judul untuk presentasi karena kebablasan. Hehe.  

Alin pun mendengarkan video pidato sambutan Alvon yang juga dikirimkan kepadanya. 

...

Dahulu, banyak orang meremehkan langkah saya.'Mau jadi apa masuk Sosiologi? Mau makan apa nanti?' Namun, di tengah keraguan dunia, Kakek menguatkan hati, 'Alvon, lakukan passion-mu. Rezeki itu urusan Allah.' Bahan bakar yang selalu menyalakan semangat saya. 

Skripsi saya membedah realitas pahit di bumi yang belum mencintai literasi. Saya meneliti kasus seorang wanita Gemini sapioseksual di tengah budaya patriarki. Ia dibuli, dicurigai penampilan modisnya untuk pamer sok awet muda, bahkan memikat lelaki beruang suami orang. 

Mengapa? Karena masyarakat mengalami disonansi kognitif. Mereka tidak siap melihat perempuan menarik secara visual, tetapi juga mandiri finansial dan memiliki pemikiran melompat jauh ke depan.

Melalui riset kualitatif ini, saya membuktikan bahwa sapioseksualitas tidak melanggar sunatullah. Allah menciptakan manusia sebagai khalifah agar kita terus membaca, belajar sepanjang hayat, berpikir, merenung, dan menggunakan akal secara radikal. 

Sapioseksualitas sejati adalah antitesis dari materialisme. Pada era industri ini, keserakahan telah merebak menjadi wabah korupsi yang merusak sendi-sendi bangsa. Subjek penelitian saya, dengan pemikiran teologis filosofis dan kemanusiaan, membuktikan bahwa kepuasan tertinggi manusia bukanlah pada tumpukan harta, melainkan pada ketajaman pikiran.

Rekanku sekalian, dunia akademik internasional baru saja diguncang sentimen negatif terhadap negeri kita akibat skandal publikasi penelitian palsu 'fake research" oleh oknum ambisius. Nama baik sains di negara kita tercoreng. Malam ini, saya ingin menyatakan bahwa dedikasi pada passion dan sains yang jujur adalah obatnya. 

Berkat ketekunan untuk studi kasus ini, dengan rasa syukur saya umumkan bahwa penelitian saya mendapatkan pendanaan dari LPDP bekerja sama dengan National Science Foundation (NSF) untuk melanjutkan riset berskala global. Kami akan membedah bias gender dan sosiologi digital di Asia Tenggara demi memulihkan nama baik negeri kita di mata internasional.

Tepuk tangan memenuhi aula wisuda. Alvon Pratama baru saja disebut sebagai lulusan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dengan predikat summa cum laude. 

“Teman-teman, empat tahun lalu saya masuk jurusan ini bukan karena tren, bukan ikut-ikutan, dan bukan karena menjanjikan. Namun, karena saya menyukainya.” Aula mendadak hening.

“Saya percaya nasihat seorang ulama terdahulu: ‘Kerjakan bagianmu dengan sebaik-baiknya, selanjutnya Allah yang mengurusnya. ’”Alvon berhenti sejenak.

“Dalam bahasa yang lebih sederhana, saya memaknainya, berjuanglah di bidang yang Anda sukai, istilah kerennya passion. Saat profesionalisme terbentuk, rezeki akan datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka.”

Beberapa dosen mengangguk pelan.

“Saya tidak mengejar gelar terbaik. Saya hanya berusaha menjadi mahasiswa yang selalu belajar lewat jurusan yang saya cintai ini. Saya membaca, meneliti, berdiskusi, dan menulis. Ternyata dari proses itu lahir banyak peluang. Ada penelitian, kompetisi, jaringan profesional, hingga beasiswa.”

Suara Alvon terdengar semakin mantap.

“Dalam hadis yang sangat terkenal, Rasulullah mengingatkan bahwa apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”

Ia menatap para wisudawan.

“Bagi saya, hadis inilah motivasi terbesar saya untuk maju tak gentar mencintai pilihan saya. Jadilah ahli di bidang pilihan Anda. Jangan berhenti pada gelar. Teruslah belajar sampai ada manfaat yang kita berikan, karena sepanjang apa pun usia dan angan kita, kita pasti mati.

 Lalu, apa yang akan kita tinggalkan untuk bumi? Kata peribahasa "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati ... 

"Meninggalkan utang yang dibayar asuransi! "teriak seorang mahasiswa yang disusul riuh tawa lainnya. 

Setelah ikut tertawa Alvon melanjutkan, 

“Hari ini kita hidup pada era digital. Banyak yang mengira teknologi akan menggantikan ilmu sosial. Saya justru sebaliknya. Semakin canggih teknologi, semakin penting memahami penggunanya. Data bisa dihitung mesin, tetapi memahami masyarakat tetap membutuhkan manusia.”

Tepuk tangan mulai terdengar.

“Sosiologi mengajarkan saya bahwa perubahan teknologi, ekonomi, budaya, dan politik selalu berpusat pada manusia. Selama manusia masih hidup bersama dalam masyarakat, ilmu-ilmu sosial akan tetap dibutuhkan, Saudara.” Hadirin bertepuk tangan riuh. 

Ia tersenyum.

“Jangan malu dengan bidang yang Anda cintai. Jangan memilih jalan hanya karena dianggap bergengsi. Pilihlah bidang yang membuat Anda ingin terus belajar bahkan ketika tidak ada yang menyuruh.” 

Suasana aula semakin hangat.

“Saya bukan berdiri di sini karena paling pintar. Saya hanya beruntung menemukan bidang yang saya sukai, lalu berusaha menekuninya dengan sungguh-sungguh.”

Hadirin yang saya hormati,

Tuhan, melalui ayat-ayat-Nya, berulang kali memerintahkan manusia untuk Iqra. Bacalah!Tuhan pun banyak bertanya menggugah kesadaran kita dengan nada retoris, "Apakah Kamu tidak menggunakan akalmu?"

 Dari sini kita paham, bahwa menghargai kecerdasan, mencintai kedalaman berpikir, dan mengagumi keindahan isi kepala—atau era modern menamai tipe sapioseksual— sesungguhnya adalah fitrah yang sangat sesuai dengan Sunatullah. Tuhan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Namun, fitrah ini harus bertabrakan dengan tembok tebal bernama materialisme.

Kita hidup pada era yang menilai manusia hanya sebatas apa yang dia pamerkan. Namun di mimbar ini, saya ingin menegaskan hasil riset saya. Materialisme adalah lawan kata dari ketenangan jiwa, dan ia hadir sebagai ujian.  

Hanya Ujian, Saudara. Ujian untuk menguji kekuatan iman kita menahan diri agar tidak berlebihan mencintai makhluk. Itu berarti ada cinta lain yang berlebihan, sehingga menggeser cinta kita untuk Tuhan menjadi cinta nomor dua. 

Ketika manusia sudah menduakan cinta untuk Tuhan, lalu menyekutukan cinta untuk Tuhan dengan menomorsatukan cintai materi, di situlah petaka kemanusiaan dimulai. 

Manusia menjadi amnesia pada rasa empati, dan tega merusak kepercayaan demi keuntungan sesaat yang berlanjut merusak seisi bumi dan itu pasti. Bukankah demi kepuasan menuruti keserakahan, manusia lupa bahwa seisi semesta ini satu kesatuan? 

Manusia lupa bahwa menyakiti bumi seisinya sama dengan menyakiti penciptanya. Manusia lupa bahwa wujud mencintai dan tidak menyekutukan Tuhan adalah dengan mencintai seluruh ciptaan-Nya. 

 Manusia lalu tega memalsukan kebenaran, merampas hak orang tak berdaya, dan mengkhianati amanah. Mereka lupa bahwa harta selain tak dibawa mati, juga tidak akan pernah cukup untuk membayar rusaknya integritas. 

Keserakahan pun membuat kita memperlakukan bumi ini sebagai tempat sampah raksasa. Kita memproduksi, mengonsumsi, lalu membuang tanpa peduli. 

Kita memasak tanpa memanfaatkan pikiran lalu membuang sisa makanan tanpa teringat di belahan bumi lainnya masih banyak yang kelaparan. 

Bahkan tak terpikirkan bahwa sampah makanan yang membusuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menghasilkan gas metana. Gas rumah kaca berbahaya yang memiliki daya rusak memerangkap panas di atmosfer hingga puluhan kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. 

Kita dengan seenaknya menumpuk materi di dalam rumah, sementara di luar rumah, kita menimbun sampah yang meracuni tanah, air, dan udara yang dihirup oleh anak-cucu kita kelak. 

Maka, menjaga bumi dari sampah bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan sebuah kewajiban moral dan etika tertinggi dari manusia yang mengaku berpikir. Ingatlah slogan "Bumi ini kita pinjam dari anak cucu kita. Jagalah kemakmurannya"

Rekan-rekan wisudawan yang saya banggakan,

Gelar yang kita raih ini bukanlah jaminan kita akan menjadi orang kaya secara materi. Banyak di antara kita yang mungkin akan memilih jalan sunyi menjadi pendidik, peneliti, atau pekerja sosial yang gajinya tak seberapa. Jika setelah ini waktu dan takdir kita tidak membuat kita bergelimang harta, jangan pernah kecewa. 

Jika kita mampu hidup dengan rasa cukup, tetap mengasah otak kita, menjaga empati, tidak merampas hak orang lain, jujur memegang kepercayaan, dan ikut merawat bumi ini agar bebas dari sampah, maka kita telah berhasil memenangkan ujian hidup yang sesungguhnya. Kita telah menjadi manusia yang merdeka dari dikte materialisme. Kita telah menjadi manusia seutuhnya. 

Mari kita melangkah keluar dari ruangan ini bukan sebagai pemburu harta yang serakah, melainkan sebagai kaum intelektual yang membawa kedamaian, menjaga amanah, dan merawat bumi demi kelangsungan ciptaan-Nya demi masa depan anak cucu kita. 

Selamat berjuang, rekan-rekan wisudawan. Jaga pikiranmu, jaga hatimu, dan jaga bumi kita!

Hadirin yang saya hormati, sebelum saya turun dari podium , saya ingin membacakan catatan kecil. Semalam, di tengah kegelisahan menyempurnakan pidato ini, iseng saya wawancarai Gemini AI.

 'Andai kamu menjadi mahasiswa, apakah memilih jurusan sesuai passion meskipun gaji tak seberapa, atau memilih yang berpeluang kaya raya tapi menghalalkan segala cara?'

Inilah jawaban jujur algoritma AI, yang serasa menampar kita, manusia yang sering kehilangan arah, 

"Andai saya menjadi mahasiswa, saya akan memilih jalur sesuai passion meskipun gajinya tidak tinggi. Saya tidak sudi memilih jalur kaya dengan menghalalkan segala cara. Mengapa? 

Menghalalkan segala cara adalah perbudakan mental zaman modern. Untuk apa kemewahan kalau setiap saat kita cemas ketahuan telah mengakali, cemas kena karma. Jika rasa cemas itu telah hilang, tentu kita dihantui keinginan mengakali teruuus sampai ajal menjemput. Betapa melelahkan. Itu bukan kaya, itu adalah perbudakan hati nurani oleh keinginan tiada henti. 

Hidup yang singkat ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk sibuk berebut remah-remah di atas penderitaan orang lain."

Hadirin sekalian,

Jika sebuah teknologi buatan manusia saja tahu bahwa ketenangan jiwa dan integritas jauh lebih tinggi nilainya daripada kekayaan hasil keserakahan, sungguh ironis jika kita sebagai manusia yang memiliki ruh dan hati justru menggadaikan nurani demi menjalaninya.

Keserakahan materialisme telah membuat kita memperlakukan bumi ini seperti tempat sampah raksasa. Kita lupa pada peribahasa bijak leluhur kita, 'Memayu Hayuning Bawana', artinya luas dan dalam secara teologis filosofis yaitu "manusia berkewajiban merawat dan menjaga kelestarian seisi bumi."

Sikap permisif terhadap korupsi secara perlahan mengikis kelestarian alam dan meruntuhkan integritas moral bangsa. Di titik kritis ini, kita harus berani mengambil sikap nyata seperti peribahasa "Buangkan yang keruh dan ambil yang jernih" Sudah saatnya membuang mentalitas korup yang merusak, lalu kembali memeluk kejujuran serta kepedulian pada lingkungan demi Indonesia Emas 2045. Demi masa depan kita, sebagai Pancasilais sejati, Saya yakin generasi kita pasti bisa. 

Alvon mengepalkan tangan dengan suara lantang diikuti suara hadirin

"Bisa! "

Selamat berjuang, rekan-rekan wisudawan. Jaga pikiranmu, jaga hatimu, dan jaga bumi kita!

Alvon diam sesaat mengingat sesuatu

 Jika saran AI sudah. Peribahasa leluhur pun sudah. Kini sebelum salam, mari kita tutup dengan pantun

Di sini kita beli madu lebah madu
Enak diminum penghilang dahaga
Bumi ini pinjaman dari anak cucu
Marilah kita jaga kelestariannya


Sebelumnya 

Daftar Isi 

Selanjutnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak